
Sudah berapa hari berlalu, kini Davvien sudah terbiasa solat subuh hanya sendiri tanpa ada makmum di belakangnya.
Setiap jam empat pagi mereka sudah di bangun kan oleh dua malaikat kecil yang baru hadir di tengah-tengah kebahagiaan mereka.
Davvien sudah mulai kerja, ayah dari dua anak ini sudah menanyakan kepada Vera agar mereka mencari jasa baby sister, karna dia tidak mau sang istri merasa lelah mengurus si kembar.
Namun, ibu dari Syakir dan Syakira ini menolak dengan alasan dia tidak ingin salah satu anak nya kelak lebih menyayangi baby siter daripada ibunya sendiri.
Sudah menjadi kebiasaan Vera, setiap pagi setelah memandikan dan menyusui si kembar, Vera mengurus dirinya terlebih dahulu, mandi dan berhias meski hanya menggunakan make up yang natural, sadar jika posisinya adalah istri dari CEO terkenal dan juga tampan, jadi Vera harus bisa menyesuaikan diri agar sang suami selalu merasa senang dan betah dengan dirinya, mengingat jika suaminya itu sangat di gemari oleh banyak wanita di luar sana, meski Davvien sudah memiliki anak, namun tidak menjamin para wanita tidak akan tergoda lagi dengan pesona dan karisma yang ada pada diri Davvien.
Setelah selesai bersiap, Vera menyiapkan keperluan sang suami, tanpa rasa lelah Vera mampu melakukan segalanya.
Hingga membuat sarapan untuk ayah dari anak-anak nya, karna Davvien tidak berselera makan jika bukan Vera yang memasak.
...----------------...
Sedang Intan dan juga Fero selalu terbangun awal karna rasa mual yang Intan alami di setiap pagi, seperti saat ini Fero sedang mengusap tengkuk belakang leher Intan.
"Uuueekkkkk.... uuueekkkkk!"
Setiap harinya, Fero harus mengangkat tubuh lemah Intan dari dalam kamar mandi untuk di baringakan di atas kasur.
"Sayang, minum dulu ya!" Fero pun membantu sang istri untuk minum, sungguh dia tidak tega melihat keadaan Intan. Fero mendudukkan dirinya tepat di sebelah Intan.
"Kapan ini akan berakhir!" gumam Fero, mereka sudah menanyakan kepada Dok.Hana, tapi dia menjawab jika itu akan hilang setelah tiga bulan awak kehamilan.
Meski Intan hanya akan mual sampai jam 7 pagi, namun itu tetap membuat sekertaris dari Davvien ini tidak tega melihat nya.
"Sayang... Jangan buat Mama mual selalu dong, kasian mama harus lemah setiap pagi!" ujar Fero sambil mengusap perut sang istri. Seolah berbicara pada janin yang masih beberapa minggu.
Intan hanya diam dengan wajah yang pucat, dia pun menggenggam tangan sang suami, hanya itu yang bisa membuat dirinya merasa tenang.
__ADS_1
...----------------...
Pagi ini Ny.Andin sudah meminta izin kepada suaminya untuk pergi ke rumah Davvien, dia ingin bermain dengan kedua cucunya, sekalian nge-jengukin Intan yang dia dapat kabar jika menantu keduanya itu selalu mual dan lemah di pagi hari.
Begitupun mama dari Vera ini, dia juga ingin menjenguk kedua cucunya, wanita yang sudah hampir paruh baya namun tetap terlihat cantik ini begitu rindu akan ke dua cucu nya itu.
Mama Rina sudah siap untuk pergi ke rumah anak bungsunya, Tn.Diwan dan Frans sudah berangkat bekerja, Rina akan di antar oleh supir dan pengawal yang dulu bertugas menjaga Vera.
Baru dia melangkah keluar di depan pintu, tiba-tiba ponsel nya berdering, Rina menghentikan langkahnya kemudian diapun merogoh benda pipih di dalam tas yang ada di tangan nya.
Saat dilihat panggilan masuk itu dari nomor tidak di kenal, Rina hanya acuh tidak mau menjawab diapun mematikan panggilan tersebut.
"Mungkin hanya orang salah sambung!" ujar nya sambil melanjutkan langkahnya lagi.
Dring... dring...dring...
Belum dua langkah dia berjalan, ponsel nya kembali berbunyi nyaring, istri dari Tn.Diwan itupun kembali melihat ponsel yang masih ada di tangan nya, dan ternyata yang menelpon adalah dari nomor yang sama.
"Halo, dengan siapa ini?" tanya Rina langsung to the points.
"Ha ha ha!" hanya itu yang Rina dengar di balik gawai yang menempel di telinga nya, tapi sudah membuat ibu dari dua anak ini bergetar.
"Si-siapa kamu?" tanya Rina terbata-bata.
"Ha ha ha...!" lagi lagi orang itu tertawa, semakin membuat Rina ketakutan.
"Apa kau langsung mengenali suara ku sayang, hingga kamu begitu ketakutan saat mendengar nya" ejek orang di seberang.
Rina semakin gemetar saat mendengar dengan jelas suara orang tersebut.
"Ap-apa mau kamu lagi hah?" bentak Rina mecoba memberanikan dirinya.
__ADS_1
"Ssttt kamu menjadi sangat garang ya, tapi aku semakin suka!" imbun orang itu lagi.
"Jangan ganggu keluarga saya lagi!" teriak Rina menekan setiap katanya.
"Aku tidak akan mengganggu, aku hanya ingin mengambil apa yang menjadi hak dan milik saya, yang telah di rebut oleh lelaki brengs*k itu!" orang itu pun menekan semua kata yang dia ucapkan dengan nada sebuah ancaman.
"Itu bukan milik mu, kamu yang serakah!" timpal Rina tidak mau kalah.
"Sudah berani kamu ya, tunggu saja aku akan menjemputmu adik ipar ku tersayang. Ha ha ha!" orang itu langsung mematikan sambungan nya setelah mengatakan hal tersebut pada Rina.
Sedangkan yang mendengar nya begitu syok, kaki nya terasa lemah, hingga kakinya mundur beberapa langkah.
"Ya Allah... lindungi lah keluarga hamba dari orang yang berniat jahat kepada kami!"
.
.
.
.
.
.
.
~Bersambung.
Jangan lupa tinggalkan jejak.
__ADS_1