
Lanjut ya...
Pagi hari Vera kembali melakukan rutinitas nya sebagai seorang istri, memasak, menyiapkan keperluan sang suami, juga mengurus kedua anak nya untuk ke sekolah.
Davvien sudah berangkat ke kantor bersama Fero yang selalu menjemput dirinya, sedangkan Vera pagi ini berencana mengantar ke tiga anak nya ke sekolah.
Iya tiga, karna Aidan juga selalu berangkat bersama sepupunya. Di dalam mobil, Vera hanya mendengar celotehan anak-anak nya, kadang dia di buat tertawa oleh anak yang berumur tujuh tahun itu.
"Ma, Minggu ini adek mau pulang ke rumah oma, ya!" pinta Syakira pads Vera.
"Iya, Nak! dan Kakak pulang ke rumah Nenek kan?" jawab Vera, juga bertanya kepada Syakir yang tampak diam saja.
"Hem, seperti biasa!" jawab anak lelaki itu seadanya. Ke dua anak nya memang selalu menginap di rumah nenek dan juga oma mereka secara bergantian.
"Aku juga akan tidur di rumah, Nenek Minggu ini!" timpal Aidan tidak mau kalah.
"Iya, nanti sekalian kalian di antar oleh supir!" tukad Vera yang mendapat anggukan dari Syakira dan juga Aidan.
"Ma, kenapa sih Kakak pelit sekali mengeluarkan suaranya?" tanya Syakira dengan begitu polos.
Vera yang mendengar itupun beralih menatap anaknya perempuan nya, dia sempat berpikir sebelum akhir nya memberi Jawaban.
"Karna sifat kakak sudah seperti itu, dek! jadi dia akan susah untuk mengubahnya!" jawab Vera, sedangkan yang di bicarakan hanya diam, sama sekali tidak ingin menimpali ucapan adik dan mamanya.
"Kenapa begitu, Ma! adek kok tidak pelit bicara? Malahan adek selalu ingin berbicara!" imbuh Syakira lagi.
"Karna adek ngikutin karakter Mama, sedangkan Kak Syakir sama persis seperti sifat Papa, cuek dan dingin!" tukas Vera lagi menjelaskan.
"Aidan ngikutin siapa, Tante?" celetuk Aidan menimpali ucapan Vera.
"Aidan kalo Tante lihat mirip sama Bunda, karna Ayah Aidan juga sama seperti om Davvien, sama sama dingin dan cuek, pelit bicara!" imbuh Vera, Syakira sama Aidan hanya mengangguk paham.
Pembicaraan mereka terputus, saat mobil yang membawa mereka berhenti tepat di depan gerbang sekolah dasar nomor satu di kota tersebut.
Ketiganya menyalami Vera, kemungkinan melangkah masuk ke dalam pekarangan sekolah.
Namun, baru juga ketiganya ingin melangkah, suara cempreng seorang anak perempuan menghentikan langkah mereka.
__ADS_1
"Kak Syakir, Kak Syakira, Aidan!" panggil anak perempuan yang berumur hampir sama dengan Syakira. Sayakir langsung memutar mata malas ketika melihat anak itu berlari kearah mereka yang di ikuti oleh seorang wanita yang sudah di pastikan Mama dari anak tersebut.
Vera juga ikut berbalik, melihat anak yang memanggil putra putrinya, sudut bibirnya terangkat ke atas saat melihat anak kecil yang berlari tidak jauh dari dirinya.
Tapi, seketika senyuman di bibir Vera mengendur, saat melihat wanita yang menyusul anak itu ternyata orang yang dia kenali, wanita yang sempat jadi duri dalam hubungan dengan, Riko.
Kalian pasti tau, dia adalah Lisa. Wanita itu juga tampak terkejut saat melihat Vera, meski sudah sangat lama, namun tetap membuat dirinya malu dan canggung bila bertemu dengan Vera.
"Lisa!" Panggil Vera, dia berusaha mencair kan suasana agar tidak terlalu canggung.
"Ve-Vera!" panggil Lisa.
"Apa kabar, kamu juga mengantar anak ke sekolah?" tanya Vera dengan begitu ramah. Semua sudah terjadi, untuk apa juga menyimpan dendam, toh Vera juga sudah bahagia hidup bersama Davvien, tidak ada alasan nya dia membenci Lisa.
"Kabar baik, Vera! iya ... ini anak ku, namanya...!"
"Aneisha, Tante!" bukan Lisa yang menjawab, melainkan anak nya sendiri.
Vera terkekeh di buatnya, diapun ikut mensejajarkan dirinya dengan anak yang hampir tujuh tahun itu.
"Halo, Aneisha! Nama kamu bagus. Perkenalkan nama Tante, Vera! Mamanya Kak Syakir dan Syakira!" ujar Vera, tangan nya terangkat menyentuh pipi anak cantik itu.
"Ya sudah, kalian masuk! nanti terlambat!" ucap Vera.
Mereka semua mematuhi ucapan Vera, Aneisha langsung bergabung dengan Syakira, Syakir dan Aidan.
Lisa dan Vera juga ingin kembali ke dalam mobil mereka masing-masing, namun suara seseorang kembali menghentikan langkah Vera.
"Sayang, sudah belum? kenapa sangat lama!" ucap seorang lelaki yang baru keluar dari dalam mobil nya.
Vera tersentak, begitu pun dengan lelaki tersebut yang ternyata adalah Riko. Dia sama sekali tidak tau jika yang berbicara dengan sang istri adalah mantan kekasih nya dulu, Vera. Karna mobil nya agak jauh dari gerbang sekolah.
Lisa memang sudah bekerja sebagai sekertaris Riko lagi, dari cara Riko memanggil Lisa, dia sudah membuka hati sepenuhnya untuk ibu dari anak perempuan nya itu.
"Vera!" pekik Riko, sedikit terkejut.
"Iya, Ko!" jawab Vera, mereka sama-sama merasa canggung, karna hampir enam tahun mereka tidak bertemu.
__ADS_1
"Anak kamu juga sekolah di sini?" tanya Riko pada mantan nya dulu.
"Iya, Ko!" hanya itu yang Vera jawab, tidak tau harus berkata apa, dia juga menghargai Lisa yang berada di sana.
"Ya sudah, aku pulang dulu ya, Lisa, Ko!" pamit Vera.
"Iya, Ra! hati-hati!" jawab Lisa, Riko hanya mengangguk.
Mereka berpisah di sana, Vera masuk ke dalam mobilnya, dan Riko pun langsung menarik pinggang Lisa untuk masuk ke dalam mobil mereka.
Di perjalanan pulang, Vera hanya termenung menatap keluar jendela mobil.
Tidak menyangka jika hari ini akan bertemu dengan lelaki yang dulu sempat hinggap di hatinya. Dia senang, karna Riko bisa melanjutkan hidupnya dengan baik dan bahagia.
Begitupun dengan Riko, sepanjang jalan dia hanya diam, dan fokus menyetir. Pikiran nya kembali teringat akan Vera.
Sekian lama tidak bertemu, setelah susah payah melupakan Vera, sekarang dia malah bertemu lagi dengan kekasih yang dulu sangat dia cintai.
"Kamu tidak berubah, Ra! masih sama seperti dulu!" batin Riko, jika dulu dia sakit saat melihat Vera, sekarang dia merasa biasa saja, tidak ada kerinduan atau perasaan sakit yang hinggap di relung hatinya lagi.
Dengan ini Riko yakin, jika sekarang dia sudah benar-benar mencintai Lisa, dan juga sudah melupakan Vera, dia juga tidak ingin merusak kebahagiaan nya saat ini hanya karna masa lalu nya dulu.
Sedangkan Lisa juga diam, dia tau bagaimana perasaan Riko, maka dari itu Lisa ingin memahami, dia ingin memberikan waktu untuk sang suami.
Sekilas Riko melihat sang istri di sebelah nya, dia terlihat murung dan juga diam, tangannya terulur, lalu menggenggam erat tangan istrinya itu. Lisa sontak menatap pada Riko, dia melihat sang suami tersenyum ke arahnya.
"Jangan pikirkan yang tidak-tidak! aku baik-baik saja!" ujar Riko, lalu diapun mencium tangan Lisa, hingga membuat istri nya tersenyum dan mengangguk.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
~Bersambung