
Pagi yang cerah mentari bersinar, terpaan angin pagi kadang menghembus dan masuk ke dalam dasar kulit, pepohonan dan gedung-gedung tertinggal di belakang, mereka seakan melambai-lambai kepada kita yang melewati nya.
Di dalam sebuah mobil, Fero menyetir dengan kecepatan sedang, mengingat jika saat ini ada tiga anak yang masih kecil dalam mobil tersebut.
"Adek malas, Pa!" ujar Syakira yang duduk di tengah Syakir dan Aidan.
Mereka memang sekolah di tempat yang sama, juga kelas yang sama, meski Aidan lebih kecil dari mereka, namun dia kekeh meminta pada Davvien agar dia juga di sekolahkan sekalian sama dua sepupunya itu. Dan alhasil, Davvien pun menyetujuinya.
Meski dengan Fero Davvien bersikap ketus, tapi tidak dengan Aidan, dia menyayangi Aidan sama seperti menyayangi Syakir dan Syakira.
"Kenapa malas, sayang?" tanya Davvien kepada sang putri.
"Adek malas ke sekolah, Pa! ingin liburan selalu kayak kemaren!" jawab Syakira. Anak perempuan itu begitu lancar berceloteh.
"Kalau Syakira tidak ke sekolah, nanti Syakira tidak pandai!" bukan Davvien, melainkan Fero yang menjawab.
"Ih ... Uncle, panggil adek, jangan Syakira!" protes anak itu lagi yang membuat Davvien dan juga Fero terkekeh.
"Iya iya, adek! maafkan Uncle. Lain kali uncle panggil nama lagi!" goda Fero, hingga membuat anak berusia enam tahun ini cemberut.
"Adek nggak mau berteman lagi sama, uncle. Pkok nya kita putus!" sarkas Syakira dengan nada kesal.
"Hei dek, apa tu putus-putus! itu bahasa orang dewasa, jangan adek gunakan!" tegur Davvien, meski senyuman mengembang di bibirnya mendengar ucapan anak bungsunya.
"Adek denger dari temen, katanya kalau lagi marah minta putus!" jawab anaknya dengan begitu polos.
Syakir dan Aidan hanya diam, mereka menyimak sambil menatap pepohonan yang mereka lewati.
"Iya adek, uncle minta maaf tuan putri!" ujar Fero, dia juga sangat menyayangi Syakira, tidak hanya dia. Tapi semua keluarga juga sangat menyayangi anak bungsu Davvien dan Vera, karna dalam keluarga mereka, Syakira lah satu-satunya anak perempuan, maka dari itu, mereka begitu menyayangi dan juga melindungi Syakira.
Mobil mereka saat ini sudah berdiri tepat di depan sekolah, Syakir langsung turun, di susul Aidan dan Syakira. Keduanya pun menyalami Davvien dan Fero, tapi tidak dengan Syakir.
"Kakak, kenapa tidak salam sama Papa dan Uncle?" tanya Syakira pada sang Kakak.
Syakir tidak menjawab, dia hanya melangkah menyambar tangan Davvien dan juga Fero.
"Belajar yang rajin ya, pulang nanti kalian di jemput sama supir saja. Dan ingat! jangan bikin heboh, jangan berencana mengerjai supir!" ujar Davvien menegaskan. Karna tak jarang ke tiga nya mengerjai supir, kadang mereka kabur, tidak mau pulang dengan mobil.
"Baik Papa, Om!" jawab mereka serentak.
"Dan satu lagi, jangan bikin kegaduhan dalam kelas, jangan sampai guru harus keluar karna kenalan kalian!" lanjut Davvien memperingati mereka lagi.
"Baik, Pa, Om!" jawab mereka lagi.
"Bagus!" Davvien mengelus kepala mereka, lalu masuk dalam mobil untuk pergi ke kantor.
"Eh, nanti kita pulang pakek motor lagi ya, seru banget!" ajak Syakira kepada kakak dan sepupunya.
"Boleh, aku juga seneng banget, apa lagi om ojek itu bawa motornya hebat bangat, ngebut-ngebut, seru!" timpal Aidan mengiyakan.
__ADS_1
"Apa secepat itu kalian melupakan janji kalian dengan, Papa?" suara dingin Syakir langsung meruntuhkan harapan kedua adik nya untuk pulang dengan ojek.
Maklum, mereka sangat jarang naik motor karna ke dua orang tua mereka memang tidak mengizinkan, tentu saja Vera dan Davvien takut anak-anak nya kenapa-kenapa.
"Ayo lah, Kak! Nanti supir nya kita suruh ngikutin kita dari belakang!" bujuk anak perempuan itu lagi.
"Iya, Kak! lagian kita tu jarang-jarang dapat kesempatan naik motor!" timpal Aidan.
"Kakak bilang jangan ya jangan, dek! Papa melarang kita juga karna mengkhawatirkan kita!" ujar Syakir begitu tegas, hingga kedua adiknya bungkam.
"Baik, Kak!" ucap mereka berdua serentak.
Merekapun melangkah masuk dengan wajah cemberut.
...----------------...
Di rumah, Vera baru saja selesai mendesain beragam gaun dan juga jas dengan model yang elegan dan juga sangat terlihat bagus.
Vera berencana meminta izin pada sang suami untuk membuka butik, mengingat jika anak-anak nya sudah sekolah, meskipun ada keraguan dalam lubuk hatinya, takut jika sang suami tidak akan menyetujuinya.
Namun, tidak ada salahnya berusaha kan, kita tidak akan tau hasilnya jika belum mencoba.
"Lebih baik aku buat kan mas Davvien makan siang, nanti sekalian saja aku minta izin. Aku harus pakek trik, agar dia mau menyetujui nya!" gumam Vera sambil kaki nya melangkah keluar kamar, kemudian diapun langsung menuju ke dapur.
Tidak sampai satu jam, Vera sudah membuat makan siang untuk sang suami.
Setelah bersiap-siap, langsung saja Vera berangkat dengan di antar oleh supir pribadi nya itu. Kadang Vera selalu teringat akan supirnya dulu, pak Toni. Yang sekarang sedang proses penyembuhan kaki nya ke korea, karna kaki sebelah kanan nya cidera sangat parah.
Lamunan Vera terbuyarkan saat sang supir memanggil dirinya "Nona, kita sudah sampai!" ujar sang supir.
Vera tersentak, kemudian diapun menjawab "Oh ya! terimakasih, Pak!" jawab Vera.
Wanita dua anak ini keluar dari dalam mobil, lalu melangkah masuk dalam kantor pencakar langit yang di pimpin oleh suaminya sendiri.
Para karyawan semuanya menyapa Vera dengan ramah, karna mereka tau, jika wanita yang sedang melewati mereka adalah kesayangan pimpinan mereka.
"Siang, bu!" sapa resepsionis yang bernama karin.
"Siang, Rin! Tuan ada?" tanya Vera.
"Ada, Bu! diruang nya!" jawab Karin dengan hormat.
"Terimakasih, ya!" ucap Vera lagi.
"Iya, bu! sama-sama!"
Vera langsung melenggang pergi, istri Davvien ini masuk ke dalam lift khusus atasan.
Ting...
__ADS_1
Pintu lift terbuka, Vera kembali mengayun kan langkah nya, menuju ke ruang kerja sang suami.
"Siang, Mas!" ucap Vera setelah membuka pintu ruangan Davvien.
Davvien mengangkat kepalanya dari layar laptop di depan nya, senyuman langsung mengembang di bibirnya "Siang, sayang!" jawab Davvien.
Ayah dua anak ini langsung bangun, dan mendekati sang istri, memeluk, mencium, memang sudah menjadi rutinitas Davvien saat Vera berada di dekat nya.
"Aku bawakan kamu makan siang, Mas!" ucap Vera sambil mengangkat rantang di tangan nya, menunjukkan pada Davvien.
"Aku bisa gemuk ini, karna setiap makan masakan kamu, selalu ingin nambah!" imbuh Davvien, Vera hanya terkekeh.
"Mau aku suapi apa makan sendiri?" tanya Vera, persis seperti bertanya kepada anak-anak nya.
"Suapi!" rengek Davvien yang langsung nempel pada Vera.
"Ya sudah, yok!" Vera dan Davvien langsung duduk di sofa. Dengan begitu telaten, Vera menyuapi sang suami.
"Kamu juga makan, yang!" celetuk Davvien, diapun mengambil alih sendok dan garpu, langsung saja dia menyuapi Vera.
Selesai makan siang, Vera membereskan kotak makan yang dia bawa, setelah itupun. Davvien langsung menyuruh Vera untuk duduk di atas pangkuan nya.
Ayah dua anak ini menjatuhkan kepalanya tepat di dada Vera, menghirup aroma tubuh sang istri yang selalu membuat dirinya tenang, dan juga bisa menghilangkan rasa capek yang dia rasa.
Vera dengan lembut mengelus kepala sang suami, dia menyisir rambut dengan jari jemarinya.
"Katakan!" tukas Davvien yang membuat Vera sedikit tersentak.
"Katakan apa?" tanya Vera pura-pura tidak tau, padahal dalam hati dia memuji Davvien karna tanpa dia berbicara, suaminya itu sudah tau kalau dirinya ingin meminta sesuatu.
"Katakan saja kamu mau apa! aku tau, kamu pasti ingin mengatakan sesuatu!" sarkas Davvien, dia semakin mengeratkan pelukan di pinggang sang istri.
"Kenapa Mas bisa tau?" tanya Vera penasaran.
"Kita sudah hidup bersama selama tujuh tahun lebih, jadi apapun tentang dirimu, pasti aku mengetahui nya!" timpal Davvien lagi.
"E ... Em ....!" Vera tampak ragu mengatakan nya.
"Katakan saja, sayang!" tukas Davvien lagi, dia tau jika Vera sedang merasa gugup.
"E ... Aku mau buka butik, sayang! anak kita kan sudah besar, jadi boleh kan aku mewujudkan cita-cita ku menjadi desainer?" tanya Vera dengan ragu-ragu.
Davvien langsung mengendurkan pelukan nya.
.
.
.
__ADS_1
.
~Bersambung