
Pagi yang cerah, matahari mulai menampakkan sinarnya, seiring jarum jam berputar, sinar indah nan hangat tersebut mulai menyeruak masuk ke dalam ruangan VIP di salah satu rumah sakit.
Vera mengerjap kan matanya, mencoba membuka nya perlahan, karna terlalu banyak gerak dan menguras tenaga membuat seluruh badannya kesakitan, di tambah lagi semalam dia tidur di atas kursi dengan cara duduk.
Setelah mengumpulkan kesadaran, matanya langsung melihat pada wajah sang suami yang masih terpejam begitu lelap, hatinya kembali teriris, tidak tega dan juga terselip rasa takut melihat keadaan suami yang belum membuka matanya.
Vera bangun dan sedikit berjongkok di samping ranjang pasien Davvien, lalu di darat kan satu kecupan begitu lama di atas kening Davvien, lalu turun pada mata, pipi, hidang dan juga bibir.
"Selamat pagi sayang!" ujar Vera berbisik di telinga Davvien.
"Biasanya kamu yang mencium ku di setiap pagi!" lanjut nya lagi dengan suara tercekat, menahan sesak di dadanya.
"Cepat bangun sayang, apa alam mimpi mu lebih indah daripada saat bersama ku dan kedua anak kita!" gumam Vera sendiri. Tangan nya ter ulur mengelus lembut kepala Davvein.
Ceklek....
Pintu ruangan terbuka, Vera langsung memalingkan wajahnya melihat siapa yang datang, Vera mencoba tersenyum ke arah pintu masuk yang memperlihatkan Dr.Hendri dan juga dua suster di belakang nya.
"Selamat pagi Nona!" sapa Dr.Hendri yang memperlihatkan senyuman nya kepada istri Tuan nya.
Wajah Vera kembali terlihat murung, hanya melihat kearah Davvien yang berbaring dengan banyak alat-alat di tubuhnya, mulai dari selang infus, selang oksigen yang di masukkan ke dalam hidupnya, juga beberapa kabel penghubung antara suaminya dengan monitor untuk merekam ritme jantung dari kekasih halalnya itu.
Dr.Hendri jelas tau apa yang di rasakan istri dari tuan nya ini, kemudian dia langsung mendekati brangkar Davvien.
"Selamat pagi Tuan, ku rasa tidur mu sangat nyenyak hingga Tuan tidak mau bangun untuk melihat istri dan anak mu ini!" ujar Dr.Hendri pada Davvien, sambil dia memeriksa keadaan dan juga luka pada lengan Davvien, dia juga mengganti perban luka dari bekas jahitan saat peluru di keluarkan.
"Ngomong-ngomong Nona Vera masih sangat cantik Tuan, jika anda tidak bangun, nanti saya yang akan menggantikan anda untuk menjadi ayah Syakir dan Syakira!" lanjut Dr.Hendri terus berbicara agar Davvien dapat merespon ucapan nya.
Vera langsung membelalakkan matanya, tapi dia tau kalau Dr.Handri hanya ingin bercanda.
__ADS_1
"Sayang, lihat lah kelakuan Dokter kepercayaan mu ini, bangun sayang, aku tidak mau dia menjadi ayah untuk anak kita!" timpal Vera, dia berharap suaminya akan bangun dan langsung memarahi Dr.Hendri seperti biasanya.
Tapi kali ini Davvien masih tidak bergeming di ranjang pasien nya itu.
"Bagaimana keadaan suami saya Dok?" tanya Vera setelah Dr.Hendri memeriksa nya.
"Keadaan Tuan sudah membaik, dan seharusnya dia sudah sadar, tapi ntah kenapa sampai sekarang dia masih belum membuka matanya juga!" jawab Dr.Hendri.
Vera hanya menarik nafas panjang setelah mendengar penjelasan dari dokter kepercayaan keluarga WILMAR tersebut.
"Teruslah berbicara dengan nya, mungkin dengan anda berinteraksi membuatnya cepat sadar!" tukas Dr.Hendri yang di angguki oleh Vera.
"Kalau begitu saya permisi, dan anda juga masih harus meminum obat Nona, anda belum pulih total!" imbun Dr.Hendri lagi.
"Suster, siapkan air hangat dan lap tubuh Tuan Wilmar!" perintah Dr.Hendri sebelum akhirnya keluar dari ruangan Davvien.
"Biarkan aku saja yang mengurus suami ku!" ucap Vera ketus, dia dapat menangkap raut wajah kecewa kedua perawat itu, siapa yang tidak tergiur dengan wajah tampan sekaligus badan sixpack dengan dada yang liat di tambah roti sobek pada perutnya.
Kedua suster itu hanya mengangguk, kemudian mereka ikut keluar dari ruangan tersebut.
Vera dengan cekatan membuka baju sang suami, dengan sangat hati-hati, Vera membasuh tubuh Davvien menggunakan handuk kecil yang sudah di celupkan dalam air hangat.
Sambil mengelap, mulut nya mulai cerewet menggerutuki dua suster yang tampak begitu senang saat Dr.Hendri menyuruh mereka membersihkan tubuh Davvien tanpa sadar jika ada istri nya di sana.
"Dasar suster genit, mereka pikir aku akan membiarkan tangan mereka menyentuh tubuh sek-si suami ku, heuh mereka terlalu berharap!" gumam Vera terus saja mengeluarkan umpatan untuk kedua suster tadi.
"Dr.Hendri juga, dia malah menyuruh dua suster genit itu untuk mengurus suami ku, apa dia pikir aku tidak bisa mengurus nya!" lanjut Vera lagi.
Tanpa dia sadari Davvien sudah sadar sejak dia menempelkan kain hangat itu di kulit nya, Davvien masih berpura-pura belum sadarkan diri karna ingin mendengar omelan sang istri untuk wanita yang ingin menyentuh tubuh nya itu.
__ADS_1
Ada rasa senang dalam hati Davvien ketika sedikit mengintip wajah Vera yang terlihat sangat kesal, dia tau jika saat ini Vera sedang cemburu.
"Nanti kalau mas Davvien sudah sadar aku akan menyuruh nya mengganti kan Dokter pribadi nya dengan yang lain!" ucap Vera lagi, dia seolah tidak sadar apa yang dia bicarakan.
"Apa kamu begitu marahnya jika wanita lain memegang tubuh ku ini?" tanya Davvien dengan suara serak, karna dia baru membuka mata setelah pingsan kemaren.
"Tentu saja aku marah, istri mana yang rela jika wanita lain menyentuh tubuh suaminya, apa lagi tubuh suamiku begitu sempurna dan sangat menggoda, hanya aku yang boleh melihat dan menyentuh nya!" jawab Vera dengan nada kesal, tanpa sadar jika yang bertanya itu adalah pemilik tubuh yang sedang dia bicara. Suaminya sendiri.
Setelah menjawab, Vera terdiam. Sepersekian detik dia langsung melihat pada wajah suaminya yang sudah membuka matanya, Vera baru sadar jika yang menjawab perkataan nya adalah suaminya sendiri, Davvien.
"Ma-mas Davvien!" ucap Vera terbata-bata.
"Kenapa sayang, ayo lanjutin lagi omelan nya, aku suka mendengar mu mengatakan tubuh ku sempurna dan menggoda!"
.
.
.
.
.
~Bersambung.
Eittts jangan lupa ya Like, Komen dan juga Vote, dan maaf jika up nya agak lama, soalnya ada anggota keluarga ku lagi sakit.
Ku harap kalian memaklumi nya, dan tidak pernah bosan untuk memberikan dukungan sebagai bentuk penyemangat untuk author lagi belajar ini.
__ADS_1