
Kini suasana haru memenuhi di salah satu ruangan kantor Tn.Diwan.
Saat mata mereka bertemu, untuk sesaat mereka terdiam sepersekian detik air mata langsung menetes dari pelupuk mata pria paruh baya yang masih berdiri tegap memandang lelaki muda yang begitu mirip dengan dirinya.
Mata itu, yang selalu ku rindu kan, mata yang 15 tahun lalu masih bisa ku tatap, wajah itu begitu mirip dengan wajah ku, meski sudah dewasa, namun aku masih sangat mengenali dia, meski umur ku sudah tidak muda lagi, namun ingatan ku masih sangat tajam, aku sangat mengenalinya, apa kah ini benar dirinya, apa kah aku cuma bermimpi, apakah ini hanya khayalan ku saja, tapi ini begitu nyata, dia berdiri di hadapan ku dan menatap ku, putra ku kini ada di depan ku. Pikiran Tn.Diwan masih belum menentu, antara percaya atau tidak dengan apa yang dia lihat.
Sedangkan Frans juga tak kalah kaget dan begitu terharu, setelah 15 tahun lamanya berpisah dengan sang ayah, akhirnya dia bisa melihat dengan jelas ayah yang sudah lama di rindukan nya kini berada di hadapan nya, menatap nya dengan penuh deraian air mata.
"Pa..."
Hanya kata itu yang mampu terucap dari bibir yang menjadi kelu, masih belum percaya dengan apa yang di lihat nya, jika ini mimpi, dia berharap tidak akan bangun dari tidur nya, tapi ini bukan mimpi, ini benar-benar nyata jika sang papa berada tepat di hadapan nya.
"Frans anakku"
Frans langsung berlari mendekati sang papa, di peluknya begitu erat tubuh pria yang yang sudah tidak muda lagi.
Tangisan haru memenuhi ruangan tersebut, ke dua asisten pun ikut mengeluarkan air mata, mereka ikut merasakan bagaimana perasaan ayah dan anak yang sudah lama berpisah.
"Katakan pada Papa kalau ini bukan mimpi, kalau aku beneran memeluk putra ku, dia benar-benar ada dalam dekapan ku"
Frans mengangguk dalam pelukan sang papa, dan mengeratkan pelukannya.
"Ini beneran Frans pa, papa tidak bermimpi aku beneran anak papa"
Tak ada kata lagi, hanya air mata yang mewakili perasaan masing-masing dari mereka.
Pelukan terlepas, Tn.Diwan meraup wajah Frans dengan kedua tangan nya, diapun mendaratkan kecupan di kening sang putra tanpa merasa canggung, persis yang dia lakukan 15 tahun lalu.
Frans menerima kecupan dari sang papa, setelah itu pun dia mencium tangan yang sudah sedikit keriput.
Tn.Diwan kembali memeluk anak sulung nya yang sudah sangat lama dirindukan nya, dia tidak menyangka dengan keajaiban yang datang pada nya sekarang.
"Pa..."
"Jangan katakan apapun dulu nak, biarkan papa melepaskan rasa rindu papa pada mu terlebih dahulu"
Cukup lama mereka berpelukan, kini Tn.Diwan membawa putranya ke dalam ruangan kerja milik nya.
Tn.Diwan menyuruh OB untuk membawakan minuman untuk Frans, dia begitu baik memperlakukan anak nya itu.
"Nak, bisa kamu ceritakan bagaimana kamu bisa selamat?"
"Bukan hanya aku pa, Mama juga masih hidup"
Lagi-lagi rasa bahagia memenuhi relung hati Tn.Diwan, yang dia harap-harapkan dari dulu ternyata kini menjadi kenyataan.
__ADS_1
"Lalu dimana Mama mu nak, dan bagaimana kalian bisa selamat?"
Tanya kembali Tn.Diwan, kedua asisten itu hanya bisa diam mendengarkan pembicaraan anak dan ayah tersebut.
Frans terdiam, dia masih ingat betul bagaimana kejadian tragis yang merenggut kebahagiaan mereka.
🌷 Flashback on
Keluarga kecil rey dan Rina baru sampai di kota A, di mana rumah ibu dari Rina, mereka berangkat ke kota tersebut karna ingin merayakan ulang tahun mertua Rey atau nenek dari Frans dan Kia.
Setelah sampai mereka tidak langsung pulang ke rumah, mereka berencana membeli beberapa kado untuk wanita yang sudah tidak muda lagi.
Tanpa rasa lelah, mereka terus mengelilingi kota tersebut, hingga malam setelah beristirahat sejenak di sebuah hotel, mereka bersiap-siap akan pergi ke rumah orang tua mereka.
Rey maupun Rani tidak memberi tau pada ibu jika mereka akan pulang, mereka sengaja menunggu malam supaya bisa memberikan surprise untuk sang ibu.
"Sudah siap?"
Tanya Rey ketika mereka sampai di dalam mobil, Frans dan kia mengangguk begitu antusias.
"Adek apakah adek bawa hadiah untuk nenek?"
Tanya Frans pada Kia kecil, dan Kia mengangguk.
Ucap Kia kecil yang masih belum sepenuhnya benar saat berbicara.
Mereka pun pergi, di perjalanan mereka terlihat begitu bahagia, mereka membayangkan jika sang ibu pasti sangat senang melihat kedatangan mereka.
"Papa, adek mau duduk sama papa"
Pinta Kia kecil, dia memang sangat dekat sama sang papa dan juga Frans.
"Sayang, papa lagi nyetir"
Ucap mama Rina, Kia langsung memanyunkan bibirnya ke depan.
"Pokoknya Kia mau duduk sama papa"
"Uhh anak papa, baik lah duduk sini sama papa nak"
Tanpa menghentikan mobilnya Kia berpindah duduk dalam pangkuan ayah, Frans mencibir adik nya yang sangat manja itu.
"Dasar manja"
"Bialin, kakak ili kan sama adek wlek"
__ADS_1
Kia menjulurkan lidahnya pada Frans, bukan nya marah Frans malah gemesh melihat kelakuanku sang adik.
Mereka tertawa bahagia, hampir dekat dengan rumah sang ibu, mereka melewati jalan sepi yang berjurang.
Tiba tiba ada mobil yang sengaja menyalip mobil mereka hingga membuat Rey kaget, dia memutar setir sambil mengerem mobil nya, tapi lebih membuat nya kaget karna rem yang dia injak sama sekali tidak berfungsi.
"Ma, remnya blong ma"
Rina pun menjadi panik, yang dia pikirkan saat ini hanya anak-anak nya.
"Pa di depan ada jurang pa, papa buka pintu nya dan keluar lah, kamu Frans juga lompat saat pintu terbuka"
Frans dan Rey menggeleng.
"Tidak ma, aku tidak ingin meninggalkan mama, jika takdir kita harus meninggal maka kita akan meninggal bersama-sama"
"Mama juga ikut keluar pa, sekarang buka kunci pintu mobil pa"
Sambil berucap Rina membuat sabuk pengaman milik Rey.
"Cepat pa"
"Nggak ma, jika mama dan Frans terjebak bagaimana?"
Kia kecil dan Frans sudah menangis, mereka sudah sangat ketakutan karna mobil mereka sudah sangat dekat dengan jurang.
"Pa, percaya sama mama, pikirkan anak-anak pa, mama juga akan keluar"
Mendengar itu, Rey langsung membuka kunci pintu mobil mereka, Rina membuka pintu mobil di samping Rey, dengan sekuat tenaga dia mendorong tubuh Rey dan dia kecil.
Setelah itu, dia langsung mencoba membuka sabuk pengaman punya Frans, setelah selesai dia hendak mendorong tubuh Frans keluar, tapi naas mobil mereka terlebih dulu masuk ke dalam jurang.
Rina pingsan karna dia memeluk Frans agar kepala anak nya tidak terbentur, tapi yang terjadi kepala nya lah yang terkena hantaman keras pada pintu mobil dekat dengan Frans.
Frans masih sadar kan diri, dia merasa pelukan sang mama sudah mengendur, Frans mendorong sedikit tubuh sang mama yang sudah terkulai lemah, mobil mereka terjungkir balik, beruntung karna pintu mobil sudah tidak terkunci dan langsung terbuka.
Frans memanggil-manggil Rani, tapi tidak ada sahutan, karna Frans mencium seperti sesuatu yang terbakar, Frans langsung bergegas keluar, dengan kepala oleng dia terus berusaha keluar dan mengeluarkan mama yang wajah nya sudah di penuhi darah.
Frans melihat jika mobil mereka sudah mengeluarkan asap, dengan susah payah Frans terus menarik sang mama, hingga sedikit berjarak dengan mobil, mereka langsung terpental jauh saat mobil meledak.
~Bersambung.
Halo para Reading, sambil nunggu aku nulis kalian intip aja Novel kawan ku, cerita nya juga sangat menarik loh.
__ADS_1