Gadis Penakluk Mafia Karatan

Gadis Penakluk Mafia Karatan
Menghabisi musuh


__ADS_3

Tepat jam 4 sore mobil Davvien memasuki dalam hutan yang rimbun,meski demikian namun di dalam hutan tersebut terdapat jalan yang hanya muat satu mobil untuk mengantar kan mereka ke markas


Fero terus fokus menyetir sampai tiba lah di sebuah rumah di tengah tengah hutan itu


Ya itulah markas Davvien, Fero turun lalu membuka kan pintu untuk Davvien


Davvien keluar dari mobil langsung menuju ke dalam rumah tersebut,,dia langsung pergi ke tempat di mana anak buah nya menyekap orang orang yang menyerang nya tadi siang


Sudah ada Irfan di sana menunggu kedatangan Davvien, Irfan menunduk kepala memberi hormat pada majikannya itu


Davvien langsung duduk di kursi kebesaran nya,dengan gaya sombong nya dia menaikkan satu kaki di atas kaki satu nya menyandarkan punggung nya pada sandaran kursi sambil menatap semua tahanan dengan tatapan membunuh, Fero juga duduk di tempat nya


Davvien melirik kepada Irfan menanyakan tentang orang tersebut, Irfan yang paham pun langsung angkat bicara


"Tuan setelah kami selidiki ternyata mereka komplotan Mafia The Ricard,mereka ingin menghancurkan anda karna para transaksi tidak tertarik untuk membeli barang pada mereka,maka karna itu Tuan Ricard sangat marah"jelas Irfan berdiri di samping Davvien duduk


"Kurang ajar,berani mereka bermain dengan ku rupanya mereka belum tau siapa aku"


Davvien berdiri mengambil pistol dan


dorr dorr dorr


Davvien langsung menembak mereka tanpa sisa


"Urus mereka,,,"perintah Davvien dan di angguki oleh anak buah nya


Davvien, Fero dan Irfan mereka bertiga berdiskusi di suatu ruangan


"Kita kesana nanti malam,melakukan penyerangan kepada Ricard, Pastika dia berada di sana"Tatapan nya semakin tajam menatap ke depan


"Baik Tuan"jawab Irfan menunduk FERO hanya mengangguk menandakan dia mengerti


...----------------...


Malam pun tiba,,setelah makan malam Riko berjalan ke dalam kamar,dia bersiap siap hendak mengunjungi kekasih nya Vera


Terlihat Riko sudah siap dengan memakai kaos oblong putih dan di baluti jaket kulit berwarna coklat,berpadu dengan celana jeans abu abu


Riko berjalan keluar kamar,menuruni anak tangga melewati ruang keluarga sudah ada kedua orang tua nya di sana


"Sayang kamu mau kemana"tanya Salma saat melihat Riko sudah siap


Pak Rahman pun ikut melihat putra nya itu


"Riko mau ke rumah Vera ma"ucap Riko meminta izin


"Ya sudah hati hati nak"


"Iya Ma, Riko jalan ya Ma"Riko menyalami kedua orang tua nya


Riko berjalan ke arah pintu,dia langsung keluar dan menuju parkiran mobil, Riko menaiki mobil nya dan langsung menancapkan pedal gas pada mobil itu,mobil pun melaju membelah jalan raya..


30 menit Riko sampai di depan rumah Vera, Vera yang berdiri di balkon kamar melihat Riko sudah turun dari mobil,dan hendak melangkah masuk


Ting tong


Belum ada yang buka Riko menekan lagi bel pintu rumah Vera


Ting tong Ting tong


Masih juga belum di buka

__ADS_1


Saat mau menekan bel lagi tiba tiba pintu sudah di buka


"Selamat malam den,mari silahkan masuk"ucap Bi Aini menyapa Riko


"Malam Bi, Vera ada?"tanya Riko langsung pada inti nya


"Non Vera belum pulang den,"bohong Bi Aini,sebelum membuka pintu Vera sudah memberi usulan pada Bi Aini buat bilang kalau dia belum pulang


"Belum pulang,tapi ini sudah malam bi"tanya Riko tidak percaya,karna Vera jarang pulang telat


"Iya den,non Vera sudah berapa hari ini memang sering pulang terlambat"tambah Bi Aini


"Apa bibi tau kemana pergi nya Vera"tanya Riko yang sudah gelisah


"Saya tidak tau den,mari masuk dulu"ajak bi aini lagi Riko pun mengangguk dan mengikuti Bi Aini dari belakang


"Om Diwan mana Bi?"tanya Riko lagi


''Tuan sudah masuk ke dalam kamar nya,butuh Bibi panggilan kan?"tanya Bi Aini,Bi Aini merasa kasian pada Riko sudah dua kali dia datang mencari majikan nya itu,,,ntah kenapa non Vera tidak ingin bertemu dengan den Riko pikir nya,tapi Bi Aini hanya bisa mengikuti apa yang di perintahkan oleh Vera tanpa berani bertanya


"Tidak usah Bi,mungkin Om Diwan sudah istirahat,saya menunggu Vera di sini saja Bi"ucap Riko mendudukkan diri di sofa


"Baik den,Bibi buat kan kopi dulu"Bi Aini langsung pergi ke dapur membuat kopi buat Riko,beberapa saat pun Bi Aini kembali dengan membawa secangkir kopi di tangan nya


"Silahkan den"ucap Bi Aini sambil meletakkan kopi di atas meja


"Bi,kapan biasa nya Vera pulang"tanya Riko yang mulai resah


"Ti tidak menentu den"Bi Aini terbata bata menjawab pertanyaan Riko


"Heummmmm"Riko hanya mengangguk


lalu Bi Aini minta undur diri ke dapur


Sedangkan di kamar, Vera mulai gelisah"Untuk apa lagi dia kesini"gumam nya sendiri


"Apa aku keluar saja ya,tidak tidak aku tidak mau bertemu dengan nya"


Dalam hati nya dia sangat ingin bertemu dengan Riko, menanyakan semua tentang apa yang dia lihat dan dia dengar beberapa waktu lalu,tapi Vera belum siap menemui Riko, Vera masih sangat kecewa,dia takut menjadi serba salah


Kalau Riko tidak jujur maka itu akan lebih menyakiti nya, tapi kalau Riko jujur dia juga tidak sanggup menerima kenyataan pahit ini,walaupun sudah belajar ikhlas tapi kalau mendengar dari Riko langsung itu sangat menyakitkan bukan


Vera terus berdebat dengan pikiran nya sendiri


...----------------...


Di tempat lain....


Davvien, Fero, Irfan dan anak buah nya sudah sampai dimarkas nya Richard, Irfan memberi arahan pada anak buah nya,mereka berpencar dan berjalan ke setiap sudut markas itu,terlihat anak buah davvien sudah mulai menembak anak buah Ricard yang menjaga di luar


"Dimana dia"tanya Davvien dingin


"Dia memang sudah ada di dalam markas"jawab Irfan


"Bagus,ayok"Davvien berjalan menuju markas tersebut dan di ikuti oleh Fero dan Irfani


Braaakkkk


Davvien menendang pintu markas dan langsung menghadapkan senjata nya kepada Ricard


Richard dan anak buah nya pun sangat kaget melihat Davvien sudah berdiri di depan nya dan menghadap kan senjata ke arah nya

__ADS_1


Richard tidak menyangka kalau Davvien akan menemukan nya secepat ini,tujuan Ricard ke markas adalah mendiskusikan tentang anak buah nya yang sudah di tahan oleh Davvien,karna Joni kaki tangan nya juga ada di tahanan Davvien


Mungkin Richard memang belum tau betul bagaimana macan yang menjadi ketua Mafia itu,sehingga dia berani mengusik nya


"Bagaimana tuan Ricard,apa anda suka kejutan ku"tanya Davvien melangkah mendekat sambil tersenyum sinis


Anak buah Ricard langsung mengangkat senjata mereka menghadapkan kepada Davvien Fero dan Irfani, Davvien hanya tersenyum licik dia semakin mendekat


Ricard hanya menelan kasar ludah nya,dia mulai bergetar melihat senyum di bibir Davvien,keringat dingin mulai bercucuran di dahi Ricard


"Kau kenapa tuan"tanya Davvien lagi saat melihat dahi Ricard sudah di banjiri peluh


"Mau apa kamu"tanya nya panik


"Aku,mau apa,hahahahahahaha"suara tertawa Davvien menggema di dalam markas itu membuat siapa pun yang mendengar nya merinding


"Saya kesini memenuhi undangan anda,bukan kah anda mengundang saya dengan cara menyuruh anak buah anda untuk menghabisi saya"ucap Davvien menatap tajam terhadap Ricard


"Kalian lihat apa ayo tembak dia"perintah Ricard


Anak buah Ricard langsung menyerang, sedangkan Ricard berhasil lari dari todongan pistol Davvien


"Sial"Davvien langsung menembak kaki Ricard


Sedangkan Irfan langsung memberi arahan kepada anak buah nya buat masuk


Sesaat baku tembak pun terjadi,,,terlihat banyak anak buah Ricard yang sudah tumbang


Davvein terus mendekati Ricard yang sudah terjatuh di lantai, Ricard hendak mengambil pistol di balik jas nya dan


Dorr,, Davvien menembak tangan Ricard, Ricard berteriak histeris merasakan timah panas itu menancap di tangan nya


"Kau sudah berani bermain main dengan ku Tuan Ricard,maka akan aku layani"Davvien mendekati Ricard dan berjongkok di depan Ricard


Ricard semakin ketakutan"maaf kan saya Tuan"itulah yang bisa ricard ucap kan di sela sela menahan sakit di kaki dan tangan ya


"Mungkin iya saya memang harus memaaf kan anda,karna saya lihat anda sudah tidak berdaya lagi,baik lah saya maaf ka"Davvien berdiri langsung membelakangi nya, Ricard merasa lega semudah itu menaklukkan Davvien pikir nya, setelah berjalan 3 langkah Davvein membalik kan tubuh nya miring dan


Dorr dorr dorr..dia langsung menembak ke arah kepala dan jantung Ricard, Ricard langsung tumbang darah semakin bercucuran di atas lantai


Sambil tersenyum sinis"Dengan cara itu mungkin aku akan memaaf kan mu tuan Ricard"lalu berjalan meninggalkan Ricard


Semua anak buah Ricard tidak ada yang tersisa,sedang kan anak buah Davvien hanya beberapa orang yang kehilangan nyawa dan ada beberapa orang yang terluka


Davvien langsung keluar dan di ikuti Fero Irfan dan semua anak buah Davvien


"Bawa anak buah kita yang gugur dan makam kan dengan layak,sedang kan yang terluka bawa mereka ke rumah sakit setelah itu bakar tempat ini"perintah Davvien langsung di setujui oleh mereka


Anak buah Davvien langsung bergegas mengangkat mayat dan teman mereka dan membawa mereka yang terluka ke rumah sakit, sedang yang lain menyiramkan tempat itu dengan bensin lalu membakar nya


Dalam sesaat api langsung melahap tempat itu bersama dengan mayat mayat di dalam sana


Davvien dan Fero langsung meninggalkan tempat itu


Tidak jauh dari sana terlihat seorang anak kecil sedang menangis melihat api berkobar di tempat kerja ayah nya,dia tidak tau kalau tempat kerja yang di maksud ayah nya adalah markas,anak itu juga tidak tau kalau ayah nya seorang Mafia


"Ayah"sambil menangis dia memandangi kobaran api yang sangat besar itu,mungkin ayah nya sekarang sudah jadi abu


~Bersambung


Likee banyak banyak

__ADS_1


Komen banyak banyak


😁😁😁😁😁


__ADS_2