Gadis Penakluk Mafia Karatan

Gadis Penakluk Mafia Karatan
Ternyata dia biang keroknya


__ADS_3

🌷Flashback on


Setelah menghubungi Vera, Fero langsung menghubungi dokter Hendri.


"Hendri, cepat kau pergi ke rumah Davvien SEKARANG"


Perintah Fero saat telepon tersambung, dengan menekan di ujung kalimat.


"Memang nya ada apa, siapa yang sakit?"


Tanya dokter Hendri yang mendapat telpon tiba tiba dari asisten Tuan nya.


Hendri adalah dokter keluarga WILMAR, dia bekerja di rumah sakit yang terdapat saham terbesar dari perusahaan Davvien.


"Tadi Davvien menelpon ku dia mengatakan kalau jantung nya bermasalah"


Ucap Fero lagi, berusaha menjelaskan nya.


"Cepat, tidak ada waktu lagi atau nanti akan terjadi sesuatu sama Tuan, ingat ke rumah Davvien jangan ke rumah utama"


"Baik"


Dengan tergesa gesa dokter Hendri langsung pergi ke rumah Davvien, dia pun ikut panik saat mendengar kalau tuan nya sedang sakit jantung.


Flashback off


Saat ini ruangan di dalam kamar Davvien terasa begitu mencengkram, setelah mendengar penjelasan dari dokter Hendri dan Vera bahwa mereka di beri tahukan oleh Fero kalau Davvien sakit jantung, ternyata dia biang kerok nya, Davvien benar benar marah karna mereka telah berani menganiaya dirinya.


Ruangan itu berubah dingin lebih dingin dari pada lemari es, Davvien duduk di sofa dengan raut wajah yang sangat menyeramkan, mata nya berubah memerah menahan emosi, tangan terkepal kuat, rahang nya mengeras, sungguh saat ini Davvien sangat marah.


Sedangkan ketiga orang itu berdiri mematung dengan Vera di himpit oleh Fero dan dokter Hendri , melihat ekspresi wajah Davvien mereka hanya bisa diam, posisi mereka saat ini bagaikan tengah di sidang karna menghilangkan seribu nyawa manusia, tidak ada yang berani bergerak apalagi bersuara, Fero yang merasa dirinya paling berperan dalam kejadian ini pun menelan saliva nya secara kasar, sesekali dia melonggarkan dasi yang terasa mencekik lehernya itu.


Sungguh mereka benar benar takut melihat kemarahan baginda Raja.


Di saat suasana demikian, tiba tiba ponsel Vera berbunyi, dia meletakkan tas di atas tempat tidur Davvien.


Vera melirik pada tas yang berisikan ponsel didalam nya, tapi tiba tiba Vera kembali menunduk saat di lihat nya Davvien melihat ke arah nya dengan tatapan tajam.


"Apa kalian tau kesalahan kalian?"


Tanya Davvien yang memulai berbicara, sedangkan mereka hanya diam.


"Jawab"


Bentak Davvien, dan tentu saja mereka bertiga kaget mendengar teriakan Davvien.


"I iya Tuan, kami salah"


Jawab mereka bertiga secara kompak.


"Ya kalian memang salah, kalian telah menganiaya diriku ini"


Lanjut Davvien yang sudah berdiri dan mengelilingi mereka bertiga.


"Tapi karna kami merasa khawatir pada mu Tuan" Ujar Fero.


''Iya Tuan, kami hanya tidak ingin terjadi apa apa sama tuan"


Bantu Vera, dan dokter Hendri hanya mengangguk membenarkan perkataan mereka.


"Mengkhawatirkan, kalian malah mendoakan aku agar terkena serangan jantung"


Saat Davvien terus mengintimidasi mereka, tiba tiba terdengar suara orang berlari ke arah kamar nya, suara itu semakin mendekat dan


"Davvien, kamu tidak apa apa nak?"


Tanya Ny.Andin yang baru sampai bersama Tn.Andre, Ny.Andin langsung mendekati Davvien dia benar benar khawatir pada anak semata wayang nya itu.


"Katakan kamu kenapa?


"Iya nak, sejak kapan kamu merasakan sakit seperti ini"


Timpal Tn.Andre yang juga ikut panik pada keadaan putra satu satunya itu.


Davvien lagi lagi melihat pada Fero meminta penjelasan, sedangkan Fero yang di tatap pun langsung memegang tengkuk belakang lehernya, tentu saja dia juga yang memberi tahu Mommy dan Daddy nya.


"Hehehe Mommy Daddy, Davvien sudah tidak apa apa, ini hanya sedikit salah paham"


Jelas Fero sambil tercingir kuda.


"Salah paham bagaimana"


Ny.Andin pun merasa heran karna melihat anaknya berdiri tegap tidak terlihat seperti orang sakit.


"Ah sudah lah Mom, aku tidak apa apa mungkin Fero sudah bosan bekerja dengan ku makanya dia berbuat ulah supaya ada alasan ku untuk memecat nya"

__ADS_1


Mendengar ucapan Davvien Fero langsung kaget, bagaimana mungkin dia bosan kerja bersama Davvien yang gajinya luaaarrrr biasa"


"Eh nggak Vien, kan aku sudah menjelaskan tadi cuman salah paham aku cuman tidak ingin terjadi apa apa sama kamu"


"Aku tidak ingin mendengar apapun lagi, sekarang kamu pergi dari hadapan ku urus kantor dengan benar, CEPAT"


Teriak Davvien, Fero langsung mengambil langkah seribu sebelum sang Tuan berubah pikiran.


"Hufff Daddy kira kamu sudah sekarat hampir Daddy yang terkena serangan jantung mendengar kabar itu, kalau begitu Daddy kembali ke kantor, Mommy mau pulang sekarang?"


"Enggak Dad, Daddy langsung ke kantor saja, Mommy mau bersama menantu Mommy dulu, sejak mereka pindah mereka tidak pernah mengunjungi kita lagi"


Jawab Ny.Andin tersenyum pada Vera, dia memang sudah sangat rindu pada menantu kesayangan nya itu.


"Heheh maaf Mommy, Vera sibuk kuliah"


"Iya sayang Mommy ngerti kok"


"Ya sudah Daddy berangkat dulu, nanti setelah pulang kantor Daddy singgah disini lagi menjemput Mommy"


"Iya, Daddy hati hati ya"


Tn.Andre pun keluar, perasaan nya sudah lega saat melihat anaknya sehat wal afiat.


Sungguh karna ulah Fero hampir semua orang terkena serangan jantung.


Sedangkan Davvien meminta waktu untuk dia bicara pada dokter Hendri.


Mommy dan Vera pun keluar, mereka berencana ke halaman belakang yang masih rata seperti lapangan.


Sebelum itu, Vera sempat mengambil tas yang sedari tadi ingin dia lihat siapa yang menelepon nya, dia mengatakan pada Mommy kalau dia akan nyusul karna Vera ingin menjawab telpon sebentar.


"Halo Tan ada apa, loe sudah bertemu sama pak Toni kan dia udah ngasih tugas gw sama loe ?"


Tanya Vera saat Intan menjawab telpon dari nya, yap tadi yang menelpon adalah Intan.


"Udah kok udah gw kasih juga, lagian loe kenapa nggak masuk, loe sakit?"


"Nggak kok, tadi cuman sedikit salah paham.hehehe"


"Oehhh gw kira loe sakit gw jadi hawatir"


"Uhhhh sahabat gw perhatiin banget sih.....meleleh gw"


"Heumm oke lah by"


Mereka mengakhiri panggilan nya, Vera langsung berjalan pada mertuanya yang sudah pasti sedang menunggu nya.


"Mommy, mau Vera buatkan teh?"


Tanya Vera yang sudah sampai, dia melihat sang mertua yang duduk di bangku halaman belakang


"Ehhh nggak usah sayang, ayo sini duduk dulu"


"Iyo Mom, di sini tu nggak ada apa apa nggak kayak taman belakang rumah Mommy banyak bunga nya, kemaren Vera sempat mau beli bibit bunga buat di tanam di sini tapi nggak jadi"


"Emang nya kenapa?"


Vera ingat, dia tidak jadi membeli bunga karna bertemu dengan Riko.


"Ada halangan kemaren nggak jadi pergi"


Jawab Vera, raut wajah nya berubah menjadi sendu, Ny.Andin memperhatikan menantunya itu, lalu dia tersenyum.


"Kamu mau bunga seperti rumah Mommy?"


"Mau, bungan di rumah Mommy sangat indah"


"Ya sudah nanti Mommy suruh supir buat hantarkan bibit bunga di rumah Mommy untuk kamu"


Mendengar itu, Vera langsung merasa senang.


"Wah benar kah Mommy?


Tanya Vera kegirangan, dan di angguki oleh Ny.Andin, melihat Vera seperti itu Ny.Andin merasa sangat gemes, menentu nya terkadang bersikap seperti anak kecil.


Mereka pun lanjut mengobrol, banyak yang Ny.Andin tanyakan pada Vera.


...----------------...


Di kamar...


"Karna kau sudah di sini ayo cepat periksa aku"


Perintah Davvien yang kembali membuat dokter Hendri bingung, bagaimana tidak tadi Davvien marah saat dokter Hendri ingin memeriksa nya, dan sekarang malah menyuruh nya untuk diperiksa lagi.

__ADS_1


"Kenapa kau malah diam, apa kau tidak dengar ku bilang periksa aku"


Dokter Hendri yang melamun pun langsung tersadar.


"Baik tuan, ayo silahkan anda berbaring"


Dokter Hendri mulai memeriksa denyut nadi dan jantung Davvien, semua nya normal tidak ada yang perlu di cemaskan.


"Bagaimana?" Tanya Davvien.


"Semuanya normal tidak ada yang perlu di khawatir kan"


Jawab dokter Hendri sambil tersenyum.


"Bagaimana mungkin، aku sering merasakan detak jantung ku suka tidak karuan, kadang kadang terasa seperti ingin keluar"


Mendengar keluhan Davvien dokter Hendri kembali berfikir.


"Apa kah itu sakit?"


"Tidak, hanya gelisah dan kadang kadang suhu badan ku terasa panas, apa aku demam tiba tiba?"


"Apakah anda sering mengalami nya tuan?"


"Iya setiap gadis gila itu tersenyum pada ku"


Ucap Davvien polos, mendengar perkataan Davvien, dokter Hendri tambah bingung.


"Apa, gadis gila mana maksud tuan"


"Ya dia yang tadi ada di sini, setiap dia tersenyum jantung ku selalu saya berdetak cepat"


"Maaf, apa maksud Tuan istri anda?


"Ya iya lah, kan yang ada perempuan di sini cuma dia dan Mommy, bahkan bukan cuma itu di saat dia baik pada ku jantung ku juga meronta-ronta, seperti nya jantung ku di sihir oleh wanita itu"


Dengan polos nya dia menceritakan segalanya, dokter Hendri seperti mendengar ocehan anak TK yang masih labil yang belum mengerti apa apa, sudah jelas kalau dirinya sekarang sedang jatuh cinta.


Dokter Hendri tersenyum pada Davvien lalu menjawab.


"Kalau begitu keluhan anda, tidak ada obat dari saya tuan"


"Apa maksud mu, kau kan seorang dokter, tugasnya ya mengobati"


Kesal Davvien mendengar jawaban Hendri.


"Ya karna obat nya ada pada istri anda"


"Apa, jadi dia beneran menyihir ku"


"Iya, dia menyihir tuan dengan cinta nya"


Dokter Hendri tersenyum, rasanya dia ingin tertawa lepas melihat Davvien kebingungan.


"Apa maksud mu Hendri, bicara yang jelas"


Davvien semakin kesal, karna Dokter Hendri nampak tersenyum pada nya.


"Anda sedang jatuh cinta tuan"


Davvien terdiam mendengar perkataan dokter Hendri, dia berfikir apakah benar yang di katakan oleh dokter Hendri, tapi akal pikiran nya tidak mau menerima kalau dia yang lebih dulu mencintai perempuan itu, karna dulu dia yang mengatakan pada wanita itu supaya tidak mencintai nya, tidak mungkin dia menjilat ludahnya sendiri.


"Apa kau bilang Hendri, sebaiknya kau pergi ke luar negri untuk melanjutkan pendidikan mu, seperti nya kau belum cukup pandai untuk menjadi seorang dokter. kau hanya asal bicara, jantung ku yang bermasalah malah kau kaitkan dengan perempuan itu"


Davvien tak terima Hendri mengatakan kalau dirinya sedang jatuh cinta pada istrinya itu.


Dokter Hendri langsung melebarkan matanya mendengar ucapan Davvien.


"Cepat keluar"


Bentak Davvien, dan Dokter Hendri langsung pergi meninggalkan macan yang mungkin kembali akan mengamuk.


Davvien kembali berfikir, apa dia benar benar jatuh cinta atau kah karna dia terlalu capek, kalau pun dia sedang jatuh cinta yang jelas dia tidak akan mengakui nya di depan Vera, dia sangat menjaga image nya supaya Vera tidak menertawakan nya.


"Kedua orang itu sudah tidak waras"


Gerutu Davvien mengingat betapa bodoh nya dokter Hendri karna sudah mengatakan dirinya jatuh cinta, dan Fero yang hampir membuat semua orang panik karna ulah nya.


~Bersambung.


Bagaimana ya, apa Davvien akan mengakuinya kalau dia sudah cinta sama istrinya, atau dia akan menguburkan kembali rasa di hatinya.


Ikutin terus, Like dong, dan komen juga ya.


Aku membutuhkan dukungan kalian😁😁

__ADS_1


__ADS_2