Gadis Penakluk Mafia Karatan

Gadis Penakluk Mafia Karatan
Enam box


__ADS_3

Dua jam sudah berlalu, mereka sudah selesai membeli semua nya, tidak ingin membuat bumil kecapean, mereka memilih untuk makan dan beristirahat.


Jam menunjukkan pukul 11 siang, menandakan memang sudah waktunya makan siang.


"Sayang, kamu mau makan apa?" tanya Davvien.


"Seperti biasa!" jawab Vera, jika sudah seperti biasa, Davvien sudah paham istrinya itu pasti ingin makan banyak.


Fero pun kali ini tidak mau kalah.


"E My Wife, kamu mau makan apa, biar kau pesan?" ucapan Fero yang sedikit mengeras jelas mengalihkan pandangan Vera dan Davvien.


"Apa juga ingin makan seperti biasa?" lanjut Fero bertanya, Intan keheranan dengan sikap Fero.


"Iya boleh, memang mau makan apa lagi jika bukan makanan yang biasa aku makan!" imbun Intan.


Mendengar jawaban sang istri, keduanya langsung memesan makan untuk mereka berempat.


Davvien terus mengelus perut Vera, Fero hanya bisa memegang tangan Intan, tidak tau harus mengelus apa, karna perut sang istri belum membuncit.


"My Wife, kapan kita akan punya anak? aku sudah tidak sabar!" bisik Feri pada Intan.


"Kita baru saja menikah, kapan aku hamil!" jawab Intan.


"Kalian butuh usaha lagi, apa perlu aku kirimkan jamu itu lagi?" dengan lantang Davvien menjawab ucapan Intan dan Fero, Vera dan Davvien bisa mendengar pembicaraan mereka.


Mengingat jamu yang di kirimkan Davvien dan Vera membuat pipi Intan memerah, dia jadi malu karna pergulatan mereka sampai berjam-jam, dan dia pun juga sangat bergairah pada waktu itu.


"Gara-gara jamu sialan itu, my wife ku jadi tidak bisa kemana!" balas Fero dengan wajah tidak suka.


"Mana yang lebih parah dengan lilin yang kau pasangkan di kamar kami pada waktu itu, bahkan istri ku sampai mengalami keram!" Davvien pun tak mau kalah.


Fero terdiam, dia teringat di mana waktu itu, dia hanya ingin menghiasi kamar Davvien dan Vera, malah menaruh lilin perangsang.


"Jadi dia balas dendam!" batin Fero.


"Intan, lebih baik kamu duduk di sini, kita berfoto yok!" ajak Vera kepada sahabat nya itu.


"Ayok!" bukan Intan yang menjawab, melain kan Davvien.

__ADS_1


"Bukan kalian, aku hanya ingin berfoto dengan Intan, kalian terusin saja perdebatan kalian!" tolak Vera.


"Tan, duduk di sini!" lanjut nya lagi.


"Oke!!!!"


Mereka berdua pun berfoto hanya berdua, tanpa menghiraukan tatapan tak suka dari suami-suami mereka.


...----------------...


Sedangkan di tempat lain, sebuah mobil Avanza warna hitam memasuki pekarangan rumah Davvien. Di ikuti sebuah mobil pick up di belakang dengan membawa dua box, satu kasur berukuran mini, satu sofa panjang.


Ny.Andin turun begitu pun Tn.Andre, mereka langsung menyuruh anak buah Davvien untuk membantu menurunkan barang yang ada dalam mobil pick up tersebut.


Ny.Andin ingin masuk, namun bi Aini sudah keluar.


"Ny.besar!" ucap bi Aini dengan menundukkan kepalanya, dia merasa heran dengan barang yang sedang di turunkan.


"Mereka ada di rumah bi?" tanya Ny.Andin.


"Mereka semua pada pergi Nya!"


"Kemana?"


Dengan isi yang sama seperti yang di bawakan Ny.Andin tadi.


Ny.Andin dan bi Aini menoleh, begitu pun yang lainnya.


Orang dalam mobil mewah tersebut turun, dan Tn.Diwan juga menyuruh beberapa anak buah menantunya membantu menurunkan barang-barang yang mereka beli


Mama Rina langsung melangkah pada Ny.Andin yang sedang tercengang dengan barang di hadapan nya.


"Loh, kamu juga di sini?" tanya Rina sambil tersenyum.


"Iya, aku baru saja sampai, habis membelikan perlengkapan untuk bayi dan Vera!" jawab Ny.Andin juga dengan senyuman.


"Lah... Sama, kami juga baru belanja!" ujar Rina sambil menunjuk pada barang dalam mobil pick up.


"Hah, sama pula!" kedua nya tertawa melihat barang mereka hampir sama.

__ADS_1


Frans menghampiri Ny.Andin lalu menyalami mertua dari sang adik.


Tn.Andre dan Diwan saling merangkul, mereka pun juga ikut tertawa melihat box sudah ada empat terletak di depan mereka.


Dua Mobil pick up yang mengantarkan barang mereka sudah keluar gerbang rumah Davvien, tapi di balik mobil pick up tersebut masuk lah sebuah sport hitam dan juga di ikuti satu mobil pickup lagi di belakang.


Mata mereka semua nya terbelalak, termasuk bi Aini.


"Gini lah kalau sultan, anak yang akan lahir dua, tapi tempat tidur saja sudah ada enam!" batin bi Aini menggeleng kepala melihat barang yang sudah memenuhi halaman rumah Davvien.


Fero keluar, membuka pintu untuk Davvien, dan juga sang istri, dan Vera!


Tentu saja Davvien yang membukakan pintu untuk nya.


Mereka berempat pun tercengang melihat barang begitu banyak di depan rumah.


"Sayang, apa kita akan membuka toko peralatan perlengkapan bayi di sini?" tanya Vera dengan mata tak berkedip, akhirnya pun dia melihat orang tua mereka yang juga melihat ke arah nya.


"Mama, Mommy!" Vera dan Intan langsung menghampiri wanita paruh baya yang berdiri di depan pintu.


"Kamu juga beli sayang?" tanya Ny.Andin.


"Iya Mom, dan ini...!" tunjuk Vera kepada semua barang di hadapan nya.


"Ini dari Mama dan Mommy, kami juga tidak tau kalau Mommy mu juga membeli semua nya!" tukas Rina dengan cepat.


"Hah, jadi box nya ada enam!" ucap Intan yang sedikit terkejut apa yang dia lihat.


.


.


.


.


.


~Bersambung.

__ADS_1


Jangan lupa ya Like, komen, dan Vote.


Oh ya! Jika bisa kalian boleh tidak komen nya di paragraf,, jika bisa sih kalau nggak juga tidak masalah🤭🤭


__ADS_2