
Si tampan babang Davvien.
Babang Fero.
Aldi.
Riki.
...🌷HAPPY READING 🌷...
...----------------...
Pesta sudah selesai, semua undangan pamit untuk pulang, hanya tinggal keluarga inti yang sedang menyantap makan malam di hotel keluarga WILMAR.
Papa sama mama Intan juga ikut pulang, hanya Intan yang masih tinggal di sana, karna dia akan di antar pulang oleh Fero sang kekasih.
Vera merasa sangat lelah, sedari tadi dia memang sudah tidak sanggup melayani para tamu, hingga sang suami menyuruh dirinya duduk saat menyambut semua para undangan.
"Kalian pasti sangat lelah, istirahat lah... Vien, bawa Istri mu ke dalam kamar jika dia sudah selesai makan" Ny.Andin begitu khawatir akan menantunya itu.
"Iya Nak, kalian pasti sangat capek melayani tamu yang begitu banyak" sambung mama Rina.
"Baik Ma, Mom. Aku masuk duluan" Davvien langsung mengangkat sang istri.
"Aku masih sanggup berjalan, kenapa mas malah menggendong ku" protes Vera yang merasa malu, karna di sana ada Papa nya dan Daddy mertua nya.
"Tidak usah malu Nak, Daddy dulu juga seperti itu memperlakukan Mommy mu" Tn.Andra yang tau jika sang menantu merasa malu langsung angkat bicara.
"Lebih baik kamu bawa saja Vien" imbun Tn.Diwan.
Davvien hanya mengangguk, dia hendak melangkah, namun kakak dari sang istri juga tidak tinggal diam untuk menggoda mereka.
"Ingat, adikku kelelahan. Jangan kau ajak bertarung" ucap Frans santai membuat mata semua orang di saja terbuka lebar.
"Dia istri ku, terserah aku mau berbuat apa... kau tidak akan mengerti karna belum pernah merasakan yang namanya surga dunia" teriak Davvien tanpa rasa malu, sambil membopong tubuh sang istri, hingga dia meringis saat Vera mencubit perut nya.
"Aw... sayang sakit, kenapa kamu mencubit roti sobek ku ini"
"Habis nya, kamu tidak tau malu banget sih bicara seperti itu, di sana kan ada Mommy sama Mama di sana" protes Vera.
"Kan mereka juga sudah berpengalaman sayang"
"Hais, kamu selalu tidak mau mengalah" ujar Vera dengan wajah kesalnya.
Para keluarga yang tinggal di meja makan hanya tersenyum sambil geleng kepala, mendengar ucapan anak-anak mereka.
"Mommy, Daddy, Tante, Om saya pamit dulu. Ini sudah malam! takut nya Mama sama Papa Intan khawatir" pamit Fero yang sudah berdiri dan di ikuti juga oleh Intan.
"Cie... kalian harus cepat-cepat juga nyusul Davvien" ujar Ny.Andin.
__ADS_1
Dengan tersenyum Fero menjawab "Kita akan menikah bes...." ucapan Fero terputus tatkala Intan memotong ucapan nya.
"Insya Allah secepat nya Tante" jawab Intan dengan melirik sekilas pada Fero.
Fero jadi gelagapan, dia hanya menggaruk-garuk tengkuk belakang leher nya.
"Ya sudah kami pamit dulu ya Tante" Intan mendekati Ny.Andin lalu mencium kedua pipi wanita yang sebentar lagi akan menjadi mertua nya.
"Tan, Intan pamit dulu ya" Intan pun pamit pada mama Rina, dan melakukan hal yang sama, yaitu mencium pipi mama dari sahabat nya.
"Kamu hati-hati ya Nak"
"Iya Tante"
"Fero jaga Intan, ingat kalian belum sah" peringatan dari mommy Andin.
"Iya Mom, Fero tau batasan"
"Cih, sok baik" imbun Frans.
"Bilang saja kamu iri, seperti nya aku harus melakukan ajang pencarian jodoh untuk mu, biar kamu mengerti bagaimana rasanya jika sudah mempunyai kekasih" mendengar itu tentu saja Frans tidak terima.
"Kau kira aku tidak laku hah!"
"Kenyataan nya seperti itu"
"Jadi kau menantang ku, baiklah lihat sebentar lagi akan ku bawa wanita ku di hadapan mu"
"Buktikan.."
Intan yang sudah jenuh mendengar perdebatan di antara mereka berdua langsung menarik lengan Fero.
"Menyebalkan sekali, benarkah dia seperti bunglon, kadang cerwet kadang dingin... seperti nya aku harus beradaptasi dengan baik sama calon imam ku ini" batin Intan lalu mengulum senyuman di bibir nya.
"Kenapa tersenyum?" tanya Fero yang melihat kekasihnya tersenyum sendiri.
"Tidak Kak, aku hanya memikirkan jika aku harus memahami sikap mu yang berubah-ubah, kadang cerwet, kadang dingin, kadang baik kadang gal..." Intan terdiam saat jari telunjuk Fero menempel tepat di bibir nya.
"Dan kau sangat bawel, diam lah atau aku akan menarik ucapan ku untuk tidak menyentuh mu sampai kita menikah" ancaman Fero tentu membuat Intan bungkam.
"Baik kak"
Fero tersenyum, lalu mengacak rambut Intan "Anak yang patuh"
Mereka pun pergi meninggalkan hotel tempat di langsung kan pesta pernikahan Davvien dan Vera.
...----------------...
Sedangkan di kamar pengantin yang sudah kadaluarsa ini tapi selalu harmonis... mereka sedang saling tatap tatapan, pandang-pandangan, mereka berdua seolah mengulang seperti layaknya pengantin baru.
(Ini hanya sekilas nebak saja ya, author juga nggak tau malam pengantin baru seperti apa).
Mereka berdua duduk di pinggiran tempat tidur, dengan Vera yang tersipu malu karna sang suami terus memandangi dirinya.
Sekeliling kamar di hiasi lilin, lampu yang tidak terlalu terang, hanya remang-remang terkesan begitu romantis, kali ini bukan lilin perangsang ya, karna bukan Fero yang bertugas melain kan kariyawan di hotel.
"Sayang... apa boleh aku melakukan nya?" tanya Davvien, mereka sedang berakting seperti saat malam pertama melakukan hubungan suami istri.
__ADS_1
"E... tapi aku takut, kata orang itu akan sakit" keluh Vera dengan menundukkan kepalanya.
Davvien memegang dagu Vera, mengangkat wajah sang istri, lalu mencium kening Vera dengan begitu lama.
"Aku akan melakukan nya pelan!"
"Heum... lakukan lah, aku ini sudah menjadi istri mu, sudah seharusnya aku melayani mu"
Jawab Vera dengan berpura-pura malu, mereka seakan lupa jika perut Vera sudah seperti di masukin balon besar ke dalam nya, keduanya seolah tidak malu jika ke dua baby dalam perut Vera menertawakan tingkah mereka berdua yang sangat konyol.
"Ahkkk sakit" jerit Vera saat Davvien berhasil menjebol milik Vera yang memang sudah tidak ada pertahanan lagi.
"Aku akan hati-hati" bisik Davvien, Vera pun mengangguk.
Dengan ke pura-puraan mereka, keduanya benar-benar seperti melakukan hubungan suami istri layak nya pada saat malam pertama.
Kali ini tidak begitu lama, mereka hanya melakukan dua jam, kini Vera di baringakan dalam dekapan sang suami.
"Terima kasih sayang, kamu sudah menjadi pelengkap hidup ku" ungkap Davvien sambil mencium kepala sang istri berkali kali.
"Aku juga berterima kasih, karna kamu telah memberi begitu banyak cinta untuk ku" Vera pun mengungkapkan perasaan nya yang begitu bahagia, dengan kepala yang dia tenggelam kan ke dalam dada bidang sang suami.
"Bagaimana kamu bisa memberikan ku begitu banyak cinta, bagaimana kamu bisa selalu membuat ku tersenyum, meski kadang dirimu sedang bersedih, cinta seperti apa ini, hingga kau hanya memikirkan kebahagiaan ku" lanjut Vera, kali ini Vera tidak dapat menahan air mata, bukan kesedihan akan tetapi air mata haru karna kebahagiaan yang dia rasakan.
"Isssttt... jangan menangis, ini lah cinta ku sayang, aku tidak bisa mengukur nya dengan apapun, aku tidak bisa menjawab jika kau bertanya besarnya cinta ku untuk mu, aku hanya tidak bisa melihat mu bersedih, jika kamu menangis, maka aku yang akan terluka, kamu lah prioritas ku sayang, kalian lah penyemangat hidup ku, jiwa ku ada bersama mu, jika kamu terluka bagaimana dengan jiwa ku, dia juga akan merasakan nya, maka berjanji lah kamu tidak akan pergi meninggalkan ku, jika kamu pergi maka jiwa ku juga akan ikut bersama mu"
Cup...cup...cup...
Vera berkali-kali mencium pipi sang suami, lalu dia pun berkata.
"Aku tidak akan meninggalkan mu sayang, apapun yang terjadi, percaya lah hanya maut yang akan memisahkan kita"
"Bahkan aku tidak sanggup jika kamu yang pergi lebih dulu meninggalkan ku"
"Semoga kita bisa sehidup semati selalu bersama"
Keduanya pun memilih memejamkan mata.
.
.
.
.
.
~Bersambung.
Halo para Reader, tidak bosan-bosan aku menyapa kalian, dan mengucapkan beribu-ribu terima kasih atas dukungan yang telah kalian berikan.
Maaf jika komentar kalian kadang telat aku balas, tapi aku selalu baca kok, dari kalian yang merasa puas sampai kalian yang ngeluh karya karya receh ku ini.
Seperti nya Davvien dan Vera selalu bahagia ya, mereka selalu harmonis, semoga saja tidak ada yang berniat jahat atas hubungan suami istri ini.
Jangan lupa ya like, komen dan vote, eh bukan-bukan. tapi Vocher ya.
__ADS_1
Salam sayang ku untuk kalian.