
...Hidup tidak akan pernah sempurna, tapi selangkah demi selangkah...
...Asal kau tetap maju dan menatap ke depan,suatu saat kau bisa meninggalkan masa lalu di belakang....
...----------------...
Jam menunjukkan pukul 05:00 pagi, kebiasaan dari beberapa manusia berkutat dengan kuali panci dan sebagainya, demi untuk menyediakan isi perut di pagi hari untuk keluarga, sedemikian pula yang di lakukan Vera.
Dengan senyuman yang menghiasi bibir nya dia membuat beberapa menu untuk sarapan pagi, meski mereka hanya berdua..eh salah bertiga karna Fero selalu sarapan di rumah Davvien juga.
Sejam sudah Vera berada di dapur, kini makanan sudah tertata rapi di atas meja lengkap dengan dua cangkir kopi, untuk Davvien dan juga Fero yang sudah di anggap kakak oleh Vera.
Vera terlihat lebih santai sekarang, nampaknya beban di hatinya sedikit berkurang, apa Vera sudah tidak memikirkan Riko lagi, apa hati nya sudah di tarik oleh suaminya saat ini, ntah lah hanya Vera yang tau.
Setelah semuanya siap, seperti biasa dia pergi membangunkan Davvien, sampai di kamar Davvien Vera langsung membuka gorden penutup dinding kaca yang besar di kamar Davvien yang menunjukkan keindahan kota bila di lihat dari sana.
"Selamat pagi, awali pagi dengan senyuman 😁"
Kata kata yang selalu di ucap nya dengan senyuman merekah di bibirnya.
Vera berbalik dan berjalan ke dalam kamar mandi, menyiapkan air, shampo, sabun, handuk untuk Davvien.
Setelah selesai dia keluar, melihat Davvien masih terpejam, sesaat di pandang nya wajah yang selalu mengatainya, ntah kenapa Vera tersenyum melihat wajah Davvien saat tidur.
Tak ingin berlama lama dia pun membangun kan Davvien, meski masih ada perasaan takut di hatinya.
"Tuan ayo bangun, ini sudah pagi"
Vera berdiri di samping tempat tidur Davvien meski berjarak cukup jauh.
"Tuan, ayo bangun dulu"
Panggil Vera ke dua kali karna Davvien belum menunjukkan tanda tanda dia akan bangun.
Vera tidak tau kalau Davvien baru beberapa saat memejamkan mata karna terus memikirkan yang di lakukan Vera.
"Tuan apa kau akan tidur sepanjang hari"
Vera sedikit meninggikan suara nya, tapi Davvien masih tidak bergeming, akal jail pun terserat di kepala Vera.
Dia berjalan perlahan mendekati Davvien, setelah berada cukup dekat dengan Davvien Vera berteriak.
"Ada perampok tuan, tolong ada rampok."
Vera berteriak dengan cukup kencang, sehingga Davvien dengan cepat langsung terbangun, dengan perasaan masih linglung Davvien meraih pistol yang dia simpan di atas nakas, melompat dari tempat tidur ke lantai lalu mengarahkan pistol tersebut ke sana kemari.
"Mana rampok nya mana"
Davvien terlihat sangat bingung, Vera tidak mampu menahan gelak tawanya.
"Hahahahahahahah, anda lucu sekali tuan"
Vera terus saja tertawa melihat Davvien seperti orang kebingungan, Davvien yang sadar kalau dia hanya di kerjain oleh Vera pun merasa kesal, langsung di todongkan senjata nya ke arah Vera.
Glek,,,,,,,
Vera seketika menghentikan tawanya saat melihat pistol tepat di kepalanya, wajah yang tadi kegirangan sekarang berubah menjadi pucat.
Melihat mimik wajah Vera yang ketakutan, membuat Davvien juga tertawa, ternyata Davvien membalas mengerjai Vera.
"Ha ha ha, kamu sangat lucu kalau seperti ini gadis gila"
Tanpa sadar Davvien tertawa lepas, dan ini kali pertama bagi Vera melihat Davvien tertawa, dia menganga melihat sikap aneh Davvien.
Ya menurut Vera Davvien sangat aneh.
"Jadi kau mengerjaiku tuan"
Tanya Vera kesal, Davvien seperti sadar yang dia lakukan langsung menghentikan tawanya.
"Kau yang telah berani mengejaiku gadis gila''
''Itu karna aku telah lama membangunkan mu, dan tuan masih tetap tidak mau bangun"
__ADS_1
"Terserah saya, mata mata saya jadi suka suka saya dong kapan saya mau bangun"
"Ya sudah kalau begitu saya tidak akan membangun kan tuan lagi"
"Hey saya tidak bilang begitu, kamu tetap harus melayani saya itu sudah tugas kamu termasuk membangun kan saya, tapi kalau saya tidak mau bangun itu hak saya"
Ucap Davvien tegas, Vera pun mengalah karna berdebat dengan robot di hadapan nya ini tidak akan ada gunanya.
"Saya akan buka perban ini dulu tuan"
Vera melangkah mendekati Davvien, langsung Vera memegang perban dan membuka nya.
Saat jemari Vera dengan cekatan membuka perban nya, Davvien hanya bisa diam mematung memperhatikan setiap gerak gerik Vera, jangan tanya bagaimana keadaan jantung mereka.
Rasanya Davvien ingin menolak, tapi hatinya ingin menerima perlakuan Vera padanya.
Keduanya sama sama gugup, terutama Davvien sungguh dia merasa tegang, tapi sering kali di tepis oleh Davvien.
"Sudah selesai tuan"
Davvien masih menatap Vera, ntah apa yang di fikirkan nya apa kah dia telah menerima Vera, mungkin kah hatinya yang kosong telah terisi dengan kehadiran Vera, apa kah secepat itu hatinya terbuka untuk seorang perempuan yang sekarang berstatus sebagai istrinya.
"Tuan"
Panggil Vera lagi saat dilihat nya Davvien hanya diam menatap nya, Davvien pun tersadar, dia langsung melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
Vera pun kembali menetralkan perasaan gugup nya, diapun merapikan tempat tidur Davvien, mengambil pakaian Davvien, setelah siap dia duduk di pinggir tempat tidur menunggu Davvien keluar dari kamar mandi.
Saat Davvien keluar, masih seperti keadaan semalam, dengan hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggang nya, Davvien tidak tau kalau Vera masih menunggu nya keluar.
"Kenapa kau masih tetap saja di sini, apa kau suka melihat tubuh ku yang se*si ini?
Tanya Davvien dnegan nada ketus, Vera memalingkan wajahnya, lalau menyodorkan pakaian oblong polos buat Davvien.
"Pakailah bajumu tuan, aku akan memasangkan lagi perban di luka mu"
"Aku bukan anak kecil yang harus kau urus seperti itu"
"Pakai baju mu tuan"
"Aku hanya menjalan kan tugas"
Dengan kesal Davvien meraih baju yang di berikan Vera.
Setelah selesai Vera berbalik, mengambil kotak P3K menarik tangan Davvien untuk duduk di sofa.
Davvien lagi lagi membulatkan mata, melihat Vera yang bertingkah sangat berani memegang tangan Davvien.
Pikiran nya ingin marah, tapi hatinya menerima sikap Vera, sedangkan Vera terlihat biasa saja, karna dia memang niat mengobati Davvien.
Setelah selesai memasang perban di lengan Davvien, Vera langsung keluar.
"Aku akan berangkat awal, tuan bisa sarapan dengan kak Fero"
Dia pun keluar menuju kamarnya sendiri untuk bersiap siap.
Setelah Vera keluar, Davvien mengambil ponsel nya lalu menelpon seseorang.
"Apakah kamu sudah melakukan semua yang saya suruh semalam"
Ucap Davvien saat telpon nya tersambung.
"Sudah tuan, dan sekarang dia lagi berjalan ke sana"
"Heummmmm"
Davvien langsung memutuskan sambungan nya secara sepihak.
...----------------...
Vera sudah siap, dia keluar lalu turun Vera hanya mengambil roti di olesi selai karna tidak ingin terlambat dia langsung bergegas pergi.
Saat di luar Vera melihat mobil mewah berdiri di halaman rumah nya, Vera sempat berfikir apakah Fero sudah datang, tapi kenapa mobil nya lain, tapi karna terburu buru dan dia juga tidak melihat Fero, dia pun bersikap acuh dan berlalu melewati mobil tersebut.
__ADS_1
Hari ini memang hari keberuntungan Vera, dimana dia langsung melihat taksi menuju ke arah nya, Vera pun langsung menghentikan taksi tersebut.
Setelah Vera berlalu, sebuah mobil sport masuk ke dalam halaman rumah Davvien, saat dia keluar seseorang menyapanya.
"Selamat pagi tuan"
Ucap orang itu seraya membungkuk kan badan nya.
"Pagi pak Toni, bagaimana apa anda sudah bertemu dengan majikan yang akan anda antar jemput?"
"Belum tuan, saya baru sampai"
"Kalau begitu ayo masuk biar aku kenalkan sama dia"
Mereka pun masuk, dengan pak toni di belakang dan Fero di depan, saat sampai di dalam rumah, Fero hanya melihat Davvien di meja makan.
"Dimana Vera Vien"
"Sudah berangkat, apa kalian tidak bertemu lalu apakah supir itu sudah tau siapa yang harus dia antar jemput?"
"Ini pak Toni, dia bilang belum bertemu dengan Vera"
"Apa, jadi dia pergi naik taksi lagi?"
Pak Toni langsung ketakutan melihat tatapan tajam dari Davvien.
"Maafkan saya tuan, tadi saya pergi kebelakang untuk menuntaskan hajat saya tuan"
"Apa, kenapa kau sangat ceroboh, aku membeli mobil dan mencari supir supaya dia tida susah mencari taksi ketika berangkat ke kampus, dan apa dia tetap sama pergi ke kampus dengan harus mencari taksi terlebih dahulu mekipun kau sudah ada disini "
Davvien merasa sangat marah, ntah kenapa hatinya merasa kasihan pada Vera jika mengingat Vera harus berjalan kaki untuk bisa mendapatkan Taksi.
Semalam dia sudah menyuruh Fero untuk membeli mobil, handphone, dan mencari supir untuk Vera, dan harus ada pagi itu juga.
Meski dengan berat, Fero menjalankan yang di perintahkan Davvien.
"Fero, aku tidak mau tau kau harus mengganti kan supir ini, secepat nya kau carikan yang lain dan langsung suruh untuk menjemput gadis itu di kampus". Lanjut nya lagi.
"Itu lama, dan kita juga harus ke kantor, lebih baik kita beri kesempatan pada dia sekali lagi, dan kau cepat susul nona Vera ke kampus nya, tunggu sampai dia selesai dan berikan ponsel yang sudah saya beli untuk dia yang di dalam mobil"
Tanpa berani membantah dengan tubuh yang gemetar pak Toni langsung meninggal kan tempat yang di rasa bagaikan kandang macan itu.
"Kau berani membantah ucapan ku Fero, apakah kau benar benar sudah tidak ingin berada di sini lagi?"
"Kau kira mudah mencari supir yang bisa di percaya, kita lihat cara kerja dia dulu"
"Aku mau sarapan, adik ku memang yang terbaik dia bahkan menyediakan kopi untuk kakak nya"
Fero bergumam sambil menunjuk senyuman di bibir nya.
"Hey sejak kapan dia jadi adikmu"
"Sejak dia menganggap ku sebagai kakaknya"
"Ayo berangkat"
"Tapi aku bahkan belum menyentuh makanan ku"
"Baiklah, kau makan saja setelah itu kau siap kan pakaian dan bekal akan ku kirim kau pada kutub utara"
Mendengar ancaman Davvien Fero langsung bangkit dari duduk nya, hanya mengambil roti lalu berlari mengejar Davvien.
Sbenar nya Davvien tidak maslah jika Fero sarapan bersama, tapi karna Fero memuji Vera di depan nya, Davvien merasa tidak senang.
Mereka pun berangkat meninggalkan rumah dan membelah jalan raya supaya sampai di tempat tujuan yaitu kantor keluarga WILMAR.
~Bersambung
Maaf bila alur cerita nya tidak sesuai dengan kemauan kalian.
Dukung terus karya author ya
Lika, komen nya juga dong🥺 vote nya juga di tunggu.
__ADS_1
babay😘😘🥰