
Pagi yang tenang suasana hari begitu sejuk, matahari terbit dengan secara perlahan, sedikit sedikit menyilaukan bumi.
Sudah beberapa hari Vera tidak ke kampus itu karna sang suami tidak mengizinkan nya, Davvien tidak membiarkan Vera bahkan menuruni tangga, rumah nya pun kini telah di pasang kan lift supaya Vera turun dan naik tidak perlu capek capek melewati tangga.
Sebenarnya hari ini Vera juga sedikit berdebat dengan Davvien, tapi setelah mengatakan kalau dirinya akan kasih jatah jika Davvien mengizinkan nya ke kampus, ya meski dengan ragu Davvien akhirnya mengizinkan, karna sudah 5 hari dia mengurung Vera di rumah, selama itu juga dia tidak ke kantor, Davvien terus saja lengket dengan Vera, bahkan keseharian mereka hanya di dalam kamar, meski tidka melakukan yang lebih, namun dia selalu mencumbu Vera, terkadang Vera lelah meladeni Davvien yang kelewat manja.
Keinginan yang beberapa hari di tahan Davvien akhirnya sang istri menawarkan nya, dengan senang hati Davvien menerima nya, meski pun dia harus mengizinkan Vera masuk kuliah, bukan karna itu juga tapi Davvien berfikir kalau istrinya itu masih dalam belajar, jadi meski pun tidak rela namun dia tidak terlalu menjadi orang yang egois.
"Sayang, setelah selesai kamu harus langsung pulang ya, jangan kemana mana"
Peringatan Davvien pada Vera seperti bapak yang mengingatkan anak nya, saat ini Davvien mengantarkan Vera ke kampus nya.
"Iya, memang aku akan kemana?"
"Ya sudah, belajar yang rajin, rindukan aku ya"
Cup
Vera tersenyum dia pun menyalami Davvien lalu keluar dari mobil, dan melangkah pergi masuk.
Di balik kemesraan Davvien dan Vera ada seseorang yang mengutuki di dalam hati.
"Cih, sekarang sudah bucin akut, dulu saja selalu menghina dan menyiksa Vera, dasar bos lebay, mereka bermesraan bahkan tanpa menghiraukan keberadaan ku, mereka anggap aku juga sama dengan mobil ini yang tidak hidup"
Fero terus mengatai Davvien, dia diam menatap Davvien dari kaca spion di depan.
"Apa kau iri Fero, apa hadiah kemaren belum cukup"
Mendengar itu Fero tersadar kalau Davvien juga menatap nya pada kaca yang sama, karna merasa takut Fero langsung menancap gas membuat Davvien tersentak ke belakang.
"Apa kau ingin membunuhku kutu kupret sialan"
Teriak Davvien.
Cittttttttttt
Fero menginjak rem dengan begitu cepat, sehingga Davvien langsung tersungkur ke depan, ntah kenapa Fero jadi salah tingkah, mungkin karna trauma dengan hadiah kemaren yang dia dapatkan.
"Tuan, maaf kan saya tadi saya kaget"
__ADS_1
Sedangkan Davvien sudah merah padam, sungguh dia merasa asisten kurang ajar nya itu telah menganiaya dirinya.
"Kutu kupret, turun"
Deggggg
Fero sudah mengerti jika tuan nya menyuruh nya turun dengan tiba tiba-tiba jika sedang marah, dengan ragu pun Fero turun Davvien pun juga ikutan turun.
Bughhhhh
"Sekarang kita berangkat"
Setelah melayang kan satu pukulan, Davvien kembali masuk ke dalam mobil, amarah nya sedikit mereda.
Fero begitu pasrah dia pun kembali menyetir, pukulan Davvien hari ini tidak seberapa, itu hanya sebagai peringatan.
...----------------...
Sedangkan di sebuah kantor, seorang terlihat berdiri di dekat dinding yang tembus pandang, dia sedang menanti seseorang yang sudah beberapa hari ini tidak menampakkan batang hidungnya.
"Kenapa dia tidak pernah ke kantor, apa dia sakit"
Suara ketukan pintu ruangan membuyarkan Riko dari lamunan nya.
"Masuk"
Dia berharap Lisa yang datang, tapi yang datang bukan lah yang di harapkan Riko.
"Ada apa?"
Tanya Riko yang melihat salah satu kariyawan datang keruangan nya.
"Ini pak, tadi pagi pagi sekali nona Lisa datang dan menitipkan surat ini untuk bapak"
"Lisa kesini, lalu kemana dia?"
"Saya juga tidak tau pak, setelah menyerahkan surat ini nona Lisa pamit pergi"
"Baik, berikan pada saya"
__ADS_1
Riko pun mengambil amplop yang di berikan karyawan nya.
Riko yang selama ini di runding kegelisahan pun segera membuka amplop berwarna coklat, selama beberapa hari ini Riko tidak tenang karna tidak tau duduk masalah nya dengan yang terjadi pada dirinya dan Lisa, antara merasa bersalah dan penasaran, takut Lisa menjebak dirinya, ya begitu lah Riko dia selalu tidak gerak cepat, dia tidak mencari tau kebenaran nya hanya mengunggu Lisa datang ke kantor nya saja.
Saat membaca dengan jelas, Riko tertegun karna Lisa melayangkan surat pengunduran diri, Riko terduduk di kursi nya, dia menatap surat itu pikiran nya ntah kemana.
"Jika dia menjebakku kenapa dia malah menghindari ku, seharusnya dia datang dan meminta tanggung jawab pada ku, tapi dia tidak pernah terlihat lagi bahkan sekarang dia mengirim surat pengunduran diri, apa pemikiran ku salah mengenai dia"
Riko terus berfikir, rasanya semakin rumit cinta nya kepada Vera belum berkurang sekarang dia malah terjebak ke dalam maslah yang lebih berat lagi.
"Shhhhhht aku harus mencari tau sendiri, pertama aku akan ke bar tempat aku minum malam itu, setelah itu baru aku akan pergi ke apartemen Lisa"
Tanpa perduli dengan pekerjaan nya, Riko langsung berdiri dia merapikan sedikit jas nya lalu berjalan keluar.
Saat sampai di bar, Riko langsung masuk dan mencari pemilik bar.
Tanpa berdebat Riko langsung di antar kan pada ruangan pemilik bar tersebut.
Pemilik bar mempersilahkan Riki duduk, dan dia pun mengutarakan maksud nya datang ke tempat itu.
"Begini pak, apa saya boleh melihat rekaman CCTV malam saya mabuk di sini?"
Pemilik bar mencoba mengingat Riko, dia pun teringat karna dia sendiri yang menyuruh Riko untuk pulang.
"Mohon maaf pak, ada masalah apa ya sehingga bapak menginginkan rekaman CCTV, itu agak sulit kami berikan pak karna itu bersifat privasi".
"Saya hanya ingin tau, bagaimana kejadiannya sehingga saya bisa pulang bersama seorang wanita"
"Loh bukan kah itu pacar anda?"
"Pacar?"
"Kenapa bapak mengatakan kalau dia pacar saya, dan bapak tau dari mana saya di bawa sama perempuan?"
Riko semakin bingung.
"Begini pak, sebelum nya saya minta maaf. malam itu bapak mabuk berat di sini, sudah saya menawarkan anda kamar disini tapi anda menolak, saya juga menyuruh anda pulang tapi anda malah tertidur, dan maaf atas kelancangan saya mengambil ponsel anda, saat saya mencari kontak yang baru saja anda hubungi saya menemukan nama nona itu yang baru anda hubungi, jadi saya minta tolong untuk menjemput anda, saya kira dia adalah pacar anda, setelah dia sampai nona itu langsung membawa pulang anda, kami kembali menawarkan kamar tapi nona itu menolak, dia mengatakan kalau anda tidak akan suka menginap di tempat seperti ini".
Duaarrrrrrrrrrrrr
__ADS_1