
Setelah memberitahu sang mama, Frans langsung melangkah mendekati ruangan yang di dalam ada sang adik sedang memperjuangkan hidupnya.
Frans melihat Davvien begitu tertekan, Davvien tampak lemah, tidak ada kata kata yang keluar dari mulut Davvien, hanya air mata yang keluar sambil melihat istrinya sedang di tangani oleh dokter melalui kaca empat segi di pintu ruang operasi.
"Katakan apa yang terjadi, kenapa dia bisa sampai terluka, kenapa kamu tidak bisa menjaga nya"
Meski tau keadaan Davvien sangat menyedih kan, namun amarah Frans tetap tak bisa dia tahan karna dia menganggap jika Davvien gagal menjaga adik kesayangannya.
Davvien menoleh, saat mendengar seseorang menegurnya dari belakang, dan betapa terkejutnya dia melihat Frans yang mempertanyakan itu pada dirinya.
"Untuk apa kamu kesini, ini bukan urusan mu, dia istri ku"
Jawab ketus Davvien, dia benar-benar tidak rela jika dirinya di anggap tidak becus menjaga sang istri.
"Cih... dia istri mu, tapi apakau sudah layak menjadi suami yang baik, bahkan menjaga nya saya tidak becus"
Mendengar itu membuat Davvien semakin panas, dia menghampiri Frans.
"Apa maksud mu hah, memang nya kau siapa berani-beraninya mengurus rumah tangga ku, kau hanya orang asing, jadi jaga ucapan mu, dan sebaiknya kamu pergi dari sini"
Davvien membentak Frans, dia sangat marah dengan kata-kata yang di ucapkan Frans.
Sedangkan Frans juga sedang mencoba menahan emosi nya.
"Aku tak akan pergi dari sini, aku ingin memastikan orang yang aku sayangi baik-baik saja, dan jika sampai terjadi apa-apa sama dia, maka jangan harap kamu bisa menemui dirinya lagi"
Frans menekan setiap akhir dari katanya, dan itu membuat Davvien yang sedang kalut dengan pikiran nya semakin meradang, Davvein langsung memegang kerah baju Frans.
"Berani nya kau, dia istri ku tidak ada yang boleh mengambil nya dari ku, dan apa maksud mu orang yang kau sayang, kau sudah tau jika dia sudah mempunyai suami dan sebentar lagi kami akan punya anak, dasar tidak tau diri"
Davvien hendak melayang kan pukulan pada wajah Frans, namun suara seseorang menghentikan nya.
"Cukup nak, jangan kau pukuli dia"
Tn.Diwan datang bersama Fino, melihat pertengkaran anak dan menantunya Tn.Diwan langsung menengahi mereka.
"Apa maksud Daddy membela lelaki brengs*k ini"
Ucap Davvien berapi-api, tangan nya masih memegang kerah baju Frans.
"Jangan nak, wajar jika dia mengkhawatirkan Vera, jangan masukkan ke dalam hati apa yang di katakan nya"
__ADS_1
Frans hanya diam, tangan nya memegang tangan Davvien yang sedang memegang kerah bajunya.
"Apa... Daddy bilang wajar, dia bilang dia menyayangi istri ku, dia juga bilang aku suami yang tidak becus, dan dia mengancamku jika dia akan membawa istri ku, tidak Dad Davvien akan memberi pelajaran pada lelaki kurang ajaar ini"
Davvien lagi-lagi ingin melayang bogem pada wajah Frans, tapi Tn.Diwan mencoba menahan nya.
"Jangan kau pukuli kakak ipar mu sendiri nak, dia hanya mengkhawatirkan adik perempuan nya"
Deggggg
Mendengar itu, Davvien begitu kaget dia pun melepaskan kerah baju Frans.
"Apa, kakak... bukan nya kakak Vera sudah meninggal?"
Tanya Davvien tidak percaya.
"Aku masih hidup, dan aku baru mengetahui jika Vera adalah Kia adik kecil ku, aku ingin menemui nya untuk memberi tau kalau aku dan mama masih hidup, tapi apa yang aku lihat, adik ku malah mengalami kejadian tragis seperti ini, dan itu semua karna kelalaian mu"
Frans mencibir sambil menunjuk dada Davvien, sedangkan Davvien sudah terdiam, dia juga mengakui jika itu memang karna kelalaian dirinya, andai saja dia tidak membiarkan Vera untuk jauh dari nya, pasti ini semua tidak akan terjadi. Tapi akan sangat egois jika dirinya harus membatasi kebebasan sang istri dengan teman-teman nya bukan.
"Sudah Frans, ini bukan kesalahan Davvien, papa tau bagaimana dia menjaga adik mu itu, tapi ini yang di namakan musibah, lebih baik kita berdoa saja"
Tak lama kemudian, kegaduhan kembali terdengar, saat Mommy Andin dan Tn.Andre datang ke rumah sakit, kalian tau kan bagaimana heboh nya Ny.Andin jika menyangkut menantu kesayangan nya.
"Vien, dimana menantu mama, Kenapa ini bisa terjadi?"
Ny.Andin sambil menangis dia menarik-narik lengan baju putranya, Davvien hanya diam.
Fino yang sedikit banyak nya tau tentang kejadian tersebut pun mencoba menjelaskan, karna dia sempat mendengar perbincangan antara Fero dengan anak buahnya.
"Nyonya, Nona Vera hampir saja tertabrak saat ingin menyebrang jalan setelah membeli batagor, tapi supir nya Nona Vera mendorong dirinya untuk menghindari mobil yang melaju begitu cepat ke arah merek, hingga kepala nya terbentur pada pembatas jalan dan mengakibatkan luka, sedang kan supir yang mendorong Nona Vera yang menjadi korban tabrak lari itu, kini para anak buah dan asisten tuan Davvien sedang mengejar orang yang menabrak mereka"
Ny.Andin membekap mulut dengan telapak tangan nya, dengan deraian air mata yang terus keluar, dia sungguh khawatir, mengingat menantu nya sedang mengandung, dan ini adalah yang pertama bagi Vera.
"Ya tuhan lindungilah menantu dan cucu ku"
"Pasti ada yang sengaja merencanakan ini semua"
Tn.Andre pun tak tinggal diam, sebagai seorang ayah dia juga sangat sedih atas apa yang menimpa menantu dan calon cucunya.
"Aku rasa juga begitu Ndre hiks,,,,hiks,, bagaimana jika anak ku kenapa-kenapa"
__ADS_1
Tangisan Tn.Diwan pecah, dia tidak bisa membayangkan jika anak perempuan meninggalkan dirinya.
"Dad, Daddy jangan bicara seperti itu, istri ku kuat, dia akan bertahan... baru semalam dia mengatakan jika dia tidak akan meninggalkan ku Dad, jadi jangan pernah mengatakan jika dia akan pergi"
Ucap Davvien dengan begitu lantang, dia tidak terima dan juga merasa takut. Tidak, Davvien tidak akan sanggup jika Vera pergi dari hidup nya.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, Davvien langsung menghampiri Dokter Hendri.
"Bagaimana keadaan istri dan anak ku?"
"Akibat benturan keras di kepalanya, membuat Nona Vera banyak mengeluarkan darah, dan darah yang di miliki Nona Vera stok nya sudah habis di rumah sakit ini, dan untuk anak nya kami masih belum memeriksa nya, karna keadaan sang ibu lebih memprihatinkan"
Davvien lagi-lagi emosi, dia kembali menarik kerah baju Hendri.
"Apa gunanya rumah sakit ini begitu besar jika stok darah saja tidak ada hah"
Ny.Andin berusaha melerai dengan mengusap lengan putranya.
"Vien, jangan seperti ini dengarkan dokter berbicara dulu"
"Maaf tuan, tapi stok darah memang agak sedikit langka"
"Saya saja dok, saya ayah nya"
Tn.Diwan langsung menyerahkan dirinya.
"Saya juga bisa dok, saya kakak nya"
"Baik, mari ikut saya"
Mereka pun mengikuti Dokter Hendri, tapi saat ingin melangkah.
"Berhenti, saya saja dok dia putri saya"
Semua mata tertuju pada suara seseorang yang datang dengan tiba-tiba, mereka begitu terkejut melihat seseorang itu tepat berada di depan mereka.
~Bersambung
Halo para Reading, aku mau ngenalin novel ke dua ku nih, tapi masih sedikit ðŸ¤, kalian coba intip yuk, jika kalian suka syukur Alhamdulillah, jika tidak suka kalian bisa ninggalin lagi, tapi jangan di hujat ya para Reader tersayang ku😘😘.
__ADS_1