
Fero mematung, saat Intan menyuruhnya berdiri, Intan langsung bangkit dan berjalan meninggalkan Fero.
Setelah beberapa menit, dia pun kembali dengan membawa kotak persegi berwarna putih, dengan tanda (+) berwarna merah di atas nya, yang sering orang sebut dengan kotak P3K, bukan kotak amal ya.
"Duduk, biar ku obati luka mu itu, darah nya sudah mengering jika kau membiarkan nya nanti akan infeksi"
Bagaimana pun, Intan tidak sampai hati melihat luka Fero, dia hanya ingin membuat Fero menelan kata-kata yang dulu dia ucapkan.
"Tidak perlu, ini hanya luka kecil... bahkan aku sering mendapatkan luka lebih dari ini"
Kilah Fero, yang benar saja setelah Intan mengatai dirinya, kini malah menyuruh nya duduk dan menerima Intan mengobati lukanya.
"Sudah, sesekali singkirkan ego dan gengsi mu tuan, sikap egois lah yang kadang-kadang menyiksa kita bahkan menghancurkan kita"
Seperti bukan Intan yang berbicara, saat ini terlihat bahwa Intan begitu dewasa dalam berkata dan bersikap.
Fero semakin tertarik pada sosok Intan, dia tidak tau saja jika Intan sudah belajar cukup lama untuk bersikap demikian di depan Fero, Intan juga sedang menjaga sikap nya supaya tidak terlihat memalukan di depan Fero.
Fero akhirnya duduk, Intan langsung mengambil tangan nya, dengan begitu telaten Intan mengobati Fero, sedangkan yang di obati malah asik senyum-senyum sendiri saat memandang wajah Intan dengan jarak cukup dekat.
"Kenapa nggak dari dulu ya aku sadar jika dia sangat manis, andai waktu bisa di putar, sungguh aku ingin selalu di perhatikan oleh nya saat aku terluka" Batin Fero.
Dia hanya bisa ber-andai, tapi perlu kita tau, Allah paling tidak suka dengan hambanya yang hidupnya selalu ber andai-andai, jangan ikutin babang Fero ya.
Selesai membersihkan luka Fero, Intan juga sudah menempelkan plester di luka goresan itu .
"Sudah selesai, sekarang jika ingin pulang silahkan" Ucap Intan.
"Kamu mengusir ku" Tanya Fero pada Intan.
"Jika anda merasa seperti itu ya maaf, tapi lebih baik anda pulang sekarang tuan"
"Baiklah, aku akan pulang... oh ya, ada berita bagus untuk mu"
Intan mengangkat alis nya, dia menunggu Fero mengatakan yang jelas.
"Vera sudah pulang, dan dia pulang ke rumah orang tuanya"
Mendengar itu Intan langsung merasa senang.
"Benarkah, syukur Alhamdulillah"
"Apa kamu ingin bertemu dengannya?" Tanya Fero.
"Iya, besok aku akan menemui nya pulang dari kampus"
"Hekhem, besok pagi jam tujuh lewat aku tunggu kamu di depan rumah, aku akan mengantar mu ke kampus, jam sebelas siang aku akan menunggu mu di gerbang kampus, dan aku akan mengantar mu ke rumah Vera" Jelas Fero.
Intan langsung terbelalak mendengar penuturan Fero.
"Saya bis...."
"Dan saya tidak suka di bantah, jika kamu membantah saya, maka akan saya pastikan hasil skripsi kamu akan di tolak"
Setelah mengancam Intan, Fero langsung keluar meninggalkan Intan yang kesal terhadap dirinya.
"Ihhhhh bagaimana bisa dia mengancam ku seperti itu, secepat itu dia memikirkan ancaman untuk ku, memang susah berurusan dengan orang kelewat pandai" Intan terus berucap sendiri.
"Eh aku mengumpat apa memuji nya ya, ahhhhh terserah lah, tapi kalau begini terus aku jadi galmov dong alias gagal move on"
Intan menghentakkan kaki nya di lantai karna rasa kesal di hatinya.
...----------------...
Malam hari di rumah Prasetyo.
"Dek, kamu temenin kakak nonton sebentar ya"
Pinta Frans pada Vera setelah mereka semua menunaikan solat magrib berjamaah, dan tentunya setelah makan malam juga.
"Tidak boleh, dia baru sembuh... jadi dia harus istirahat" Bukan Vera, melain kan Davvien yang menjawab.
"Dasar adik ipar posesif, gw hanya minta dia sebentar kok" Kesal Frans melempar bantal sofa pada Davvien.
"Kalau kamu mau nonton, ya nonton saja sendiri... kenapa ajak ajak istri orang, kalau pengen punya temen, makanya nikah dong" Davvien pun tidak mau kalah.
"Ih, kalian tuh bisa nggak sih diam... nggak usah bertengkar, heran deh liat tingkah kalian seperti bocil tau nggak" Vera yang merasa kesal langsung menengahi nya.
"Sayang, kok kamu jadi marah sama aku sih... dan apa itu bocil yang, kenapa kamu samakan aku dan manusia itu seperti bocil"
Tanya Davvien polos, dirinya yang selalu memikirkan pekerjaan memang tidak tau banyak dengan bahasa singkat sekarang.
"Ya ampun suami ku yang di kenal pandai ini kok bodoh juga ya" Vera menggeleng kepala menatap pada Davvien.
"Aku beneran tidak tau sayang"
"Bocil itu singkatan dari bocah cilik"
__ADS_1
Raut wajah Davvien langsung berubah menjadi masam, bagaimana bisa istri nya menyamakan dirinya dengan bocah, sedangkan dirinya sudah berhasil mencetak dua bocah di dalam perut Vera.
"Hahahahaahahhhahha" Frans langsung tertawa melihat ekspresi wajah Davvien.
"Sayang, aku tidak terima kau sebut diriku bocil, sedangkan di dalam perut mu sudah ada dua bocil hasil cetakan ku"
Davvien langsung mengangkat tubuh istrinya, menaiki tangga dan masuk ke dalam kamar.
"Yah, gw di tinggal sendiri, seperti nya gw memang harus segera menikah" Gumam Frans.
...----------------...
Sedangkan di dalam kamar pasangan paruh baya yang sudah sekian lam tak bertemu kini kembali bersama sedang asik pandang-pandangan.
"Pah, aku senang Kia bisa kembali pulih" Ucap Mama Rina dalam pelukan sang suami.
"Vera mah, jangan Kia, aku tidak ingin ada yang tau tentang identitas kita"
"Oh iya, lupa mama... apapun itu yang jelas mama senang karna anak perempuan Mama sudah sehat, dan kedua cucuku juga selamat"
"Cucu ku juga mah" Protes Tn.Diwan.
"Hehe iya iya putri sama cucu kita"
"Hekhem, mah..." Panggil Tn.Diwan yang memang tidak berjarak dengan Mama Rina.
"Iya pah"
Sebenarnya Vera dan kakak nya memang memanggil papa kepada Tn.Diwan, tapi setelah mengganti identitas, Tn.Diwan mengganti panggilan nya pada Vera menjadi Daddy.
"Boleh papa minta?"
Mama Rina langsung syok mendengar permintaan sang suami, dia sudah tau yang di maksud suaminya itu.
"Papa ih kan kita sudah tua" Dengan pipi merona Mama Rina memukul dada bidang suaminya.
"Jangan remehkan papa mah, meski sudah tua namun papa masih kuat, mama ingin buktinya"
Tn.Diwan langsung merebahkan Mama Rina dan menindihnya.
akhirnya mereka melakukan nya setelah sekian lama menahan rindu.
...----------------...
Berbeda dengan pasangan muda yang romantis itu.
Cukup lama mereka menyatu kan bibir mereka, sampai akhirnya Vera melepaskan diri dan meminta ke kamar mandi.
"Sayang... tunggu, aku ingin pipis udah nggak tahan"
"Heum, baiklah... aku menunggu mu sayang"
Vera melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
Davvien meneliti kamar milik sang istri, berwarna pink campur putih, penuh dengan boneka.
Dia melihat rak di tempelkan di dinding, dengan barang-barang unik di sana.
Davvien bangun dan mendekati rak tersebut, ada suatu benda yang menarik perhatian nya.
Davvien mengambil mobil remote dan robot yang di simpan dengan begitu baik oleh Vera, Davvien pun tersenyum melihat nya, dia senang karna Vera masih menyimpan barang pemberian nya.
Ceklek...
Pintu kamar mandi pun di buka, Vera keluar... dia langsung melihat Davvien sedang memegang mainan kesayangan nya.
"Sayang, kenapa mainan mu seperti mainan anak laki-laki?" Davvien sengaja bertanya, dia tau jika Vera tidak mengingat dirinya lagi.
"Oh itu, mainan ini di berikan oleh pangeran ku... pangeran baik hati, kata Daddy dia memberikan ini saat aku menangis pada saat kecelakaan, dan aku sangat menyayangi mainan ini, karna aku sudah tidak tau dimana pangeran baik hati ku, aku pun lupa bertanya pada Daddy, mungkin Daddy tau"
Mendengar itu Davvien tersenyum, jika itu bukan dirinya sudah pasti Davvien marah karna Vera mengatakan pangeran ku.
"Jika dia berada di depanmu apa yang akan kau lakukan?"
"Emmm aku akan mengucapkan terima kasih pada nya"
"Hanya itu?"
"Jika kamu izinkan aku akan memeluk dan mencium nya" Vera sengaja ingin memanasi Davvien.
"Oh ya, kalau begitu lakukan lah sekarang"
Vera melotot, dia masih tidak paham, yang ada di hadapan nya seperti bukan Davvien yang posesif dan pencemburu yang dia kenal.
"Maksud mu apa sayang?" Tanya Vera dengan ekspresi wajah bingung.
"Lakukan lah seperti yang kamu inginkan pada pangeran baik hati mu itu, karna dia ada di sini, di hadapan mu"
__ADS_1
Kata-kata Davvien tentu membuat Vera terkejut.
"Jangan bercanda sayang, aku tau kamu pasti cemburu kan?"
"Malam pada saat mobil Tn.Rey kecelakaan, ada seorang anak perempuan yang masih berusia lima tahun menangis histeris, lalu Mommy menggendong nya, dia tetap tidak mau berhenti menangis, sampai aku memberikan mainan ku kepada nya, barulah dia berhenti menangis, dan selama Daddy nya mencari istri nya, anak perempuan itu tinggal di rumah ku dan di rawat oleh Mommy ku, aku selalu menjaga nya, hingga akhirnya anak perempuan itu di bawa oleh Daddy nya ntah kemana"
Vera tercengang mendengar itu semua.
"Kenapa cerita nya persis seperti yang Daddy cerita kan tentang pangeran ku, apa itu artinya..." Vera menggantung jawaban, menatap Davvien.
Davvien yang tau maksud sang istri langsung mengangguk sambil tersenyum.
"Iya sayang, aku lah orangnya"
Vera langsung berhamburan ke dalam pelukan Davvien.
"Pangeran ku"
Davvien membalas pelukan Vera, dia mengelus lembut punggung Vera, meletakkan dagu nya di atas kepala sang istri.
"Iya sayang, itu aku... ternyata kita memang sudah ditakdirkan sejak dulu"
"Tapi kemana kau selama ini, kenapa kita hanya bertemu setelah kita dewasa, bahkan kita tidak mengenal satu sama lain saat pertama bertemu"
Vera ingat pertemuan pertama nya dengan Davvien, dia sampai harus berpura-pura menjadi gila, agar Davvien tidak membunuhnya.
"Setelah lulus sekolah SMA aku di kirimkan ke luar negeri oleh orang tua ku, kuliah di sana bahkan sampai aku bisa memimpin sebuah perusahaan"
Tidak ada kata lagi, keduanya sama sama menikmati pelukan yang begitu terasa hangat.
"Oh iya, aku masih menyimpan satu lagi barang milik mu"
"Apa itu?"
Vera melangkah membuka laci nakas lalu mengeluarkan pistol dari sana.
"Ini, kamu ingat waktu pertama bertemu aku mengambil pistol mu"
"Tentu aku ingat sayang, dan aku baru tau jika kamu hanya berpura pura gila, dan aku juga baru tau jika Istri ku ini pandai memainkan benda seperti ini"
Vera tersenyum, Davvien mengambil pistol di tangan Vera lalu melemparnya ke atas tempat tidur.
"Sayang, tepati janji mu" Davvien mulai tersenyum jahil.
"Ja-janji?"
"Iya janji, yang pertama janji mu tadi pagi, dan janji mu yang barusan kau katakan, jika kamu akan mencium pangeran mu itu jika dia ada di hadapan mu"
Vera tersenyum, dia pun kembali memeluk Davvien, tanpa sengaja Vera menyenggol tuan J Davvien, hingga membuat tuan J terbangun.
"Sssssttttttt" Davvien meringis menahan hasrat nya, meski Vera telah berjanji, namun dia tidak ingin memaksa sang istri, apa lagi Vera baru sembuh.
"Sayang kamu kenapa?"
Vera melepaskan pelukan nya dan menatap wajah Davvien yang sudah sangat tegang.
"Kau membangun kan tuan J sayang" Jawab Davvien dengan suara tertahan.
"Jangan di tahan sayang, aku mau kok melayani tuan J" Ucap Vera dengan malu-malu.
"Tapi kamu baru sembuh sayang, aku tidak ingin karna hasrat ku malah akan menyakiti mu.
Tanpa aba-aba Vera langsung mengalungkan tangan nya di leher Davvien.
"Kamu bisa melakukan nya pelan sayang, lagipula aku sudah berjanji dan sudah membangun kan tuan J mu, jadi aku harus tanggung jawab bukan"
Vera berbisik di telinga Davvien, ntah keberanian dari mana, Vera menyentuh tuan J suaminya, hingga membuat Davvien mendesah dan akhirnya tidak tahan lagi.
Dia langsung merebahkan tubuh Vera secara pelan dengan bibir mereka di satukan.
Malam itupun menjadi malam panas bagi Davvien dan Vera, setelah sekian lama Vera tertidur.
Tuan J jadi merasa fresh kembali karna sudah bertapa kembali dalam gua yang istri.
.
.
.
.
.
.
~Bersambung
__ADS_1
Aku udah up, tapi nunggu riview nya lama.