
"Pa, dimalam yang bahagia ini, di hadapan semua orang Riki ingin meminta restu papa untuk melamar gadis yang Riki cintai"
Semua nampak terkejut, Riki dengan lantang di hadapan semua orang meminta restu sang papa.
"Papa sudah memberikan restu papa sebelum ini, kamu berhak memilih siapapun wanita yang kamu cintai nak"
"Terima kasih pa"
Riki memeluk papanya kembali, setelah itu dia melepaskan pelukan nya dan kini tatapan menuju pada seorang gadis yang masih dengan raut wajah terkejut nya.
Riki perlahan mendekati gadis tersebut, dia mengeluarkan kotak yang berisi cincin, Riki bersimpuh di hadapan gadis tersebut.
"Will you marry me Rani?"
Rani terharu melihat perlakuan manis sang kekasih, ke dua sahabat yang berdiri di samping nya merapat kan diri pada Rani, dan mereka membisikkan sesuatu.
"Ayo terima, dan setelah ini kamu harus menjelaskan semua pada kami"
Rani tidak menghiraukan perkataan kedua sahabat nya, dia pun menerima lamaran sang kekasih, Riki tersenyum dia pun menyematkan cincin di jari manis Rani, semua bertepuk tangan saat Riki bangkit dan membawa Rani ke dalam pelukan nya.
Vera juga terlihat sangat terkejut melihat sahabatnya di lamar, dia tersenyum matanya berbinar dia dapat merasa kan kebahagiaan sahabatnya itu.
Davvien menatap wajah istrinya yang seperti nya sangat mengagumi momen saat ini.
"Apa kau juga ingin di lamar seperti itu?"
Bisik Davvien di telinga sang istri, Vera melihat ke arah Davvien, dia pun tersenyum.
"Bukan kah cara mu menyampaikan perasaan mu jauh lebih indah dari pada ini?"
Vera pun membisikkan di telinga suaminya, Davvien tersenyum dia mencium puncak kepala Vera lalu memeluk pinggang Vera begitu erat.
Mereka tidak sadar, kalau sosok Elsa menatap mereka begitu tajam, dia sungguh tidak rela jika wanita yang di perlakukan manis bukan dirinya.
Elsa teringat saat bersama Davvien, dia begitu di cintai, Davvien sangat memanjakan dirinya, tidak pernah membiarkan Elsa bersedih sedikit pun.
Harapan nya kembali hanya untuk kembali merajut kasih bersama orang yang di cintainya, namun harapan itu pupus sudah saat melihat sang pujaan hati kini bersama wanita lain, dan itu adalah istrinya.
"Aku tidak akan pernah merelakan wanita manapun merebut mu dari diriku Vien, akan ku lakukan apapun jika itu akan membuat mu kembali kepada ku"
Batin Elsa sambil menyeringai licik.
Setelah acara potong kue dan lamaran, mereka semua bubar Davvien kembali membawa Vera untuk duduk sebelum mereka pulang.
"Sayang, kamu mau makan lagi?"
Davvien bertanya, karna tau kalau istrinya saat ini sedang doyan makan, dan Vera pun mengangguk dengan antusias.
Davvien mengambil makanan untuk istrinya, dia pun duduk di samping sang istri dan menyuapi Vera.
...----------------...
Intan ingin melangkah kembali ke tempat duduk bersama Bagas, sedari tadi Bagas tidak membiarkan Intan sendiri, namun kaki Intan tertahan saat seseorang memegang pergelangan tangan nya.
__ADS_1
"Maaf tuan, bisa saya berbicara dengan nona ini sbentar?"
Tanya Fero dan Bagas pun mengangguk, Fero langsung menarik tangan Intan, namun sekuat tenaga Intan melawan, dia tidak suka dengan perlakuan Fero yang semena-mena terhadap dirinya.
Fero membawa Intan ke pojokan ruangan, dia menghempas kan tubuh kecil Intan ke dinding lalu Fero mendekati nya, tidak memberi celah sedikitpun bagi Intan untuk bergerak.
"Maaf tuan, kenapa anda membawa saya ke sini"
Tanya Intan sambil meringis karna tangan nya di pegang erat oleh Fero.
"Katakan, apa kamu sengaja berpenampilan seperti ini supaya semua pria disini melirik mu hah"
Intan melotot, dia tidak menyangka jika Fero menganggap dirinya seperti itu.
"Kemaren kau sangat mengagumi ku, kau bahkan mengejar-ngejar ku, dan sekarang kamu malah menjauhi ku bahkan tidak menghiraukan ku, dan kamu sengaja merubah penampilan mu supaya lelaki lain tertarik padamu, apa sebegitu murahan nya caramu"
Plakkk
Satu tamparan mendarat di pipi Fero, ya bahkan satu tamparan belum cukup bagu Intan atas penghinaan yang keluar dari mulut Fero.
"Apa sebegitu rendah nya aku di mata anda tuan, apa salah jika kau mengahargai ku sedikit saja, dulu aku memang sangat menyukai mu aku juga sempat mengejar dirimu, tapi kau tau tuan yang aku dapat kan hanya hinaan, kau mengatai diriku wanita yang tidak menarik, bahkan kau jijik melihat ku, itu kan hinaan yang anda berikan ke pada ku"
Air mata Intan sudah membanjiri kedua pipi indah nya.
"Dan malam ini, kau kembali menghina ku, apa aku tidak pantas di cintai, apa aku tidak pantas di hargai, apa aku seburuk itu di mata anda tuan, kenapa anda selalu menghina saya, asal anda tau tuan saya tidak berminat untuk menggoda siapapun di sini, saya hanya tidak ingin orang lain jijik dengan penampilan saya, tapi saya tidak menyangka orang yang tidak bisa menghargai orang lain seperti anda lagi dan lagi melontarkan kata kata pedas untuk saya"
Fero terdiam, dia tidak bisa berkutik, sebenarnya Fero hanya tidak ingin melihat Intan bersama pria lain, hatinya merasa panas, tapi karna dia sudah emosi hingga mengeluarkan kata kata yang menyakiti Intan.
"Anda tau tuan, anda orang pertama yang saya cintai, anda lah orang yang telah hinggap di hati saya, tapi saya sadar mencintai anda adalah suatu hal yang sangat bodoh yang pernah saya lakukan, karna orang yang tidak punya hati seperti anda"
"Sama sekali tidak pantas untuk mendapatkan cinta"
Setelah mengatakan itu Intan langsung berlari, tanpa pamit pada siapapun Intan keluar dari ruangan tersebut.
Fero mematung, dia sadar dengan kesalahan yang telah di buat nya, yaitu melukai hati seseorang yang begitu mencintai nya, tapi semuanya sudah terlambat Intan terlanjur marah kepada Fero, dia pun keluar hendak menyusul Intan, namun saat dia sampai di luar dia melihat Intan sudah masuk ke dalam taksi dan pergi dari sana.
...----------------...
Sedangkan di dalam ruangan, para tamu masih asik mengobrol dan menyantap hidangan yang ada di sana.
Vera bahkan tidak merasa kenyang meski telah memakan kue begitu banyak, Davvien dengan sabar menyuapi sang istri.
Karna Davvien dan Vera memilih meja di pojokan, tiba tiba beberapa orang menghampiri dan menyapa mereka.
Beberapa orang yang menemui Davvien mengajak Davvien untuk ikut bersama, karna mereka adalah rekan bisnis dan kawan lama Davvien.
Semula nya Davvien menolak, dia tidak ingin meninggalkan sang istri sendiri. Namun Vera menyuruh suaminya agar ikut bergabung dan berbincang bersama mereka, Davvien pun akhirnya mengikuti mereka untuk duduk di sofa yang sudah di penuhi para pembisnis lain nya.
Vera kini memakan makanan nya sendiri, dia melihat Tania bersama Aldi sedang tertawa renyah, Riki dan Rani saling pandang karna mereka merasa senang malam ini mereka resmi bertunangan.
Mata Vera kini mencari seorang sahabat nya yang tidak terlihat di sana, dia pun bangun ingin mencari keberadaan Intan, namun langkah nya terhenti saat seseorang menyapa dirinya.
"Hai perkenalkan namaku Elsa"
__ADS_1
Elsa yang sedari tadi mencari cara supaya bisa berbicara pada Vera seolah mendapat kan celah saat Davvien meninggalkan Vera. Dia pun langsung mendekati Vera dan mengulurkan tangannya.
Vera tersenyum diapun membalas uluran tangan Elsa.
"Aku Vera"
"Boleh aku duduk?"
"Oh iya silahkan"
"Apa kamu sudah lama menikah dengan Davvien?"
Tanya Elsa pada Vera.
"Belum, masih beberapa bulan"
"Eum Davvien orang nya sangat lembut juga penyayang kan, dia bahkan selalu memanjakan orang yang di cintai nya, apa dia juga memanjakan mu"
Elsa seolah memancing emosi Vera, namun Vera mencoba menahan karna dia tau maksud Elsa.
"Dia memang sangat manis, dia selalu memperlakukan ku bagaikan seorang putri, tidak pernah membiarkan aku bersedih, dia suami yang sangat pengertian juga sangat baik, aku bersyukur memiliki suami seperti nya"
Ucap Vera tersenyum membayangkan betapa baiknya Davvien, terlebih saat membayang Davvien bersikap manja pada dirinya.
Namun perkataan Vera mengundang kemarahan dalam diri Elsa, niat nya hendak memanasi Vera malah dia sendiri yang tersulut emosi mendengar semua perkataan Vera.
"Dulu dia juga sangat perhatian pada ku, saat kami menjalin hubungan Davvien selalu memperhatikan ku, dia juga tidak pernah membiarkan aku bersedih sedikit pun"
Elsa sengaja mengumbar kalau dirinya pernah menjadi kekasih Davvien, dia mengira Vera belum tau.
"Heum dia memang sangat baik bagi orang yang di cintai nya, dan aku bersyukur karna aku lah yang manjadi wanita terakhir dalam hidupnya, dan aku tidak akan pernah mengecewakan nya"
Mendengar itu Elsa lagi lagi menahan panas, ingin rasa nya menjambak rambut Vera, kata kata Vera seolah menampar dirinya.
"Apa kau yakin dia sudah mencintai mu, karna dia dulu sangat mencintai ku"
Lagi lagi Elsa memanasi Vera, namun Vera dengan santai menjawab.
"Aku sangat yakin pada nya, dulu dia memang sangat mencintai mu itu wajar karna kalian adalah sepasang kekasih, tapi kini kamu hanya masa lalu nya, sedangkan ku masa depan nya, aku percaya dengan cinta nya yang sangat tulus untuk ku, dan dia sudah melupakan masa lalu nya, apa lagi dia sangat tidak suka di khianati jadi dia pasti sudah melupakan orang yang telah berkhianat dan menduakan nya"
"Kau mengatai pengkhianatan hah?"
Elsa bangun, dia sudah tidak bisa tahan lagi dengan kata kata Vera, dia juga sudah muak melihat Vera yang biasa biasa saja, Vera pun juga ikutan bangun.
"Menurut mu apa kalau bukan pengkhianat, kalian berpisah karna dia melihat mu bersama pria lain kan nona Elsa"
Plakkkk
"Ahhhkkkkk"
"Vera"
"Sayang"
__ADS_1
~Bersambung