
Pulang mengantar anak-anak nya ke sekolah, Vera membereskan kamar si kembar. Syakir dan Syakira memang masih tidur satu kamar, karna Syakira tidak mau tidur jika bukan dengan kakak lelakinya itu. Hanya tempat tidur saja yang sudah di ganti oleh Davvien.
Selesai membereskan kamar si kembar, dia langsung melangkah ke dapur untuk memasak, ibu dua anak ini seperti nya tidak kenal rasa lelah.
Satu jam dia berkutat di dapur, Vera melirik jam di dinding sudah pukul sebelas siang, langsung saja istri dari Davvien membersihkan dirinya terlebih dahulu.
Selesai semuanya, Vera keluar dari dalam kamar, menuruni tangga satu persatu.
"Bi, kalau anak-anak pulang langsung suruh makan, ya!" ujar Vera kepada bi Aini sambil menyerahkan rantang yang akan di bawa Vera ke kantor.
"Iya, Nak! hati-hati ya!" ucap bi Aini lagi.
"Iya, bi!" Vera langsung melenggang pergi, keluar dari rumah lalu masuk ke dalam mobil.
Sampai di kantor, seperti biasa Vera di sapa oleh semua karyawan yang dia lewati menuju ruangan sang suami. Sekarang di sini lah, Vera sedang menyuapi bayi besar yang selalu manja pada dirinya.
...----------------...
Sedangkan di ruangan yang lain, Intan juga sedang menyuapi Fero, kedua lelaki yang dulunya dingin bagaikan gunung es, kini menghangat dan mencair karna wanita yang kini menghiasi hari-hari nya.
"Masakan kamu sangat enak, sayang! Jika aku berhenti bekerja di sini, kita bisa membuka restoran!" goda Fero.
Sambil tertawa Intan menjawab "Boleh, aku yang jadi juru masak nya, honey jadi pelayan nya, ya!" timpal Intan, langsung membuat Fero cemberut.
"Masak aku jadi pelayan sih yang! yang benar saja, masak sekertaris terkenal jadi pelayan istrinya sendiri!" jawab Fero dengan ketus, wajah nya langsung cemberut. Dan itu langsung membuat Intan tertawa lepas.
"Ha ha ha ... Katanya kan mau berhenti jadi sekertaris dan mau membuka restoran!" ujar Intan, Fero kalah telak. Tujuan nya dia yang ingin menggoda sang istri, malah dia yang di godain sama Intan.
"Kalau aku yang jadi pelayan, jangan marah ya jika cewek-cewek godain aku! Awwww!" Fero langsung memekik kesakitan, karna Intan langsung mencubit pinggang nya.
"Sakit, honey!" tukas Fero protes.
"Habisnya, belum apa-apa kamu sudah mengharap cewek-cewek deketin kamu!" tukas Intan, sekarang dia yang berubah cemberut.
"Ululu istri ku cemburu!" celetuk Vera semakin menggoda Intan.
"Jangan khawatir, sayang! cinta dan sayang ku hanya untuk mu!" gombal Fero.
__ADS_1
Intan bergidik geli mendengar gombalan Fero, karna suaminya dingin nya sangat jarang membual kata-kata romantis.
Author saja ingin tertawa, membayangkan babang Fero muka tembok menggombal 😂.
"Sudah ah, kamu tidak cocok jadi penggombal!" Intan membereskan kotak makan Fero dan juga dirinya.
"Aku mau pulang dulu, mungkin Aidan juga sudah pulang!" ujar Intan, dia bangun dan menyalami tangan sang suami.
Namun, bukan nya dapat keluar. Intan malah di tarik jatuh di pangkuan Fero.
"Aku mau pulang honey, takut nya Aidan sudah pu ... emmmm" ucapan Intan langsung terpotong tatkala sang suami mencium bibir ranum nya.
Cukup lama keduanya menikmati ciuman panas mereka, hingga akhirnya Fero melepaskan karna Intan sudah memukul-mukul dada Fero.
Keduanya tampak ngos-ngosan, Fero tersenyum, lalu tangan nya terangkat mengusap sudut bibir sang istri dengan ibu jarinya.
"Aku pulang dulu, ya!" ucap Intan, diapun mengambil tas yang berada di sebelah nya.
"Iya sayang, hati-hati!" jawab Fero.
"Waalaikum salam!" jawab Fero, dia tersenyum saat melihat sang istri melangkah keluar dari dalam ruangan nya.
Intan membuka pintu ruangan kerja sang suami, bertepatan dengan Vera yang juga baru keluar dari dalam ruangan Davvein.
"Eh, Ra!" panggil Intan.
Vera mendongak, sudut bibirnya langsung terangkat ke atas melihat Intan yang memanggilnya dirinya.
"Eh, Tan! kirain kamu hari ini juga tidak datang, maknanya aku nggak nungguin kamu!" ujar Vera sambil melangkah mendekati Intan.
"Aku lupa bilang sama kamu, Ra!" imbuh Intan,. keduanya pun langsung saja melangkah, masuk ke dalam lift agar bisa turun ke lantai satu, untuk tujuan pulang.
...----------------...
Sampai di rumah, Vera terlebih dulu masuk ke dalam kamar si kembar, dia melihat ke dua anaknya tidur begitu pulas.
Senyuman melengkung di bibirnya, tangan nya pun mengelus puncak kepala Syakir dan Syakira. Kedua anaknya ini memang raja tidur, semenjak mereka masih bayi.
__ADS_1
Setelah mencium kepala anak-anak nya, Vera keluar. Kakinya melangkah masuk ke dalam kamar nya sendiri yang berada tidak terlalu jauh dari kamar si kembar.
Ceklek...
Vera membuka daun pintu kayu kamarnya, dan menutup nya kembali. Saat dia membalikkan badannya, Vera mengerutkan keningnya melihat ada beberapa paper bag di atas tempat tidurnya.
Perlahan Vera mendekat, lalu melihat paper bag tersebut, karna penasaran, Vera pun melihat satu persatu isi dari dalam nya.
Yang pertama dia buka adalah paper bag yang berisi sebuah gaun, dengan tidak sabaran, ibu dua anak ini membuka nya. Terpampang lah gaun panjang berwarna merah. Tidak terlalu seksi, karna tentu saja yang membeli nya tidak ingin tubuh Vera menjadi pencuci mata untuk lelaki di luar sana.
Vera masih penasaran, diapun membuka paper bag yang lainnya, ternyata isinya sepatu dengan hak tidak terlalu tinggi, lalu dia membuka yang lainnya. Dan isinya tas branded limited edition.
Vera masih bingung melihat barang-barang di hadapannya. Vera mencari sesuatu, yang mungkin bisa membuat nya mengerti dan tau orang yang mengirim barang tersebut.
Sedangkan di sebuah ruangan, senyuman selalu menghiasi bibir nya, dia terus menatap sang istri yang sedang kebingungan lewat cctv kamar mereka yang terhubung pada laptop Davvien langsung.
Yap, barang-barang yang di kirimkan ke rumah untuk sang istri memang dari Davvien, bagaimana bisa dia mengirim nya, kan dia di kantor.
Apa sih yang nggak bisa di lakukan oleh sultan, jadi kalian tidak perlu bingung.
"Aku tidak sabar melihat mu memakai gaun itu, sayang!" gumam Davvien sendiri, sambil matanya terus memperhatikan sang istri.
Kembali ke kamar ... Vera terus mencari, hingga dia menemukan secarik kertas yang berada dalam paper bag kecil yang berisi kan kalung berlian di dalam nya. Vera mengambil kertas tersebut, lalu membacanya.
..."Untuk istri ku tercinta, bersiaplah! pakailah gaun dan juga barang yang sudah aku kirimkan, nanti malam aku akan menjemputmu, kita akan makan malam bersama di luar"...
.
.
.
.
.
~Bersambung.
__ADS_1