Gadis Penakluk Mafia Karatan

Gadis Penakluk Mafia Karatan
Rasa syukur.


__ADS_3

"Kamu lihat saja bagaimana bayi besar mu ini akan memberikan bayi yang banyak untuk mu lagi!" celetuk Davvien sambil mencium punggung tangan sang istri.


"Kalau banyak-banyak kamu saja yang mengandung nya!" tukas Vera dengan mimik wajah protes.


"Ha..ha...ha... emang kamu nggak malu jika perut ku yang sek-si ini membuncit?" tanya Davvien dengan gelak tawanya, membuat Vera yang turut membayangkan pun ikut tertawa.


Sedang asik tertawa, tiba-tiba pintu ruangan di buka, dan terlihat lah Aldi dan juga Riki yang baru masuk, di susul oleh Rina dan juga Tn.Diwan.


Davvien langsung memasang wajah memalas saat melihat rupa dua sahabat nya yang baru datang.


"Hy bro... gimana keadaan loe, gw sangat shock mendengar loe di rawat di rumah sakit. Soalnya kan belum ada sejarah Tuan Davvien Wilmar si macan asia harus di rawat rumah sakit karna tertembak!" ujar Aldi panjang lebar sambil meletakkan keranjang buah begitu besar yang dia bawa untuk sahabat nya itu.


"Iya Vien, aku kira kamu masih kuat seperti dulu!" timpal Riki ikut meledek Davvien.


Davvien langsung menatap bengis terhadap sahabat nya yang baru datang itu.


"Kalian pikir apa, aku juga manusia!" tukas Davvien menyangkal ucapan Aldi dan Riki.


"Iya iya, ternyata kamu memang belum bisa membuang sifat cuek dan pemarah mu!" imbun Aldi lagi.


"Diam! siapa yang menyuruh kalian datang ke sini?" tanya Davvien dengan ketus.


"Biarpun begini kamu kan tetap sahabat kami, dan selaku kami orang pri kemanusiaan, jadi kami harus menjenguk sahabat kami yang sedang lemah tak berdaya!" jawab Aldi cepat, memancing emosi Davvien.


"Apa kamu bilang! idak berdaya, sini kamu kalau berani!" imbun Davvien berapi-api.


Vera hanya menggeleng kepala, dia pun bangun meletakkan piring bekas makanan suaminya, lalu mengajak orang tuanya untuk duduk di sofa.


"Ma, duduk di sana saja yok!" ajak Vera memegang pundak sang mama.


"Sebentar Nak!" Rina melepas tangan Vera dengan begitu lembut, kemudian wanita paruh baya ini pun mendekati ranjang sang menantu.


"Bagaimana keadaan kamu Nak?" tanya Rina kini berdiri tepat di samping brangkar Davvien.


"Aku sudah sehat Ma, Mama gimana, apa ada yang masih sakit?" tanya Davvien balik.


"Mama sama Papa juga sudah sehat Nak!" jawab Rina, Tn.Diwan pun ikut mendekat. Aldi dan Riki berdiri di sebelahnya lagi.


"Nak, terima kasih karna kamu telah menyelamatkan kami, dan maaf gara-gara kami, kamu harus terluka!" pinta Tn.Diwan merasa tidak enak pada menantunya itu.

__ADS_1


"Iya Nak, kalau kamu tidak ada ntah bagaimana keadaan kami!" timpal Rina juga turut berterimakasih kepada Davvien.


"Ma, Pa, Davvien mohon jangan seperti itu, Mama dan Papa juga orang tua Davvien, jadi sudah kewajiban Davvien untuk menyelamatkan kalian. Dan maaf, jika Davvien telat datang ke sana!" jawab Davvien, Rina langsung meneteskan air mata mendengar ucapan dari menantunya itu.


"Terimakasih Nak!" ucap Rina lagi.


Vera ikut tersenyum dan terharu, suami yang dulu cuek, dingin, kejam dan mempunyai mulut pedas, kini menjadi seseorang yang Vera bangga kan dan syukuri karna hidup bersama nya.


"Ya Allah, terimakasih karna engkau mentakdirkan dia menjadi imam ku, dan terimakasih karna telah mengubah sikap dan perilaku nya!" batin Vera.


"Bro, cepat sembuh! dua Minggu lagi gw mau nikah!" ujar Riki mengganti kan suasana yang terasa canggung.


"Sama siapa? memang ada yang mau sama orang yang memiliki wajah pas-pasan!" tanya Davvien.


Riki langsung melotot "Ya dengan yayang Rani lah, biarpun pas-pasan seperti ini, tapi banyak wanita yang ngiler melihat wajah ku ini!" ujar Riki dengan sombongnya.


Vera yang mendengar itupun bangkit dan mendekati Riki.


"Kak, kamu beneran mau nikah sama Rani?" tanya Vera antusias.


"Ya beneran lah, tanya saja sama Rani!"


"Iya makasih Ra, doakan saja supaya semuanya lancar ya!" jawab Riki dengan senyuman begitu lebar, dari wajah nya bisa di gambarkan akan kebahagiaan yang dia rasakan.


Tapi berbanding terbalik dengan Aldi, Vera yang melihat wajah Aldi langsung murung pun bertanya.


"Kak Aldi kapan ni nikahin Tania?" tanya Vera.


Aldi langsung murung, membuat Vera, Davvien dan Aldi mengerutkan keningnya.


"Kenapa Kak?" tanya Vera.


"Ntah lah, Tania salah paham sama aku!" jawab Aldi dengan nada sedih.


"Kok bisa!" ucap Vera.


"Apa ini gara-gara...!" Riki menggantung ucapan nya, dan Aldi paham apa yang di maksud oleh Riki langsung mengangguk.


"Iya, Mona sengaja menemui Tania, dan ntah apa yang dia katakan hingga membuat Tania marah dan tidak mau menemui ku lagi!" tukas Aldi.

__ADS_1


"Heum... makanya bro jadi cowok itu harus setia jangan setiap ada perempuan cantik loe deketin, kan ribet urusan nya!" tukas Riki memberi nasehat, tapi di anggap ledekan oleh Aldi.


"Jadi Kak Aldi duain Tania?" tanya Vera tampak tidak suka.


"Ya nggak lah, dulu iya aku tu playboy raja buaya, tapi setelah mengenal Tania, gw sudah tobat dan hanya setia pada dia seorang!" jawab Aldi lagi.


"Lalu Mona?"


"Dia itu wanita yang pernah menjadi gebetan ku, tapi kami tidak sampai berpacaran karna pada saat aku melihat Tania hati ku langsung merasakan hal aneh, dan ternyata itu cinta. Aku meninggalkan Mona dan mengejar Tania, cinta ku!" jelas Aldi membuat Vera mengangguk.


"Nanti aku coba bilang sama Tania ya kak!"


"Makasih Ra!"


...----------------...


Saat ini semua sedang duduk di sofa, karna Davvien sedang menelepon seseorang.


"Bagaimana dengan dia?" tanya Davvien pada orang seberang.


"Dia masih hidup tuan, saya apakan dia, apa saya bunuh saja?" tanya orang itu yang ternyata adalah Irfan.


"No, itu urusan mertua ku dan juga istri ku!"


"Baik tuan!"


.


.


.


.


.


~Bersambung.


Bagaimana ni, apa Vera dan keluarga nya akan memaafkan Roy, kasih pendapat kalian.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan vote.


__ADS_2