
Davvien dan Fero sudah sampai lagi di kantor, Fero izin masuk ke dalam ruangan nya, Fero terlihat lebih pendiam beberapa hari ini, dia tidak sering memancing emosi bos sinting nya itu.
Davvien masuk ke dalam ruangan nya dengan menjinjing lima keresek yang isinya bakso semua.
Vera langsung berbinar melihat apa yang di bawakan suaminya, bagaikan anak kecil yang bahagia karna di bawakan jajan oleh ayah nya.
"Tara,,"
Davvien mengangkat kantong keresek itu menunjukkan pada sang istri, Vera langsung bangun dan berlari kecil pada suaminya itu.
Saat tangan nya ingin meraih kantong tersebut, Davvien menjauhkan nya, mengangkat tinggi-tinggi.
"Kok di angkat sih ah"
Kesal Vera karna di kerjain oleh sang suami.
"Cium aku dulu baru aku kasih"
Tanpa berfikir panjang Vera langsung menghujani wajah Davvien dengan ciuman nya.
Cup
Cup
Cup
"Sekarang berikan pada ku"
Davvien tersenyum, dia pun menyerahkan bakso yang sudah dia beli untuk Vera, sedangkan yang menerima langsung melotot melihat bakso yang di belikan sang sumi.
"Sayang, kau mau jualan bakso lagi?"
"Untuk apa aku jualan bakso, uang ku sudah sangat banyak"
"Tapi kenapa begitu banyak kamu membelikan nya sayang?"
"Biar kamu puas makan nya, dan anak ku nanti nya tidak ngiler"
Vera menggeleng kepala bodo amat, yang penting apa yang dia inginkan sudah di depan mata.
Davvien menyuruh OB mengantar mangkuk untuk Vera, setelah itupun Vera langsung melahap bakso besar yang berisi cabai rawit merah yang di campur kan dengan bakso kecil-kecil, Davvien meneguk liurnya kasar melihat makanan yang di makan istrinya.
"Sayang, apa itu tidak berbahaya, cabainya kebanyakan, apa kamu tidak merasakan pedas, setau aku kamu tidak suka pedas"
Tegur Davvien yang khawatir melihat bakso yang di makan Vera penuh dengan cabai.
"Ntah lah sayang, aku juga tidak tau kenapa aku jadi doyan yang pedas-pedas, dan ini tidak seberapa bagi ku"
Dengan mulut penuh dengan bakso Vera berucap, dia begitu lahap menyantap makanan nya, Davvien yang melihat nya tersenyum, ada rasa bahagia, hatinya menghangat saat dia bisa memenuhi keinginan sang istri saat dia hamil, Davvien berjanji apa pun yang di inginkan Vera akan dengan senang hati melakukan nya.
...----------------...
Sedangkan di ruang sebelah Davvien, terlihat lelaki yang juga berwajah tampan, dia duduk di kursi kerja memainkan pulpen di tangan nya, tatapan nya lurus ke depan, ntah apa yang di pikirkan nya, yang jelas hati dan fikirkan nya sudah tidak pada tempatnya lagi.
Dia memegang ponselnya, menatap layar yang mati tidak menandakan ada notifikasi yang masuk, jika ada pun itu bukan dari orang yang di inginkan nya.
Fero terus termenung, sungguh saat ini dia sangat ingin melihat gadis nya itu, hati nya begitu merindukan wanita yang dulu selalu di hina nya, dia ingin gadis nya itu berada di samping nya.
"Ahhhkkk... kenapa dengan ku ini, aku harus mendapatkan nya, kau hanya milik ku, untuk sekarang aku bebaskan dirimu sendiri dan aku tidak akan menganggu mu, tapi tunggu sebentar lagi kau akan menjadi milik ku, gadis jorok"
Fero sudah membuat tekad, dia yang terkenal dingin, cuek dan juga bermulut pedas kini kalah dengan perasaan nya, memang benar kata orang sekuat-kuat nya manusia dia bisa kalah dengan perasaan nya.
...----------------...
Di lain tempat di waktu yang bersamaan, Intan duduk termenung di dekat jendela kamarnya, saat ini dia juga sedang merindukan seseorang, sedari tadi dia mencoba membuang rasa itu, tapi dia semakin tersiksa dan bahkan dia ingin melihat orang yang selalu mengganggu pikiran nya.
Intan melihat ponselnya, namun sama sekali tidak ada pesan atau telpon dari orang yang di rindukan nya.
__ADS_1
"Kenapa aku tidak bisa melupakan nya, kenapa semakin aku mencoba membuang rasa ini dia semakin membesar, aku benci perasaan ku ini, aku benci ke adaan ku saat ini, aku membencinya"
Intan terus mengumpat sendiri, hanya itu yang bisa dia lakukan untuk meluapkan rasa yang membelenggu di hatinya.
Kedua insan tersebut sama sama memendam rindu, mungkin benar jika kita merindukan seseorang, maka orang tersebut juga sedang merindukan kita.
Keduanya saling merindu, namun mereka sama sama lebih mementingkan ego masing-masing, hingga mereka tersiksa dengan rasa mereka sendiri.
...----------------...
Tepat pukul 7:00 malam, Vera sudah selesai melaksanakan ibadah wajib nya, kini dirinya duduk di tepi ranjang, sedang mengusap perut buncitnya.
"Sayang, sehat selalu ya di dalam sana, kelak jadi lah anak yang baik dan berbakti pada mama dan papa"
Vera tersenyum saat mengelus perut nya sendiri, kamar mandi pun terbuka, keluar lah Davvien dari dalam sana dengan hanya menggunakan handuk.
Vera bangun lalu memberi kan pakaian untuk suaminya.
"Sayang, kapan kamu akan solat, sebentar lagi kita akan mempunyai anak, mau mengajarkan bagaimana pada anak kita jika orang tua nya sendiri tidak solat"
Jedarrrrr
Bagaikan tersambar petir, hati Davvien bergemuruh mendengar pertanyaan Vera, sebenarnya dia juga sudah merasa malu karna sang istri selalu melaksanakan kewajiban nya, sedangkan dia kepala keluarga tidak pernah melaksanakan solat.
"Nanti aku akan solat"
Vera tidak menyahuti lagi, dia hanya mengangguk, dia sebagai istri tidak pantas untuk memerintah sang suami, dia hanya cukup memperingati saja.
"Tapi aku sangat ingin menjadi makmum mu, aku ingin kau menjadi imam ku, harapan ku hanya satu sebelum aku tiada aku hanya ingin berada di belakang mu saat kita solat berjamaah"
"Sayang, kenapa bahas itu lagi kan aku sudah bilang jangan pernah katakan tentang itu lagi"
"Iya maaf, sekarang pakai lah bajumu ini"
Wajah Davvien langsung cemberut, Vera begitu gemes melihatnya.
Goda Vera, dia ingin mengubah suasana hati sang suami, dan Davvien pun tersenyum mendengar itu, dia langsung membawa sang istri ke dalam dekapan nya.
"Bersiaplah, aku akan menunjukkan sesuatu untuk mu"
Bisik Davvien tepat di telinga Vera.
"Menunjukkan apa?"
Tanya Vera bingung, dia ingat seharian dia selalu bersama suaminya, kapan dia menyiapkan kejutan. Pikir Vera.
"Udah jangan banyak tanya, sekarang pakaikan baju mu"
Davvien mengambil gaun untuk istrinya, menyuruh Vera mamakai baju yang sangat minim.
"Sa-sayang kau serius menyuruh ku memakai pakaian kurang bahan begini?"
Davvien hanya mengangguk sambil tersenyum, dia sudah membayangkan betapa menggoda nya jika istri nya memakai gaun sek-si itu, sedangkan Vera masih menatap Davvien heran.
"Sayang, kau sudah tidak menyayangi ku lagi, dulu aku memakai pakaian yang hanya memperhatikan leher saja kau melarang nya, dan sekarang kamu ingin aku memamerkan tubuh ku di hadapan orang lain"
"Tidak akan ada yang melihat tubuh indah mu sayang, hanya aku"
"Tapi,,,,"
"Sayang... aku tidak suka di bantah, sekarang pakailah dulu nanti kamu akan tau"
Mendengar nada ucapan Davvien yang seperti mengancam Vera langsung memakai baju tersebut.
Setelah selesai, Vera berdiri di belakang Davvien yang juga sudah memakai pakaian nya.
"Sa sayang"
__ADS_1
Panggil Vera kecil, dia merasa tidak nyaman menggunakan pakaian seperti itu, gaun yang hanya sebatas paha, dengan tali kecil di kedua bahu nya, bagian depan terbuka hingga memperlihatkan buah dada Vera yang begitu menantang, bagian punggung juga terbuka lebar hingga memperlihatkan punggung putih mulus Vera.
Glukkkk
Davvien meneguk liur nya secara kasar melihat pemandangan di depan nya, dengan riasan wajah yang tidak mencolok, baju yang begitu sek-si, juga perut yang sudah membuncit terlihat sangat cantik.
"Kenapa kau sangat cantik sayang"
Davvien langsung mendekati Vera, memeluk dan mencium wajah istrinya itu, Vera tersipu malu mendengar Davvien memuji dirinya.
"Sekarang kita akan kemana, aku tidak akan nyaman jika keluar dari kamar?"
Tanya Vera yang masih penasaran.
"Tenang sayang, aku juga tidak akan rela jika lelaki lain melihat tubuh mulus mu ini, sekarang ayo ikut aku"
"Tapi kemana"
Tanpa menjawab Davvien langsung menggendong Vera, mereka melangkah keluar kamar, masuk ke dalam lift, Vera hanya bisa pasrah dia mengalungkan tangannya di leher Davvien, menatap wajah tampan yang sedang menggendong nya, Vera merasa sangat bahagia bisa mendapatkan suami seperti Davvien, berada dalam tangan kekar Davvien Membuat Vera merasa aman.
Mereka kini sudah sampai, Davvien mendudukkan Vera di kursi dengan meja bundar.
Vera kaget melihat pemandangan di depan nya, matanya langsung berbinar, dia pun melihat pada Davvein.
"Sayang, kapan kau sulap taman ini jadi sebagus ini?"
"Kau suka?"
Vera mengangguk begitu antusias, Davvien tersenyum lalu mencium tangan Vera.
"Apa pun untuk mu sayang, dan malam ini hanya ada kita berdua, semua para maid di mansion ini sudah aku kasih libur satu hari"
Vera hanya tersenyum, dia menatap kagum pada taman yang di rawat kini terlihat begitu indah, berada di tengah-tengah bunga, lampu kelap-kelip di pasang pada pohon besar, lilin di atas meja, ahh Vera benar-benar sangat senang.
Namun tiba-tiba Davvien berjongkok di hadapan Vera, dia kembali memegang tangan istrinya lalu mencium nya, cukup lama Davvien mencium tangan Vera, menyalurkan rasa gugup dalam dirinya.
Vera yang tadi tersenyum kini melihat heran pada Davvien, dia sudah hafal jika sudah begini pasti Davvien mengkhawatirkan sesuatu.
"Sayang, kamu kenapa?"
Davvien mendongak melihat wajah Vera.
"Apapun yang akan ku katakan, ku harap kamu akan selalu berada di sisi ku, jangan pernah berfikir untuk meninggalkan ku"
Davvien menatap penuh harap pada Vera, berbeda dengan Vera yang menatap bingung pada Davvien.
"Sayang, kau berbicara apa aku tidak akan meninggalkan mu, aku sangat mencintaimu jadi jangan khawatirkan itu"
"Kamu yakin?"
Vera mencoba mengangguk.
"Iya sayang, katakanlah ada apa?"
"Tapi kamu harus janji"
"Iya aku janji"
"Apapun"
"Iya sayang apapun"
"Apa kau akan tetap menerima ku setelah tau jika diriku ini adalah seorang mafia"
Degggggg
~Bersambung
__ADS_1