
Di sebuah mansion mewah yang baru beberapa bulan di tempati oleh Fero beserta sang istri saat ini tampak begitu rame.
Intan sudah di izinkan pulang ke rumah. Para sahabat mereka datang untuk menjenguk baby boy yang baru beberapa hari lahir.
Aldi, Tania, Riki dan Rani semua sedang mengerumuni bayi mungil yang sedang memejamkan mata itu. Vera dan Intan hanya tersenyum melihat tingkah sahabatnya yang gemes dengan baby, Aidan.
Fero duduk di sebelah sang istri, dia menjadi suami siap siaga saat Intan membutuhkan sesuatu, jika malam dia yang akan menjaga baby boy nya itu sampai terlelap.
Oh ya, Aldi dan Tania juga sudah resmi menjadi pasangan suami istri loh, tepat sebulan setelah pernikahan Riki dan Rani, mereka pun menyusul.
Sekarang ini semuanya tampak begitu bahagia, Mama Intan juga berada di sana, karna Intan meminta jika mama dan papa nya untuk tinggal bersama mereka.
Baby Syakir dan Syakira di tinggal di rumah bersama bi Aini dan juga Bi Ainun. Sedangkan suaminya sudah berangkat kekantor.
"Ran, kamu kapan ni nyusul?" tanya Vera pada Rani yang belum juga hamil.
"Ntah lah, Ra! doakan saja agar cepat berisi!" jawab Rani, dengan wajah lesu dia menatap kepada sang suami.
Riki paham jika Rani merasa bersalah karna belum juga di beri momongan "Sayang, jangan bersedih! aku tidak keberatan kok, mungkin kita di kasih waktu untuk menghabiskan waktu bersama dulu!" jawab Riki berusaha menghibur sang istri.
"Terimakasih, sayang!" jawab Rani langsung masuk ke dalam pelukan sang suami.
"Maaf ya, aku tidak bermaksud menyinggung kalian, Ran! aku hanya bertanya. Semoga kalian secepatnya di berikan momongan!" ujar Vera merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, Ra! Aaaminnn ... Terimakasih ya atas doanya!" imbuh Rani dengan nada lirih.
"Kalau kamu, Nia?" tukas Intan juga bertanya kepada Tania.
"Jangan tanya sama aku, Tan!" jawab Tania ketus.
"Loh! kalau bukan sama kamu, terus aku tanya sama siapa?" tanya Intan lagi merasa heran dengan jawaban Tania.
"Tanya saja sama dia!" timpal Tania menunjuk sang suami dengan wajahnya.
"Aldi?" tanya Intan lagi.
"Ya iya, dia belum mengizinkan ku hamil!"
"Apa! Jadi Kak Aldi mencegah kehamilan mu?" tanya Vera dengan nada terkejut.
__ADS_1
"He eum, katanya mau menghabiskan waktu bersama lebih lama lagi!" jawab Tania lagi.
"Kenapa begitu, Kak?" pertanyaan Vera kini beralih kepada Aldi.
Sedangkan yang di tanya pun bersuara "Aku cuma ingin bersenang-senang dulu dengan istri ku tercinta, kalau sudah punya anak dia akan repot, dan kurang waktu untuk ku!" jawab Aldi, wajahnya di buat cemberut, membuat Tania gemes ingin mencubit nya.
"Oh ... jadi takut kalah saing sama anak nya ni?" sahut Fero yang sedari tadi hanya menyimak.
Aldi hanya terkekeh "Hehehe!"
"Kalau kakak sudah mempunyai anak pasti kebahagiaan nya akan bertambah berlipat ganda!" imbuh Vera lagi.
"Kamu benar, Ra! Kakak sudah membuktikan nya!" tukas Fero membetulkan ucapan Vera.
"Ya sudah, sayang! Pulang dari sini kita langsung produksi, bila perlu yang banyak sekaligus!" sarkas Aldi langsung merangkul bahu sang istri.
Tania langsung memukul lengan Aldi, tapi dia merasa senang akhirnya sang suami mau membuang sifat kekanakan nya, karna hanya memikirkan kebersamaan mereka.
...----------------...
Semua pamit untuk pulang, termasuk Vera, karna takut ke dua bayi gembul nya rewel. Anak nya sekarang sudah berumur 10 bulan, mereka juga sudah bisa membedakan yang mana papa dan mama nya dan orang lain.
"Bi, apa mereka sudah bangun?" tanya Vera kepada bi Aini.
"Belum, Nak Vera! Mereka masih tertidur pulas!" jawab bi Aini.
"Hem ... makasih ya, Bi! kalau seperti itu Vera mau masak dulu buat makan malam! sebentar lagi mas Davvien akan pulang!" tukas Vera lagi, dia melihat jam di dinding sudah pukul tiga sore.
Bi Aini hanya mengangguk, dia sudah paham jika tuan nya itu tidak akan berselera makan jika bukan sang istri yang memasak nya.
Vera melangkah, sebelum memasak. Dia mau melihat kedua jantung hatinya terlebih dahulu.
"Ululu sayang Mama, masih nyaman tidur nya ya!" gumam Vera mencium pipi ke dua anak nya itu.
Setelah itupun dia kembali keluar dan menutup pintu kamar si kembar, kakinya langsung melangkah menuju tangga. Meskipun mansion mereka sudah memiliki lift, tapi Vera lebih suka turun lewat tangga, karna memang dia bukan wanita yang manja. Terlebih karna Davvien telah mengatakan dirinya tambah berisi, jadi dia pikir akan sedikit mengurangi berat badan nya jika naik turun lewat tangga.
...----------------...
Malam hari, Davvien sedang menunggu sang istri yang sedang menyuapi makan si kembar, dengan setia nya dia duduk menatap makanan di atas meja makan di hadapannya.
__ADS_1
"Sayang! sudah belum?" tanya Davvien kepada sang istri.
"Tunggu sebentar lagi, lihat mereka lahap sekali kan!" jawab Vera dengan senyuman terbit dari bibir nya.
"Bababab ... Mamamam!" celoteh Syakir.
Syakira pun tak tinggal diam "Mamam... papababa!" sambung Syakira, ntah apa yang dia katakan hingga mengundang gelak tawa kedua orang tuanya.
"Ha ha ha, kalian lucu sekali, Nak! tapi kalian sudah dong, Papa juga sudah lapar dan ingin di suapi oleh Mama juga!" tukas Davvien protes kepada dua anak nya itu.
Seolah paham, Syakira langsung memalingkan wajahnya saat Vera kembali menyuapi makanan untuk nya, berbeda dengan Syakir, dia malah melihat ke pada Davvien dengan tatapan bengis. Dan itu lagi-lagi membuat keduanya tertawa.
"Sayang lihat lah, Syakir sedang marah padamu!" sarkas Vera dengan tawa keluar dari bibirnya.
"Iya, sayang! coba lihat. Melihat Papa nya seperti melihat musuh saja!" timpal Davvien menatap wajah putra nya.
"Nanti bisa di buat kan judul Novel. Anak ku musuh ku!" lanjut Davvien lagi.
"Ha ha ha! sudah sayang jangan tatap Papa seperti itu!" ucap Vera sambil mencium kening sang putra.
"Iya, Nak! Kamu tau. Kalian hadir itu karna kerja keras Papa yang tiap malam harus selalu berusaha agar bisa mencetak gol, dan menghasilkan kalian berdua!" celetuk Davvien berbicara kepada ke dua anaknya.
"Kamu bicara seperti itu kayak mereka ngerti aja!" sergah Vera, diapun melangkah mendekati meja makan, langsung saja Davvien menarik tangan Vera dan mendudukkan tubuh sang istri di atas pangkuan nya.
"Sekarang suapi aku!" perintah Davvien kepada sang istri.
Vera hanya tersenyum lalu tangan nya dengan gemas mencubit hidung mancung Davvien "Iya bayi besar ku, sekarang buka mulut mu biar aku suapi!" ucap Vera. Dia memang tidak keberatan, karna Davvien memang selalu meminta Vera untuk menyuapi dirinya, dan berakhir dengan makan satu piring berdua.
.
.
.
.
.
~Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, dan juga vote sebanyak-banyaknya.