Gadis Penakluk Mafia Karatan

Gadis Penakluk Mafia Karatan
Vera yang jahil.


__ADS_3

Kembali ke Apartemen, kini makanan telah tersaji di atas meja makan minimalis, Fero duduk dan menatap aneh pada makanan di hadapannya.


"Makan lah..." ujar Intan yang menyuruh Fero untuk makan.


"Sayang, kenapa kamu kasih aku makanan ini?" tanya Fero dengan raut wajah tak suka.


"Kenapa, katanya Tuan mau memakan apa saja yang aku masak, lagi pula itu karna ulah kamu sendiri" jawab Intan santai, dia langsung memakan makanan miliknya.


"Tapi apakah harus makanan gosong?" Tanya Fero lagi, dan Intan mengangguk nya.


Yap, Intan memberikan masakan nya yang gosong kepada Fero, dia ingin mengerjai sang kekasih.


Dengan terpaksa Fero mengambil makanan di dalama piring nya, perlahan dia mendekatkan makanan tersebut ke dalam mulutnya, Fero melirik Intan, jika Intan pasti akan merasa kasihan saat melihat Fero memakan makanan gosong.


Tapi, itu hanya angan Fero... karna Intan sama sekali tidak perduli, bahkan Intan terkesan cuek dan memakan makanan nya tanpa memperdulikan Fero.


Fero meletakkan makanan nya kembali ke piring lalu dengan begitu cepat Fero mendekatkan wajahnya lalu segera melahap makanan yang sedang di pegang oleh Intan, posisi mereka sangat dekat, karna Intan pun sedang memakan makanan nya, jadinya jarak mereka hanya beberapa senti.


Tatapan mereka bertemu, Intan kembali merasakan debaran jantung yang luar biasa.


Intan segera menjauhkan wajahnya, dan melepaskan makanan tersebut pada mulut Fero.


"Katanya mau makan semuanya" ucap Intan mencairkan suasana, tepatnya suasana hatinya.


"Kan tadi kamu bilang jika makanan beracun, kamu tidak tanya termasuk makanan gosong" jawab Fero sedang mengunyah makanan nya.


"Alasan, bilang saja Tuan...."


"Jangan panggil aku Tuan, apa susahnya kamu mengubah nya" Fero tampak kesal.


"Karna dari pertama kali kita kenal, aku sudah memanggil mu dengan sebutan Tuan"


"Makanya sekarang kamu harus mengubah nya"


"Aku panggil Kak Fero saja ya" Intan tersenyum menampakkan semua giginya, membuat Fero jadi gemes.


"Boleh selagi kita belum menikah, tapi jika kita sudah menikah, kamu harus memanggil ku dengan sebutan sayang"


Pipi Intan kembali bersumbu merah saat mendengar perkataan Fero, tak ingin Fero mengetahui nya Intan segera bangkit dan membawa piring mereka makan ke dapur dan mencuci nya.


Selesai mencuci piring, Intan kembali berjalan pada Fero yang sudah duduk di sofa.


"Anterin aku ya, ini sudah mau sore" Intan berdiri di samping Fero yang sedang mengecek ponselnya.


Fero pun mengangkat wajahnya dan melihat Intan. "Ya sudah, mungkin setelah ini aku akan jarang menemui mu, karna besok aku sudah mulai bekerja, kamu tau sendiri jika pekerjaan ku sangat banyak" jelas Fero.


"Iya Kak, aku paham kok... lagian kasian Tuan Davvien selama Kakak cuti dia sendiri yang mengurus pekerjaan nya"


"Makasih atas pengertian mu" Fero mengacak rambut Intan lalu melangkah meninggalkan Intan yang berdecak kesal karna ulah nya.


...----------------...


Sore hari...


Di kediaman Wilmar, Vera dan Davvien sudah sampai di rumah, setelah menempuh perjalanan hampir satu jam.


Selesai membantu pelayan masak, Vera masuk ke dalam kamar, dia mendapati sang suami sedang tertidur di dengan begitu lelap.


Vera mendekati Davvien, dia pun duduk di pinggir tempat tidur, meneliti wajah yang sedang memejamkan mata.


"Pasti kamu sangat lelah" ujar Vera sambil mengelus wajah tampan sang suami.

__ADS_1


Davvien tertidur sedari mereka pulang dari markas, mungkin karna pergulatan mereka membuat keduanya tidak cukup tidur. Vera sudah tidur di dalam mobil saat mereka melakukan perjalanan pulang.


Saat menatap wajah Davvien, tiba-tiba ide jahil tersirat dalam pikiran Vera, dia bangun dan mendekati meja rias.


Vera mengambil lipstik dan pensil alis nya, kembali mendekati Davvien. Vera mendudukkan tubuhnya lagi di samping sang suami yang terlelap, dia melambai-lambai tangan di hadapan wajah Davvien, untuk memastikan jika sang suami benar-benar tertidur.


Saat di yakin aman, Vera membuka lipstik nya langsung di oleskan pada bibir Davvien, setelah dirasa cukup, Vera mengoleskan lipstik tersebut di wajah sang suami, membuat seperti bulatan di sana. saat Davvien menggeliat, Vera langsung bangun dan menjauhi tempat tidur, setelah diyakini suaminya masih tertidur, Vera kembali meneruskan hal konyol nya, dia melukis mata di pelupuk mata Davvien menggunakan pensil alis.


"Selesai" gumam Vera, dia melihat wajah tampan sang suami sudah seperti badut, Vera berusaha menahan tawanya agar sang suami tidak terbangun.


Vera meletakkan kembali dua benda yang di gunakan nya untuk mengerjai sang suami, dia kembali menahan tawa nya melihat wajah lucu Davvien, Vera segera menetralkan wajahnya, supaya terlihat biasa saja, lalu membangun kan Davvien.


"Sayang..." panggil Vera, namun Davvien masih enggan membuka mata.


"Sayang, bangun dulu" kini Vera menepuk-nepuk wajah Davvien.


"Sayang.... bangun sebentar" setelah menggoyang tubuh Davvien, baru lah sang empunya membuka mata.


"Kenapa sayang?" Tanya Davvien langsung mencium tangan Vera.


"Kamu mau tidak membelikan aku sate, aku kepingin makan sate" tanya Vera dengan membuat mimik wajah memohon.


"Sate, tumben kamu ingin makan sate, ini pasti permintaan kalian ya nak?" Davvien mengelus perut Vera.


Dalam hati Vera, sebenarnya dia sudah tidak bisa menahan gelak tawanya karna melihat wajah lucu suaminya itu.


"Iya, tapi kalau kamu tidak mau membeli nya, aku saja yang pergi bersama supir" membuat nada bicaranya sesedih mungkin.


"Hei, mana mungkin aku tidak mau membelikan nya, apa lagi ini permintaan kedua anak ku, aku cuci muka dulu ya" ucap Davvien sambil mencium kening Vera.


"Tidak usah mencuci muka, aku sudah tidak sabar memakan sate" Vera menahan lengan Davvien.


"Tapi..."


"Eh ya sudah, aku akan pergi" Davvien turun dari atas tempat tidur, ingin mendekati meja rias, namun lagi-lagi Vera menahan nya.


Vera yang melihat Davvien mendekati kaca langsung menyambar lengan Davvien lalu menariknya ke luar kamar.


"Tidak perlu berkaca, suami ku sudah sangat tampan" mendengar itu tentu Davvien merasa senang.


"Ya sudah kamu tunggu di sini ya"


Cup.....


"Iya, jangan lama-lama ya"


"Heum... nak, tunggu Papa ya"


Cup....


Davvien pun pergi, sepeninggalnya suami, Vera masuk ke dalam kamarnya dan kembali menutup pintu.


"Ha...ha..ha.." Vera yang memang sudah dari tadi menahan tawa, akhirnya dia bisa melepaskan sekarang, Vera benar-benar tertawa lepas saat ini, dia membayangkan apa yang akan terjadi pada suaminya saat membelikan satu untuk dirinya.


Davvien segera masuk ke dalam mobil, langsung mengendarai mobilnya tanpa melihat pada kaca spion dalam mobil.


Dia sangat senang ketika Vera menginginkan sesuatu, Davvien merasa dia menjadi suami yang sempurna di saat dirinya bisa menuruti keinginan sang istri, apalagi saat keadaan nya sedang mengandung.


Setelah sedikit jauh dari rumah, suami dari Vera ini melihat penjual sate di pinggir jalan, awalnya dia ragu karna di sana banyak orang, tepatnya banyak ibuk-ibuk.


Namun dia teringat wajah sang istri saat meminta padanya, tanpa berpikir panjang, dia pun meraih kaca mata lalu turun dari dalam mobil.

__ADS_1


Sampai di penjual sate, semua orang menatap ke arah Davvien, namun Davvien bersikap biasa saja karna bagi dirinya tatapan orang-orang sudah biasa bagi dirinya.


Tapi semakin mendekat, mereka semakin menatap aneh pada Davvien, bahkan mereka langsung menertawakan dirinya.


Bagaimana tidak, bibir merah, pipi juga merah karna lipstik, di tambah kaca mata hitam menutupi matanya, apa lagi di dahi Davvien ada tulisan "Sayang istri" meski tulisan kecil yang di buat Vera dengan lipstik, namun bisa di baca oleh orang yang melihat nya.


"Bungkus satenya sekarang juga, aku mau cepat" Davvien langsung mengeluarkan uang ke hadapan penjual sate.


Sikap sombong dan arogan Davvien tetap masih melekat pada dirinya. penjual sate yang melihat pun berusaha menahan tawanya.


"Mas ini benar-benar suami sayang istri ya" ucap ibuk-ibuk yang sedang menunggu antrian, mereka rela mengalah karna membaca tulisan tepat di dahi Davvien.


Davvien tersenyum, dia merasa bangga karna orang-orang tau jika dirinya suami yang sangat bertanggung jawab.


"Iya, lihat saja... sampai di dahinya di tulis kan kalimat sayang istri" sambung ibuk-ibuk yang lain.


"Heu'eum, coba lihat bibir sama pipinya" mereka tertawa kecil sambil menutup mulut mereka.


Davvien yang mendengar nya merasa penasaran, dia pun melihat dirinya di pantulan kaca gerobak sate, diapun langsung membuka kacamata nya karna kaget melihat wajahnya dari pantulan kaca tersebut.


Namun saat membuka kacamata nya, orang-orang di sana langsung tertawa terbahak-bahak, Davvien segera mengambil sate yang sudah di bungkus, langsung meninggalkan tempat tersebut.


Sampai di dalam mobil, Davvien melihat kembali wajah nya di spion dalam mobil, dia pun kaget melihat wajah yang sudah seperti badut, lebih dari badut.


Davvien mencengkram kuat setir mobilnya, dengan kemarahan penuh dia langsung menancap gas untuk menemui istri yang sudah membuat dirinya malu.


Mau di taruh di mana muka Davvien, jika ada yang mengabadikan momen saat dirinya membeli sate, seorang CEO di perusahaan terbesar membeli sate dengan wajah bertuliskan sayang istri.


...----------------...


Di rumah, Vera sudah siap menyambut sang suami, dia sudah tau jika Davvien akan marah, Vera yang di kenal banyak akal pun sudah tau cara meredakan amarah sang suami.


Dia sudah duduk dengan gaya pose yang menggoda di atas tempat tidur, Vera hanya menggunakan baju lingerie berwarna hitam, sebenarnya dia merasa tidak nyaman, namun demi mereda amarah sang suami, dia terpaksa memakai baju haram tersebut, Vera juga sudah memoleskan wajah nya dengan begitu cantik.


Wanita cantik yang sedang mengandung anak dari tuan Wilmar tersebut memang pandai menjinakkan singa yang akan mengamuk.


Davvien sampai dirumah, tanpa memperdulikan tatapan aneh dari penjaga rumahnya Davvien langsung masuk, sekarang dia tau kenapa anak buahnya juga menatap aneh saat dirinya pergi tadi.


Kini Davvien berada di atas tangga, dengan begitu cepat dia sampai di depan kamar, Davvien yang sedang menahan amarahnya langsung membuka pintu kamar secara kasar.


Brakkk....


Bukan Vera yang terkejut, melainkan Davvien... karna dia langsung di suguhkan dengan pemandangan indah. Davvien meneguk liurnya secara kasar, melihat istri nya yang begitu terlihat menggoda.


Vera bangun, kaki nya langsung berjalan mendekati Davvien.


"Sayang, kamu sudah pulang..." Vera langsung menempelkan dirinya pada dada sang suami.


Davvien tidak mampu berkutik lagi, rasa marah yang dia tahan sedari tadi, langsung hilang saat melihat keindahan dari tubuh sang istri.


Sehingga bukan kemarahan yang Vera dapat kan, melainkan dirinya langsung di angkat oleh Davvien dan di letakkan di atas kasur.


"Kamu sudah mengerjai ku, sekarang rasakan hukuman mu" Davvien langsung memberikan hukuman kepada Vera, kalian taukan hukuman seperti apa yang di berikan suami yang bucin itu.


.


.


.


.

__ADS_1


~Bersambung.


Jangan lupa like, komen dan vote nya Reader terkasih 😘.


__ADS_2