
Setelah membaca surat dari Vera, Davvien meremas lembaran putih yang tidak punya salah sama Davvien.
Tidak, dia tidak ingin istri nya itu pergi bagaimana bisa tahan dalam waktu berhari-hari, semalam tidak bertemu saja rindu sudah sangat menyiksa dirinya.
Davvien terus meremas kertas itu dengan begitu kuat, urat-urat di tangan nya terlihat jelas dari balik kulit putih Davvien, dia mengutuki kebodohan nya sendri, karna telah membuat wanita nya pergi sebab keegoisan nya.
Dia pun bangkit dari duduk nya mengambil sesuatu dari dalam saku celana nya.
Setelah itu dia langsung menghubungi seseorang dengan benda itu.
"Fero, kau ke kamar ku SEKARANG!!!!"
Davvien langsung mematikan sambungan nya dengan Fero.
"Ada apa?''
Tanya Fero yang terlihat ngos-ngosan karna berlari dari kamar nya ke kamar Davvien.
"Ada apa, kenapa kau terdengar begitu kesal"
Davvien menatap aneh pada Fero, tepat nya jij*k karna saat ini Fero hanya menggunakan handuk, ya setelah selesai mandi Fero langsung mendengar ponsel nya berbunyi dan dia pun langsung berlari saat mendengar Davvien menyuruh nya dengan cepat.
Mata Davvien turun di bawah pusar Fero, terlihat jelas pedang Fero di balik handuk tersebut, meski pedang itu sedang tidur namun terlihat begitu menonjol.
"Kenapa kau berpenampilan seperti itu hah, kau mau pelayan di sini menyukai mu dengan menampakkan tubuh mu yang sangat tidak menarik itu"
Seketika Fero tersadar dia melihat dirinya sendiri yang hanya menggunakan handuk, pantesan tadi para pelayan menatap aneh pada nya saat Fero melewati mereka.
Fero langsung masuk ke dalam kamar Davvien dan menutup pintu.
"Katakan saja, apa yang terjadi"
Fero berbicara dengan gaya cool yang di buat nya untuk menutupi rasa malu nya, tak perduli dia tidak pakai baju yang terpenting kewibawaan nya harus tetap melekat pada dirinya.
(Ntah kenapa author jadi ketawa sendiri membayang kan Fero bicara berwibawa tanpa menggunakan baju ya๐ ๐ ๐ )
"Kamu lacak keberadaan istri ku, kita akan menyusul nya"
"Memang nya dia kemana"
"Nanti kau yang akan memberitahu ku setelah kau lacak keberadaan nya"
"Heummmmmmmm"
Tanpa banyak bicara Fero langsung melacak keberadaan Vera.
__ADS_1
"Kenapa mesti aku sih, kan dia juga bisa. istri-istri nya malah aku yang repot, gara-gara dia kewibawaan ku jadi hilang di depan para pelayan"
Batin Fero sambil terus mengotak-atik benda di tangan nya.
"Dia sekarang berada di bandara"
"Kita kesana"
Tanpa rasa lelah sedikit pun, Davvien langsung lari keluar dari rumah, Fero mengendap-endap berjalan menuju kamar nya, takut kalau pelayan kembali melihat nya yang tidak menggunakan baju.
"Aku tidak ingin badan ku yang **** ini di lihat oleh para pelayan"
Fero berhasil masuk ke dalam kamar, tanpa berlama-lama dia pun menggunakan pakaian nya, takut membuat Davvien menunggu.
Sedangkan Davvien masih berlari, para pelayang yang berada di lantai bawah heran melihat Davvien yang terus lari-larian, saat sampai di luar, setelah melewati beberapa anak buah nya Davvien menghentikan langkah nya, mendekati anak buah nya satu persatu dengan wajah merah padam.
Bughhhhhhh
Bughhhhh
"Apa yang kalian lakukan hah, hingga nyonya kalian bisa pergi dari rumah ini"
Bughhhhh
Bughhhhhh
Bughhhhhh
Davvien terus menghajar anak buah nya, seorang dapat jatah satu bogem mentah, tapi itu cukup membuat para anak buah Davvien hampir hilang kesadaran.
"Vien, sudah cukup kita bisa terlambat"
Mendengar itu, Davvien pun hendak berjalan pada mobil nya, eh tapi.
Bughhhhh
Setelah melayang kan satu tinjuan lagi dia pun melangkah cepat ke dalam mobil nya, Fero langsung tancap gas.
Saat sampai di bandara, dia mencari Vera tapi wanita itu tidak terlihat di manapun.
"Fero lacak lagi, dimana dia"
"Sudah aku lakukan dari tadi, tapi sudah tidak bisa, handphone nya sudah di luar jangkauan".
Davvien langsung mencari tau kemana istrinya itu pergi.
__ADS_1
Setelah mendapat kan informasi tentang penumpang bernama Verania terbang ke kota mana, dan mereka baru saja lepas landas. Davvien langsung memerintahkan Fero untuk menyiapkan jet pribadi nya.
...----------------...
Dan disini lah, di bandara kota tujuan istrinya. Davvien bersama Fero sudah berdiri di luar, menunggu Vera turun dari dalam pesawat.
Sebenarnya Davvien hampir barengan sampai dengan pesawat yang di tumpangi Vera, tapi karna menggunakan jet pribadi jadi tidak susah-susah menunggu penumpang lain turun.
Vera yang baru turun langsung terbelalak saat mendapati orang yang sengaja dia tinggal, sekarang berada di hadapannya, dan orang itu dengan santai nya berjalan mendekati dirinya.
"Tu-tuan kenapa anda ke si...Aaaaa"
Reflek Vera berteriak kaget saat Davvien langsung menggendong Vera di atas bahunya, Davvien mengangkat tubuh Vera bak karung beras.
"Kenapa kau selalu berteriak heum"
Ucap Davvien santai, seperti menggendong karung berisi kapas Davvien tidak terlihat kesusahan menggendong istrinya itu.
Semua mata tertuju pada mereka, melihat aneh karna memperlakukan Vera sedemikian rupa.
"Tuan, apa yang kau lakukan turun kan saya"
Vera meronta, memukul punggung kekar suaminya tapi sama sekali tidak di hiraukan Davvien.
Setelah sampai di jet pribadi Davvien menurun kan Vera, dia langsung menyuruh Vera masuk, sedangkan Vera tampak bingung.
"Kenapa kita kembali ke pesawat tuan"
"Kita akan pulang"
"Haahhhhhhh?"
~Bersambung
Maaf ya para Reading, bukan nya ngegantung, sekarang nggak bisa up tiap hari karna lagi ada sedikit urusan, tapi aku usahakan buat up meski kadang pendek.
Nanti pulang dari ngajar aku up lagi, meski harus begadang sampai pagi๐ฅฑ, tapi nggak janji juga ya.hehehe
Maaf bila alurnya tidak jelas, aku harap kalian mau menunggu kelanjutan cerita ini, mungkin beberapa hari lagi aku udah bisa up teratur dan juga banyak ๐๐๐ค.
Dukungan nya ya, itu sangat berpengaruh pada semangat ku untuk nulis.
Like, komen dan juga vote ya para Reading.
Salam sayang ku untuk kalian semua, maaf bila belum sempat menyapa satu satu๐ฅบ๐ฅบ.
__ADS_1