
Davvien dan Fero berputar di sekitar taman, namun tidak menemukan Vera, hingga suara tembakan mengehentikan mereka.
Davvien dan Fero saling menatap, sepersekian detik mereka pun langsung berlari ke dalam ruang latihan.
Dorrr
"Sayang"
Davvien sudah sangat khawatir mendengar suran tembakan dan terlebih yang membuat nya khawatir karna Vera memegang pistol, Davvien fikir karna marah Vera sembarangan memegang benda itu, dia takut Vera menembak sembarang arah.
Sedangkan Vera langsung mengalihkan pandangannya pada Davvien yang sudah berdiri di ambang pintu bersama Fero.
"Sayang, jangan main-main dengan benda itu, itu sangat berbahaya, kamu kalau marah jangan bahaya kan dirimu sendiri, ayo lepaskan pistol itu sayang"
Vera melihat Davvien dengan tangan nya masih memegang pistol dan mengarahkan nya pada sasaran, dengan tatapan nya yang seolah membunuh pada Davvien dia melepaskan pelatuk nya.
Dorrrr
Dengan sebelah tangan tanpa melihat Vera dapat menembak tepat di sasaran, Davvien tercengang dengan apa yang barusan dia lihat, apa lagi Fero, dia begitu syok dengan apa yang di lakukan Vera.
Davvien mendekati Vera yang masih menatap nya tajam, berencana menenangkan sang istri, Vera tidak bergeming dia masih dalam posisi nya memegang pistol.
Saat Davvien sudah dekat dengan Vera, siapa sangka Vera meletakkan pistolnya dan langsung menyerang Davvien, dengan segala jurus yang telah dia pelajari.
Vera seperti nya lupa siapa yang di serang nya, tanpa memikirkan dosa Vera yang marah tak segan-segan memberikan pukulan bahkan tendangan untuk Davvien, sedangkan Davvien yang juga ahli dalam ilmu bela diri hanya menangkis pukulan sang istri, meskipun kewalahan Davvien sama sekali tidak niat membalas apa lagi melihat sang istri yang seperti nya sudah sangat lincah dalam hal melompat, memukul dan menendang.
"Sayang, apa yang kamu lakukan sadar lah sayang"
Hanya itu yang bisa Davvien ucap kan di sela-sela menangkap pukulan sang istri, dia terus saja berfikir bagaimana bisa istrinya yang begitu lembut kini berubah menjadi seorang yang kuat bagaikan panglima perang.
Fero sudah mematung, bahkan dia masih belum percaya apa yang dia lihat saat ini, dia menatap setiap gerak kaki Vera, sudah tidak di ragukan lagi kalau Vera memang pandai dalam hal ilmu bela diri.
"Sayang sudah cukup, jangan sakiti diri sendiri"
Davvien yang merasa capek menghindari serangan Vera akhirnya berhasil menangkap tangan Vera lalu di kaitkan ke belakang.
"Sayang sudah cukup, jangan buat dirimu lelah kasian anak kita"
Mendengar kata anak Vera langsung melepaskan tangan nya dari Davvien, dia merasa menyesal karna telah melupakan bayi dalam perut nya yang kini dia kandung, untung tidak terjadi apa-apa, atau Vera tidak akan pernah bisa memaafkan diri nya sendiri.
"Anak mama tidak apa apa kan, maafkan mama nak, mama lupa nak karna emosi mama sudah sangat memuncak pada papamu ini"
Ucap Vera sambil mengelus perut nya itu, meski tau Davvien tidak salah, ntah kenapa Vera tetap merasa marah saat melihat Davvien,
"Sayang ... maaf kan aku, itu tidak seperti yang kamu bayangkan, aku bisa membuktikan nya"
Davvien mengira jika Vera salah paham, dia pun mendekati Vera mencoba memeluk Vera dari belakang, namun dengan cepat Vera melangkah meninggalkan Davvien.
"Aku tau"
Vera langsung mendekati Fero yang masih mematung di ambang pintu.
"Kak, bawa aku ke kamar"
Davvien melotot, tangan nya langsung terkepal, Fero masih diam, posisinya saat ini lagi lagi seperti buah srimalakama.
"Kak ayo bawa aku ke dalam kamar"
Fero mengangguk, dia ingin meraih tangan Vera.
"Satu langkah kau melangkah akan kupotong kaki mu saat ini juga Fero"
Mendengar itu Fero berhenti, mana berani dia membantah apa lagi mendengar suara Davvien yang begitu marah.
"Menyebalkan"
Vera menghentakkan kakinya karna merasa kesal dia pun melenggang pergi dari dua manusia yang di runding kekhawatiran, yang satu takut istri marah yang satu takut tidak bisa berjalan lagi.
__ADS_1
Davvien langsung menyusul Vera yang sudah masuk ke dalam kamar nya, dia melihat istrinya berdiri di balkon kamar sambil menatap ke depan.
"Sayang, kamu masih marah?, dengar kan aku dulu"
Davvien memeluk Vera dari belakang.
"Tidak perlu, aku sudah melihat semua nya"
Vera melepaskan diri dari pelukan sang suami.
"Sekarang kamu mandi, ganti pakaian mu yang sudah di sentuh wanita itu, lalu gosok gigi dan bibirmu hingga bersih, karna aku tidak suka ada bekas wanita lain di sana"
Ujar Vera dengan begitu ketus.
"Sayang, dia tidak sampai mencium"
"Aku sudah melihat semua nya, dia tidak sempat mencium mu, tapi dia sempat menempelkan bibirnya di bibir mu, oh atau kau tidak ingin menghilangkan bekas bibir wanita itu"
"Ya ampun sayang, oke aku mandi dulu aku akan membuang pakaian ini aku akan menggosok bibir ku hingga lima kali"
"Heummmmm"
Davvien langsung melangkah ke dalam kamar mandi, Vera pun menyiapkan pakaian sang suami, dia tetap tidak akan melupakan kewajiban nya sebagai istri.
...----------------...
Sedangkan di tempat yang berbeda,,,
Dalam sebuah hotel yang baru saja di pesan oleh asisten nya, kini lelaki tersebut merebahkan diri di atas kasur, dia menatap langit langit kamar hotel yang bercorak coklat kekuningan.
Tiba-tiba dia mengingat sesuatu.
"Aku lupa memberitahu mama"
Dia langsung mengeluarkan benda pipih dari dalam saku celananya, melihat begitu banyak panggilan tak terjawab dari sang mama.
Dia pun langsung menghubungi mama nya karna tau jika saat ini sedang mengkhawatirkan dirinya.
"Halo nak, kamu sudah sampai Frans?"
Suara lembut paruh baya di seberang sana selalu menyejukkan hati Frans.
"Sudah ma, maafkan Frans tadi sesudah sampai Frans langsung mengadakan meeting hingga tidak sempat menghubungi mama"
"Oh iya nak tidak apa apa, apa kamu sudah makan, kapan kamu pulang"
"Iya ma aku baru selesai makan, eum untuk pulang ... seperti nya Frans akan tinggal di sini beberapa hari dulu ma, ada sesuatu yang ingin Frans selidiki dulu, doakan Frans semoga Frans bisa membuktikan dan membawanya kepada mama"
"Apa itu nak, kamu jangan ngelakuin hal yang berbahaya"
"Tidak ma, nanti Frans akan beritahu, sudah dulu ya ma, Frans mau istirahat sebentar"
"Iya nak, jaga dirimu"
"Assalamualaikum ma"
"Waalaikum salam"
Sambungan pun terputus, Frans bertekad akan segera membuktikan jika yang dia lihat adalah sang adik, dia akan membawanya ke pada mama yang selalu merindukan adiknya itu.
...----------------...
...Mengapa cinta harus datang saat dia telah pergi, mengapa rasa harus hadir saat dia berpaling....
...Setelah diri ini banyak membuat luka, setelah diri ini selalu menyakiti nya, setelah diri ku ini sering menampar nya dengan sikap, perlakuan dan perkataan baru lah diri ini sadar, kalau dia begitu berarti dalam hidupku....
......Benar kata orang-orang, seseorang akan sangat berharga untuk kita saat orang tersebut telah pergi dan meninggalkan kita.......
__ADS_1
...Bahkan saat ini aku begitu ingin melihat nya, melihat tatapan nya yang selalu penuh cinta untuk ku, aku tidak ingin dirinya yang sekarang, aku hanya ingin dirinya yang dulu....
...Baru aku sadari, bahwa aku tertarik pada dirinya yang dulu bukanlah yang sekarang....
...----------------...
Setelah dari rumah Davvien, Fero yang dari semalam selalu memikirkan Intan menjadi tidak tenang sebelum melihat gadis itu dan meminta maaf.
Fero melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, tujuan nya hanya satu yaitu menemui Intan.
Mobil Fero sudah berhenti di halaman rumah Intan, langsung saja Fero turun dan melangkah mendekati pintu utama.
Tok,,,tok,,,tok,,,
Setelah mengetuk pintu, Fero menunggu beberapa saat, kemudian.
Ceklek....
"Eh tuan Fero ya"
"Iya bi, Intan nya ada?"
"Ada tuan, silahkan masuk"
"Siapa bi"
Suara wanita paruh baya dari dalam rumah.
"Eh ini nyah, tuan Fero"
"Oh di suruh masuk dong bi"
"Iya nyah, mari tuan masuk dulu"
"Iya bi"
Fero masuk, mamanya Intan langsung menghampiri Fero.
"Silahkan duduk dulu nak"
"Iya tante, Intan nya ada?"
"Ada, tunggu sebentar Tante panggilkan dulu"
Mamanya Intan berjalan menaiki tangga untuk memanggil putri satu-satunya, mamanya Intan tidak tau kalau pria yang baru dia sambut tadi sudah memporak-porandakan hari putri kesayangannya.
"Intan, kamu mau kemana sudah siap seperti ini?"
Tanya mamanya Intan saat melihat Intan sudah siap seperti ingin pergi, saat mamanya Intan ingin membuka pintu, tiba-tiba intan keluar dengan penampilan yang sudah rapi.
"Oh ya, Intan belum bilang sama Mama, sekarang aja Intan pamit mau pergi sama temen"
Intan langsung melangkah, mamanya Intan mengira Intan pergi sama Fero, di pikir mereka sudah janjian.
Intan menuruni tangga dengan kaki yang sudah dipakai kan sepatu sport, drees selutut berlengan pendek, tas kecil yang menenteng di bahu nya, rambut nya sengaja dia uraikan.
Mendengar suara langkah kaki, Fero mengalihkan pandangannya, begitupun Intan yang sudah terpaku melihat tamu yang duduk di sofa sedang menatap dirinya, tatapan mereka bertemu, Fero melihat Intan yang sudah sangat berubah, penampilan, wajah, dan juga sikap sungguh sangat berbeda.
"Apa kalian akan pergi bersama?"
Tanya mama Intan dari belakang Intan.
"Tidak ma"
"Iya tante"
~Bersambung
__ADS_1
Tak bosan bosannya aku menyapa kalian, aku juga mengucapkan terima kasih atas dukungan yang kalian berikan untuk karya gadungan ini.
Jika boleh aku meminta terus lah mengikuti cerita ini sampai tamat, dan terus lah mendukung nya dengan cara komen, like, vote, hadiah baik itu bungan ataupun kopi😁.