
Langsung lanjut ya,,,,,
...🌷HAPPY READING 🌷...
...----------------...
Intan begitu kaget melihat tamu yang dia sambut adalah lelaki yang selalu mengganggu pikiran nya, Intan mematung tidak tau harus berbuat apa, rasanya iya ingin pingsan karna grogi yang dia rasakan.
Intan begitu takjub melihat penampilan Fero, dengan kaos oblong putih melekat pas di tubuh atletis Fero, di padukan dengan celana berwarna mocca, rambut yang rapi tambah kaca mata hitam yang bertengger tepat di hidung nya yang sedikit mancung, rasanya Intan menjadi makin cinta kepada asisten dari suami sahabat nya itu.
Sedangkan Fero, tampak cuek dia sudah terbiasa dengan reaksi Intan yang selalu seperti itu saat bertemu dengan nya.
"Tu-tuan, anda ngapain ke sini?
Tanya Intan, dia menetralkan pikiran nya supaya tidak terlalu gugup.
Bukan nya menjawab, Fero langsung menarik tangan Intan, hal itu sukses membuat Intan kaget dan berteriak, Ratna mamanya Intan yang saat itu melewati ruangan tamu juga ikutan kaget mendengar teriakan Intan, dia mulai panik lalu berlari berlari ke dapur mengambil sapu, langsung saja mama-nya Intan berlari keluar menyelamati anak nya yang sedang di culik, pikir mama Intan.
Saat sampai dan melihat anak nya yang di seret untuk masuk ke dalam mobil tanpa berpikir lagi mama Intan langsung memukul Fero.
Phak
Phak
Phok
phok
''Rasakan kamu heuh, kamu mau menculik anak saya hah?"
Ratna Mamanya Intan terus memukul Fero menggunakan sapu.
Fero yang tidak siap pun kaget saat mendapat pukulan tiba tiba dari mama Intan hanya bisa menahan, mengangkat tangan nya di atas kepala menahan sapu dengan kedua lengan nya.
Intan yang menyaksikan nya pun langsung terbelalak, ibunya memukul Fero bagaikan seorang maling.
"Dasar kau penculik"
"Tan-tante aku bukan penculik, aku tidak menculik anak mu"
"Mana ada maling yang mau mengaku, kau mau menculik putri ku kan"
"Tidak tante, dia mengenali ku"
Fero sudah berlari mengelilingi mobil yang di kejar Tante Ratna dengan mengangkat sapu nya, Intan di buat bingung oleh mereka.
"Ma, mama sudah dia bukan penculik ma"
"Sudah Intan, kamu diam dia pasti mengancam mu kan"
Fero berlari tanpa henti, hingga mama Intan merasa kelelahan, dia pun berhenti dan berjongkok mengatur nafas nya yang tak beraturan lagi.
"Hei kau pencuri sialan, berdiri kamu jangan lari lagi"
Teriak mama Intan dengan nafas tersengal-sengal, dia mengangkat sapu menunjuk pada Fero yang bersembunyi di balik mobil.
Jika di lihat sekarang Fero bukan lah asisten sang mafia karna tidak berdaya saat di serang ibuk-ibuk garang seperti mama Intan.
"Ma, sudah ma dia tuan Fero asisten tuan Davvien suami Vera"
Jelas Intan dan di angguki oleh Fero.
Mendengar itu mamanya Intan langsung membulat kan matanya, siapa yang tidak kenal Davvien, orang yang sangat berpengaruh di dalam dunia bisnis, berita tentang nya sering di liput di TV dan media sosial.
"Apa, ja-jadi dia asisten nya tuan Davvien?"
"Iya ma, malah mama pukul pakek sapu lagi"
Mama nya Intan langsung merubah ekspresi wajah nya, tersenyum dengan hangat ke arah Fero.
"Maaf kan tante ya nak, tante tidak tau tante kira kamu mau nyulik anak tante"
__ADS_1
"Iya tante"
Ucap Fero tersenyum kikuk sambil memegang tangan nya yang terasa sakit akibat kena sapu dari Tante Ratna.
"Setelah tadi mukul pakek sapu sekarang malah bersikap manis begitu"
Batin Fero, dia pun keluar dari balik mobil dan berjalan mendekati Intan dan Mama nya.
"Ayo kita masuk ke dalam nak, kita minum dulu"
"Lain kali saja tante, saya mau mengajak anak tante ke rumah tuan Davvien, Vera menyuruh saya menjemput nya"
"Hei tunggu dulu, kan saya nggak bilang kalau saya mau"
Intan pura pura menolak, supaya tidak terlihat seperti wanita gampangan.
"Jangan besar kepala kamu, Vera ingin mengajak mu masak bersama makanya aku terpaksa menjemput mu".
Ucap pelan Fero di dekat telinga Intan, Fero langsung bersikap dingin bila berbicara dengan Intan, jauh banding sikap nya dengan mama nya Intan.
Mama nya Intan tidak memperdulikan apa yang mereka bicarakan, dia melihat anaknya itu sangat menyedih kan, penampilan yang acak acakan rambut yang kusut, wajah alami tanpa polesan.
"Tunggu Intan bersiap dulu ya nak Fero"
Fero pun melihat penampilan Intan, dia melihat seperti jijik dengan penampilan Intan, dia pun mengangguk.
"Ayo sayang"
"Mama apaan sih, kan aku tidak bilang kalau aku mau"
"Sudah kamu turuti saja, kasian Vera sudah menunggu mu di sana, Nak Fero kamu masuk lah dulu"
Mamanya Intan langsung menyeret anak nya masuk ke dalam, dia pun langsung membawa putrinya itu ke dalam kamar setelah menyuruh Fero masuk.
"Baik Tante"
"Duhh ngapain sih Ma"
"Sudah kamu diam saja, kamu nggak malu apa pergi ke sana dengan penampilan kamu, baju kelonggaran, rambut udah kaya rumput kering, muka pucat begitu"
Intan langsung melihat dirinya pada cermin setelah mendengar hinaan dari sang Mama.
"Hah, kenapa aku terlihat begitu menyedihkan sekali Mah?"
Tanya Intan melihat pantulan dirinya sendiri.
"Makanya, kamu sekarang cepat ganti baju Mama keluar dulu, kasian nak Fero duduk sendiri di sana"
"Halah Mama, sekarang aja kasihan tadi mukul anak orang tanpa ampun"
Ejek Intan pada Mama nya.
"Itu lain, kan Mama tidak tau kalau dia itu asisten tuan Davvien".
Mamanya Intan langsung melangkah pergi meninggalkan Intan berjalan pada Fero.
"Tunggu dulu ya nak, Intan sedang bersiap-siap"
Fero hanya tersenyum dan mengangguk.
"Dia itu memang tidak terlalu memperhatikan penampilan nya, makanya sampai sekarang dia jomblo"
Jelas Mamanya Intan yang membicarakan anak nya.
"Ya wajar tante, karna anak mu itu sama sekali tidak menarik"
Batin Fero saat mendengar cibiran seorang ibu untuk anak nya.
"Tante berharap suatu saat dia menemukan pria yang bisa menerima dia apa adanya"
Mamanya Intan berujar dengan raut wajah penuh harap.
__ADS_1
"Berdo'a lah Tante, semoga keajaiban datang"
Fero hanya bisa membatin, tidak mungkin dia mengatakan itu pada mamanya Intan.
Tak beberapa lama terdengar lah suara langkah kaki sedang menuruni tangga, Fero dan Mamanya Intan mengalihkan pandangan.
Jika di Film-film seorang cowok akan terpesona dengan penampilan si cewek maka tidak dengan Fero, dia melihat sekilas Intan dan langsung mengalihkan pandangannya, bagi Fero Intan tetap terlihat sama, meski sudah ber-hias diri atau tidak.
Bagaimana bisa tertarik, Intan berpenampilan tidak jauh beda dari sebelumnya, dia hanya menggunakan baju yang juga sedikit kebesaran, di padukan dengan celana jeans, hanya rambutnya yang sudah terlihat rapi, satu lagi, bibir nya yang sedikit merah muda dan berminyak, sedangkan wajah nya terlihat alami alias Intan tidak menggunakan bedak.
"Kami pamit dulu ya Tante"
"Iya nak, hati hati"
"Ma, Intan pamit ya"
Intan menyalami Mamanya.
"Iya sayang, titip kan salam Mama buat Vera ya"
"Iya ma"
Intan dan Fero pun langsung keluar dan masuk ke dalam mobil, Fero langsung menancap gas meninggalkan Mama Intan yang melihat mereka di ambang pintu.
"Semoga kamulah yang menjadi jodoh anakku"
Ucap mamanya Intan tersenyum lebar.
Di dalam mobil nampak canggung, Intan sesekali melirik ke arah Fero yang begitu fokus menyetir mobilnya.
"E maafkan Mama tadi Tuan"
Ucap Intan memecah keheningan, namun Fero tidak menjawab.
"Apa tangan mu masih sakit?"
Tanya Intan, dia melihat tangan Fero memerah mungkin karna pukulan dari mamanya tadi.
Namun Fero masih diam, tidak merespon apapun, dia hanya menganggap omongan Intan sebatas angin lewat.
Intan merasa bersalah karna ulah mamanya tangan Fero jadi merah merah begitu, refleks dia menyentuh tangan yang memar itu.
Fero langsung mengalihkan pandangannya pada Intan dengan tatapan tajam, dia tidak suka Intan yang begitu lancang menyentuh tangan nya.
"Apa kau begitu berminat menyentuh ku"
Ucap Fero sambil melepaskan tangan nya dari tangan Intan.
Mendengar itu Intan merasa marah, dia juga malu, padahal Intan hanya merasa tidak enak tapi Fero malah merendahkan nya.
"Kau, kenapa kau begitu angkuh, aku hanya tidak enak karna mama telah memukul mu"
Intan berteriak di samping Fero, amarah nya menggebu-gebu.
"Itu hanya alasan mu saja"
Ucap Fero santai.
"Terserah, kau manusia paling menyebalkan di dunia kau juga manusia tersombong yang pernah ku temui, kau memang tidak pantas di kasihani dan di beri perhatian, orang seperti mu tidak pantas mendapatkan itu"
Degggggg
Kata kata Intan begitu menusuk relung hati Fero, Intan yang meluapkan kekesalannya selama ini seperti tidak sadar apa yang sedang dia ucapkan.
Fero terdiam, dia begitu tertegun mendengar perkataan Intan, dia melihat Intan yang sudah membuang muka nya keluar jendela mobil.
"Apa aku sudah keterlaluan, apa dia sakit hati dengan perkataan ku, tapi kan tadi dia yang memegang tangan ku"
Fero membatin, dia kembali melihat pada Intan, dan tanpa sengaja pun Intan juga melihat ke arah Fero, dan apa yang terjadi kedua netra coklat dan hitam pekat mereka bertemu.
Dug,,,dug,,dug,,dug,,,
__ADS_1
~Bersambung.