
...**Terkadang sesuatu yang kita ingin kan tidak pernah bisa kita gapai, tapi apa yang tidak kita harapkan itulah yang menjadi takdir kita....
...Aneh memang, tetapi itu lah hidup kita hanya bisa pasrah dan bersyukur, karna kebahagiaan itu bukan hanya karena kita mendapat kan sesuatu yang kita inginkan, akan tetapi mensyukuri apa yang telah kita raih itu lah kebahagiaan yang sejati....
...🌷 HAPPY READING 🌷**...
...----------------...
Ruangan menjadi senyap, susana tampak hening setelah tadi Vera menyuruh Fero untuk menjemput sahabat nya.
"Kak, mau kan kakak jemput Intan"
Tanyai ulang Vera lagi pada Fero, namun Fero tampak acuh.
"Kenapa harus di jemput, dia kan bisa mengendarai mobilnya sendiri"
Fero kembali memasukkan sarapan nya ke dalam mulut.
"Yah kakak, kan dia cewek, nggak bagus dong kalau dia jalan sendiri, mau ya"
Vera membuat mimik wajah memohon.
"Tidak"
Jawab singkat Fero, dia membuang pandangannya ke arah lain tidak tega melihat wajah imut orang yang sudah di anggap adik oleh nya.
Davvien mendengus kesal melihat Vera berlagak imut pada asisten nya itu.
Namun seketika wajah yang terlihat imut berubah menjadi ganas dan menyeramkan.
Fero dan Davvien bergidik ngeri melihat Vera yang sangat buas bak singa yang sedang mengamuk.
"Kak, iya atau kau tidak bisa lagi bekerja dengan suami ku"
Ancam Vera sambil meremas garpu di tangan nya.
Mendengar itu Fero meneguk liurnya secara kasar.
"Suami istri sama, sama-sama tukang nagancam"
Batin Fero merasa kesal pada Vera.
"Hey kutu kupret, kamu iya in saja, aku repot kalau harus mencari asisten pribadi lagi"
"Heumm iya kakak jemput"
Seketika wajah Vera langsung berubah menjadi imut lagi.
"Makasih kakak"
Vera tersenyum manis pada Fero, dia pun langsung mendapat kode keras dari suami posesif nya itu.
"Hekhem"
Tau maksud dari deheman suaminya, Vera langsung memeluk lengan Davvien.
__ADS_1
"Mau minum suami tampan ku"
Tanya Vera yang tersenyum, dia tau cara ampuh untuk mengubah mood di hati suaminya.
Davvien langsung tersenyum saat Vera mengatakan dirinya tampan, dia mengelus kepala Vera lalu mencium nya.
"Cih, aku jadi mual melihat nya. kapan selesainya makan kalau selalu seperti itu"
Fero yang melihat adegan di hadapan nya kembali membatin, dia merasa kedua pasutri di hadapan nya terlalu lebay.
(Lebay apa iri nih bang Fero)
Karna sudah tidak tahan melihat kemesraan Davvien dan Vera, Fero pun bangkit dia langsung melangkah keluar, dengan berat langkah Fero memasuki mobil nya menuju rumah Intan.
"Menyusahkan saja"
Gerutu Fero, dia pun melajukan mobilnya.
Di dalam rumah, Vera dan Davvien pun sudah selesai sarapan.
Vera mengajak Davvien untuk duduk di taman yang dulunya kosong seperti lapangan kini sudah berubah menjadi tanaman bunga yang begitu banyak, berbagai jenis bunga terdapat di sana.
"Sayang, kenapa kau menyuruh Fero menjemput sahabat mu itu, bukan kah dia bisa membawa mobil nya sendiri?"
Tanya Davvien mengelus-eluskan punggu Vera, karna istrinya itu bersandar di dada bidang miliknya.
"Aku sengaja sayang"
Jawab Vera yang sedang memainkan jari lentiknya di dada suaminya.
Ucap Davvien dengan sesekali mencium kepala Vera.
Vera tersenyum, dia mendongak kan wajah menatap suaminya.
"Apa mereka cocok?"
"Semua itu tergantung pada mereka sayang"
"Tapi apa sahabat mu itu mau menerima kutu kupret itu?"
"Karna itulah aku ingin mendekatkan mereka, aku melihat kaloe Intan menyukai kak Fero, Intan belum pernah pacaran, baru kali ini aku melihat nya tertarik pada seorang lelaki"
Jelas Vera pada Davvien, dan suaminya itu hanya mengangguk.
"Justru aku takut kak Fero yang tidak mau, dia juga dingin sama seperti mu, kalian sama sama dingin dan cuek"
"Sayang, apa kau menyamakan aku dengan si kutu kupret?"
"Nggak nyamain sayang, cuman aku heran kenapa kak Fero juga sama persis sifatnya seperti mu, apa kak Fero pernah pacaran?"
"Tidak, dia belum sempat pacaran".
"Loh benarkah. kenapa?"
"Sayang sekali wajah tampan kak Fero kalau dia beum pernah pacaran"
__ADS_1
Batin Vera yang tidak berani memuji lelaki lain di depan suaminya.
"Heummmmm"
"Itu karena...."
Davvien menggantungkan ucapan nya, dia tapan nya menjadi lurus ke depat, membayangkan kisah masa lalu Fero.
"Karna apa"
Tanya Vera lagi, dia menatap penasaran pada suaminya itu.
"Semuanya karna aku"
"Kenapa memang nya"
"Dulu Fero pernah jatuh cinta, dia benar benar mencintai seorang wanita, tapi waktu itu aku baru saja di khianati oleh pacarku hingga akupun melarang Fero untuk tidak menjalin hubungan dengan wanita mana pu, aku menyuruh dia untuk mengambil pelajaran dari kisah ku, aku memaksa Fero untuk melupakan wanita yang di cintai nya"
Penjelasan Davvien mengingat dirinya yang begitu egois, karna telah menahan perasaan seseorang.
"Kenapa dirimu begitu egois sayang, dirimu yang kurang beruntung dalam percintaan malah orang lain menerima imbasnya.
"Heummm mau di bilang apa, aku memang sangat egois waktu itu aku juga sempat melarang para teman ku untuk tidak lagi berpacaran, hanya Fero yang mendengar kan ucapan ku, karna dia yang ada di saat aku terpuruk"
Davvien tau dirinya dulu sangat lah egois, tapi waktu itu dia yang tengah terpuruk karna rasa cinta berusaha untuk mencegah orang yang di sayang nya terjerumus kedalam rasa sakit yang dia rasakan, Davvien tidak ingin Fero dan sahabat nya merasakan sakit sama yang dia rasakan, dan Fero pun langsung melakukan apa yang di perintahkan Davvien, dia membuang rasa yang sedang bermekaran di hatinya, untung nya Fero belum mengungkapkan perasaan nya kepada wanita yang di cintanya waktu itu, dia pun membuang rasa cintanya dan berusaha melupakan wanita itu, dan itu berhasil, bahakan sampai sekarang Fero menjadi orang anti wanita.
...----------------...
Sedangkan yang di bicarakan sekarang sudah sampai di depan rumah Intan, dia pun turun melangkah mendekati pintu, lalu menekan bel rumah Intan yang berada di dekat pintu.
Di dalam, Intan sedang mager dia hanya duduk diam di sofa ruangan tamu, Intan merasa bosa. sudah berbagai gaya dia merubah posisinya duduk namun dia tetap merasa bosa.
Ting,,tong,,ting,,tong,,,
Intan mengalihkan pandangannya ke arah pintu yang berbunyi bel.
"Siapa ya"
Gumam Intan sendiri.
Ting,,ting,,ting,,tong,,,,
Suara itu kembali terdengar, dengan keadaan malas Intan berjalan membuka pintu.
Wajah yang cemberut, rambut yang kusut akibat dia membalik balikkan posisi tubuhnya di sofa tadi, Intan memegang handel pintu dan membuka nya.
Saat daun pintu itu terbuka betapa terkejutnya Intan melihat siapa yang datang.
"Tu-tuan"
~Bersambung.
Para Reading, maaf ya aku telat up dan hanya bisa up satu bab hari ini banyak pekerjaan dan sekarang sudah sangat mengantuk, besok pagi aku akan up lagi doble oke😘😘.
Supaya besok nya semangat, untuk yang ini jangan lupa di like, komen dan juga vote nya ya para Reader.
__ADS_1