Gadis Penakluk Mafia Karatan

Gadis Penakluk Mafia Karatan
Kekhawatiran dan harapan dua keluarga.


__ADS_3

...Angin malam begitu menusuk bagi siapa yang sempat menikmati nya, kesunyian dak juga sepi membuat hati kadang ikut berkabut karna kekhawatiran....


...----------------...


Suasana jalanan kota terasa sepi karna saat ini adalah waktu menjelang pagi, saat mobil yang membawa Davvien dan Vera terparkir di depan rumah sakit, dengan segera Davvien turun dan kembali membopong tubuh sang istri.


Dokter Hendri dan Hana sudah menunggu kedatangan pemilik saham terbesar di rumah sakit itu.


Dokter Hendri dan Han sudah di beritahukan oleh Ny.Andin untuk segera mempersiapkan semuanya.


Davvien membaringkan brangkar  yang sudah mereka siapkan.


Tangan nya tidak pernah lepas dari genggaman Vera.


Setelah Vera di masukkan ke dalam ruangan persalinan, Davvien kembali bertanya yang kesekian kalinya kepada Vera.


"Sayang dengar kan aku! apa kamu yakin akan melahirkan secara normal, aku mohon... kita lakukan operasi Caesar ya!" pinta Davvien dengan air mata sudah menggenang di pelupuk matanya.


Vera masih bisa mencoba untuk tersenyum, dia pun menggenggam tangan sang suami, sampai saat ini pun Vera tidak ingin membuat Davvien merasa cemas dan takut, sebisa mungkin dia menguatkan dirinya agar tetap tegar di depan suami yang sangat dia cintai.


"Aku sudah yakin sayang, kamu tau kan aku wanita yang kuat!" ujar Vera, kemudian dia mencium tangan Davvien dengan begitu lama.


"Doa kan saja aku dan kedua anak kita selamat sayang!" lanjut Vera sebelum akhirnya brangkar nya kembali di dorong masuk ke dalam.


Davvien yang sudah melihat tekad sang istri akhirnya juga mencoba tersenyum, demi menyemangati sang istri, dia tidak ingin membuat Vera memikirkan dirinya.


"Kamu pasti bisa sayang, aku yakin kamu pasti sanggup melahirkan dua malaikat kita, aku percaya pada mu!" bisik Davvien tepat di telinga Vera.


Di luar ruangan sudah penuh dengan keluarga yang telah berdatangan.

__ADS_1


"Bagaimana kabar Vera?" tanya mama Rina yang baru sampai bersama suami dan anak sulungnya.


Ny.Andin dan Tn.Andre datang lebih awal.


"Mereka baru saja masuk!" jawab Ny.Andin dengan wajah harap-harap cemas.


Intan dan Bi Aini juga sudah sampai di sana, dia langsung masuk ke dalam pelukan Fero.


Sedangkan di dalam ruangan, ketegangan masih sangat di rasakan oleh suami dari Vera ini.


Hatinya benar-benar merasa sangat takut, apa lagi melihat Vera semakin kesakitan.


"Tunggu apa lagi, cepat keluarkan anak-anak ku sekarang!" ucap Davvien dengan menatap tajam pada dokter Hama dan beberapa suster yang akan membantu dirinya.


Davvien berdiri tepat di kepala Vera, dia hanya bisa menghujani wajah Vera dengan ciuman, sambil hatinya terus memanjat kan doa agar anak dan istrinya selamat.


"Tunggu Tuan, ini baru pembukaan ke lima!" jawab Dokter Hana, dia jelas bisa melihat raut kekhawatiran dari wajah Davvien.


Vera merasakan kontraksi yang sangat hebat, rasa sakit nya seakan bertambah, hanya tangan Davvien yang dia jadikan tempat sandaran untuk membagi dan menyalurkan rasa sakit, dan Davvien dengan hati terbuka menerima nya.


Peluh sudah sangat membasahi dahi Vera, dia terus beristighfar dan memanjatkan doa agar anak nya segera lahir dan juga selamat.


"Ya Allah... tolonglah hamba mu, berikan kemudahan untuk hamba dalam melakukan persalinan ini, dan selamat kan kedua anak hamba!" pinta Vera di dalam hati.


"Ya Allah... mudahkan lah proses persalinan istri hamba, selamat kan kedua anak ku Ya Allah... rasanya aku sudah tidak sanggup melihat nya kesakitan seperti ini!" hanya batin yang selalu berucap kan doa, mengharap jika sang khalik mempermudah segala nya.


Dua jam sudah berlalu, namun Vera masih dalam keadaan yang sama dengan rasa sakit yang terus bertambah.


Dokter Hana tanpa lelah menunggu dan memeriksa pembukaan Vera yang sangat lama.

__ADS_1


"Ini sudah pembukaan ke delapan, kita tunggu sebentar lagi!" ujar Dokter Hana.


Tanpa merasa lelah dan letih, Davvien masih setia berdiri mendampingi sang istri, sungguh suasana yang sangat mengharukan.


...----------------...


Di luar ruangan, mereka juga tidak merasa bosan menunggu kelahiran cucu mereka, semua nya merasakan kekhawatiran, bagaimana tidak. Sudah beberapa jam Vera di masukkan ke dalam ruangan persalinan, sampai sekarang belum juga mendapatkan kabar atau mendengarkan suara tangisan bayi.


"Ya Allah... Lindungi lah anak dan cucu hamba!" pinta mama Rina yang sudah mulai menangis.


"Tenang Ma, Vera anak yang kuat, dia pasti sanggup!" celetuk Tn.Diwan dengan memegang kedua bahu sang istri.


"Iya Ran, percaya saja! anak kita pasti mampu!" imbun Ny.Andin.


Padahal dalam hatinya sendiri sudah sangat takut dan khawatir.


Tidak tahan dengan rasa ingin muntah dan juga pusing, akhirnya wanita yang sedari diam di sebelah Fero tumbang.


Intan pingsan tepat dalam pangkuan sang suami.


"Intan!"


"Sayang!"


.


.


.

__ADS_1


.


~Bersambung.


__ADS_2