
Saat di lihat nya Davvien masuk ke dalam rumah, Vera langsung bangkit dari duduk nya lalu mencoba tersenyum pada Davvien.
"Dari mana?"
Meski tau nggak akan ada jawaban namun Vera tetap bertanya pada Davvien.
Seperti dugaan Vera, Davvien berlalu tampa menjawab pertanyaan Vera, tapi sekarang Vera benar benar sudah tidak memperdulikan lagi sikap Davvien yang cuek.
Tanpa Vera tau kalau jantung Davvien selalu lari maraton saat melihat nya tersenyum pada Davvien, ya meskipun Davvien berusaha selalu acuh pada Vera, tapi tidak dengan hatinya, sungguh sikap dengan hati Davvien tidak bisa di ajak kerja sama.
Davvien berlalu dari sana, Vera berencana menutup pintu, tapi dia melihat Fero masuk ke dalam rumah.
"Eh kak Fero, ayo duduk kak"
"Tidak usah nona, kalau Anda sudah ada di rumah, tolong anda obati luka tuan"
"Kak Fero jangan bicara formal begitu pada ku, panggil aku Vera saja, oh ya kenapa dia sampai terluka dan kenapa kalian pulang telat sekali?"
"Tadi terjadi sedikit musibah di kantor nona"
"Kak Fero"
"Iya Vera, kalau begitu saya pamit pulang dulu, jangan lupa obati luka tuan tapi anda harus sedikit bersabar karna dia pasti akan menolak untuk di obati"
"Kenapa tidak memanggil dokter saja"
"Dia tidak mengizinkan nya"
"Dasar aneh"
"Kakak pulang dulu ya"
"Kakak menginap di sini saja"
"Nggak usah Vera"
Fero pun kembali melanjutkan perjalanan menuju apartemen nya.
Sedangkan Vera, buru-buru menutup pintu dan berlari untuk segera sampai di kamar Davvien.
Vera melihat Davvien yang sedang duduk di tempat tidur sedang membuka baju nya, dengan hati hati Vera melangkah masuk dan berusaha bicara pada Davvien.
"Tuan, saya siapkan air nya dulu"
Tanpa menunggu jawaban Davvien Vera langsung menuju ke dalam kamar mandi.
Setelah semuanya selesai Vera keluar, dia melihat Davvien sedang membuka luka nya yang tadi di tutup menggunakan dasi.
"Tuan, sebaiknya anda mandi lah dulu"
Davvien bangun langsung menuju ke dalam kamar mandi.
Vera bergegas mencari kotak P3K, setelah menemukan nya Vera kembali ke dalam kamar Davvien, dia juga menyiapkan baju ganti untuk Davvien.
Saat menaruh baju ganti untuk Davvien, Vera mendengar pintu kamar mandi yang terbuka dia melihat ke arah Davvien, Vera langsung membulatkan mata nya melihat Davvien yang hanya menggunakan handuk.
Vera buru buru membalikkan kembali badan lalu menutup mata dengan tangan nya.
"Pakai lah baju mu tuan"
Vera memberikan baju pada Davvien dengan dia yang masih membelakangi Davvien, dan sebelah tangan nya masih menutup mata.
Davvein yang memang sudah merasa capek pun segera mengambil baju yang berikan Vera, rasanya ia ingin cepat cepat merebahkan badan nya di atas kasur.
Saat selesai memakai pakaian nya, Davvien masih melihat Vera di sana masih dalam keadaan yang sama, dengan menutup kedua matanya.
"Hey aku sudah selesai, kenapa kau masih di sini"
Mendengar itu Vera membuka mata nya, betapa kaget nya Vera melihat Davvien tepat berada di depan nya sedang menatap tajam ke arah nya.
__ADS_1
"Hehe, ayo tuan duduk dulu"
Dengan berani nya Vera menyuruh Davvien duduk di tempat tidur.
"Kenapa kamu malah memerintah ku"
"Hufffff aku hanya menyuruh mu duduk, itu tidak menurun kan martabat mu kan Tuan Davvien Wilmar"
Vera sengaja menekan tiap kalimat yang dia ucapkan, mendengar itu Davvien tidak bicara apapun lagi, dengan perasaan kesal dia duduk, tanpa di sadari dia telah patuh pada perintah Vera.
Vera mengambil kotak P3K yang di simpan di meja sofa, Davvien mengangkat alis nya melihat Vera berjalan ke arah nya dengan membawa kotak tersebut.
Vera langsung duduk di samping Davvien dan membuka kotak berisi P3K, dia mengambil obat luka saat hendak mengoleskan di luka Davvien
"Apa yang kamu lakukan"
Davvien memegang tangan Vera, menatap tajam ke arah Vera, Davvien merasa Vera sudah sangat lancang.
"Haissss aku hanya ingin mengobati luka mu ini"
Vera kembali ingin mengoleskan obat luka pada lengan Davvien, meski luka nya tidak terlalu besar tapi kalau di lihat secara dekat luka tersebut cukup dalam.
Lagi lagi Davvien menghentikan Vera.
"Aku tidak perlu bantuan mu, jangan sok baik kamu di hadapan ku, aku tidak suka orang yang berpura pura baik"
Menghempaskan tangan Vera secara kasar, Vera jadi kesal dengan tingkah Davvien.
"Heh tuan, dari mana anda tau kalau saya berpura pura baik, saya ikhlas menolong tuan, jangan kan manusia jika saya melihat kucing yang sedang terluka pun akan saya obati, sudah banyak orang yang mengakui kalau saya ini memang orang yang sangat baik"
Dengan bangganya Vera memuji dirinya sendiri.
"Sudah sakit juga masih angkuh" Lanjut Vera lagi.
"Jadi kamu samakan aku dengan kucing hah, dan kamu bilang aku angkuh, apa urusan nya dengan mu?"
"Ini kan saya bilang contoh nya tuan, kalau saya itu tulus mau ngobatin luka tuan, udah tuan duduk yang manis dan biarkan saya mengobati luka tuan"
Vera kembali memaksakan sebuah senyuman, dia teringat kata kata Fero kalau dia harus ekstra sabar menghadapi pria di depan nya ini.
Davvien hendak protes lagi, tapi Vera sudah memegang lengan Davvien, sengaja Vera tekan luka Davvien biar Davvien bisa diam.
"Aw,,,kau mengobati atau tambah melukainya"
"Katanya tidak perlu di obati kok segitu saja sakit"
Ujar Vera yang sedang mengoleskan obat luka di lengan Davvien.
"Lagian ni ya tuan kalau luka anda tidak di obati nanti bila infeksi terus luka nya akan semakin parah, terus tangan anda harus di amputasi, terus anda tidak punya tangan lagi, memang nya tuan mau jadi cacat tidak punya tangan sebelah"
Vera terus mengoceh tanpa memberi kesempatan Davvien untuk protes, sambil tangan nya terus bergerak membalut lengan Davvien dengan perban.
Sedangkan Davvien yang sudah tidak ada lowongan untuk protes hanya diam dnegan terus memperhatikan Vera yang begitu cetakan mengobati luka nya, perasaan aneh kembali menjalar di tubuh Davvien, saat di pandang nya wajah Vera yang berjarak hanya beberapa senti sebuah kata terserat di dalam hatinya Davvien" Cantik"
"Kamu kira saya anak kecil yang akan takut dengan kata kata kamu hah?"
Davvien segera membuang rasa yang sangat aneh menurut nya.
"Hehe saya tidak bilang begitu, oke sudah selesai"
Vera mengangkat kepalanya tanpa sengaja melihat pada Davvien yang juga sedang menatap nya, sesaat mereka terdiam.
Dug, dug dug
Dug dug dug
Saat ini bukan hanya Davvien yang merasa jantung nya lari maraton, Vera pun juga mengalami hal yang sama, saat tatapan mereka bertemu dengan begitu dekat jantung mereka berdetak sangat cepat seakan ingin keluar dari tempat nya.
Vera tersadar langsung mengalih kan pandangan nya ke lain arah.
__ADS_1
"A aku akan mengambil mu makan, tuan pasti belum makan malam"
Vera menjadi salah tingkah, dia menjatuhkan kotak P3K yang di tangan nya, buru buru Vera membereskan kotak tersebut dan berlari keluar.
Melihat tingkah Vera tanpa sengaja Davvien menarik sudut birbir nya tersenyum meskipun hanya sekilas.
"Gadis gila"
Sedangkan di luar, Vera memegang dadanya sembari menarik nafas nya dalam dalam.
"Haduhhh kenapa dengan jantung ku ini, kamu jangan loncat loncat gitu dong kalau dia tau nanti dia bakal mikir yang macam macam"
Vera berbicara sendiri sambil melihat ke arah dadanya.
Setelah di rasa tenang, Vera mengambil makanan lalu membawanya lagi ke dalam kamar Davvien.
Saat Vera masuk dia melihat Davvien sedang rebahan di sofa.
"Tuan ini makan lah dulu"
"Saya tidak lapar, lebih baik kamu bawa keluar lagi makanan itu"
Jawab Davvien tanpa melihat ke arah Vera, Davvien tidak tau kalau Vera sedang menahan kesal di benaknya.
"Apa, dia menyuruh ku membawa keluar lagi makanan ini, tadi waktu aku bilang ingin mengambil makanan dia tidak bicara apa apa dan sekarang setelah aku mengambil dan membawa nya kesini dia malah bilang kalau dia tidak lapar, aku tidak terima bagaimana pun dia harus makan karna aku telah capek mengambil nya, enak saja dia selalu berbuat sesuka hatinya, kali ini dia yang harus menuruti ku"
Vera membatin panjang lebar, dia benar benar tidak terima dengan sikap Davvien yang sangat angkuh.
"Apa kau tuli, kenapa masih berdiri di sana cepat keluar"
Bentak Davvien saat di rasa Vera masih tidak bergerak.
"Eh tuan kan belum makan, maka dari itu tuan harus makan, dan anda jangan membantah tuan, saya sudah membawa kan makan malam untuk anda"
Vera berjalan mendekati Davvien, dengan senyum dan kata kata yang berbentuk sebuah ancaman.
"Kamu sudah berani memerintah saya"
Vera tidak menghiraukan nya lagi, dia mengambil nasi dan lauk langsung di sodorkan ke dalam mulut Davvien yang sedang mengoceh.
Davvien terdiam, dia membelalakkan mata melihat apa yang di lakukan Vera pada nya, karna makanan telah sampai ke dalam mulut nya terpaksa dia mengunyah makanan tersebut dan menelan nya.
Davvien hendak memarahi Vera, tapi dengan santainya Vera bangun dan berjalan.
"Lebih baik anda makan sendiri tuan, selamat malam hampir pagi, selamat istirahat tuan SUAMI"
Vera tersenyum dan berlalu setelah menekan kata "SUAMI"
Saat di luar kamar Davvien, Vera langsung berlari rasanya dia sudah tidak sabar sampai di kamarnya, sebenarnya Vera sangat takut melihat tatapan tajam Davvien, tapi karna Vera tidak suka dengan Davvien yang selalu seenaknya dia pun mencoba memberanikan dirinya.
Lalu bagaimana dengan Davvien, sampai saat ini dia masih terdiam kaku, saat mendengar perkataan Vera yang menyebutnya suami.
Apa lagi saat Vera menyuapi nya, meski dengan cara memaksa yang namun Davvien merasa tegang, dia tidak menyangka kalau Vera seberani itu padanya.
Karna merasa lelah dan jam pun sudah menunjukkan pukul 02:40 tanpa menunggu lama Vera langsung terlelap melupakan apa yang di lalui nya barusan.
Beda halnya dengan Davvien, waktu yang seharusnya mengistirahatkan badan nya, dia malah terus memikirkan yang terjadi beberapa saat lalu, dia terus terusan memikirkan Vera.
Vera sudah sangat berani membantah dan memerintahkan dirinya, dan sudah berani menyuapinya, ntah itu perasaan marah atau senang, yang jelas Davvien terusan berfikir sampai matanya lelah dan terpejam.
~Bersambung
Maaf ya kalau isinya tidak sesuai dengan keinginan kalian, dan kata-kata nya banyak salah, maklum author juga manusia pasti akan khilafππππ
Makasih yang telah mendukung cerita in.
Jangan lupa ya komentar nya, like dan juga vote nya.
πππ
__ADS_1