
Kantor pencakar langit WILMAR GRUP adalah tujuan Vera, saat ini dia sudah sampai di dalam lift, karyawan di sana sangat menghormati wanita dengan perut membuncit itu, karna mereka tau jika Vera adalah istri dari bos mereka.
Pernah sekali karyawan yang ke tahuan ngegosip kan tentang Vera, dalam detik itu juga karyawan tersebut langsung di pecat, dan pada saat itu lah Davvien dengan lantang mengatakan bahwa wanita yang sering menemui nya ke kantor adalah istri nya.
Tok,,,tok,,,tok,,,
Setelah mengetuk, Vera mendorong pintu ruangan Davvien.
"Sayang, udah sampai?"
Davvien langsung mendekati Vera, memeluk nya, lalu mendudukkan Vera di pangkuan nya.
"Iya sayang, kamu sudah makan siang?"
"Heummm"
Jawab Davvien sambil mendengus leher putih Vera.
"Sayang, geli ih"
Bukan nya berhenti, Davvien malah menjilati leher jenjang milik sang istri.
"Aku kangen"
Bisik Davvien di telinga Vera, sedari tadi Davvien sangat mengkhawatirkan Vera.
"Kita baru berpisah beberapa jam sayang kau sudah merindukan ku, bagaimana jika aku pergi dari hidup mu untuk selamanya?"
Cup
Mendengar ucapan Vera Davvien langsung mencium bibir Vera, karna merasa kesal dengan kata kata yang Vera lontarkan, Davvien menggigit bibir ranum Vera.
"Aw"
Pekik Vera melepaskan ciuman mereka.
"Kenapa kau menggigit bibirku?"
"Jangan katakan itu lagi, aku bahkan tidak bisa bila menjauh dari mu untuk beberapa saat, jika kau pergi maka aku juga akan pergi"
"Sayang, kita tidak tau kapan ajal kita akan tiba, suatu saat kita pasti akan berpisah"
Tep,,
Air mata Davvien langsung keluar dari pelupuk mata nya, biar dia terlihat lemah di depan istri, biarkan para Reader bilang kalau Davvien mafia lemah, karna yang tau rasa sakit nya itu Davvien, dia tidak akan sanggup berpisah kembali dengan orang yang sangat di cintai nya.
"Sayang, kamu menangis?
Vera langsung menghapus air mata Davvien, dia mencium pelupuk mata suaminya dengan begitu lembut.
"Maaf kan aku bila kata kata ku membuat mu sedih"
Sesal Vera, dia tidak sampai membayangkan jika suaminya akan menangis dengan hanya mengucapkan kata kata itu.
"Jangan pernah tinggalkan aku"
Vera memeluk kepala suaminya membawa nya bersandar pada dada Vera, Davvien menenggelamkan wajahnya nya di sana, bagi Davvien itu tempat ternyaman untuk dirinya.
"Sayang, apa kau tidak ingin menyapa anak mu, sedari tadi dia sangat merindukan papa nya"
Ujar Vera memecah suasana, sambil mengusap perut nya.
Cup
"Maaf kan papa sayang, papa sangat merindukan mu"
"Iya papa, kami ingin makan"
Celetuk Vera lagi, Davvien langsung menatap wajah istrinya.
"Kamu lapar sayang?"
__ADS_1
"Bukan aku, anak mu ini yang ingin makan"
"Siapapun itu, kalian mau makan apa?"
"Eum apa kamu akan membelinya?"
Tanya Vera ragu, sontak Davvien mengangkat alis nya sebelah.
"Hei... aku tidak sepelit itu, apapun yang kamu inginkan akan aku penuhi, bahkan jika makanan yang kamu inginkan mencapai harga puluhan jutaan maka dalam sedetik kamu akan memakan nya"
Vera memutar bola matanya jengah, apa mau di kata jika sang suami sudah mulai memuji diri nya sendiri.
"Eum aku hanya ingin memakan bakso lava di warung yang baru buka di ujung sana"
Davvien kembali mengernyitkan dahi mendengar permintaan sang istri.
"Makanan apa itu?"
"Bakso lava, aku melihat warung yang baru buka di sana dengan menunya bakso lava di pinggiran jalan di sana"
"Apa, lava itu kan dari gunung berapi, kenapa kamu ingin memakan itu sayang, tidak... aku tidak akan membiarkan mu makan makanan itu"
"Sayang... itu hanya sebagai nama, mungkin karna pedas makanya di namakan lava"
Jelas Vera yang aneh mendengar perkataan sang suami.
"Apa pun itu aku tidak akan mengizinkan mu makanan aneh itu"
"Bilang saja kamu pelit, ini tuh anak kamu yang menginginkan nya, kamu mau anak kita nanti ngiler"
Mendengar itu tentu saja Davvien tidak mau, mana mungkin dia ingin anak seorang pengusaha sukses yang di kenal seluruh negri ngiler, kan sangat memalukan, tapi dia juga tidak ingin istrinya memakan makanan yang menurut nya sangat aneh.
"Sayang, bukan begitu kamu makan yang lain saja ya, jangan makanan di pinggir jalan yang tidak terjamin higenis nya"
"Ya sudah kalau kamu tidak ingin membeli nya, aku akan menyuruh kak Fero saja untuk membeli kan untuk anak ku ini"
Dengan muka cemberut Vera ingin melangkah, namun suara Davvien menghentikan nya.
"Untuk apa aku sini, aku tidak ingin anak ku ngiler nanti nya, apa kamu ingin di bilang orang tua yang pelit, orang tuanya kaya raya tapi anak nya sampai ngiler"
Vera menduduk kan tubuh nya di sofa masih dengan wajah ketus nya, merasa sangat jengkel pada Davvien.
"Baik, baik tunggu di sini dulu"
Davvien menelpon Fero.
"Cepat ke ruangan ku"
Tak menunggu lama, Fero pun masuk ke dalam ruangan Davvien.
"Ada apa?"
"Kamu carikan bakso yang namanya,,,,,"
Davvien bingung dengan nama yang di katakan Vera.
"Aku tidak ingin orang lain yang membelinya, ayah nya siapa kamu apa kak Fero, kamu mau nanti anak kamu lebih menyayangi kak Fero"
"Sayang, kenapa kamu mengatakan itu... aku yang susah susah memproduksi nya Kenapa saat lahir malah menyayangi kutu kupret ini"
Fero hanya diam, masih bingung dengan apa yang di bicarakan Vera dan Davvien.
"Makanya kamu sendiri harus membeli kan nya"
Davvien menarik rambut nya frustasi, dia di hadap kan antara istri dan image nya, apa yang di katakan orang-orang jika melihat bos mafia membeli bakso di pinggir jalan.
"Sabar ya nak, Papa memang tidak sayang sama kita"
Mungkin karena hormon ibu hamil, Vera merasa sedih dia mengusap perutnya, tentu saja Davvien tidak tega melihat nya.
"Baik lah, aku akan membeli kan nya, kutu kupret kau ikut dengan ku"
__ADS_1
"Pkok nya nanti harus kamu yang membelikan nya, kak Fero laporkan pada ku jika dia menyuruh mu"
"Baik Vera"
Dengan wajah dongkol Davvien keluar dari ruangan nya langsung menuju lift khusus CEO.
Hanya 10 menit mereka sudah sampai, karna memang tempat nya tidak jauh dari kantor Davvien.
Davvien yakin jika yang di maksud istrinya adalah di sana karna melihat tempat itu begitu banyak pengunjung, hanya warung yang baru di buka ada pengunjung sebanyak itu, dia juga melihat jika ada tulisan di sana "BAKSO LAVA"
"Ku rasa benar ini tempat nya"
Davvien dan Fero mengedarkan pandangannya.
"Bagaimana ini, begitu banyak orang yang berkunjung pada warung itu"
Fero yang mengerti Davvien pun memikirkan cara.
"Fero kau memiliki ide?"
Tanya Davvien yang melihat pada Fero.
"Mana mungkin seorang CEO dan bos mafia membeli bakso yang dikerumuni oleh ibuk-ibuk"
"Aku punya ide tuan"
Fero mengambil kaca mata lalu menyerahkan pada Davvien.
"Setidak nya ini sedikit membantu, dan anda buka kan jas, jika menggunakan jas mereka akan mengenali anda"
Davvien tampak berfikir, dia masih ragu untuk turun atau tidak.
"Tuan, apa kau mendengar ku?"
Ulang Fero lagi, karna kaca mata yang di berikan nya belum di ambil oleh Davvien.
"Apa kau menganggap aku tuli kutu kupret?"
"Tidak tuan... ambil lah ini, nanti takutnya bakso nya keburu habis"
Meski dengan perasaan ragu, Davvien membuka jas nya, dia mengambil kaca mata yang di berikan Fero.
Davvien turun dan melangkah mendekati warung yang di penuhi oleh ibuk ibuk, ada juga para muda mudi yang ingin merasakan makanan yang baru mereka lihat.
Semua mata tertuju pada pria bertubuh tinggi dan juga putih, wajah campuran, badan berotot, mereka memandang Davvien tanpa berkedip, mereka terpesona, penampilan Davvien malah semakin menarik saat seperti sekarang ini.
Para terus saja melihat Davvien berjalan masuk, dengan mulut terbuka, ada dari sebagian ngiler melihat sosok tampan di hadapan nya.
Davvien tidak memperdulikan tatapan tatapan orang yang ada di san, dengan gagah dia langsung memesan Bakso yang di inginkan istri nya.
Penjual bakso juga ikut menganga melihat Davvien yang berjalan mendekati nya, hingga tanpa sengaja tangan nya terkena kuah bakso yang panas
"Bungkus saya semua bakso yang ada di sini"
"Baik tuan"
Ucap tukang bakso dia masih menatap Davvien.
"Ini tuan"
Tukang bakso menyerahkan bakso yang telah di bungkus pada Davvien ada sekitar 5 macam jenis bakso, Davvien menyuruh untuk membungkus semua nya.
Davvien mengambil lalu memberi kan uang pada pemilik bakso.
Untung nya Fero sudah berjaga-jaga, dia sengaja menyerahkan lembaran uang pada Davvien, sedikit banyak nya dia tau kalau di warung seperti itu tidak bisa bayar pakek kartu.
Mereka pun kembali pada kantor, Davvien menarik nafas lega, akhirnya dia berhasil memenuhi keinginan sang istri.
~Bersambung
Besok lah sambung lagi ya para Reader, oh ya pendukung nya menurun ya, aku tau itu karna aku nggak teratur up nya, maaf banget ya lagi ada urusan, aku selalu berusaha untuk up tiap hari.
__ADS_1
Dam buat kalian yang masih menetap di karya recehan ini, saya ucapkan terima kasih banyak.