
Lanjut ya..!
Davvien sudah berangkat meninggalkan mansion nya. Benar saja, sebuah mobil hitam berada di dekat mansion Davvien, Dia dan Fero pura-pura tidak tau jika mobil tersebut yang mengintai istri tercinta nya itu.
Frans di tugaskan Davvien untuk berpura pura sibuk mencari ke dua orang tuanya.
Sedangkan Vera, setelah berpelukan dengan mommy dan juga Intan, wanita itu mencium dua bayi gembul yang sedang terlelap di gendongan Mommy Andin dan juga Intan.
Tak terasa air mata menetes dari sudut matanya, menanda kan bahwa ibu dari dua bayi gembul ini berat untuk meninggalkan mereka, tentu saja dia merasa sangat sedih, bagaimana jika dia tidak bisa kembali lagi. Pikiran Vera sungguh sangat gelisah.
Setelah menguat kan hati nya, Vera menghapus air mata dan merapikan penampilan nya, dia pun mencoba bersikap biasa saja.
"Mom, Vera pergi dulu!" ujar Vera pada mertuanya yang juga sudah mengeluarkan air mata nya.
"Hati-hati sayang, ingat anak mu menunggu mu di sini!" jawab Ny.Andin, Vera hanya mengangguk dan mencoba tersenyum.
"Tan, aku pergi dulu ya! tolong jaga Syakir!" Intan pun tak kuasa menahan air mata saat sahabat nya itu mengatakan hal demikian.
"Apapun yang terjadi, kamu harus kembali Ra, ingat anak dan suami mu masih membutuhkan mu!" pinta Intan.
"Doa kan aku Tan!" setelah mengatakan itu, Vera keluar dari dalam rumah dengan menggunakan baju kemeja polos, di padukan dengan celana jeans, di lengkapi dengan kaca mata hitam yang bertengger tepat di hidung mungil nya itu, jangan lupa tas jinjing yang juga melekat di tangan nya.
Vera masuk ke dalam mobil. Seperti biasa, dia pergi dengan di temani beberapa bodyguard yang akan mengantar kemanapun dia pergi.
Mobil yang membawa Vera keluar dari gerbang, mereka juga melewat mobil yang masih terparkir di dekat rumah penerus keluarga Wilmar.
Orang yang berada di dalam mobil avanza hitam tersebut menelpon seseorang setelah melihat kepergian Vera.
"Halo bos, wanita itu sudah keluar dari rumah nya!!" ujar orang tersebut melapor setiap pergerakan anggota keluarga Davvien, terutama Vera.
"Lakukan sekarang, jangan sampai gagal!" perintah orang di seberang.
__ADS_1
"Baik bos!" setelah sambungan telpon terputus, orang yang berada dalam mobil itupun menancap gas guna untuk mengejar mobil yang di tumpangi Vera.
Beberapa menit, Vera kini turun di sebuah minimarket, pengawalnya hanya, Vera menyuruh mereka menunggu di luar.
Selesai membeli keperluan, Vera pun keluar. Terlihat ibu dua anak ini membeli susu untuk ke dua bayinya, kemudian dia pun kembali masuk ke dalam mobil.
Kini mereka kembali berjalan dan embelah jalan raya, Vera senagaja menyuruh supir nya untuk pulang lewat jalan sepi, tanpa curiga anak buah Davvien mengikuti apa yang di perintahkan oleh nyonya mereka.
Para bodyguard yang bertugas menjaga Vera memang tidak tau tentang rencana mereka, karna Davvien tidak ingin rencana nya gagal, Vera masih terlihat tenang, meski dadanya bergemuruh hebat.
Benar saja, saat mobil yang membawa dirinya melewati jalanan yang sunyi, sebuah mobil langsung menghadang mobil mereka.
Semua orang dari dalam mobil tersebut langsung turun, dan mengacungkan pistol pada arah mobil yang di tumpangi Vera.
Para bodyguard yang di utus menjaga Vera sudah merasa tegang, bukan karna keselamatan mereka, akan tetapi mereka mengkhawatirkan Vera.
"Cepat turun!" teriak seorang lelaki dari luar mobil.
"Lebih baik anda tunggu di sini Nona, biar kami yang menghadapi!" Ujar seorang bodyguard bertubuh tegap.
Tapi baru ingin menghajar, tiga mobil datang dan berhenti tepat di dekat mereka. Para pengawal Vera jadi gelagapan karna orang yang menghadang mereka terlalu banyak.
Perkelahian pun tidak dapat di hindari, demi untuk melindungi Vera, mereka bahkan rela jika nyawanya yang menjadi taruhan nya, karna itu yang mereka janjikan kepada Davvien saat mereka di terima menjadi bodyguard di mansion Wilmar.
Beberapa dari penjahat itu tidak tinggal diam, mereka langsung mendekati mobil dan menarik Vera secara paksa.
"Si-siapa kalian, kenapa kalian mendekati ku?" tanya Vera dengan suara ketakutan.
Mereka tidak menjawab, orang itu malah menarik dan menyeret Vera masuk ke dalam mobil.
Bisa saja Vera melawan, tapi dia harus menahan diri agar tidak terlalu membuang tenaga.
__ADS_1
"Siapa kalian, kenapa kalian membawa ku?" tanya Vera lagi, dia berusaha memberontak, saat mobil yang membawa nya pergi meninggalkan pengawal Vera dan anak buah mereka yang masih berkelahi hebat.
Namun, tidak ada yang bersuara dari mereka, Vera seolah berbicara pada patung yang bergerak.
Butuh waktu setengah jam, mobil yang membawa Vera kini berhenti tepat di sebuah gedung yang terlihat sangat menyeramkan, dindingnya terlihat usang dan di penuhi rumput yang menjalar ke atas nya.
"Dimana saya?" tanya Vera lagi, tapi para orang yang membawa nya masih tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
Mereka masih terus menyeret Vera masuk ke dalam bangunan tua itu.
"Tidak, saya tidak mau masuk ke dalam. Lepaskan saya!" teriak Vera, dia terus mencoba melepaskan diri, tapi tetap tidak bisa, karna mereka berjumlah sangat banyak.
Vera terus di tarik untuk masuk ke dalam bangunan yang tampak gelap itu, dengan begitu kasar, kini Vera di hempaskan pada lantai yang di rasa nya begitu berdebu.
Dengan segera Vera bangkit, dia langsung melihat sekeliling nya yang di penuhi oleh orang berbaju hitam dan juga memakai kaca mata hitam, hingga matanya menangkap sosok dua manusia yang sangat berarti dalam hidupnya.
Vera membelalakkan matanya, melihat keadaan ke dua orang tuanya yang terlihat menyedih kan, darah keluar dari sudut bibir ke duanya, mereka juga terlihat sangat lemah.
"Mama... Daddy!!
.
.
.
.
.
~Bersambung
__ADS_1
Duh, duh... deg degan nggak ni..?
Jangan lupa ya kasih dukungan nya para Reader ku tersayang dengan cara Like, Komen, dan juga Vote nya yang banyakš¤.