
Di sebuah ruangan rumah sakit, semua wajah orang yang berada di dalam sana tampak begitu sedih, terutama ibu dari anak yang sedang memandang tak bergeming di atas ranjang kecil khusus bayi.
Meski sudah di tangani oleh dokter, namun bayi perempuan Vera dan Davvien ini tetap masih dalam keadaan yang sama.
Kalian pasti tau posisi Vera saat ini, bisa kalian bayangkan anak nya yang baru beberapa minggu terkulai lemah dan tak berkedip sama sekali, hati ibu mana yang tidak sakit bila melihat belahan jiwanya seperti itu.
Ingin rasanya dia saja yang menggantikan posisi anak nya saat ini. Dengan segera dia menghubungi sang suami, agar bisa menemui anak nya secepat mungkin. Terutama yang membuat nya sangat sedih, karna sang suami tidak ada di sana.
"Sayang! ini Mama, Nak! kamu kenapa ... jangan bikin Mama khawatir, sayang!" lirih Vera tepat di telinga bayinya yang sudah di pasang berbagai selang, salah satunya selang makanan, agar bisa memberikan ASI untuk anaknya itu.
Vera terus mencium tangan, kaki dan juga wajah anaknya. Ny.Andin dan Rina juga masih di sana, mereka juga tak henti menangis dan juga berdoa, agar sang cucu bisa segera sembuh.
"Ya Allah ... sembuhkan lah cucu kami!" lirih Ny.Andin memanjatkan doa.
Tn.Diwan dan Andre juga sudah berada di sana, tak tinggal juga Frans. Mereka semua sudah di beritahu oleh Vera. Syakir di baringakan di samping Syakira, anak lelakinya ini hanya memejamkan matanya sedari tadi.
"Sayang ... kamu nggak boleh seperti ini, kasihan Mama dan Abang Syakir sedih karna Syakira sakit, kamu harus kuat ya sayang ... ponakan uncle pasti kuat!" ujar Frans pada keponakan nya itu, dia juga sangat takut melihat keadaan Syakira saat ini.
"Cucu kakek pasti kuat, dia anak yang tangguh seperti Mama nya!" ucap Tn.Diwan mencoba menghibur semua orang di sana.
"Iya benar, cucu Opa pasti sanggup melawan ini semua!" timpal Tn.Andre, hati kedua kakek ini juga ikut tercubit melihat keadaan sang cucu, terutama Tn.Andre. Karna dia memang sangat menginginkan cucu perempuan, sebab dia hanya memiliki anak lelaki.
Azan magrib pun berkumandang, semua pamit untuk menunaikan kewajiban mereka, juga ingin mendoakan untuk keselamatan bayi Syakira.
Kini hanya tinggal Vera di sana, dia terus memandangi anak nya dengan air mata yang begitu saja keluar tanpa permisi.
"Nak! apa kamu merindukan, Papa?" gumam Vera pada anak nya itu.
"Kalau iya, kamu harus kuat sayang! karna Papa pasti sedih jika melihat keadaan kamu seperti ini!" lanjut Vera lagi.
...----------------...
Setelah para anggota keluarga sudah selesai menunaikan ibadah solat magrib, Ny.Andin dan Rina kembali ke dalam ruangan, sedangkan para lelaki masih berada di mushola yang berada di rumah sakit.
"Bagaimana, Nak ... apa ada pergerakan?" tanya Rina kepada Vera.
"Tidak, Ma! dia tetap masih sama!" jelas Vera, mata nya sudah terlihat sangat sembab, karna sedari tadi mengeluarkan air mata.
Tiba-tiba dari luar terdengar suara langkah dari luar dengan begitu tergesa-gesa. Hingga ...
__ADS_1
Brakkkk
Seseorang membuka pintu ruangan dengan begitu cepat, dia masuk dan di ikuti oleh seseorang lagi di belakangnya.
Semua yang ada di sana terkejut, merekapun langsung melihat pada asal suara. Orang itu yang tak lain adalah Davvien dan Fero langsung melangkah masuk dengan kaki yang terbuka lebar.
"Sayang! katakan apa yang terjadi pada anak kita?" tanya Davvien dengan begitu panik. Hatinya terasa teriris saat melihat keadaan anak dan juga istrinya yang terlihat sangat menyedihkan.
Bagaimana tidak, anak yang baru saja memberikan rasa bahagia dan mewarnai hari nya selama beberapa minggu ini, sekarang ini dalam keadaan lemah seperti itu, ayah mana yang sanggup melihat bayinya sakit, apalagi setelah beberapa hari mereka tidak bertemu. Saat dia kembali pun anak nya dalam keadaan yang mengkhawatirkan. Air matanya langsung menerobos tanpa permisi, mengalir pada pipinya yang segera dia hapus.
"Ntah lah, Mas! sejak sore badan nya panas dan dia juga terus memandang seperti ini!" jawab Vera, dia menyeka sedikit air mata yang sudah sangat membasahi pipinya.
"Apa yang di katakan dokter?" tanya Davvien.
"Dokter bilang dia hanya demam, tidak ada penyakit yang serius. Dokter Hana cuma menduga jika mungkin saja dia merindukan mu, bukan kah kamu bilang juga rindu dan terus memikirkan mereka!" imbuh Vera, menjelaskan panjang lebar dengan sesekali sesenggukan.
Mendengar hal tersebut, membuat hati ayah si kembar ini tambah sakit dan juga sedih, perlahan dia mendekati anak perempuan nya.
"Sayang! Papa pulang, Nak!" ujar Davvien di telinga anak nya itu. Dengan air mata dia mencium seluruh wajah Syakira hingga sampai ujung kaki.
"Sekarang Syakira mau ya minum ASI, kalau nggak Papa marah nanti!" lanjut Davvien.
"Nak, ayo syang! kasihan juga abang Syakir, dia pasti juga sedih karna Syakira sakit!" lirih Davvien. tangan nya terangkat mengelus kepala kecil anak bungsunya itu.
Tiba-tiba tanpa mereka duga, tangisan Syakira langsung pecah, memenuhi ruangan tersebut. Dia menangis begitu histeris.
Vera yang melihat nya begitu terkejut, begitupun dengan yang lainnya. Tangisan merekapun ikut pecah karna rasa haru melihat ayah dan anak yang saling merindui.
Davvien langsung menyambar tubuh kecil anak nya itu "Sayang, ini Papa nak. papa sudah pulang, dan tidak akan meninggalkan Syakir sama Syakira lagi!" gumam Davvien di sela-sela tangisan Syakira.
Vera langsung memencet tombol pada dinding, untuk memanggil dokter. Davvien masih menimang-nimang Syakira, hingga tangisan bayi gembul nya itu perlahan mereda.
Tak lama pun, dokter Hana tiba. Davvien meletakkan bayinya lagi untuk di periksa oleh dokter Hana.
"Alhamdulillah ... seperti nya bayi Syakira memang merindukan Papa nya, karna saat ini demam nya sudah menurun. Dan Nona Vera, jika dia sudah mau menyusu pada mu lagi, maka selang nya akan kami keluarkan!".
"Keluarkan sekarang juga!" timpal Davvien dengan suara dingin nya. Sedari tadi dia sudah sangat kasihan melihat anak nya yang di masukkan selang ke dalam mulutnya.
"Baik, Tuan!" Dokter Hana langsung melaksanakan apa yang di katakan Davvien.
__ADS_1
Sedangkan Davvien langsung mendekati sang istri dan memeluk Vera, lalu mendaratkan ciuman begitu lama di dahi sang istri.
"Maaf kan aku, sayang! saat susah seperti ini aku tidak ada di samping mu!" pinta Davvien sambil mengeratkan pelukannya.
"Tidak apa-apa, sayang! itu bukan salah mu!" imbuh Vera menyangkal ucapan sang suami. Davvien melepaskan pelukan nya pada Vera, lalu ayah bayi kembar ini mendekati Syakir.
"Anak lelaki Papa kenapa ikut diam, hem!" tanya Davvien sembari menggendong anak lelakinya itu.
"Sedih ya, karna adik, Syakir sakit!" gumam Davvien terus pada Syakir, membuat mata bulat anak lelaki nya itu perlahan terbuka.
"Papa sayang sama kamu, Nak! Sekarang minum susu dulu ya, sebelum nanti gantian sama adek!" lanjut Davvien. Diapun langsung menyerahkan Syakir pada Vera untuk dia susui.
Selesai melepaskan selang pada Syakira, dokter Hana langsung pamit keluar, Davvien kembali menggendong bayi perempuan nya.
"Maafkan Papa ya, meninggalkan kalian begitu lama!" tukas Davvien, tak henti-hentinya dia mencium wajah Syakira.
Ny.Andin dan Rina pun mendekat "kejadian ini membuktikan, jika ayah dan anak juga mempunyai kontak batin yang sangat kuat, Syakira langsung diam saat dalam gendongan mu, Vien!" ujar Ny.Andin.
"Iya, Nak! mungkin karna bayi perempuan lebih dekat dengan mu!" timpal Rina yang membenarkan ucapan besan nya.
"Iya, Ma, Mom! mulai sekarang kemanapun Davvien pergi, akan selalu membawa mereka!"
Akhirnya suasana dalam ruangan tersebut berubah menjadi haru dan bahagia karena Syakir dan Syakira sudah mau menyusu lagi.
.
.
.
.
.
.
~Bersambung.
jangan lupa dukungan kalian temen-temen, like, kmen dan juga Voteš¤.
__ADS_1