Gadis Penakluk Mafia Karatan

Gadis Penakluk Mafia Karatan
Ke markas


__ADS_3

Pagi menjelang, menenggelamkan malam yang gelap gulita, berganti dengan kecerahan dan kehangatan yang di Pancarkan oleh sinar matahari.


Semua bergerak dan kembali melakukan aktivitas seperti hari-hari lalu.


Davvien dan Vera sudah rapi dengan pakaiannya, mereka sekarang sedang duduk di meja makan, menikmati sarapan mereka.


Vera tampak terburu-buru menghabiskan sarapan nya, dia sudah tidak sabar untuk menemui orang yang telah berencana melenyapkan dirinya dan bayinya.


Ukhuk....ukhuk....


Vera tersedak, Davvien dengan sigap mengambil minum untuk istri tercinta.


"Sayang... hati-hati, kenapa kamu makan dengan buru-buru" Ucap Davvien sambil mengelus lembut punggung Vera.


Vera hanya meminum air yang di berikan Davvein.


"Aku sudah selesai, yok kota pergi..."


"Tapi sayang, aku baru saja memakan sarapan ku"


"Ya sudah, sini aku suapi" Vera mengambil alih sendok di piring Davvien lalu menyuapi suaminya.


"Terimakasih say..." ucapan Davvien terhenti saat Vera langsung memasuki sendok berisi makanan ke dalam mulut nya.


Dengan terpaksa Davvien menguyah makanan tersebut dan menelan nya, tapi belum habis Davvien mengunyahnya Vera sudah memasukkan satu suapan lagi.


Sama seperti dirinya, Vera juga menyuapi Davvien tanpa memberi nya jeda atau memberi kesempatan Davvien untuk protes. Sampai makanan di piring Davvien habis tak tersisa.


"Sudah siap, ayok kita berangkat" Vera langsung bangun.


Davvien meminum dan menelan makanan dengan paksa, dia pun bangkit. Tanpa rasa bersalah Vera langsung menautkan tangan nya di lengan Davvien.


Kali ini mereka pergi berdua, karna Fero masih dalam masa cuti nya.


Setelah membukakan pintu mobil untuk Vera, Davvien mengelilingi mobil nya dan ikut serta masuk.


"Kamu sudah siap sayang?" Tanya Davvien mengelus punggung tangan Vera.


"Sedari tadi sudah sangat siap" Jawab Vera dengan begitu semangat.


"Kamu sangat bersemangat sayang"


"Tentu, aku penasaran dengan orang yang menginginkan nyawa ku, tapi kamu tidak mau memberitahu ku"


"Sebentar lagi kamu akan tau sayang, tapi kamu harus berjanji untuk berhati-hati dan mengontrol emosi mu"


"Iya, aku janji"


"Anak Papa gimana udah siap kan"


"Udah Papa" jawab Vera meniru anak kecil.


"Ya sudah yuk, perjalanan kita jauh sayang, jika kamu mengantuk tidurlah" Ucap Davvien mengelus perut Vera.


Vera hanya mengangguk, Davvien langsung menyalakan mesin mobil, lalu melajukan nya.


Vera begitu menikmati perjalanan nya, meski rasa penasaran di hatinya, namun senyumannya tetap terlihat mengembang di bibirnya.

__ADS_1


"Sayang, apa masih jauh?"


"Lumayan, apa kau merasa capek?" Tanya Davvien dan mendapat gelengan dari Vera.


"Aku sangat menikmati perjalanan nya"


Vera kembali melihat ke luar jendela, dari gedung-gedung yang berjejer rapi di sekitar perjalanan mereka, hingga saat ini mobil mereka masuk ke dalam kawasan yang sepi.


"Sayang, apa masih jauh... mengapa kita ke jalanan yang sepi?" Tanya Vera yang melihat sekitar nya tidak ada kendaraan lain.


"Karna aku...." Davvien menggantungkan ucapan nya.


"Aku apa?" Tanya Vera yang melihat wajah Davvien berbeda.


"Karna aku akan..."


"A-akan apa?"


"Akan membawa mu masuk hutan!"


"Apa, kenapa ke hutan... apa kau membohongi ku dan ingin mencelakakan ku?" Pikiran negatif sudah memenuhi kepala Vera.


"Sayang, apa yang kamu katakan... mana mungkin aku akan menyakiti mu" Davvien langsung mencium tangan Vera.


Sebenarnya Davvien ingin mengerjai Vera, tapi saat melihat wajah kekhawatiran Vera, Davvien mengurungkan niatnya.


"Tapi kenapa kita ke hutan?"


"Duduk diam dan nikmati perjalanan nya, kamu akan tau nanti, atau kamu mau makanan?" tanya Davvien, namun Vera tampak tegang, dia hanya menggeleng.


Davvien dapat melihat jika sang istri sedang gundah, mungkin hormon ibu hamil memang mudah khawatir, dia pun menghentikan mobilnya sebentar.


"Belum sayang, tapi bagaimana kita akan pergi jika kamu ketakutan seperti itu, tenang lah... sudah tidak jauh lagi"


"Tapi kenapa harus kehutan"


"Sayang, apa kamu percaya padaku?" Tanya Davvien, Vera mengangguk kecil.


"Kamu harus tenang ya, sebentar lagi kita akan sampai"


"Iya, lanjutkan perjalanan nya"


Davvien tersenyum, dia pun mendekati pipinya di hadapan Vera.


"Sayang, aku merasa capek, mungkin dengan satu ciuman bisa mengurangi rasa capek ku" Davvien ingin menghilangkan kekhawatiran Vera, karna salah nya yang sengaja menakut-nakuti Vera.


Cup...


"Kamu tenang ya, kan kamu wanita yang berani"


"Iya juga ya, kenapa aku jadi penakut seperti ini... lagian mana mungkin dia menyakiti ku, apalagi ada darah dagingnya dalam kandungan ku"


"Iya ayo kita lanjut lagi"


Akhirnya mobil Kembali berjalan, Vera pun jadi lebih tenang meski mereka sudah memasuki hutan yang sengaja di buatkan jalan di sana.


Satu jam lebih, mereka kini berdiri di depan sebuah rumah mewah.

__ADS_1


"Apa kita sudah sampai?" tanya Vera saat melihat bangunan di depannya.


"Iya sayang" Davvien langsung turun, lalu membuka kan pintu untuk Vera.


"Sayang katakan, rumah siapa ini kenapa berada di tengah-tengah hutan?" Vera masih tampak bingung, dia meneliti sekitaran halaman markas Davvien.


"Ini markas aku dulu"


"Saat kamu masih menjadi ketua mafia?"


"Iya sayang, yok kita masuk" Mereka pun masuk ke dalam, keduanya langsung di sambut oleh Irfan, para anak buah lain nya menundukkan kepalanya.


"Selamat datang kembali Tuan, selamat datang Nona" sapa Irfan kepada mantan bosnya dalam dunia gelap.


"Hekhem, sayang dia Irfan"


"Halo kak, aku Vera" Ucapnya sambil mengulurkan tangannya.


"Tidak perlu bersalaman" Suara lantang Davvien langsung membuat Vera menarik tangan nya.


"Benar kata Fero, dia sekarang menjadi sangat posesif, berlebihan" Batin Irfan


"Irfan, istri ku ingin bertemu dengan orang itu"


"Mari Tuan, Nona" Irfan berjalan menuju ruangan di mana wanita itu di sekap.


Dengan keyakinan penuh Vera melangkah, rasa penasaran nya akan segera terjawab.


Ceklek..


Pintu ruangan terbuka, terlihat lah seorang wanita yang sedang duduk di lantai dengan keadaan kaki nya di ikat dengan rantai.


Vera mengamati orang tersebut yang di yakini nya adalah perempuan karna rambut nya yang panjang menutupi wajahnya.


Wanita yang tak lain adalah Elsa, perlahan mendongak kan wajahnya, ingin melihat orang yang masuk ke dalam ruangan bagaikan neraka baginya.


Dengan kepala gemetar karna lemah Elsa melihat sosok yang hampir dia bunuh berada tepat di hadapan nya, betapa terkejutnya Elsa saat melihat, jika yang datang adalah Vera dan Davvien.


Begitupun Vera, dia langsung menutup mulutnya tak percaya.


"Ka-kamu"


.


.


.


.


.


~Bersambung.


Apa para Reader udah nggak berminat sama Davvein dan Vera lagi nih, semenjak babang Fero beraksi?


Nanti Davvien sama Vera nya sedih loh... tapi terserah kalian, yang penting aku ucapkan terima kasih pada kalian karna telah mendukung karya ku sampai ke sini.

__ADS_1


Salam sayang ku untuk kalian sekalu, penasaran nggak nih apa yang akan di lakukan Vera sama si Elsa jahat itu.


Tunggu ya episode selanjutnya 😁.


__ADS_2