Gadis Penakluk Mafia Karatan

Gadis Penakluk Mafia Karatan
Berhasil mencetak gol.


__ADS_3

Lanjut ya para Reader....


Setelah di beritahu oleh sang istri bahwa mereka akan segera mendapatkan cucu, Tn.Andre sangat bahagia, rasanya ingin cepat menemui menantu nya itu, namun karna pekerjaan yang tidak bisa di tunda nya, membuat Tn.Andre harus mengulur waktu.


Tn.Andre mengatakan kalau dirinya akan menemui sang menantu setelah pulang dari kantor.


...----------------...


Di kantin kampus...


Terlihat tiga orang yang bersahabat dengan baik duduk pada sebuah meja yang sering mereka duduki, biasanya ber empat.


"Nggak asih ya nggak ada Vera"


Ujar Tania dengan muka masam.


"Padahal gw mau membagi kabar bahagia sama kalian, tapi kurang deh"


"Kabar apa Nia, loe kan bisa cerita in sama kita nanti baru loe kasih tau sama Vera?"


Tanya Rani, kali ini Intan yang terlihat tidak bersemangat.


"Hehe gw gw sudah jadian sama Aldi"


"Hah serius loe, selamat ya"


Rani pun mengucap kan selamat pada Tania, yang seharus nya di ucapin selamat kan sama Aldi karna dia yang telah menaklukkan Tania.


"Tan, loe kenapa sih tumben bangat loe hanya diam, loe nggak ngasih selamat buat gw udah jadian loh"


Celetuk Tania membuyarkan lamunan Intan, bagaimana Intan tidak diam, jika sahabat nya sedang bahagia namun terbalik dengan dirinya, dia bahkan tidak sedikit pun di lirik oleh orang yang di cintainya.


"Nggak kok, selamat ya semoga kalian tuh bisa bersama selamanya"


Intan mencoba tersenyum, namun Tania dan Rani dapat melihat kalau sahabat nya itu tidak sedang baik-baik saja.


"Kalau ada masalah cerita Tan"


"Eh nggak kok, gw hanya kepikiran Vera kenapa dia sekarang sangat sering sakit ya"


"Iya, bagaimana kalau pulang dari sini kita jenguk Vera ya"


"Setuju"


Rani jawab dengan antusias, sedangkan Intan hanya diam, dia kalut dengan pikiran nya sendiri.


"Kalau aku ke sana lelaki sombong itu pasti juga di sana, tapi kalau aku tidak ke sana aku juga sangat khawatir pada Vera, ah bodoh lah persetan dengan lelaki itu Vera jauh lebih penting"


Tania dan Rani lagi lagi melihat aneh pada Intan, biasanya dia yang selalu bersemangat jika untuk bertemu Vera, tapi kali ini berbeda.


"Tan, loe kenapa sih kalau loe ada masalah cerita dong sama kita, apa loe hanya mempercayai masalah loe pada Vera"


Tanya Tania lagi, pertanyaan nya membuat Intan merasa tidak enak.


"Bukan begitu,,, hais baik lah''


Intan sempat terdiam, lalu dia pun mulai bercerita dari perasaan nya yang sedikit demi sedikit tumbuh untuk Fero, sampai pada Fero menghina Intan.


Tania dan Rani tercengang mendengar cerita Intan, pasalnya sahabat mereka yang satu ini tidak pernah tertarik pada lelaki manapun, mereka juga merasa kasihan pada Intan karna setelah dia menyukai seseorang malah mendapat hinaan dari orang tersebut.


"Sabar ya Tan, mungkin dia bukan yang baik buat loe"


Ujar Rani memberi semangat pada sahabat nya itu, dia dapat merasakan bagaimana sakit nya jadi Intan.

__ADS_1


Begitu pun dengan Tania, dia tidak rela jika sahabat yang dia sayangi di hina oleh orang lain.


"Tenang Tan, loe lihat saja suatu hari akan banyak orang yang ngejar-ngejar loe termasuk pria arogan itu, tapi loe harus ikutin semuuuuua perintah dari kita"


"Memang nya kalian mau apa?"


"Sudah, kamu tidak perlu tau yang penting kamu sekarang harus sabar dan semangat"


...----------------...


"Sayang kamu makan ya"


"Tidak syang, aku tidak berselera"


"Kan kamu harus makan banyak supaya Baby nya sehat, kamu juga kuat"


"Sayang, aku tidak mau"


Uuuueeeekkk,,,,,


Davvien langsung menjauhkan piring makanan dari hadapan istrinya, rasa khawatir kembali menusuk relung hatinya.


"Sayang aku tidak tega melihat mu begini, andai bisa aku siap untuk berbagi sakit dengan mu"


Davvien sudah duduk di samping Vera, mereka saat ini duduk di balkon kamar, dia mencium kepala istri nya lalu mengelus dengan begitu lembut.


"Sayang, kamu jangan bicara seperti itu aku ikhlas menjalani semuanya, meski saat ini aku sedang kesusahan tapi percayalah ini adalah sesuatu anugrah yang membuat ku sangat bahagia"


"Terima kasih sayang, kau mau menderita demi anak kita"


"Aku tidak menderita sayang, ini adalah proses"


Davvien kembali memeluk istrinya dengan begitu erat, sungguh Vera seorang wanita yang kuat, tidak pernah terlontar dari bibir nya keluhan apapun yang di alaminya.


"Sayang, boleh minta tolong?"


"Apapun sayang"


"Tolong hubungi Daddy, rasanya belum lengkap bila aku belum membagi kebahagiaan ini dengan Daddy"


"Ya ampun, aku sampai lupa maaf ya sayang, terlalu panik jadi aku tidak sempat memberi tau Daddy, tunggu sebentar"


Davvien mengambil ponsel, langsung menghubungi kontak mertuanya, Davvien meng vidio call sang mertua.


"Halo nak, ada apa?"


Suara lelaki di seberang sana, Vera merasa sedih mendengar dan melihat sang Daddy, karna sudah lama dia tidak bertemu dengan cinta pertamanya itu.


"Ini Dad, Vera ingin bicara pada Daddy"


"Iya sayang, apa kau merindukan Daddy?"


"Iya Dad, Vera sangat merindukan Daddy"


"Oh syukur lah, Daddy kira anak perempuan Daddy sudah tidak ingat lagi sama Daddy nya setelah mencintai suaminya"


"Daddy bicara apa, Daddy kan cinta pertama Vera"


Mendengar itu Davvien tidak rela, emosinya sedikit meningkat Davvien benar benar tidak suka jika bukan dirinya yang pertama buat Vera, tapi apa lah daya nya tidak mungkin dia melarang sang istri untuk tidak mencintai sang Daddy orang yang telah membesarkan istrinya.


Tn.Diwan terkekeh mendengar jawaban putri kesayangannya.


"Dad, kami punya kabar bahagia"

__ADS_1


Davvien langsung angkat bicara, dia sudah tidak sabar memberi tau pada mertua kalau dia telah berhasil mencetak gol pada rahim istri nya.


"Katakan nak, apa kabar bahagia nya"


"Aku telah berhasil Dad, benih unggul ku telah tumbuh"


Davvien berputar-putar, membuat Tn.Diwan sedikit bingung.


Vera mencubit perut Davvien mendengar perkataan memalukan suaminya.


"Aw,, sakit sayang"


"Beritahu dengan jelas, tidak usah berputar-putar seperti itu, kau membuat Daddy bingung saja"


Kesal Vera pada suaminya yang seperti nya sudah tidak ada malu lagi.


"Maksud kamu apa nak"


"Hehe, dalam perut istri ku sudah ada Davvien junior Dad, daddy akan segera menjadi kakek"


Mendengar itu mata Tn.Diwan langsung berbinar.


"Alhamdulillah, apa kalian serius"


"Iya Dad, aku hebat kan karna berhasil mencetak gol"


Davvien mengelus perut rata istrinya, Vera lagi lagi merasa malu dia kembali memukul perut Davvien dengan sikunya.


"Selamat untuk kalian berdua, Daddy sangat bahagia, untuk mu boy. Jaga putri dan juga calon cucu Daddy"


"Sip Dad, kalau Daddy sempat sehabis pulang kerja mampir lah di sini, karna Mommy dan Daddy ku nanti akan makan malam disini"


"Oh besan ku juga sudah tau, baik lah nanti Daddy akan mampir"


"Ya sudah ya Dad, aku tidak mau istriku lama lama berada di luar"


Tanpa sopan santun Davvien langsung mematikan sambungan mertuanya.


"Kenapa tidak sopan sedikit pun, setidaknya ucap kan salam pada orang tua"


"Hehe maaf sayang, sekarang kamu masuk ke dalam ya"


"Tapi aku masih ingin di sini"


"Tidak bisa syang, kamu tidak makan jadi aku takut kalau kamu di sini nanti kamu masuk angin"


Vera hendak menjawab namun suara ketukan pintu mengalihkan pandangan mereka.


"Masuk"


Di balik pintu terlihat lah Ny.Andih sedang membawa piring yang penuh dengan buah segar telah di cuci dan di potong potong dadu.


"Vien, kamu makan dulu biar Mommy temenin Vera, jika tidak bisa makan nasi dia bisa makan buah"


"Tidak Mom, Davvien tidak lapar lebih baik Davvien yang suapi Vera"


"Stop, jika kamu tidak mau makan maka aku juga tidak akan makan"


Mendengar ancaman Vera Davvien pun mengalah, dia pun berjalan meninggalkan istri bersama Mommy nya.


"Sekarang kamu makan ini saja ya sayang, supaya rasa mual nya mereda"


"Heumm ini lebih baik Mom"

__ADS_1


Vera pun melahap buah yang di berikan mertuanya.


~Bersambung


__ADS_2