Gadis Penakluk Mafia Karatan

Gadis Penakluk Mafia Karatan
Titik terang


__ADS_3

Kini suasana haru kembali memenuhi ruangan VIP yang di tempati oleh istri dari mantan bos mafia dingin dan kejam.


Semua keluarga kini berada dalam ruangan rawat Vera. Davvien duduk di sebelah kiri Vera, dan Mama Rina duduk di sebelah kanan Vera, Mommy Andin berdiri di dekat kepala Vera, Frans berdiri di dekat Davvien, sementara Tn.Diwan dan Tn.Andre memilih duduk di sofa sembari melihat haru pada ibuk anak dan kakak yang baru di pertemukan.


Tangisan Mama Rina pecah tatkala melihat anak yang di tinggalkan nya masih umur lima tahun tapi kini sudah dewasa bahkan sedang berbadan dua.


Tak henti-henti Mama Rani mencium kepala dan tangan Vera.


"Nak, ini Mama ayo bangun nak... mama ingin memeluk mu, mama ingin melihat mata indah mu, apa kau tidak ingin melihat mama mu ini"


Ny.Andin juga meneteskan air matanya.


"Iya nak, bangun Mommy sangat khawatir pada mu, kamu tidak kasihan sama kami"


Davvien hanya diam, cukup air mata menjelaskan betapa sakitnya dia melihat keadaan sang istri yang terbaring tak berdaya, perut yang mulai membuncit, selang makanan di masukkan ke dalam mulutnya, karna Vera sedang mengandung maka dia butuh asupan yang cukup agar kedua bayi nya sehat, maka dari itu Vera di pasang kan selang makanan ke dalam mulutnya, selama dia belum sadarkan diri.


Frans meminta posisi nya pada Ny.Andin agar lebih dekat dengan sang adik, air matanya juga ikut tumpah, adik yang dulu selalu manja dengan nya yang sudah lama terpisah kini ada di hadapan nya.


Ny.Andin mengerti, dia pun memberi ruang pada kakak menantunya itu.


"Dek, bangun dek ini kakak... kamu sudah besar rasanya kakak masih mendengar celotehan kamu yang tidak benar itu, kamu sering meledek kakak karna Papa lebih sayang sama kamu, ayo kamu bangun dek"


Cup...


Satu kecupan lembut mendarat di kening Vera, tatapan Davvien langsung tajam menatap Frans, dia tidak rela Frans mencium kening istrinya apa lagi Frans mencium begitu lembut dan lama.


"Jangan terlalu lama mencium istri ku, suaminya ada di sini"


Mendengar ucapan dingin penuh tekanan semua mata menatap Davvien, mereka menggeleng kepala, bisa-bisa nya di situasi seperti ini Davvien masih mempertahankan rasa cemburu nya.


Ya tapi jika berada di sisi Davvien wajar lah, cemburu kan tidak kenal tempat dan waktu.


"Aku kakak nya, jadi jangan andalkan kecemburuan mu yang berlebihan"


Jawab Frans dengan wajah mengejek.


"Kau kakak nya aku suaminya, jadi aku pantas melarang mu mencium istri ku"


"Hais... kenapa kau sangat posesif, jangan-jangan adik ku selama ini tertekan dengan sifat posesif mu ya"


Frans makin sengaja memancing emosi Davvien.


"Jaga ucapan mu, dia bahagia bersama ku"


Davvien menunjuk tepat di wajah Frans.


"Kau berani menunjuk wajah kakak ipar mu?"

__ADS_1


Para bapak-bapak dan ibu-ibu yang sempat panik mendadak tersenyum mendengar perkataan Frans.


"Cih, bahkan aku tidak berharap punya kakak ipar yang rempong nya sama dengan ibuk-ibuk di pasar yang sedang berburu barang obral"


"Dasar adik ipar sial*n, kakak iparnya di katai ibuk-ibuk, dek nanti kalau kamu sadar dan kamu tidak bahagia hidup dengan lelaki es ini kamu ikut sama kakak saja, nanti kakak nikahkan kamu dengan lelaki hangat dan penyayang, dan juga tidak se-posesif dia"


Bisik Frans namun bisa di dengar oleh Davvien.


"APA"


Davvien ingin bangkit untuk memberi pelajaran pada kakak ipar yang baru dia temui itu namun suara Mommy Andin menghentikan nya.


"Sudah Vien, nanti Vera kaget mendengar teriakkan mu"


"Ya ampun... aku sampai lupa, maafkan aku sayang"


Cup


Frans melihat dengan memelas pada Davvien, namun dia merasa senang karna Davvien benar-benar menyayangi adik nya, soal kejadian di depan ruangan operasi tadi Frans hanya terbawa emosi, dia tetap tidak merasa bersalah karna telah mencaci Davvien, bahkan dia tida berniat meminta maaf pada Fans yang kini menjadi adik iparnya.


"Sebaiknya Mama, Mommy, Daddy pulang dulu, dan loe juga pulang sana, ngapain di sini, ini sudah malam"


"Ya gw mau jagain adek gw lah"


"Tidak, gw bisa jagain dia sendiri"


"Udah udah, kamu pulang saja dulu Frans, biar Davvien yang ngejagain Vera"


Tn.Diwan melerai perdebatan antara anak dan menantunya.


"Iya nak, kamu pulang dulu biar Mama yang temenin Vera"


"Tidak usah Ma, lebih baik mama pulang dulu, Mama kan baru sampai, Mama juga perlu istirahat karna telah banyak mentranfusi darah"


Ujar Davvien pada mertuanya.


"Iya Ma, lebih baik kita pulang besok kita bisa balik lagi ke sini"


"Tapi...."


"Udah loe mbak, pulang saja dulu biar Davvien yang menjaga istri nya"


Bujuk Ny.Andin pada besan nya.


"Heum baik lah"


Cup...

__ADS_1


"Nak, Mama pulang dulu ya, kamu harus cepat sadar, Mama berharap saat besok Mama kembali kamu sudah siuman"


Setelah mengecup kepala sang putri, mereka berlima keluar dari ruangan tersebut.


Kini tinggal Davvien yang menanti sang istri membuka mata.


Davvien memegang tangan Vera lalu mencium nya.


Cup..


"Sayang... Kenapa kamu masih tidur, apa kamu tidak suka melihat ku, jangan seperti ini sayang aku sungguh tersiksa hiks...hiks.."


Davvien tidak dapat membendung rasa di dalam hatinya yang bercampur antara sakit, takut dan juga kasihan melihat keadaan Vera.


"Jangan buat aku terpuruk sayang, maafkan aku jika aku tidak bisa tegar seperti yang kamu ucapkan, aku tidak bisa berpura-pura kuat sayang, aku sungguh takut jika kamu akan pergi dari hidupku, aku tidak akan bisa hidup tanpa mu sayang"


Davvien beralih mengusap perut Vera.


"Halo anak-anak papa, kalian sehat kan, kalian harus kuat, doakan Mama biar Mama cepat sadar sayang, kalian harus bertahan ya, papa sayang sama kalian"


Davvien kembali mencium perut Vera, dia memandangi wajah pucat sang istri.


"Sayang, aku ingin mendengar ocehan dari mulut indah mu, jangan jadi pemalas sayang, kalau kamu tidur terus siapa yang akan menyiapkan aku pakaian, siapa yang menyiapkan air mandi untuk ku, siapa yang akan mengusap kepalaku, aku membutuhkan mu sayang, atau jika kau tidak ingin melakukan nya lagi, aku akan mencari pelayan baru yang mengurus keperluan ku, tapi jika kamu cemburu aku akan melakukan nya sendiri, yang penting saat ini kau bangun sayang"


Davvien terus mengoceh panjang lebar, penampilan nya sungguh terlihat berantakan, rambut acak-acakan, kemeja juga acak-acakan, mata memerah, sungguh sangat menyedih kan.


Saat hendak merebahkan kepala nya di samping lengan sang istri, ponsel nya berdering dari dalam saku celananya.


Davvien bangun dan melangkah sedikit menjauh dari brangkar sang istri guna untuk menjawab telpon ntah dari siapa.


Davvien melihat jiia nama Fero yang tertera di layar ponsel nya.


"Ada apa"


"Pelakunya sudah di tangkap, dan sekarang sedang ada di markas"


"Bagus, biarkan saja mereka di sana sampai besok, aku akan ke sana besok, untuk sekarang jangan apa-apa kan mereka dulu"


"Baik Tuan"


Sambungan pun terputus, Davvien meremas handphone di tangan nya.


"Kita lihat saja, semut mana yang berani bermain main dengan ku"


Davvien menggerat kan gigi nya, rahang nya pun sudah mengeras menunjukkan betapa marah nya seorang Davvien.


~Bersambung

__ADS_1


__ADS_2