
Bersabar lah, suatu hari kau akan mendapatkan buah dari sabar mu itu, seperti yang di rasakan keluarga Tn.Diwan sekarang, setelah sekian lama mencoba mengikhlaskan akhirnya mereka di pertemukan kembali dalam suasana yang lebih mengharukan.
"Nak, kamu di mana siapa yang berada di hadapan mama nak, kenapa begitu mirip dengan papa mu"
Tep...
Air mata Rina langsung tumpah, antara percaya dengan tidak, apa yang dia lihat benar suaminya atau hanya mirip saja.
"Sayang... ini aku, aku Rey suami mu"
Tn.Diwan pun ikut menangis, melihat sang istri yang sangat di cintai nya yang telah berpisah lama dengan dirinya.
"Mas Rey, itukah kamu benar kah kamu mas Rey suami ku"
Tanya Rina lagi belum sepenuhnya percaya.
"Iya sayang, bersabar lah besok aku akan ke sana menjemput mu, kita tinggal bersama di sini"
Hanya air mata yang menetes, ingin rasanya Tn.Diwan menjemput sang istri sekarang juga, namun dia tau jika Rina harus mempersiapkan segalanya.
Begitu juga dengan sebaliknya, Rina sebenarnya juga sangat ingin bertemu dengan suami dan juga anak perempuan yang sangat dia rindukan.
Ah iya, mengingat Kia kecil nya, Rina langsung bertanya pada sang suami.
"Mas, katakan pada ku jika putri kita masih hidup kan, dia pasti sudah dewasa, dia pasti tumbuh menjadi anak yang cantik dan juga baik, kamu merawat dan mendidik nya dengan baik kan"
Tanya Rina beruntun dengan penuh harap.
"Iya sayang, dia sekarang tumbuh menjadi anak yang baik, penurut dan juga cantik persis seperti dirimu"
Blus..
Pipi Rina langsung merona mendengar kata kata suami nya itu, rasanya mereka seperti ABG yang baru menjalin kisah kasih berpacaran.
Frans dan ke dua asisten hanya bisa tersenyum melihat kebahagiaan ke dua orang yang berbeda tempat.
"Dia sekarang sudah menikah dan sebentar lagi dia akan menjadi seorang ibu, dia pasti sangat bahagia bila persalinan nya di temenin oleh ibu nya"
Rina membekap mulut dengan telapak tangan nya, betapa banyak momen nya yang hilang bersama sang putri, sampai hari bahagia anaknya dia tidak menyaksikan nya.
"Bukan kah dia masih terlalu muda, kenapa kamu menikahkan nya mas?"
"Mah, papa ada maksud tertentu menikahkan Kia, dan dia menikah dengan orang hebat, orang yang terkenal seluruh negara, suami nya adalah alasan aku ke sini mah, dialah kliyen yang aku temui untuk kesepakatan kerja sama kami"
Kini bukan Tn.Diwan yang menjawab tapi Frans, dia merasa bersyukur karna berkat kerja sama dengan perusahaan Davvien, Frans bisa bertemu dengan keluarga nya.
"Mama tau kan, jika perusahaan Wilmar adalah perusahaan yang aku kagumi, dan aku selalu berharap bisa menjadi pembisnis yang sukses seperti Tn.Davvien, dan orang itu sekarang adalah suami Kia Ma, adik ipar Frans"
Jelas Frans begitu girang, Tn.Diwan hanya tersenyum melihat anak sulung nya itu.
__ADS_1
Rina menjadi bahagia, karna anak perempuan nya juga hidup dengan bahagia.
...----------------...
Di kantor.....
Davvien gusar, dia mulai tidak tenang, perasaan nya tidak menentu, selalu terpikirkan tentang istri dan calon anak nya, berulang kali Davvien menepis nya karna Davvien memang selalu merasa khawatir jika snag istri jauh dari dirinya, tapi Davvien merasa kali ini beda, dia terus berjalan secara bolak balik depan belakang.
Fero yang melihat nya hanya menggeleng kepala.
"Dasar bucin akut, sekarang saja tidak bisa jauh-jauh"
Batin Fero masih menatap Davvein.
"Kutu kupret, katakan aku harus apa?"
"Telfon saja dia"
"Iya aku mau nya begitu, tapi aku tidak ingin merusak momen kebersamaan mereka"
"Kamu telpon anak buah mu saja yang kau suruh mengawasi Vera"
"Ah iya, aku sudah memikirkan nya"
"Cih, selalu saja begitu dia mengatakan memikirkan setelah aku memberitahu padanya"
"Bagaimana keadaan istriku"
"Baik bos, Nona Vera sedang duduk di sebuah Cafe dekat dengan kantor anda bos, dia sedang tertawa bersama teman-teman nya"
"Heum, tidak ada hal yang mencurigakan kan?"
"Tidak tuan, saya akan mengirimkan gambar Nona pada tuan"
"Heum, pantau terus jangan sampai kalian lalai"
"Baok Bo,,,,,s"
Davvien mematikan sambungan, sedikit merasa lega setelah anak buah nya mengirim foto sang istri sedang makan bersama dan tertawa dengan begitu bahagia.
...----------------...
"Pa... aku akan menemui Kia, Fino bilang jika Kia akan pergi ke kantor suaminya setelah pulang dari kampus, aku akan kesana pa"
Ucap Frans yang masih dalam Vidio call bersama sang Mama.
"Baik lah nak, hati hati ya"
"Setelah sampai kamu telpon mama lagi, rasanya sangat lama jika harus menunggu besok, Mama ingin sekali melihat adik mu Frans"
__ADS_1
"Baik ma"
Panggilan pun terputus, Frans menyalami tangan Tn.Diwan lalu melangkah keluar,dia berjalan dengan bibir selalu tersenyum, Frans melangkah penuh harap.
...----------------...
Cafe XX
Vera, Intan, Tania, dan Rani, mereka berempat sudah selesai menyantap pesanan mereka, hari ini ke-empat orang tersebut nampak terlihat lebih riang, terutama bumil, dia jadi orang yang cerewet lagi dan sangat suka tertawa.
Setelah selesai dan keluar dari dalam Cafe, Mereka berpisah di parkiran, Intan, Tania dan Rani mereka masuk ke dalam satu mobil, sedangkan Vera sudah ada supir yang menunggu nya.
Vera akan menuju ke kantor suaminya.
Saat ingin masuk ke dalam mobil, mata nya menangkap penjual batagor di seberang jalan, mungkin karna sedang berbadan dua, Vera jadi ingin makan lagi meskipun setelah memesan makanan yang banyak saat di dalam Cafe.
"Pak, tunggu sebentar ya Vera ingin membeli batagor dulu"
"Sini biar bapak saja Nak Vera"
"Tidak apa pak, masak itu aja harus nyusahin orang lain, Vera tidak suka terlalu di manja"
"Tapi Nak Vera tau sendiri tuan seperti apa, kalau sampai terjadi apa-apa dengan nak Vera maka tuan tidak akan mengampuni kami"
"Sudah pak, Vera bisa jaga diri kan nggak jauh juga pak, lagian jalanan nya kan agak sepi"
"Baik lah, tapi bapak tetap ikut ya"
Vera mengangguk sambil tersenyum, mereka pun menyeberangi jalan setelah melihat jalanan sepi.
"Bang, mau batagornya dong satu"
"Baik neng, mau makan di sini apa bungkus"
"Bungkus saja Bang, oh ya bungkus empat aja ya pak"
"Wah neng, orang hamil memang doyan makan"
"Itu bukan untuk saya semua Bang, untuk suami saya dan kakak saya, juga untuk bapak ini"
Vera menunjuk pak Toni, dia juga teringat akan suami dan juga orang yang sudah di anggap sebagai kakak baginya yaitu Fero.
Setelah selesai, Vera membayar, dia dan pak Toni pun kembali memeriksa keadaan jalan, setelah di yakini sepi, mereka kembali melangkah, tapi saat mereka baru berjalan dua langkah, mobil berwarna hitam yang sudah mengintai mereka sejak Vera dan geng nya masuk ke dalam Cafe melaju dengan sangat cepat, Vera dan pak Toni tidak menyadari nya sama sekali, hingga sampai di tengah jalan, mereka tidak bisa menghindari lagi saat mobil tersebut sudah sampai tepat pada mereka.
Brakkkkkk
"Aaaaaaa"
~Bersambung.
__ADS_1