Gadis Penakluk Mafia Karatan

Gadis Penakluk Mafia Karatan
Hari keberuntungan


__ADS_3

Di kantor...


"Fero, apa jadwal ku hari ini?"


Tanya Davvien yang baru duduk di kursi kebesaran nya.


"Ada pertemuan dengan kliyen dari perusahaan Bosowa Grup, perusahaan ini di katakan kalau pemimpin nya sudah tewas karna kecelakaan, dan karna sebab itu perusahaan ini sekarang di urus oleh asisten pribadi pemilik perusahaan ini"


Jelas Fero pada Davvien, dia pun melanjutkan kan yang terasa ganjal di hatinya.


"Tapi aneh nya kenapa sampai saat ini perusahaan ini belum di lantik pimpinan baru kenapa malah asisten nya yang mengurus nya"


Davvien hanya diam dan menyimak apa yang di jelaskan Fero.


"Apa kita tolak saja"


Tanya Fero lagi, dan kali ini Davvien pun menjawab.


"Tidak, ntah mengapa aku jadi penasaran dengan pemilik perusahaan ini, kalau dia sudah meninggal pasti pemilik nya akan di ganti dengan yang lain, tapi ini masih atas kepemilikan nya dan asisten nya yang mengurus nya, pasti asisten nya menyembunyikan sesuatu"


Ntah kenapa kali ini Davvien ingin tau apa yang terjadi dengan pemilik perusahaan tersebut, padahal dia tipikal orang yang tidak suka mengurus urusan orang lain.


"Baik lah, meeting nanti jam 09:00"


Davvien hanya mengangguk,


"Setelah luka ku sembuh, kita akan ke markas dan membuat rencana buat menyerang markas Fernando, dan hancurnya perusahaan nya perlahan"


Perintah Davvien dan Fero mengiyakan nya.


...----------------...


Sedangkan di kampus....


Pak Toni sudah sampai di parkiran kampus, tapi dia bingung karna belum tau orang yang harus dia jemput seperti apa karna tadi tidak sempat meminta gambar majikan nya itu.


Pak Toni benar benar kebingungan, lalu dia mengambil ponsel milik nya berencana menelpon Fero untuk meminta gambar majikan yang akan dia jemput.


Sudah beberapa kali Pak Toni menghubungi Fero tapi tidak ada jawaban, akhir nya pak Toni pasrah dia akan bertanya nanti saat melihat siswa keluar pikir nya.


...----------------...


Fero tidak melihat ponsel nya berdering di dalam saku celana karna dia mengaktifkan mode senyap, supaya meeting nya tidak terganggu.


"Semoga kita bisa jadi rekan kerja yang baik tuan Davvien''


Ucap pak Dion sambil menjabat tangan Davvien.


"Iya pak Dion, saja memang tidak suka bila rekan kerja saja suatu saat berkhianat pada saya"


Balas Davvien dengan tersenyum namun mengandung sebuah ancaman.


"Dan itu tidak akan pernah saya lakukan, saya permisi dulu pak Davvien''


"Baik, silahkan"


Mereka pun keluar meninggalkan kantor yang berlogo "WILMAR GRUP"


...----------------...


Kembali di kampus..


Karna dosen di lokal Vera memberi tugas untuk mereka, maka Vera dan Intan berencana pulang lebih awal, dan di ikuti juga oleh Tania dan Rani.


Setelah mereka mengunjungi kantin, kini mereka berjalan ke arah parkiran.


"Eh Tan, Ran, Nia loe kerumah gw yok, sekalian Tan kita bikin tugas"


Ajak Vera pada ketiga sahabat nya sambil terus berjalan.


"Iya boleh ayok Ra" Jawab Intan.


"Eh gw nggak bisa ya, gw lagi ada urusan"


Tolak Rani


"Kenapa Ran loe kok akhir akhir ini sibuk banget"


"Eh itu, pokok nya gw lagi ada urusan nanti kalian juga tau kalau udah saat nya"


"Ah nggak asik, loe main rahasia rahasiaan sama kita" ujar Tania.


"Bukan rahasia cuman belum saat nya, udah ya gw pergi dulu" Rani pun pergi.


"Ya sudah ayok" Ajak Vera


"Eh tunggu tunggu, gw juga nggak bisa" Tania cengengesan.

__ADS_1


"Lahh kenapa lagi" Tanya Intan.


"Gw harus pulang sekarang by" Tania pun berlalu.


"Kenapa sih mereka"


Tanya Vera dan Intan hanya mengangkat kedua bahunya menandakan kalau dia juga tidak tau.


Mereka pun melangkah pada parkiran, saat sampai di sana mereka langsung di hampiri oleh seseorang yang berpakaian hitam layak nya supir.


"Nona, maaf boleh saya bertanya"


Dengan sopan seseorang bertanya pada Vera dan Intan yang ternyata adalah pak Toni.


"Iya pak, ada apa?" Intan balik bertanya.


"Apa kalian kenal dengan Nona Vera?"


"Maaf pak, Vera siapa ya saya juga Vera"


Jawab Vera yang merasa bingung.


"Oehhh apakah anda betul istrinya tuan Davvien?"


Tanya pak Toni lagi, dia memang sudah tau nama tuan nya karna sempat di beritahukan oleh Fero.


"Benar saya pak, kenapa ya?"


"Oehhhhh Alhamdulillah saya bertanya pada orang yang tepat, kalau tidak habislah saya"


Pak Toni sampai sujud syukur, mengingat kalau dia tidak berhasil menemukan majikan yang di perintahkan untuk dia jemput mungkin bukan hanya pekerjaan yang hilang tapi nyawa pun bisa melayang mengingat betapa buas nya tuan nya saat marah.


Sedangkan Vera dan Intan yang bingung melihat tingkah orang di hadapan nya pun berbicara lagi.


"Pak, bapak kenapa?"


Tanya Vera yang memegang tangan Pak Toni untuk bangun.


"Eh tidak Nona, saya di perintahkan tuan buat jemput anda"


"Hah, maksud bapak bapak kesini sebagai supir saya?"


"Iya Nona, saya di suruh Tuan Fero buat antar jemput Nona Vera kemanapun anda pergi dan satu lagi"


Pak Toni langsung berlari ke dalam mobil, saat dia kembali terlihat pak Toni membawa sebuah kotak persegi empat yang berlogo buah apel telah tergigit sebelah, pak Toni pun menyerahkan nya pada Vera.


"Apa, kak Fero juga membelikan aku handphone"


Vera tak percaya dengan apa yang dia dapatkan hari ini, sungguh hari ini hari keberuntungan bagi Vera.


"Iya nona, sebaiknya kita pulang"


"Tapi Tan, loe jadi kan ke rumah gw?"


"Iya jadi lah"


"Pak Vera sama Intan saja ya"


"Duh maaf nona, saya tidak berani mengizinkan nya karna tadi tuan bilang kalau saya harus membawa pulang nona Vera"


"Heumm ya udah loe aja yang ngikut bareng gw yok Tan"


"Ehh nggak usah, gw bawa mobil sendiri saja, udah loe bareng bapak ini aja"


"Tapi beneran loe nggak apa apa"


"Iya beneran lah, kan gw pergi pulang nya juga sendiri Ra"


"Ya sudah, kamu ngikutin kita aja ya"


"Oke.sippp"


Mereka pun melangkah masuk dalam mobil, Vera merasa sangat senang, karna orang yang di anggap nya kakak sangat perhatian pada nya.


Yap Vera beranggapan kalau yang membeli mobil dan handphone untuk nya adalah Fero.


Karena rasa senang Vera dia berencana meminta terimakasih pada Fero, dia telah meminta nomor ponsel Fero tapi tidak di angkat oleh Fero, karna ponsel milik Fero masih dalam mode senyap.


"Nanti saja lah waktu dirumah aku berterima kasih kepada kak Fero".


Ucap Vera sambil tersenyum.


Sekarang dia sudah sampai di rumah, Vera turun dan di ikuti juga oleh Intan.


Mereka langsung berjalan masuk, Intan tercengang melihat kemewahan rumah yang di tempati sahabatnya itu, meski Intan orang berada tapi kemewahan rumah Davvien tetap membuat Intan kagum.


"Ra, loe benar benar seperti tinggal di istiana"

__ADS_1


Ucap Intan berdecak kagum.


"Iya istana, tapi gw sendirian di sini lebih baik rumah biasa saja dari pada tinggal sendirian di rumah sebesar ini"


Jawab Vera, wajah nya berubah menjadi kusut mengingat Davvien tidak membawa pelayan ke rumah nya itu, sebenarnya bukan karna Vera malas untuk beresin rumah, tapi dia hanya ingin ada teman saat dia di rumah.


"Sabar Ra"


Hanya itu yang bisa di ucapkan Intan, dia tau bagaimana kehidupan rumah tangga Vera, dan akhirnya mereka pun langsung mengerjakan tugas.


Setelah satu jam mereka mengerjakan tugas akhirnya mereka selesai, tanpa sadar mereka berdua langsung tertidur.


Jam menunjukkan pukul 04:05 Vera terbangun, dia langsung membangun kan Intan.


"Tan bangun Tan, udah asar, kita solat dulu yuk"


Intan pun mengerjakan matanya, dia pun bangun, dan mereka langsung melaksanakan kewajiban solat asar.


Setelah selesai Vera berencana mengajak Intan untuk masak.


"Eh Tan, kita kan udah lama nih nggak masak bareng ayo kita masak buat makan malam, nanti kamu makan malam di sini ya"


"Oke Ra, tapi aku hubungin mama dulu ya"


"Sipppp"


Setelah memberitahu pada mamanya kalau Intan akan pulang telat sekarang mereka sudah di dapur.


Mereka membuat begitu banyak makanan, ini lah jadinya kalau sudah beradu orang yang sama sama suka masak.


Satu jam lebih mereka berkutat di dapur, sekarang Vera dan Intan sedang menata makanan di meja.


"Udah hampir magrib ayo kita mandi dulu"


Mereka pun kembali masuk ke dalam kamar Vera, mandi satu persatu, setelah keduanya selesai mereka lalu solat magrib, dan Intan tentu saja memakai pakaian Vera, sudah hal biasa bagi mereka memakai pakaian sahabat nya, kadang pakaian yang masih baru kadang juga pakaian lama.


Vera dan Intan kini sudah berada di ruangan tamu, setelah selesai solat Vera mengajak Intan buat nunggu Davvien dan Fero pulang di ruang tamu.


Rasa nya Vera sudah tidak sabar mengucapkan terima kasih pada Fero.


Vera bercerita dengan Intan sesekali mereka tertawa lepas saat mengingat masa kecil dulu, karna mereka berteman memang sedari kecil.


Tak lama kemudian, terdengar suara mobil masuk ke dalam halaman rumah.


"Seperti nya mereka pulang"


Ucap Vera yang langsung bangun dan berlari kecil ke arah pintu masuk.


"Mereka" Gumam Intan


Saat sampai Vera langsung membuka pintu, dan terlihat Davvien berdiri di depan pintu dengan wajah datarnya.


Vera langsung tersenyum, Davvien kembali merasa debaran jantung nya semakin kencang, tanpa menghiraukan nyan Davvien langsung masuk, di lihat Intan yang tersenyum canggung padanya Davvien hanya cuek dan berlalu begitu saja, Intan merasa sangat segan melihat sikap Davvien pada Vera dan juga pada dirinya.


Sedangkan Vera langsung berterima kasih pada Fero, kata yang ingin dia ucap kan sedari tadi pada orang yang telah peduli padanya.


"Kak, kak Fero makasih ya"


"Untuk?"


"Ya apa lagi kalau bukan yang tadi siang"


"Apa Vera, saya benar benar tidak mengerti"


"Ishhh pura pura lupa, kan kakak yang beliin mobil sama cariin supir buat Vera, dan satu lagi kakak juga beliin aku handphone baru"


"Owhhh itu, memang kakak yang beli tapi atas perintah nya Davvien dan juga menggunakan uang nya"


Jawab Fero santai, Intan pun keluar saat di lihat nya orang yang sempat menarik perhatian nya Intan langsung membeku.


Deg deg deg


Saat ini jantung Vera dan Intan berlomba berdetak, mereka berdegup cukup kencang karna berbeda hal.


Intan menjadi gugup karna lelaki yang sempat dia sukai kini telah berada di hadapannya lagi.


Sedangkan Vera, ada rasa aneh antara senang karna suaminya peduli padanya tapi dia juga berfikir apa dia akan berterima kasih, tapi bangai mana caranya


~Bersambung


Mohon maaf bila tidak sesuai, mohon kritikan nya dong.


Like


Komen


Vote.

__ADS_1


__ADS_2