
...Bukan karna rasa ku sudah memudar, bukan karna cinta ku sudah menghilang, bukan juga karna dirinya sudah bisa ku lupakan....
...Aku menjauh karna rasa cinta yang semakin tumbuh, rasa ingin memiliki yang semakin menuntut, aku tidak mau bila nanti diriku akan menjadi egois....
...Aku tak ingin terus berlarut dan terpuruk, aku tidak ingin tersakiti oleh harapan yang tidak pernah jadi kenyataan....
...🌷 HAPPY READING 🌷**...
...----------------...
Satu Minggu sudah berlalu, semua nya kembali seperti semula, pasangan suami istri itu nampak semakin romantis, dengan setiap harinya sehabis kuliah Vera datang ke kantor Davvien, namun Vera sekarang juga fokus pada skripsi kuliah nya, pasangan ini lagi adem adem nya, tidak ada demit atau ulat yang mengganggu kebhagiaan mereka setelah kejadian beberapa hari lalu di kantor Davvien.
Berbanding balik dengan Fero dan Intan, kini mereka sudah sama sama menjauh, sesuai yang di inginkan Intan, Fero selama satu minggu dirinya hanya sibuk di kantor, bukan nyerah, dia hanya tidak ingin jadi orang yang pemaksa, karna Intan sudah terang terangan meminta dirinya untuk menjauhi Intan, meski dalam seminggu pikiran nya selalu tertuju pada Intan, tapi Fero mencoba untuk menahan nya.
Sedemikian jiga dengan Intan, dia benar-benar fokus sama skripsi yang sedang dia buat, setiap kali pikiran nya tertuju pada Fero maka dia akan menepis nya jauh jauh.
...----------------...
"Bagaimana, apa kamu sudah mendapatkan semua data tentang nya?"
Tanya Frans kepada asisten nya Fino.
"Sudah tuan, ini data nya semua sudah lengkap"
Fino menyodorkan berkas yang ada di tangan nya pada Frans yang sedang duduk di salah satu meja restoran.
Dengan tidak sabaran Frans mengambil data tersebut dan di baca dengan begitu teliti tak ada satu kata pun yang dia lewatkan.
"Jadi namanya Verania, dia adalah istri dari Tuan Davvien Wilmar, putri dari Diwan, dia kuliah di salah satu universitas di kota ini"
Ada rasa kecewa dalam hati Frans saat membaca nama ayah dari Vera, ayah Frans bukan lah Diwan.
"Apa aku salah, tapi kenapa hati ku begitu yakin kalau dia Kia yang selalu mama rindukan, karna mengira jika Kia kecil nya masih hidup"
Ucap Frans masih membaca data tentang Vera.
"Ayah nya mempunyai perusahaan besar tentang perabotan"
"Benar tuan, ayah nya Nona Vera tidak memiliki anak lain selain Nona Vera, sebelum nya mereka hanya tinggal berdua, dan istri nya juga sudah lama meninggal, akhirnya dia menjodohkan anak nya dengan Tn.Davvien, dan sekarang Nona Vera sedan mengandung anak nya Tn.Davvien".
Sambung Fino, dia pun menjelaskan sedetail mungkin pada Frans.
"Oke Fino, kamu buat kan permintaan kerja sama dengan perusahaan papanya Vera, aku masih belum puas jika belum melihat papanya secara langsung"
"Baik tuan"
...----------------...
__ADS_1
Setelah dari kantin, ke empat wanita cantik itu berjalan pada parkiran, Tania dan Rani pulang berdua, sedangkan Intan membawa mobil nya sendiri, Vera sudah tentu ada sopir yang selalu menunggu nya untuk di hantarkan ke perusahaan suaminya.
Semua berlalu, Intan, Tani, dan Rani sudah meninggal halaman kampus, kini Vera hendak masuk ke dalam mobil yang sudah di bukakan pintu oleh sang supir.
Tapi belum sempat masuk, tiba tiba suara seseorang menghentikan langkah Vera.
"Halo nona Wilmar"
Orang yang sejak tadi menunggu Vera keluar, dengan perasaan marah nya dia menatap Vera begitu benci, saat melihat Vera berjalan bersama sahabat nya, dengan perut yang sudah membuncit, membuat orang di hadapan nya saat ini semakin meradang.
Vera melihat orang itu, pak Toni hendak menghadang namun Vera menahannya.
"Sudah tidak apa apa pak, Vera bisa hadapi dia"
"Tapi nona"
"Sudah, pak Toni tunggu di sini saja"
Para penjaga yang di suruh Davvien menjaga Vera juga ingin menangkap Elsa, namun melihat pak Toni yang di larang oleh Vera mereka jadi mengurungkan niat nya, mereka hanya perlu berjaga-jaga jika Elsa melakukan sesuatu pada Vera.
Vera pun berjalan mendekati orang tersebut.
"Ada apa Nona Elsa hingga anda mencari saya sampai ke kampus saya?"
Tanya Vera dengan begitu lembut dan juga dengan senyuman di bibir manisnya.
Elsa semakin marah, rasanya dia ingin menonjok perut Vera apa lagi mengingat saat Vera mempermalukan nya dan saat Davvien menampar yang ke dua kali nya di kantor Davvien.
Elsa pun mencibir Vera, dia juga berusaha santai.
"Saya hanya ingin bertanya, jika tidak ada yang penting saya izin pergi karna suami saya pasti sedang menunggu ku di sana"
Vera berbalik, dia hendak melangkah masuk ke dalam mobil nya lagi, malas jika berurusan dengan wanita masa lalu suaminya, rasa marah saat mengingat Elsa yang begitu tidak malu nya mencium bibir Davvien. Ingin dia mematahkan tangan Elsa karna telah berani memeluk suaminya.
"Kau sengaja Nona Vera menyebut dia suami mu untuk memanasi saya?"
Vera kembali menghentikan langkah nya, berbalik dia pun tersenyum sinis pada Elsa.
"Kalau pun saya sengaja tidak ada salahnya, kan dia memang suami saya, dan masalah anda yang merasa panas itu urusan anda, dan saya rasa anda tidak perlu marah saat saya menyebut nya suami saya karna anda bukan siapa-siapa nya lagi"
Amarah Elsa semakin memuncak mendengar ucapan Vera.
"Dasar kamu wanita perebut"
Elsa melangkah maju dengan sangat cepat.
"Apa anda sedang mengatai diri anda sendiri nona Elsa, saya tidak pernah merebut siapapun dan dari siapapun, bukan kah saat saya di nikahkan oleh nya kalian sudah tidak mempunyai hubungan apa pun, dan saya rasa sebaik nya anda mengaca dulu, kata kata itu pantas untuk diri anda sendiri, sudah tau dia sudah mempunyai istri, tapi anda malah menggoda nya bahkan aku sebagai perempuan malu saat mengingat mu dengan tanpa rasa takut mencium seseorang yang sudah beristri, tapi sayang nya lelaki ku cukup sadar sehingga dia tidak mudah tergoda dengan demit- demit yang ingin menghancurkan kebhagiaan nya"
__ADS_1
Bagaimana Boomerang untuk dirinya sendiri, kata kata Vera begitu menohok hati Elsa, dia jatuh dalam omongan nya sendiri.
"Kurang aj*r kamu wanita sial*n"
Elsa yang sudah tidak bisa menahan amarahnya pun ingin melayang kan tamparan untuk Vera, namun Vera dengan sigap menahan tangan Elsa lalu memelintirkan nya ke belakang.
"Aw,,,"
Jerit Elsa saat Vera begitu keras melintir tangan nya.
"Dengar nona Elsa, aku bukan wanita lemah yang bisa anda tindas, perlu anda tau saya tidak akan melepaskan suami saya, jadi lakukan lah semau mu"
Dengan kasar Vera mendorong Elsa hingga tubuh Elsa terpingkal ke tanah, Vera kembali ingin masuk ke dalam mobil nya.
Sedangkan Elsa yang memang sudah sangat marah bangkit, dia hendak menyerang Vera dari belakang.
"Nak Vera awas"
Teriak pak Toni, Vera langsung memutar badan nya, tanpa sengaja dia mengangkat kakinya lalu menendang Elsa dengan begitu kuat, tendangan nya tepat mengenai perut Elsa hingga Elsa kembali terjatuh dan terbatuk-batuk.
Para bodyguard yang melihat begitu panik, mereka ingin berlari menyelamatkan Vera, namun mereka tercengang melihat Vera menendang Elsa bagaikan orang ahli dalam jurus taekwondo.
Vera merasa iba melihat Elsa, namun dia tidak ingin terlihat lemah.
"Itu cukup, jadikan pelajaran untuk mu Nona Elsa, belajar lah mengikhlaskan, cari lah kebahagiaan mu sendiri"
Vera masuk ke dalam mobil, mereka pun meninggalkan Elsa yang masih menahan rasa sakit di perut nya, dia mengepalkan tangan nya.
"Mengikhlaskan, aku tidak akan menyerah sebelum mendapatkan apa yang ku inginkan, aku akan membalas semua perbuatan mu pada ku, itu janji ku"
Ucap Elsa dengan mata memerah.
"Kenapa dia sangat kuat ya, sampai sampai perut ku terasa begitu sakit.
Dia pun berjalan masuk ke dalam mobil nya dan pergi dari tempat itu.
...----------------...
Sedangkan para bodyguard yang di utus Davvien sudah melaporkan semua kejadian yang barusan mereka lihat.
Tangan Davvien terkepal kuat, rasanya dia ingin membunuh Elsa, namun mengingat janji nya pada sang istri Davvien tidak bisa berbuat apa apa.
"Kali ini aku berbaik hati karna kau tidak sampai menyakiti istri ku, dan dia yang menyakiti mu, tapi jika kau berani menyentuh istri ku lagi, lihat lah macan asia ini akan turun langsung menghabisi mu"
Janji Davvien dengan tangan kembali terkepal kuat.
~Bersambung.
__ADS_1
Halo para reader, sambil nunggu novel ku up, kita mampir si sini yok.