
Suara brangkar yang di dorong begitu jelas terdengar, raut wajah semua orang tampak cemas, terutama seorang wanita yang berperan sebagai istri dari lelaki yang terbaring tidak sadar kan diri di atas ranjang pasien tersebut.
"Sayang, aku tau kamu lelaki yang kuat, kamu pahlawan untuk aku dan juga anak-anak kita, bertahan sayang!" raung Vera sambil sedikit berlari untuk mensejajarkan badan nya dengan ranjang yang di dorong oleh dokter dan beberapa suster, dan tentunya Fero juga tidak ketinggalan.
Saat melihat lengan Davvien yang begitu banyak mengeluarkan darah dari peluru yang menembus kulit tangan nya, Fero langsung menghubungi Dr.Hendri untuk menyiapkan semua keperluan, karna Davvien akan di bawa ke rumah sakit.
Sampai di depan ruangan operasi, Vera tidak di izinkan masuk oleh Dr.Hendri.
"Maaf Nona, anda sebaiknya tunggu di sini saja!" tahan Dr.Hendri pada istri tuan nya itu.
"Tapi suami ku membutuhkan aku Dok!" ucap Vera masih tetap kekeh ingin masuk.
"Maaf Nona, anda hanya bisa menunggu di luar!" Dr.Hendri langsung membawa Davvien masuk lalu menutup pintu ruangan itu.
Vera terduduk lemah di lantai, air mata nya sedari tadi terus menetes, meski dia berusaha tegar, tapi seolah air matanya itu terus memaksa untuk keluar.
Istri mana yang tidak sakit dan sedih melihat sang suami yang gagah dan juga kuat, yang selalu melindungi dirinya, membahagiakan nya, saat ini lemah tidak berdaya, melihat Davvien memejamkan matanya saja sudah membuat ibu dua anak ini merasa sakit dan juga takut.
"Ya Allah ... selamat kan lah suami hamba, sayang! aku yakin kamu pasti kuat!" batin Vera terus memanjatkan doa.
Rina dan Tn.Diwan juga sudah mendapatkan penanganan, tadi setelah Vera mengeluarkan mereka dari dalam tempat penyekapan keduanya. sudah ada Frans di sana, dan langsung saja Vera menyuruh kakak nya itu untuk mengantar kedua orang tuanya ke rumah sakit. Dan saat ini mereka telah di nyatakan baik-baik saja, hanya perlu istirahat.
Fero tidak bisa berbuat apa-apa saat melihat Vera terduduk lemah di atas lantai depan ruangan Davvien, Dia merasa kesal dengan dirinya sendiri, karna merasa gagal melindungi sahabat yang sudah di anggap saudaranya itu.
Bukkkkk....
Fero meninju dinding ruangan di hadapan nya, lalu di jatuhkan nya kepala di atas tangan yang bertumpu pada dinding tersebut.
"Maaf kan aku Vien, aku tidak berguna!" ucap Fero dengan begitu lirih, air matanya pun sudah tidak dapat dia larang untuk tidak keluar.
__ADS_1
Tn.Andre, Ny.Andin Frans dan Intan pun tiba, mereka juga sangat sedih melihat keadaan Vera dan juga Fero yang terlihat sangat tertekan.
Ny.Andin langsung mendekati sang menantu, sedangkan Intan memeluk sang suami.
"Nak! ayo bangun, jangan seperti ini!" ucap Ny.Andin, terlihat air mata juga sudah membasahi pipi wanita paruh baya ini.
"Mom! mas Davvien Mom, dia pasti selamat kan!" ucap Vera, tatapan nya menatap lurus ke depan dengan air mata terus keluar.
"Pasti sayang, Mommy yakin. Dia anak yang kuat!" jawab Ny.Andin berusaha menenangkan Vera, padahal dirinya sendiri sudah sangat khawatir tentang anak semata wayangnya itu.
"Kak!" panggil Intan kepada suaminya yang masih memunggungi dirinya.
Fero berbalik, langsung saja dia memeluk tubuh hangat sang istri, di letakkan kepala nya di pundak Intan.
"Aku gagal melindungi Davvien sayang!" lirih Fero di pundak sang istri.
Intan menggeleng, di raup nya wajah Fero yang terlihat beberapa luka kecil "Kamu sudah berusaha sayang, jangan salah kan diri kamu!" ucap Intan memberikan semangat untuk ayah dari anak yang sedang dia kandung saat ini.
Fero menjatuhkan dirinya tepat di hadapan Daddy nya itu.
"Maafkan Fero Dad! Fero telah gagal melindungi Davvien!" selalu saja itu yang keluar dari mulut mulut nya.
Tn.Andre menggeleng, kemudian dia langsung memeluk anak ke duanya itu.
"Kamu tidak salah Nak, yang terpenting kamu juga selamat, kita hanya perlu berdoa supaya Davvien juga selamat!" jawab Tn.Andre.
Tak berapa lama pintu ruangan operasi kembali di buka, terlihat lah Dr.Hendri yang berdiri di ambang pintu.
Vera langsung bangkit dan berdiri di depan Dr.Hendri.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan suami saya?" tanya Vera tanpa sabar.
"Peluru yang ada dalam lengan Tuan muda sudah kami keluarkan! tapi ...," Dr.Hendri mengehentikan ucapan nya. dokter muda ini tampak ragu mengatakan nya.
"Tapi apa Dok?" tanya Vera lagi.
"Tapi Tuan kehilangan banyak darah, dan darah yang sama dengan Tuan Davvien di sini hanya tersisa satu, sedangkan kami membutuhkan dua kantong darah lagi!" jelas Dr.Hendri membuat Vera membekap mulut dengan ke dua tangan nya.
"Darah ku tidak sama dengan mas Davvien!" lirih Vera, sungguh Vera merasa menjadi seorang istri yang tidak berguna.
Kalut dengan pemikiran nya, dengan badan nya yang sudah sangat lemah karna harus menghajar anak buah Roy, membuat ibu dari dua anak ini lunglai dan tak sadarkan diri.
Kalian tau jika Vera baru saja melahirkan, tapi dia harus mengeluarkan semua tenaganya untuk bisa menyelamatkan kedua orang tua nya.
"Vera, Nak! kamu kenapa sayang!" Ny.Andin langsung panik saat sang menantu tumbang dalam pelukannya.
Frans yang melihat nya pun tidak tinggal diam, langsung dia mengangkat adik kesayangannya itu dan membawa ke ruangan untuk di periksa oleh dokter, kakak dari Vera ini terlihat sangat mengkhawatirkan adik satu-satunya itu.
"Lalu bagaimana dengan Tuan Davvien, apa ada darah yang cocok dengan nya?" tanya Dr.Hendri.
"Ambil darah ku saja!"
.
.
.
.
__ADS_1
~Bersambung.