
Pasangan suami istri yang di ikat dengan rantai pada kursi di bawah pancaran sebuah lampu remang-remang dalam ruangan yang gelap dan sunyi itu masih mencoba mengenali sosok orang yang baru datang dan duduk pada sebuah kursi di hadapan keduanya.
"Bagaimana kabar kalian? aku lihat kalian kembali hidup tenang dan bahagia!" ujar orang itu dengan nada sinis.
Dalam hati keduanya menjerit, karna mereka sedang menerka suara yang baru masuk ke dalam gendang pendengaran mereka persis dengan suara beberapa tahun silam saat sebelum perpecahan keluarga mereka di mulai.
"Kenapa kalian hanya diam, apa kalian sudah tidak mengenaliku lagi, adik dan adik ipar ku tersayang!" ujar orang itu yang tak lain adalah Roy, dia menekan ujung kalimat yang baru saja terucap dari mulut nya.
Tn.Diwan dan Rina pun terkejut, karna dugaan mereka benar, yang menyekap mereka adalah kakak mereka sendiri.
Rina langsung gemetar, dia kembali teringat ancaman yang di berikan kakak iparnya tempo hari.
"Mau apa lagi kamu Kak, apa belum puas kamu menghancurkan keluarga ku?" tukas Tn.Diwan bertanya dengan nada tidak suka.
Roy mencibir bibir nya tersenyum sinis "Menghancurkan keluar mu! bukan kah kalian masih bersama sampai sekarang?"celetuk lelaki paruh baya tak merasa bersalah.
"Tapi kamu telah memisahkan aku bersama anak dan istri ku bertahun-tahun Kak, kenapa kamu melakukan ini kak, aku ini adalah adik kandung mu sendiri!" teriak Tn.Diwan yang semakin geram dengan sikap tak berdosa yang di tunjukkan Kakak sulungnya itu.
"Sssttt sabar lah adikku, kenapa kamu harus membuang-buang tenaga berteriak, tapi ngomong-ngomong, aku harus memanggil mu dengan sebutan apa, Reyan atau Diwan!" kata lelaki itu dengan begitu santai.
Pria bertubuh sedikit lebih tinggi dari Tn.Diwan bangkit, dia berjalan mendekati adik dan juga adik iparnya.
"Kamu masih tetap cantik Rina, aku jadi bersyukur karna kamu tidak jadi mati waktu itu!"
...----------------...
Sedangkan di posisi yang lain, Fero sudah melacak keberadaan mertua Davvien dari ponsel Rina, saat ini mereka sudah sampai di titik yang di tunjukkan pada saat Fero melacaknya.
__ADS_1
Vera ikut serta, meski Davvien sudah melarang, namun ibu dari bayi kembar ini tetap kekeh ingin ikut, tentu saja karna dia tidak tenang, dan ingin memastikan jika kedua orang tuanya baik-baik saja.
Ketiga nya langsung turun dari dalam mobil, mereka melihat mobil yang masih terparkir di pinggir jalan, Davvien langsung melihat ke arah dalam mobil, saat melihat pada bangku kemudi, Davvien langsung memalingkan wajahnya seketika dia melihat supir yang masih di bangku kemudi dengan kepala sudah mengeluarkan darah dan terkulai tidak bernyawa.
"Sial!!" umpat Davvien, dia langsung memalingkan wajah istrinya agar tidak melihat ke dalam.
Fero yang penasaran pun melihat, dan ekspresi nya tidak kalah jauh yang di tunjukkan Davvien.
Fero membuka pintu mobil, dan mengambil tas Rina, dia pun mengeluarkan ponsel dari dalam tas tersebut.
"Seperti nya Tn.Diwan dan Ny.Rina di culik Vien!" ujar Fero.
Vera membekap mulut dengan kedua tangan nya, rasa lemas menyerang setiap ototnya, rasanya dia tidak sanggup menopang berat dan beban yang di rasakan nya saat ini.
"Mama, Papa!" ucap nya lirih.
"Sayang, kamu harus kuat! aku janji akan menyelamatkan mereka!" gumam Davvien dengan tatapan lurus ke dengan, dan penuh api kemarahan.
Fero kembali melihat jati diri Davvien yang dulu, sebelum Vera masuk dalam kehidupan nya, sikap dingin, kejam dan juga garangnya kembali muncul dalam diri sahabatnya itu.
Jiwa iblis dalam diri Davvien kembali bangkit, rasa haus darah kembali hinggap pada nya ketika melihat sang istri menangis dan juga begitu mengkhawatir kan kedua orang tuanya.
...----------------...
Di dalam tempat penyekapan Tn.Diwan dan Rina, sekarang ini masih terdengar teriakan amarah dari Diwan, saat seketika kakak bejatnya mendekati sang istri, begitu juga dengan Rina, ibu dari Frans dan Vera ini menjerit histeris, tidak ingin lelaki itu mendekati apa lagi sampai menyentuh dirinya.
"Jangan dekati istri ku!" teriak Diwan yang sama sekali tidak di perduli kan oleh Roy.
__ADS_1
"Jangan, jangan sentuh saya!" Rina berusaha menggeleng-gelengkan kepalanya nya saat tangan besar itu ingin menyentuh pipinya.
Roy semakin menebalkan telinga nya, dia seolah tidak mendengar umpatan dan serapah yang di berikan kedua nya.
Seketika senyuman itu mengendur, saat melihat Rina masih kekeh menghindari sentuhan darinya, hingga membuat emosinya memuncak dan mengayunkan tangan besarnya itu dan.
Plak...
"Mama..!"
Satu tamparan mendarat di pipi mulus yang sudah sedikit kerutan itu, Rina seketika diam, sedang kan Diwan sudah sangat terpukul, dia bisa melihat orang memperlakukan tidak adil terhadap istri nya tapi dia tidak bisa menolong.
"Jangan, jangan siksa istri ku... aku mohon!" pinta Diwan dengan lirih, Rina hanya bisa menahan rasa perih dan panas yang hinggap di pipi kirinya, hanya air mata yang bisa dia tumpahkan, menurut nya tamparan itu lebih baik daripada harus di sentuh oleh lelaki bejat tidak berperasaan itu.
"Jika kau tidak ingin aku menyakiti istri tercinta mu ini, cepat tanda tangani surat ini!" Roy langsung menyodorkan sebuah berkas yang di berikan oleh anak buahnya ke hadapan Diwan.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
~Bersambung.