Gadis Penakluk Mafia Karatan

Gadis Penakluk Mafia Karatan
Serangan mendadak


__ADS_3

...Halo para Reader ku tersayang, sebelum aku melanjutkan cerita ini, aku ingin mengucapkan beribu ribu terima kasih, karna kalian sudah mau membaca karya gadungan yang acak acakan ini....


...Aku hanya seorang pemula dalam membuat sebuah karya, maka dari itu bila karya ini kadang tidak sesuai dengan keinginan kalian, atau terdapat banyak kata yang salah, dan susunan kata nya tidak terlalu bagus, mohon di maklumi....


...Aku harap, kalian akan setia mengikuti kisah nya dari awal, pertengahan yang kadang datar kadang hancur hingga kisah ini berakhir, jika kalian kurang suka bisa langsung di komen biar aku nya sadar dimana kesalahan nya....


...Yang jelas aku hanya ingin berterima kasih pada kalian semua yang tidak aku sebutkan satu persatu, semoga betah selalu di sini🤭😁🥰🥰....


...----------------...


Saat dia membuka mata, kedua manik nya benar benar terbuka lebar setelah menyadari benda yang sedang menimpanya adalah tangan berotot yang melingkar sempurna di pinggang kecilnya.


"Aaaaaaaaaaaaaaaa"


Teriak Vera langsung melepaskan diri dari Davvien dan


Bhuk..


Vera mendorong tubuh Davvien, tapi karna badan kekar itu sangat berat akhirnya Vera yang terjatuh dari tempat tidur.


"Aw, pantat ku" ucap Vera memegang pantat nya yang terasa sakit.


Davvien yang mendengar itu langsung panik, dia bangun dan menghampiri Vera.


"Kenapa kamu mendorong ku, kan jadi nya kamu yang sakit, ayo aku bantu bangun" Davvien membantu Vera bangun dan mendudukkan nya kembali ke tempat tidur.


Vera meringis kesakitan, dengan tangan nya masih memegang pantat yang yang terasa hampir patah.


"Kenapa kamu berteriak dan mendorong ku heum" tanya Davvien lembut, dia hendak mengelus pantat sang istri, tapi di cegah oleh Vera, yang benar saja masak lelaki ini ingin memegang pantat nya, pikir Vera.


"Aku, aku hanya kaget tuan, karna aku tidak biasa tidur dengan seorang pria" Jawab Vera yang memegangi tangan Davvien agar tidak memegang pantat nya itu.


"Lagian tuan kenapa bisa tidur seperti itu, aku kan sudah membuat pembatas di tengah" Lanjut Vera merasa kesal bercampur malu membayangkan yang terjadi beberapa detik lalu dia berada dalam pelukan suaminya.


"Kenapa, kau kan istri ku. Bahkan aku bisa berbuat lebih dan tidak ada larangan untuk ku" bisik Davvien di telinga Vera di iringi dengan senyuman genitnya.


Vera yang mendengar bisikan itu terasa merinding, dia merasa Davvien bagaikan setan yang sedang menggoda iman nya hingga membuat Vera terdiam dan menciut.


Setelah membisikkan kata kata tersebut Davvien kembali mendekatkan wajah nya pada wajah Vera, sedangkan Vera semakin gelagapan saat tatapan nya terkunci oleh tatapan Davvien.


"Tuan, saya harus kuliah dan membuat kan sarapan untuk anda" elak Vera, dia ingin berdiri tapi lagi lagi di tahan oleh Davvien.


Vera panik dengan keadaan seperti ini, bagaimana tidak, jarak di antara mereka hanya beberapa senti, bahkan hidung mereka sudah menempel, deru nafas keduanya tercium satu sama lain, Vera merasa jantung nya saat ini sedang meloncat loncat, bahkan jika Davvien melihat nya seakan nampak baju Vera yang naik turun karna efek dari debaran jantung nya yang tidak karuan.


Vera tidak bisa berkutik lagi, sekarang Vera yang cerewet sudah bungkam karna drama yang di buat Davvien, dia pun memilih memejamkan matanya saat suaminya itu masih terus mendekat, bersiap siap menghadapi apa yang terjadi selanjutnya.


Davvien yang melihat itupun tersenyum, sebenar nya dia sangat ingin melahap bibir mungil Vera, tapi Davvien menahan nya karna terlalu cepat dan tidak ingin membuat Vera syok, dia tidak ingin Vera kembali merasa tertekan, karna dia tau, Vera gugup dia pun mengangkat tangan nya mengambil benda pipih di atas nakas tepat di samping Vera lalu beranjak dari sana.


Vera yang merasa pergerakan di sisinya pun membuka matanya, setelah di lihat nya Davvien sudah pergi dari dekatnya Vera pun menghela n panjang nafas nya merasa lega.


"Kenapa aku jadi begini, aduhh malunya nanti dikira nya aku terlalu pasrah dan murahan lagi tidak menolak sama sekali, tapi bagaimana aku bisa menolak dia kan suami ku, tapi aku terlihat seperti wanita gampangan, lain kali aku harus lebih jual mahal lagi"


Ucap Vera yang meyakinkan dirinya sendiri.


Sedangkan Davvien sedang berbicara dengan seseorang melalui gawai miliknya.


"Sebelum kamu kesini, jemput lah teman istriku yang bernama Intan, dan bawa kesini aku ingin dia menemani istri ku, karna kita harus melakukan rapat, aku tidak ingin istri ku merasa bosan sendirian"


"Apa, kenapa harus aku"


"Sekalian saat kamu kesini, lagian kamu sudah tau alamat rumah nya kamu kan pernah mengantarnya"


"Tap..."


"Jemput, atau kemasi barang mu dan berliburlah ke benua afrika" ucap Davvien tegas langsung mematikan sambungan nya.


Saat membalikkan badannya Davvien tidak mendapati Vera di atas tempat tidur, lelaki putih inipun mengarahkan pandangan nya ke seluruh isi kamar, matanya pun berhenti di pintu kamar mandi yang terbuka.


Saat ingin menghampiri Vera, tiba tiba yang ingin di hampiri pun keluar.


"Air nya sudah siap tuan, silah anda mandi"


"Kamu masih belum sehat, kenapa melakukan ini" ucap Davvien mengelus kepala Vera.


"Saya sudah sehat Tuan, dan anda mandi lah saya akan membuat kan anda sarapan"


"Sarapan sudah di siapkan oleh pembantu, lagian kamu harus istirahat tidak boleh melakukan apapun"


"Oh ya, saya lupa kalau di sini sudah ada bi Ainun dan bi Rahmi"


Vera baru teringat kalau di rumah itu bukan lagi seperti rumah kosong karna sudah ada pelayan di sana.


"Tapi izinkan saya memasak tuan, bagaimana pun saya harus melayani anda sebagai suami saya, lagian memasak adalah hoby saya tuan"


Vera tidak tau saja, perkataan nya bisa membuat jantung orang di hadapan nya itu jadi lari maraton, Davvien senang mendengar Vera ingin melayani nya sebagai suaminya.


"Baiklah, tapi setelah kau benar benar sembuh"

__ADS_1


"Baik tuan, sekarang mandi lah aku juga ingin mandi, nanti aku bisa telat ke kampus"


Karna Vera melihat jam menunjukkan pukul 07:05


"Kau tidak boleh kekampus sebelum kau benar benar sembuh"


"Tapi aku sudah sembuh tuan, lagian seharian di rumah aku akan merasa bosan"


"Aku tidak suka di bantah, aku sudah menyuruh Fero untuk menjemput kawan mu itu dan membawanya kesini untuk menemani mu selama aku di kantor"


Vera melongo mendengar ucapan Davvien, ternyata orang ini sudah memikirkan semuanya, dia selalu melakukan apa yang di inginkan kan nya, bagaimana Intan menemaniku, dia kan juga harus pergi ke kampus, Vera tidak habis fikir dengan cara Davvien.


"Tap..."


"Apa, masalah kampus aku suruh Fero membuat izin untuk kalian berdua"


Davvien yang sudah tau apa yang akan di katakan Vera langsung menjawab, lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Vera untuk sesaat terdiam mencerna semua yang di katakan Davvien, dia bingung dengan perubahan sikap Davvien, Vera merasa yang sekarang di hadapan nya itu bukan Davvien suaminya.


"Apa dia Kesambet setan baik ya"


Daripada pusing memikirkan Davvien Vera akhirnya berjalan pada ruangan ganti dan mengambil pakaian untuk Davvien.


...----------------...


Sedangkan di lain tempat.....


Saat mendengar ancaman Davvien, Fero langsung bersiap siap dan keluar dari apartemen nya.


Kini Fero sudah ada di dalam mobilnya, tanpa berfikir apapun lagi dia langsung tancap gas ke rumah Intan.


Karna Fero sudah mengantar Intan malam itu, Fero jadi tau tempat tinggal Intan.


Karna Fero membawa mobil nya dengan sedikit kencang dan jalanan masih agak sepi, dia pun sampai di rumah Intan dnegan waktu singkat. Fero takut kalau Intan akan lebih dulu pergi ke kampus.


Fero sudah berdiri di depan pintu, lalu memencet bel pintu depan rumah Intan.


Ting,,tong,,


"Siapa ya"


Mereka yang mendengar nya pun penasaran, pasalnya pagi pagi sudah ada tamu, kebetulan Intan beserta papa dan mama nya sedang sarapan.


Ting,,tong,,


"Coba kamu lihat siapa"


Intan pun beranjak dari duduk nya, betapa kagetnya Intan saat membuka pintu dan memperlihatkan seseorang yang beberapa waktu lalu mengganggu hatinya.


"Tu tuan"


Ucap Intan yang masih tercengang dengan kedatangannya Fero.


"Ayok ikut saya, Davvien meminta ku untuk menjemput mu"


Tanpa aba aba Fero langsung menarik tangan Intan.


"Eh tuan, tunggu sebentar ada apa dengan Vera, saya harua kuliah"


Sikap Fero membuat Intan kembali kaget, karna tiba tiba tangan nya di tarik pangeran pujaan hatinya, tapi Intan berlagak sok biasa saja, padahal hatinya sudah meronta ronta senang.


Saat sampai di dekat mobil Fero melepas kan tangan Intan.


"Aku akan meminta izin untuk kalian berdua, sekarang masuk lah"


Ucap Fero dingin yang tidak melihat ke arah Intan.


"Tapi saya mau pamit dulu sama mama dan papa saya, dan juga mau mengambil tas saya dulu"


"Heummm, ingat aku tidak suka menunggu"


Ucap Fero dingin melihat ke arah lain, tidak sedikit pun melihat pada Intan.


Beberapa saat menunggu pun, Fero melihat Intan keluar dari rumah dan berjalan ke arah nya, dia langsung masuk ke dalam mobil. dan akhirnya di susul oleh Intan.


Mereka pun berangkat meninggalkan halaman rumah Intan dengan perjalan mereka yang sangat membosankan karna Fero hanya diam


dan fokus menyetir.


...----------------...


Di sebuah kamar...


Kini Davvien sudah rapi dnegan pakaian nya, dia menunggu Vera yang sedang mandi.


Dengan sabar Davvien duduk di sofa dengan memainkan gawai di tangan nya.

__ADS_1


Ceklek..


Suara pintu terbuka, keluar lah sosok manusia yang baru selesai mandi sudah lengkap dengan pakaian nya, hanya saja rambutnya yang masih basah dan sedikit acak acakan.


Davvien yang melihat itu menelan salivanya, ntah kenapa penampilan Vera seperti itu malah semakin terlihat cantik dan menggoda.


Davvien berdiri dan menghampiri Vera.


"Tuan masih di sini, kenapa belum keluar untuk sarapan?"


Tanya Vera saat Davvien berdiri tepat di hadapan nya dengan tatapan Davvien yang terus menatap nya.


"Aku menunggu mu"


"Apa, maafkan aku tuan kau jadi lama menunggu ku, sekarang ayo kita turun untuk sarapan, nanti kau terlambat ke kantor"


Ucap Vera yang hendak keluar.


"Hey, kenapa kau sangat heboh. kau bahkan belum mengeringkan rambut mu, kalau kau seperti ini aku tidak jadi sarapan tapi memakan mu, lagian aku terlambat ke kantor aku tidak akan di pecat"


Vera melebarkan mata nya mendengar perkataan Davvien, sangat santai tapi mengandung makna yang sangat bisa membuatnya gugup.


"Kau kering kan rambut mu dan bersiap siap, jangan turun ke bawah aku tidak ingin kau tidur di bawah tangga lagi, nanti pelayan yang akan membawa sarapan mu kesini"


Ujar Davvien sambil memegang lembut hidung Vera, melihat sikap Davvien Vera jadi resah.


"Kenapa berlebihan sekali, mungkin dia benar-benar kerasukan setan baik, tapi kenapa aku jadi resah saat dia menjadi baik ya"


Batin Vera, dia melamun memikirkan perubahan sikap Davvien yang sangat manis kepada nya.


"Cup"


Lamunan Vera buyar saat Davvien mendarat kan satu kecupan di kening Vera, setelah itu dia langsung keluar dari kamar, Vera melongo sambil memegang kening nya yang di cium Davvien, wajah Vera berubah menjadi merah, ntah apa yang dia rasakan.


Vera berjalan ke depan cermin menatap dirinya di sana, lalu mengambil alat pengering rambut, setelah itu dia memoles sedikit wajahnya dengan bedak tipis dan lip tin untuk pelembab bibirnya supaya tidak terlihat pucat, Vera kembali memasang jepit rambut di sebelah kanan dan kiri kepalanya, terlihat sangat imut.


Dia sudah siap, tapi dia bingung karna Davvien melarangnya utuk turun, tak berapa lama.


Ceklek..


Terlihat Davvien sedang membawa nampan berisi makanan.


"Kau sudah siap, ayo sarapan dulu"


Ucap Davvien yang kini mengalihkan pandangannya pada Vera, dan dia pun terdiam.


Davvien terpana melihat istri nya sangat imut, bibir yang sedikit berminyak, ingin dia pautkan dengan bibirnya.


Vera berjalan pada Davvien.


"Apa tuan sudah makan?"


Davvien hanya mengangguk masih menatap istri imut nya.


"Kenapa cepat sekali"


"Karna tidak ada kamu selera makan ku menurun"


Goda Davvien, dan Vera hanya mengejek nya di dalam hati, kemaren kemaren tanpa aku pun dia makan sangat banyak pikir Vera.


"Kali ini kamu makan sendiri ya, aku ada rapat pagi ini mungkin Fero sudah sampai"


"Iya tuan lagian siapa juga yang mau di suapi aku kan sudah besar bukan bayi lagi, tadi juga sudah ku katakan jangan sampai terlambat tapi tuan malah mengelak mengatakan kalau kau ini tidak akan di pe..mmm"


"Cup"


Ocehan Vera terhenti saat Davvien menjatuh kan bibirnya di bibir mungil Vera.


Davvien yang sudah gemes melihat Vera yang cerewet pun langsung mencium bibir Vera.


Vera membelalakkan matanya mendapat serangan mendadak, tak lama Davvien melepaskan ciuman nya.


"Itu hukuman karena kamu terlalu banyak bicara"


"Aku pergi, jangan lupa minum obatnya"


Tanpa rasa bersalah pun Davvien keluar dari dalam kamar, sedangkan Vera masih mematung, merasa tidak percaya dengan apa yang terjadi barusan.


Kini dia memegang dadanya yang bertdetak cepat itu, kemudian memegang pipinya yang terasa panas lalu menurunkan tangan pada bibirnya.


"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa"


Vera berteriak lalu melompat duduk bersila tepat di tengah tempat tidur, Vera tidak sadar kalau pintu kamarnya terbuka sedikit.


Sedangkan Davvien yang sudah sampai di pintu pun kaget mendengar teriakan dari atas, dia pun berlari kembali ke atas, di ikuti Fero dan Intan yang juga mendengar teriakan Vera saat baru sampai.


Brak..

__ADS_1


''Sayang kamu kenapa"


~Bersambung


__ADS_2