
Penyakit terbesar adalah penyakit hari, dengki, dendam itulah yang akan membawa kita pada ke hancuran, manusia akan mendapatkan hidayah sekali, jika dia mengabaikan nya maka selamanya dia akan tersesat.
Roy beserta orang kepercayaan nya masih terus berusaha untuk lepas, meski tubuh nya di ikat dengan rantai, namun tak menyurutkan keinginan dua orang ini.
Roy menahan semua sakit jari nya, setiap setelah di potong, jamari mereka akan di celupkan ke dalam minyak mendidih, guna untuk menghentikan darah dari jemari mereka yang di potong.
Orang kepercayaan Roy yang bernama Muli juga sedang berusaha, karna mereka memang tidak ada yang menjaga dalam ruangan penyekapan tersebut, Roy terus menuntun Muli agar bisa melepaskan tangan nya dan mereka bisa lari dari tempat bagaikan neraka itu.
"Ayo cepat Muli, lepaskan rantai ini dari ku!" perintah Roy, Muli hanya menarik bisa menghela nafas panjang.
"Bagaimana mungkin rantai ini bisa terlepas!" protes Muli.
"Apa kamu bilang, maknanya punya otak itu di pakai, cari akal!" Hardik Roy dengan penuh emosi.
"Kalau begitu jika anda yang lebih pandai, kenapa tidak anda saja yang melepaskan saya duluan!" tukas Muli yang juga sudah sangat geram dengan kelakuan bos yang selalu berbuat seenaknya.
"Kau berani memerintah ku, kepar*t!" Cemooh Roy lagi.
"Bukan seperti itu, sekarang bukakan dulu rantai di tangan ku supaya aku lebih mudah membuka rantai di tangan mu!" imbun Muli yang kembali menenangkan bos bengis nya itu.
"Baik lah! carikan aku benda berupa kawat kecil!" perintah Roy lagi.
Muli menurut, dia mengedar pandangan nya ke seluruh ruangan, dan mata nya pun menangkap suatu benda kecil dan panjang.
"Itu bos!" pekik Muli, Roy langsung melihat pada arahan dari orang nya.
"Ya sudah ambil cepat!" tukas Roy.
Muli bergegas memajukan tubuhnya, setelah berusaha cukup jauh, Muli mengambil benda yang do harapkan berguna itu.
Muli langsung menyerahkan pada mulut Roy untuk membuka rantai di tangan nya, karna tangan Roy sudah tidak berguna lagi.
__ADS_1
Kreeekkk..
Kunci rantai di tangan Roy terbuka, Roy dengan harapan penuh memberikan benda itu untuk Muli guna untuk melepaskan dirinya.
Namun, yang terjadi adalah hal yang tidak di sangka oleh lelaki paruh baya itu, saat melihat senyuman licik terbit di mulut Muli.
Muli bangun, dia memegang rantai dengan jemari yang hanya tinggal enam lagi, kemudian langsung dia kait kan di leher Roy.
"Aahhhkkkk!" pekik Roy saat merasakan rantai itu begitu mencekik dirinya.
"Ke-kenapa kamu malah mencekik saya?" tanya Roy dengan suara tercekat.
"Karna saya sudah bosan mendengar kan perintah kamu terus, dulu saya mengabdi karna saya membutuhkan duit yang kamu kasih, tapi sekarang. Bahkan kamu tidak bisa menyelamatkan diri kamu sendiri, untuk apa saya harus membantu tua bangk* yang sudah tidak berguna ini!" gumam Muli tepat di telinga Roy.
"Ku-kurang ajar ka-kamu!" hardik Roy kembali.
"Mungkin memang sudah saatnya kamu Istora dengan tenang, dan lupakan semua dendam mu. Ha... ha... ha..!" suara Muli begitu nyaring di telinga Roy.
Muli melepaskan tubuh Roy setelah membunuh nya, dia langsung bergegas ingin keluar.
Namun sayang, saat berjalan mendekati pintu, benda yang terbuat dari kayu itu terlebih dulu di buka.
"Kamu!" ucap seorang penjaga pintu ruangan.
"Iya saya!" Muli langsung memukul wajah penjaga tersebut dan membuat nya tersungkur ke lantai.
Muli berusaha melarikan diri, namun usahanya tentu tidak akan berhasil karna semua di jaga dengan begitu ketat.
"Mau kemana kamu!" ucap penjaga lain nya, Muli berhenti karna melihat pistol sudah di todong kan pada dirinya.
Para penjaga itu kembali memborgol Muli dan memasukkan nya lagi ke dalam ruangan penyekapan. Dan semuanya kaget saat melihat Roy terlentang tak bernyawa, dengan rantai masih berada di leher nya.
__ADS_1
Iran yang turut mengikuti mereka juga sangat terkejut, tanpa menunggu lama, ketua mafia ini pun langsung menelpon Davvien.
...----------------...
Sedangkan di dalam mobil, Davvien, Vera dan juga Fero sedang berjalan menuju markas. Davvien sedang mengelus lembut kepala Vera, tiba-tiba ponselnya berbunyi nyaring.
Gring....Gring....gring...
Davvien menghentikan aktivitas nya, lalu menyambar ponsel yang berada di samping nya.
"Irfan!" gumam Davvien, tanpa menunggu lama dia langsung mengangkat nya.
"Katakan!" ucap Davvien dengan nada datar.
"Roy sudah meninggal Tuan!" ucap Irfan di seberang.
"Apa!"
.
.
.
.
.
~Bersambung
Jangan lupa ya Like, Komen dan juga Vote nya.
__ADS_1