
"Kalau begitu Vera mau jenguk Daddy dan juga Mama dulu ya sayang!" pinta Vera tanpa menunggu jawaban dari Davvien lagi, dia langsung berlari keluar.
Vera mendorong pintu ruangan yang terdapat mama dan juga Daddy nya sedang di lepaskan selang infus dari tangan ke dua nya.
Vera melangkah masuk, langsung menghampiri sang Mama.
"Bagaimana keadaan Mama, maafkan Vera ya Ma, baru sekarang Vera jengukin Mama lagi!" ucap Vera langsung memeluk Rina.
"Tidak apa-apa Nak, bagaimana keadaan suami kamu?" tanya Rina mengelus kepala Vera.
"Mas Davvien sudah siuman Ma, dan dia juga sembuh, hanya perlu istirahat dan minum obat untuk bekas jahit di lengan nya!" jawab Vera, wanita dua anak ini bangun, lalu dia duduk di samping Tn.Diwan.
"Daddy, Maaf kan Vera telat jengukin Daddy!. sekarang gimana keadaan Daddy?" tanya Vera yang juga sedang memeluk sang Daddy.
"Tidak apa-apa Nak, Daddy sudah sehat. Terimakasih kamu telah menyelamatkan Daddy sama Mama, dan maaf gara-gara kami, suami mu harus masuk ke rumah sakit!" pinta Tn.Diwan sambil mencium kepala putri semata wayangnya.
"Jangan bicara seperti itu Dad, Vera ikhlas! dan Vera yakin Mas Davvien juga ikhlas membantu Daddy!" jawab Vera, dia menyandarkan kepalanya di dada sang Daddy yang masih terbaring di atas ranjang pasien.
"Oh ya! bagaimana dengan Roy?" tanya Tn.Diwan, membuat kepala sang putri mendongak.
...----------------...
Di lain tempat, tepat nya dalam rumah di tengah hutan yang di sebut markas, seorang pria paruh baya sedang merintih menahan sakit karna siksaan demi siksaan yang di berikan oleh Irfan dan anak buahnya. Begitupun dengan orang kepercayaan Roy, mereka berdua sama-sama mengadu nasib.
Roy melihat tangan nya sudah sangat memprihatinkan, jari jemarinya sudah di potong ntah di buang kemana.
__ADS_1
Roy mengalihkan pandangannya saat mendengar suara langkah kaki memasuki ruangan tempat dirinya di sekap.
"Bagaimana bos, apa yang kita lakukan untuk orang-orang ini?" tanya anak buah Irfan.
"Tuan Davvien sudah sadar, sekarang potong setengah saja jemarinya!" tukas Irfan memberi perintah.
"Baik Bos!" dan para anak buah itupun langsung melaksanakan nya.
"Aahhhhkkkkkk... Ahhhkkkkk!" jeritan Roy dan anak buahnya bagaikan alunan nada indah di telinga Irfan.
"Lepaskan aku brengs*k, kalian lihat saja, aku akan membalas kalian semua. Ahhhkkkkk!" umpat Roy seraya menjerit tanpa di perduli kan oleh Irfan.
"Dasar! meskipun Tua tapi tetap masih pendendam!" gumam Irfan yang duduk di kursi kebesaran sambil menyalakan sebatang rokok dan menghembuskan asap nya ke atas.
...----------------...
"Apa sayang, kenapa melihat Papa seperti itu, kamu kagum ya karna ketampanan Papa yang sangat memukau ini!" ujar Davvien sambil menowel hidung kecil putra nya.
Seolah mengerti dan jengah dengan sikap ke-PDan sang papanya, Syakir langsung membuang pandangannya ke lain arah, dengan mata yang turut memalas, dan itupun mengundang gelak tawa ke dua orang tuanya.
"Yah, dia langsung memalingkan wajahnya sayang, males ya nak dengar celoteh Papa yang selalu memuji dirinya sendiri!" tukas Vera seraya tertawa.
"Sayang, kamu beneran anak Papa kan?" tanya Davvien pada anak nya itu.
"Kenapa kamu seperti nya bermusuhan dengan Papa!" lanjut Davvien lagi, tiba-tiba Syakir langsung tersenyum, tangan dan kakinya terangkat ke atas.
__ADS_1
Davvien gemas langsung memasukkan tangan mungil bayi gembul ke dalam mulut nya.
Setelah menidurkan si kembar, Vera kini berganti menyuapi bayi besarnya.
"Ak... Ayo Papa bayi makan yang banyak biar cepat sehat!" ujar Vera sambil menyodorkan sendok yang berisi nasi di hadapan mulut suaminya.
"Sayang, kamu memperlakukan aku seperti bayi saja!" protes Davvien.
Vera langsung tertawa dan menarik gemas hidung mancung suami bucin nya itu.
"Kan kamu juga bayi ku yang ketiga!" tukas Vera yang semakin membuat Davvien cemberut.
"Kamu lihat saja bagaimana bayi besar mu ini akan memberikan bayi yang banyak untuk mu lagi!"
.
.
.
.
.
~Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan Vote sebanyak-banyaknya, supaya author nya semangat lagi Reader ter❤️.