Gadis Penakluk Mafia Karatan

Gadis Penakluk Mafia Karatan
Ulat gatal.


__ADS_3

Setelah jam kuliah sudah selesai, Vera langsung izin pulang duluan pada ke tiga sahabat nya tanpa mengunjungi tempat favorit mereka, ya di mana lagi kalau bukan di kantin kampus, sebenar masih banyak yang ingin Vera tanya kan terutama kepada Rani dan juga Intan, tapi dia ingat mood suaminya pagi ini tidak bagus karna candaan nya bersama Fero.


Vera sempat pulang ke rumah untuk memasak, karna Vera ingin membawa makan siang untuk sang suami, saat ini Vera sudah dalam perjalanan menuju kantor suaminya, setelah siap dengan bekal yang dia bawa, dia juga sempat membersihkan tubuh nya, ntah lah semenjak hamil Vera sangat suka berdandan.


...----------------...


Setelah bertegur sapa bersama Davvien, Frans izin untuk keluar, mereka hanya membahas masalah bisnis dan sedikit berkenalan, tatapan Davvien tidak pernah lepas dari wajah Frans, dia melihat mata yang sangat mirip dengan mata yang selalu menenangkan nya.


Frans keluar, Davvien pun ikut keluar dan menuju ke ruangan nya, begitu pun dengan Fero.


Saat berada di dalam ruangan Davvien begitu kaget melihat sudah ada seorang wanita, dengan pakaian yang cukup minim, wanita itu yang tak lain adalah Elsa duduk manis di sofa dalam ruangan Davvien.


Rupanya setelah keluar dari ruangan meeting Elsa bertanya kepada resepsionis tentang ruangan CEO dengan alasan ingin membahas sesuatu yang penting menyangkut perusahaan.


"Berani nya kamu masuk ke dalam ruangan ku wanita jal*ng"


Nada suara Davvien langsung meninggi, ingin rasanya melepaskan peluru panas pada wajah yang sok polos itu.


"Maaf Vien karna aku sudah lancang, aku hanya ingin minta maaf untuk yang semalam"


Ucap Elsa dengan membuat mimik wajah menyesal, dia bangun dan mendekati Davvien.


...----------------...


Sedangkan di loby kantor Vera sudah sampai, dia terburu-buru turun untuk bisa memberi kejutan untuk Davvien, hingga tanpa sengaja dia menabrak seseorang yang baru keluar.


Tabrakan itu begitu kuat, hingga Vera oleng hampir terjatuh, namun dengan sigap seseorang yang di tabrak menangkap Vera hingg tatapan mata mereka bertemu.


Deg,,deg,,deg,,


"Kia"


Vera tersadar dia pun langsung melepaskan diri dari lelaki yang tak lain adalah Frans.


"Maaf kak, aku tidak sengaja"


Frans masih terpaku melihat orang yang di hadapan nya, bayangan adik perempuan kecilnya langsung terputar di kepala nya, wanita di hadapan nya begitu mirip dengan sang adik yang dulu berpisah saat sang adik berumur lima tahun.


"Halo kak, kakak tidak apa apa, maaf sekali lagi"


Ucap Vera karna merasa aneh melihat Frans yang menatap nya begitu intens.


"Kia"


Nama itu kedua kalinya keluar dari mulut Frans.


"Maaf kak, namaku Vera bukan Kia, aku permisi dulu kak"


Vera langsung pergi dari hadapan Frans dia merasa risih karna pria itu menatap nya tanpa berkedip.


Frans tersadar saat sang asisten memanggil nya.


"Kia, itu adalah Kia"


Ucap nya kembali.


"Maaf tuan, tapi nona itu mengatakan nama nya adalah Vera"


"Aku sangat yakin kalau dia adalah Kia adik yang selama ini aku cari, Fino sewakan hotel untuk beberapa hari di sini, aku akan membuktikan kalau dia adalah Kia kecil ku"


Ujar Frans begitu yakin kalau yang di lihat nya adalah sang adik yang telah lama berpisah, ada harapan yang besar dalam hatinya, berarti tidak salah keyakinan sang mama yang menganggap adik nya masih hidup.


Mereka pun pergi meninggalkan kantor Davvien.


...----------------...


Vera kini sudah keluar dari dalam lift, dia melewati ruangan kerja Fero, namun tidak terlihat ada orang yang menghuni ruangan tersebut, Vera pun berlalu langsung mendekati ruangan sang suami, saat ingin menyentuh pintu ruangan tiba tiba dia mendengar jika suaminya sedang membentak seseorang.


"Keluar dari dalam ruangan ku, dan jangan pernah tunjukkan dirimu lagi di hadapan ku, aku sungguh muak melihat wajah mu itu"


Davvien membentak Elsa dengan suara begitu lantang, namun Elsa bukan nya pergi dia malah memeluk Davvien dari belakang, Vera dapat melihat namun dia menahan nya saat Davvien dengan begitu kasar menghempaskan tubuh montok Elsa, senyuman terbit di bibirnya meski hati nya sempat teriris karna milik nya di sentuh oleh wanita lain.


Vera mengurungkan niatnya, dia menarik langkahnya kembali, dia tidak akan masuk Vera memberikan waktu untuk Davvien menyelesaikan masalah nya sendiri, dia pun ingin membuktikan jika ucapan Davvien selama ini bukan hanya omongan semata.

__ADS_1


Kini Vera sudah berada di dalam mobil, walaupun hatinya berdebar tak karuan meninggalkan suami nya bersama mantan nya, namun dia tetap ingin berfikir baik, Vera pun meraih ponsel nya menelpon seseorang.


Belajar dari pengalaman nya karna salah paham dan tidak mencari tau kejelasan nya kali ini Vera tidak ingin kejadian tersebut kembali terulang, dia tidak ingin menyesal karna kesalahpahaman yang di buat nya sendiri.


"Kak, kakak dimana?"


Tanya Vera saat Fero menjawab telpon dari nya.


"Kakak di kantor"


"Oh, boleh Vera minta tolong nggak kak?"


"Katakan lah"


"Tapi kakak janji dulu jangan bilang sama mas Davvien"


Fero sempat berpikir, namun Vera kembali memohon, akhir nya Fero pun menyetujui nya.


"Kakak tolong kirim kan CCTV ruangan mas Davvien, saat ini juga, tapi jangan sampai dia tau"


Fero mulai curiga, karna dari tadi dia sibuk di ruangan nya sendiri.


"Memang nya ada apa"


"Kakak kirim kan saja, nanti kakak juga bisa melihat nya kan, tolong ya kak kali ini saja"


Mendengar Vera memohon Fero sungguh tidak tega, dan tanpa berpikir Fero pun mau melakukan nya.


"Oh ya kak, tadi ada makanan yang ku titipkan di resepsionis kantor kakak ambilkan dan makan lah bersama mas Davvien ya"


"Kamu sudah ke kantor, kenapa tidak langsung masuk ke ruangan nya atau ke ruangan kakak"


Fero semakin menduga-duga tentang apa yang terjadi, dia semakin penasaran.


"Aku buru-buru kak, sekarang cepat kakak kirim kan aku CCTV sekarang kak"


"Baik"


Sambungan pun terputus, Vera menunggu kerja Fero yang akan mengirimkan rekaman suaminya bersama mantan nya.


Cling,,,


Notifikasi masuk ke dalam ponsel Vera, tanpa menunggu lama Vera langsung membuka pesan yang berisi kan rekaman CCTV yang dikirim kan Fero.


Mulai dari Elsa masuk jauh sebelum suaminya masuk, Elsa terlihat begitu takjub pada ruangan Davvien, dia pun mula nya menduduki kursi kebesaran Davvien, sambil tersenyum licik, setelah mendengar suara langkah kaki mendekati ruangan, Elsa bangun dan duduk di sofa, hingga pada saat Davvien masuk dan membentak Elsa, sampai pada saat Davvien menghempaskan tubuh Elsa dengan begitu kasar Kelantai.


"Jangan pernah kau menyentuh ku dengan tangan kotormu itu"


Davvien kembali membentak Elsa, namun yang di bentak bukan nya pergi dengan tanpa rasa malu dia bangun langsung menempel kan bibirnya pada bibir Davvien, namun belum juga sempurna menempel Davvien sudah melepasnya langsung menampar pipi Elsa, hingga terakhir Davvien mengeluarkan pistol nya tepat di kepala Elsa.


"Cepat pergi wanita sial*n atau peluru panas ini akan menembus otak mu yang sudah geser"


"Vien, aku sangat mencintaimu ak,,,"


"KELUAR"


Elsa yang tidak mau mati konyol pun langsung meninggalkan ruangan Davvien.


...----------------...


Kini Vera terduduk di taman belakang rumahnya, perasaan nya kembali memanas saat mengingat Elsa yang dengan berani menyentuh bibir suaminya, meski Davvien tidak menikmati dan malah memberikan pelajaran pada Elsa, namun hatinya tetap tidak terima.


Namun tidak ada air mata yang menetes di pipi Vera, hanya kemarahan yang memuncak hingga matanya memanas, tidak ada alasan bagi Vera untuk menangis karna Davvien telah terbukti bahwa dirinya benar-benar sudah melupakan masa lalu nya, sekarang hanya dirinya yang ada di dalam hati suaminya.


"Nak, kamu sehat-sehat ya di dalam sana, kuatkan mama melawan ulat yang ingin merebut papa dari kita"


Ucap Vera sambil mengelus perut nya.


Dia merasa semakin kesal dan marah kepada ulat yang begitu gatel terhadap suami nya, merasa dirinya semakin memanas pun Vera bangkit dan berjalan sekitar taman, saat terus berjalan matanya tidak sengaja melihat pintu yang di yakini nya sebuah ruangan.


"Ruangan apa ini, kenapa aku tidak memperhatikan nya selama ini"


Karna jiwa penasaran nya sudah bangkit, dengan penuh hati-hati Vera membuka pintu tersebut.

__ADS_1


Saat pintu sempurna terbuka Vera begitu terpukau melihat isi ruangan tersebut, karna dilengkapi dari semua jenis senjata, dari senjata menembak, samurai, panah semua lengkap di dalam ruangan yang cukup luas.


Vera melangkah masuk, dia pun menyentuh semua jenis senjata di sana.


"Dari pada aku kesal lebih baik aku mencoba menembak, sudah sangat lama aku tidak latihan, aku penasaran apa sasaran ku masih sama seperti dulu"


Vera memegang pistol, dan mengarahkan nya pada sasaran yang memang sudah di sediakan, tanpa sadar perut yang sudah membuncit Vera menembak sasaran di depan nya.


Dorrr


Tembakan tepat, Vera tersenyum puas.


"Ternyata kemampuan ku masih seperti dulu"


Dia pun kembali membidik sasaran, sekalian Vera meluapkan rasa marah nya kepada Elsa, dia menganggap sasaran nya itu adalah kepala Elsa.


"Kalau saja ku tau kau tidak puas dengan hanya tamparan, sudah aku biarkan suami ku menghabisi m"


Dorrr


"Wanita gatel, dasar ulat"


Dorrr


Vera terus menembak dengan cacian terus di lontarkan dari dalam mulutnya.


...----------------...


"Vien, ngapain perempuan itu kesini"


Tanya Fero yang sudah masuk ke dalam ruangan Davvien, Fero sangat kaget saat melihat rekaman CCTV yang dia kirimkan pada Vera, dia ingin memberi tau kalau Vera datang ke kantor, karna Fero takut jika Vera salah paham.


"Kenapa kamu baru datang sekarang, dan apa itu"


Bukan nya menjawab Davvien malah bertanya apa yang ada di tangan Fero.


"Ah ya, Vera datang tadi menitipkan ini pada resepsionis kantor"


Fero memberi kan rantangan di tangan nya pada Davvien, karna dia ingat Vera menyuruh nya mengambil makanan tersebut.


"Apa, dia kesini, lalu di mana istri ku?"


Davvien langsung panik, dia takut Vera melihat saat Elsa mencium nya, dia tidak ingin istrinya itu salah paham.


"Dia sudah pulang, seperti nya dia melihat mu bersama Elsa, karna dia tadi sempat menyuruh ku mengirimkan rekaman CCTV ruangan mu ini"


"Apa, lalu kenapa kau tidak memberi tahuku"


"Vera melarang nya"


"Jika sampai terjadi apa apa dengan istri ku, kau akan tau akibatnya"


Davvien langsung berlari, sedangkan Fero sudah sangat khawatir, dia jadi serba salah.


"Aku bagaikan buah simalakama, jika aku bilang Vera marah pada ku, jika tidak bilang nyawaku taruhan nya, kenapa aku tidak berfikir dari tadi"


Batin Fero, dia pun melangkah dengan perasaan takut mengikuti Davvien.


...----------------...


Dengan hanya memakan waktu lima belas menit, Davvien sudah sampai, jarak antara kantor dan rumah biasanya membutuhkan waktu 40 menit dalam sekejap berubah, Davvien mengendarai mobil nya dengan begitu cepat, Fero sampai muntah setelah turun dari dalam mobil yang di bawa oleh Davvien.


Davvien langsung berlari, pertama dia ke atas menuju kamarnya, karna pikirnya wanita yang sakit hati akan menangis di atas tempat tidur dengan berbalut selimut.


Namun pemikiran nya salah, kamar nya terlihat rapi dan kosong, dia pun berlari pada tempat kesukaan sang istri yaitu di taman, dia pun sempat menanyakan pada pelayan dan benar saja pelayan mengatakan jika Vera berada di taman.


Saat sampai di taman, Davvien kembali kalang kabut, karna tidak melihat sang istri di sana, Fero meski dalam keadaan pusing dan ingin muntah dia juga ikut mencari Vera.


Davvien dan Fero berputar di sekitar taman, namun tidak menemukan Vera, hingga suara tembakan mengehentikan mereka.


Davvien dan Fero sama sama menatap, sepersekian detik mereka pun langsung berlari ke dalam ruang latihan.


Dorrr

__ADS_1


"Sayang"


~Bersambung


__ADS_2