
Seminggu berlalu...
Vera kini di bolehkan pulang karna kondisinya sudah membaik, begitu pun kedua bayi di dalam perut nya, keduanya sudah sama sama kuat.
Semua keluarga Vera hadir di sana, mereka begitu senang karna Vera sudah di bolehkan pulang.
"Semuanya sudah siap?" Tanya Mommy Andin.
"Sudah Mom" Jawab Davvien.
"Ya sudah ayok kita pulang"
"Sayang, boleh nggak kita pulang ke rumah Mama" Tanya Vera pada sang suami.
"Boleh nggak Mom, Dad?" Dia juga meminta pada Ny.Andin dan Tn.Andre.
Bagaimana pun selama ini telah menjaga Vera, dan Vera juga menganggap mereka seperti orang tua sendiri.
"Boleh sayang, apapun untuk mu" Gombal Davvien.
"Benar sayang, nggak usah sungkan seperti itu... mereka orang tua mu, apa lagi kalian sudah lama tidak bertemu" Ujar Ny.Andin dengan bibir tersenyum.
"Iya nak, kalian memang harus bersama supaya bisa mengenal lagi antara ibuk dan anak" Imbun Tn.Andre.
"Tapi... jangan lupakan Mommy, kamu tetap anak perempuan Mommy" Ucap Ny.Andin lagi dengan kepala menunduk.
Semua tertawa mendengar perkataan ny.Andin.
"Jadi ada yang cemburu nih" Ejek Mama Rina.
Ny.Andin langsung merasa malu, dia memang takut jika putrinya melupakan nya.
"Bukan cemburu hanya takut kehilangan" Balas Ny.Andin lagi.
Mereka pun kembali tertawa mendengar kedua wanita paruh baya berdebat.
Vera merasa sangat bahagia melihat keluar nya utuh kembali, dia pun memegang tangan Ny.Andin.
"Mom... Mommy juga orang tua Vera, mana mungkin Vera lupa" Vera berusaha menenangkan mertua nya.
"Iya sayang, makasih ya"
Ny.Andin mencium kepala menantu kesayangan nya, mereka pun melangkah keluar dari rumah sakit.
Davvien dan Vera satu mobil yang di kendarai oleh Fero, Mama Rina dan Tn.Diwan satu mobil bertiga dengan Frans, sedangkan Tn.Andre dan Ny.Andin mereka satu mobil hanya berdua.
...----------------...
Mobil pun terparkir di halaman rumah Tn.Diwan.
"Sayang, hati-hati" Davvien memperingati istrinya.
"Iya sayang"
"Aku gendong ya" Pinta Davvien, namun mendapat gelengan dari Vera.
"Sayang, kau lupa aku wanita kuat"
"Tapi sayang kamu baru sembuh"
"Cih, dasar bucin... sekarang aja perhatian kemaren-kemaren kemana boss" Sadar atau nggak Fero sudah mengatai Davvien, dan itu membuat bos sinting nya itu jadi marah.
"Seperti nya kamu sudah sangat lama tidak merasakan bogem ku kutu kupret" Ancam Davvien dengan suara begitu dingin.
Fero jadi gelagapan, dia langsung memegang mulutnya.
"Waduh, keceplosan nih gw... habis dah wajah tampan gw di amukin bos sinting itu, hilang dah pesona gw, mana gw lagi ngedeketin yayang Intan, ini tidak boleh, aku harus cari perlindungan pada istri nya, ya itu lah kuncinya" Batin Fero, dia langsung melirik pada Vera.
"Eh bos... maksud saya, kalian sangat romantis, aku jadi iri" Kilah Fero
"Vera, kamu pasti tau maksud kakak baik kan?" Fero langsung mencari perlindungan pada singa betina, karna dia tau singa ganas di depan nya hanya patuh pada singa betina nya.
"Jangan kau cari alasan, apa lagi sampai bawa-bawa istri ku, sekarang cepat kamu kesini " Bentak Davvien.
Sedangkan Fero sudah menciut, sedangkan Tn.Diwan, Frans dan Rani baru sampai, mereka langsung menyaksikan bos dan asisten sedang berdebat.
"Maaf bos, saya cuman salut dengan kebucinan anda yang sangat berlebihan ups" Fero kembali salah ngomong, dia langsung menutup mulut dengan telapak tangan nya.
Davvien yang memang sudah kepancing emosi langsung meradang, dia seakan berubah seperti monster yang bertubuh besar dan keluar dua tanduk di kepalanya, matanya sudah memerah.
Saat amarah sudah di ubun-ubun, Davvien ingin melangkah mendekati Fero.
__ADS_1
"Sayang... sudahlah, kak Fero hanya suka dengan perhatian mu" Tukas Vera.
Namun Davvien tampak masih begitu panas.
"Sayang, biarkan aku memberikan pelajaran pada kutu kupret ini" Ucap Davvien masih berapi-api.
"Sayang, apa tuan J tidak rindu dengan gua tempat bertapa nya, jika tidak ya sudah pukul saja kak Fero, tapi jika dia rindu jangan harap tuan J bisa masuk ke dalam gua setelah kamu menghajar kak Fero" Bisik Vera di telinga Davvien.
Seketika amarah Davvien langsung mereda, api yang menyala padam dalam seketika mendengar ancaman sang istri.
Bagaimana mungkin tidak rindu, tuan J nya selama ini hanya bisa dia urut, karna sudah lama tidak bertapa.
"Iya sayang, tentu aku mau, aku mau nanti bertapa sekitar lima jam, bolehkan sayang?" Davvien pun berbisik di telinga Vera.
Vera langsung membulat kan mata mendengar permintaan suaminya.
"Kan, gara-gara kak Fero sih... aku yang harus sabar ladenin tuan J yang sangat besar dan panjang itu, tapi aku suka hihi" Vera membatin sambil menghisap kuku jarinya, dia terkekeh juga geli membayangkan tuan J milik suaminya.
"Hekhem, oke karna aku berbaik hati, maka aku memaafkan mu kutu kupret"
"Ntah apa yang di bisikan singa betina itu, hingga membuat singa jantan sinting itu patuh"
Tak ingin jadi sasaran lagi Fero langsung bungkam, tidak berani menjawab sepatah kata pun, dia hanya bisa membatin.
Mereka pun masuk setelah melihat drama antara bos dan asisten.
"Nak Fero, ayo masuk dulu" Ajak Mama Rina.
"Tidak usah Tante, saya ada keperluan, lain waktu saja saya mampir"
"Baik lah kalau begitu hati-hati ya"
Mama Rina dan Tn.Diwan pun masuk, di susul Frans di belakang, saat berpapasan dengan Fero, Frans pun melihat pada Fero.
"Keperluan menemui calon istriku ya tuan Fero?" Ledek Frans, dia sengaja memanas-manasi Fero.
Fero mengernyitkan dahi mendengar perkataan Frans.
"Siapa yang anda maksud calon istri anda?"
"Ya tentu saja beby Intan"
Fero langsung membulat kan mata mendengar ucapan Frans.
Jika tadi Davvien yang tersulut emosi, sekarang dia lah yang menahan amarah atas ucapan Frans.
"Anda lihat saja, orang baru ini lah yang akan menjadi pendamping hidupnya"
"Heuh, bermimpi lah tuan Frans atau jika perlu bernazar lah, sampai kapan pun itu tidak akan terjadi" Fero langsung meninggalkan Frans yang terkekeh karna melihat kemarahan Fero.
"Kasihan sekali adik ku, di himpit oleh orang-orang dingin dan pemarah seperti mereka" Frans menggeleng kan kepalanya, dia pun masuk ke dalam rumah.
...----------------...
Dengan perasaan marah dia mengendarai mobil nya, tujuan nya hanya satu yaitu menemui Intan.
"Dasar tidak tau malu, dia bahkan menyebut nya dengan kata-kata beby, aku yang sudah lama mengenali nya pun belum pernah memanggil nya beby" Umpat Fero kepada Frans.
"Cih, dia bilang calon istri nya... dia itu hanya milik ku, kamu hanya orang baru" lanjut Fero lagi.
Dia bahkan lupa bagaimana bersikap dingin dan cuek, yang terlihat sekarang adalah Fero yang cemburu dan cerewet.
"Tak akan ku biarkan wanita ku menjadi milik orang lain, dia hanya milik ku"
Fero sudah sampai di depan rumah Intan, dia pun langsung keluar dari dalam mobil lalu berjalan mendekati pintu.
Ting,,,tung,,,ting,,tung,,,
Ceklek...
"Eh nak Fero, ayo masuk"
"Intan nya ada bi?"
"Ada, ada... mari masuk dulu"
Fero pun masuk, dia di persilahkan duduk di sofa.
"Duduk dulu ya nak, biar bibi panggil non Intan dulu"
"Iya bi, oh ya Tante mana?"
__ADS_1
"Nyonya sedang keluar Nak Fero"
"Heum baiklah bi"
Pelayanan rumah Intan langsung menaiki tangga berjalan menuju kamar Intan, Fero menduduki bokongnya di sofa.
Tiba-tiba ide konyol hinggap di kepala Fero, dia ingat dulu saat terluka jika Intan sangat khawatir dan ingin mengobatinya, tapi waktu itu Fero menolak mentah-mentah kebaikan Intan.
Dan sekarang dia ingin terluka kembali biar mendapatkan perhatian Intan.
"Mestinya aku terima saja pukulan dari bos sinting tadi, jadi saat dia melihat ku merasa panik dan mengobati ku" Gumam Fero sendiri, dia memikirkan cara agar dirinya bisa terluka.
Dia pun melirik sudut meja sofa yang terbuat dari kaca, tiba-tiba dia mendapatkan ide seperti keluar lampu kuning di atas kepalanya.
Dia pun mendekati sudut meja, lalu menggoreskan tangan nya di sana.
Sreeettttt...
"Aw, kenapa perih begini ya... dan kenapa aku begitu lemah sekarang, sangking lamanya tidak pernah terluka" Fero meniup punggung tangan nya yang sudah menguarkan darah.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki sedang menuruni tangga, Fero mengalihkan pandangannya melihat pemilik suara tersebut.
Dan Fero langsung tersenyum melihat orang yang turun dari tangga adalah wanita yang dia nanti kan.
"Untuk apa anda kesini tuan?"
Tanya Intan yang langsung duduk di sofa yang lain, dia sudah tidak menunjukkan kegugupan nya terhadap Fero.
"E A-aku cuman kangen sama mama mu"
Jawab Fero terbata-bata, tidak mungkin dia mengatakan jika kangen sama Intan.
"Oh, mama ku tidak ada di rumah, lebih baik anda pulang" Ujar Intan dengan nada ketus.
"Kalau begitu saya ingin menemui mu"
Fero sengaja meniup niup dan mengayunkan tangan di depan Intan.
"Maaf, saya sedang sibuk" Mata Intan tentu sudah menangkap tangan Fero yang berdarah.
"Em, bisa obati luka ku sebentar?" Tanya Fero yang menyerahkan tangannya pada Intan.
"Hey, sejak kapan Tuan Fero yang berwibawa, dingin dan juga kejam jadi lemah seperti ini, bahkan dia meringis hanya karna luka kecil, dan dia sampai pergi kesini untuk mengobati lukanya itu"
Hati Fero yang semulanya cerah langsung mendung dan tersambar petir saat mendengar ejekan Intan, seolah Intan sedang membalikkan semua kata-kata dan keangkuhan Fero dulu.
"Ah ya, kamu benar... ini hanya luka kecil seharusnya aku tidak boleh selemah ini, kalau begitu saya permisi"
Sakit, dan juga malu yang Fero rasakan saat ini, sakit karna Intan benar-benar sudah berubah.
Malu ya dengan kata-kata Intan lah yang mengatakan dirinya lemah, dia pun bangkit, saat ingin melangkah Intan mengehentikan nya.
"Tunggu" Intan bangun dari duduk nya.
"Tunggu disini dan jangan kemana-mana"
.
.
.
.
.
.
.
.
~Bersambung
Hai hai hai.... para reader ku terrrrrrsayang, apa kabar..?
Sehat ya, maaf bila aku jarang menyapa kalian satu persatu, dan komentar kalian juga kadang nggak terbalas, tapi tenang saja aku selalu baca kok, bahkan aku pantau loh komentar dari kalian, jika sudah ada waktu aku balas semuanya.
Jangan bosan ya berikan dukungan untuk karya receh ku ini, like, komen dan vote kalian sangat berarti untuk ku.
Oh ya aku mau promoin novel kakak ku nih, cerita nya seru loh.
__ADS_1