Gadis Penakluk Mafia Karatan

Gadis Penakluk Mafia Karatan
Permohonan Vera.


__ADS_3

Jam di dinding terus berdentang, suara nya begitu nyaring kala tengah malam tiba.


Saat malam menunjukkan pukul 03 dini hari, Davvien sama sekali tidak tidur, di dampingi oleh istri nya yang sedang memohon dan membujuk dirinya.


Davvien masih diam saat Vera terus meminta nya agar menyetujui jika Vera sebagai umpan, agar mereka bisa menyelamatkan kedua orang tuanya.


Namun, Davvien malah acuh setelah beberapa kali melontarkan kata tidak.


"Mas, aku mohon izin kan aku menemui mereka, aku ingin membebaskan ke dua orang tua ku!" pinta Vera dengan genangan air mata memohon pada lelakinya ini.


Davvien masih menanggapi, dia malah mengeluarkan benda pipih milik nya dan menghubungi seseorang.


"Halo, apa kamu sudah mendapatkan tanda atau menemukan sesuatu?" tanya Davvien kepada orang di balik panggilan nya.


"Belum Tuan, kami masih terus mencari!" jawab orang di seberang.


"Beri kabar aku jika ada yang kalian curigakan, Irfan" Davvien menutup panggilan nya yang ternyata adalah Irfan.


Dan betapa terkejutnya Davvien melihat jika sang istri saat ini berlutut di hadapan nya.


"Mas... aku mohon!" Vera mengatupkan ke dua tangan di depan dada nya, berharap Davvien akan luluh dan mengizinkan nya.


Davvien mengusap wajah nya kasar, dia benar-benar tidak akan bisa melihat istrinya memohon seperti ini, tapi apa dia bisa membiarkan sang istri menyerahkan diri nya kepada penjahat itu. Sungguh dia merasa menjadi suami yang tidak berdaya.


Davvien mendudukkan tubuhnya, ikut mensejajarkan diri dengan Vera, di tariknya tubuh lemah sang istri ke dalam dekapan nya.


"Apa kamu tidak percaya pada ku heum?" tanya Davvien dengan begitu lirih, Vera menggeleng dengan cepat, mencoba menapik apa yang suaminya pikirkan.


"Aku percaya sepenuhnya kepada mu, makanya aku yakin untuk pergi ke sana, karna aku percaya, suami hebat ku ini pasti akan menyelamatkan kami!" jawab Vera membuat Davvien memeluknya lebih erat lagi.

__ADS_1


"Tidak bisakah kamu hanya diam di rumah, biarkan aku yang cari ke Mama dan Daddy!" timpal Davvien lagi.


"Sampai kapan sayang, kita sudah berusaha mencari, tapi belum ada tanda-tanda mereka di temukan, karna kuncinya hanya aku!" jawab Vera lagi, dia menatap ke arah suaminya dengan air mata yang sudah sangat membasahi wajahnya.


Davvien menghapus air yang sangat dia benci jika itu keluar dari mata sang istri.


"Tapi aku tidak ingin kehilangan mu, aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan mu, bagaimana jika aku telat menyelamatkan mu!" ucap Davvien dengan suara nya yang sudah serak dan air mata yang ikut tumpah.


Kalian sudah tau, jika Davvien memang menjadi lelaki sangat lemah jika menyangkut sang istri.


Kini giliran Vera yang menghapus air mata Davvien, sambil menggeleng dia berucap.


"Apa kamu tidak percaya dengan istri mu ini, apa kamu lupa, jika aku wanita yang kuat, mungkin ini lah alasan Daddy dulu menyewa guru bela diri untuk ku, dan aku percaya jika kamu akan bisa menyelamatkan aku, Mama dan juga Daddy!" Vera menatap lekat mata yang memancarkan kesedihan dan juga kekhawatiran, di kecup nya ke dua mata sang suami, Davvien memejamkan mata merasakan sentuhan hangat dari bibir wanita yang dia peluk di pelupuk mata.


Davvien kembali memeluk tubuh sang istri dengan air mata yang masih mengalir.


"Berjanjilah kamu tidak terluka, berjanji lah kamu akan selamat, dan berjanji lah kamu tidak akan meninggalkan ku!" tukas Davvien sambil mengeratkan pelukannya.


"Aku janji tidak akan meninggalkan mu dan anak-anak kita!" jawab Vera, tapi wanita dalam pelukan suaminya ini juga tidak tau dia mampu menepati janjinya atau tidak.


Keduanya masih diam dalam hangat nya pelukan, memberikan semangat untuk satu sama lain, lantai yang dingin tidak mereka rasakan, karna hati ke duanya penuh dengan kabut kegelisahan.


...----------------...


Keesokan hari nya, Vera sudah siap dengan rencana nya, setelah memberikan ASI untuk ke dua anaknya hingga mereka kenyang, dia juga meninggalkan dua botol ASI yang untuk Syakir dan Syakira.


Selesai menidurkan keduanya, Vera langsung berjalan ke arah lemari pakaian.


Davvien yang baru dari ruangan kerja pun masuk ke dalam kamar, matanya langsung mencari keberadaan sang istri.

__ADS_1


Davvien melangkah mendekati Vera yang dia lihat berada di lemari pakaian.


"Sayang, kamu harus memakai ini!" Davvien memberikan baju Anti peluru untuk di gunakan Vera.


Tanpa membantah, Vera langsung memakai nya, setelah itu Vera hanya memakai pakaian biasanya tak lupa juga Davvien memasangkan penyadap suara dan di balik baju yang Vera gunakan.


Setelah selesai, kini Vera yang menyiapkan pakaian untuk suaminya. Vera memakaikan baju kantor untuk Davvien, tidak lupa juga baju Anti peluru untuk di pakai kan di tubuh liat suami tercinta nya itu.


Ya, mereka tau jika saat ini pergerakan mereka sedang di pantau oleh anak buah Roy, maka dari itu Davvien akan pergi seolah berangkat ke kantor bersama Fero, sedangkan Vera akan keluar seperti biasa, dia di kawal oleh beberapa bodyguard. Semua sudah di rencanakan dengan begitu baik, Davvien telah memberi penjelasan kepada Tomi, Frans dan Fero juga Irfan.


Setelah selesai, Davvien kembali memeluk tubuh Vera, rasa nya benar-benar tidak sanggup membiarkan istrinya pergi menyerahkan diri kepada manusi iblis di sana.


"Ingat kata ku, jangan sampai mereka curiga!" tukas Davvien memperingati sambil tangan nya membelai rambut panjang sang istri.


"Dan ingat janji mu pada ku, aku benar-benar gila jika kamu meninggalkan ku!" lanjut nya lagi.


Vera melepaskan pelukan nya, langsung menyambar bibir Davvien, sedangkan Davvien menerima dengan membalas ciuman sang istri, bahkan dia ******* bibir mungil yang sudah menjadi candu untuk dirinya.


"Aku tidak akan lupa dengan janjiku!"


.


.


.


.


.

__ADS_1


~Bersambung


Jangan bosa memberikan dukungan untuk karya receh ini Reader ku tersayang. Dengan cara Like, komen dan juga Vote nya.


__ADS_2