
...Ikhlas bukan melepaskan sesuatu dengan air mata, tetapi bisa merelakan dengan sebuah senyuman....
...Mensyukuri hari ini, dan mengikhlaskan sesuatu yang telah berlalu....
...Rapuh boleh, menangis wajar, tapi jangan sampai meratap....
...Tuhan tidak menjanjikan langit selalu biru, tetapi pelangi akan selalu hadir setelah badai berlalu....
...Intinya, hidup adalah kombinasi niat, keikhlasan, doa, kerja keras dan tawakal....
...----------------...
Di sebuah restoran, pada sebuah meja terlihat dua orang sedang duduk, nampak mereka tengah membicarakan sesuatu yang serius.
Mereka adalah Intan dan Riko, setelah tadi Riko menghadang mobil Intan, Riko meminta Intan untuk ikut dengan nya, guna menanyakan sesuatu yang selama ini mengganjal di hatinya.
Belum berapa lama mereka di sana, Riko memilih menunggu pesanan mereka terlebih dahulu, dan sesaat pun makanan telah di hantarkan kepada mereka.
"Sebenarnya loe ngajakin gw kesini mau membicarakan apa ko"
Tanya Intan berbasa basi yang pasti Intan sudah tau kalau Riko mengajak nya pasti ingin menanyakan tentang Vera.
"Oke, langsung pada intinya saja, kamu pasti sudah tau kalau aku mengajak mu kesini karna ingin menanyakan soal Vera"
Jawab Riko, mereka berbicara sambil memakan pesanan mereka.
"Loe udah tau kan soal.."
"Soal Vera sudah menikah, iya gw sudah tau dan itulah yang harus gw tanya sama loe"
Riko langsung memotong perkataan Intan.
"Sebenarnya Vera menikah benar karna di paksa atau gimana Tan, gw penasaran mau menanyakan sama Vera waktu itu tapi dia terlihat sangat tertekan"
Lanjut Riko lagi, selama ini dia benar benar tidak tenang.
Intan ragu untuk menjawab pertanyaan Riko, karna takut di kira terlalu mencampuri urusan orang lain, apalagi dia takut kalau sahabat nya itu tidak ingin Riko tau lebih, tapi Intan juga sudah geram sama Riko, yang dulu nyakitin Vera sekarang malah bertanya begitu pada nya.
"Ya seperti kamu lihat, Vera tidak ingin mengkhianati kamu ko, tapi dia tidak ada pilihan lain waktu itu dia juga tidak ingin mengecewakan Daddy nya, kamu tidak tau bagaimana terpuruk nya Vera Ko, dia sering bilang kalau dia sangat mencintai loe tapi di saat dia ngeharapin loe, dia malah tau kalau loe sudah mengkhianati dia Ko, jujur gw sebenernya juga benci sama loe karna sudah membuat sahabat gw kecewa, loe tau kan Ko Vera bukan orang yang lemah atau gampang menyerah tapi waktu itu dia benar benar rapuh, kita bisa melihat setiap harinya beban yang dia hadapi meski dia jarang menceritakan pada kami"
Jelas Intan panjang lebar, Intan menghentikan makan nya saat menceritakan semua perihal yang di alami sahabat yang sangat di sayangi nya itu.
Begitupun dengan Riko, saat mendengar tentang derita sang kekasih nya selama ini seakan makanan yang berada di hadapannya terasa hambar, yang telah masuk pun rasanya ingin keluar, dada yang sesak nafas terasa terhenti, hati bak di sayat sayat, begitulah yang di rasakan oleh Riko saat Intan menceritakan segalanya.
Dia sungguh menyesal karna selama memimpin perusahaan dia sudah jarang memberi waktu pada Vera, ya ini lah yang di dapatkan pada akhirnya dia telah kehilangan orang yang dia sayangi, dalam rasa terluka nya Riko pun menjawab.
"Tapi gw nggak khianati Vera Tan, waktu gw ke luar kota sekertaris gw yang mengangkat telpon Vera, dan pada saat Vera lihat gw masuk ke dalam restoran bersama perempuan itu juga sekertaris gw, dan waktu itu kami sedang bertemu dengan kliyen kami, Vera salah paham.
"Mungkin saja ada yang memprovokasi kan kalian berdua"
"Maksud kamu"
"Kamu tanya saja sama sekertaris kamu, kok aku jadi curiga kalau dia lah dalang dari kehancuran hubungan kalian berdua"
Riko terdiam, dia pun berfikir apa mungkin memang Lisa di balik semua ini, dia harus menanyakan pada Lisa.
"Jadi Vera tidak mencintai suaminya itu dan suaminya juga tidak mencintai Vera?"
"Kalau itu aku tidak tau Ko, tapi mereka sama sama di jodohkan"
"Tapi kenapa om Diwan menjodoh kan Vera, sedang dia juga tau kalau aku adalah pacarnya Vera, apa dia tidak suka dengan ku, tapi dulu om diwan bisa menerima ku saat tau kalau aku dan Vera mempunyai hubungan"
"Untuk alasan lebih jelasnya aku kurang tau Ko, tapi om Diwan bilang pada Vera kalau dia ingin melindungi Vera, dan di rasa kalau suaminya saat ini sanggup"
"Apa, jadi om diwan kira aku tidak sanggup melindungi Vera"
"Mungkin ada alasan lain Ko"
"Tapi aku masih penasaran dengan siapa Vera menikah?"
__ADS_1
Intan jadi bingung, apa dia harus bilang suami Vera tapi suatu saat Riko juga akan tau, fikir Intan.
"Suami Vera itu Tn.Davvien Wilmar"
Jelas Intan, Riko tampak terkejut mendengar siapa nama suami kekasih nya itu.
"Apa, Davvien"
Tanya Riko, sedangkan Intan hanya mengangguk.
"Tan, loe taukan dia itu orang yang angkuh sombong dan terkenal kekejaman nya, bagaimana bisa dia melindungi Vera sedang dia sendiri saja begitu kejam"
"Aku juga tidak tau ko, kamu kenal sama dia"
"Aku kenal, dia lah kliyen yang aku temui di restoran saat Vera melihat ku, dan aku bekerja sama dengan perusahaan nya"
Intan pun terkejut mendengar jawaban Riko, tak ada lagi yang di tanyakan karna Riko masih dalam fase terkejut nya, Riko berfikir kalau Davvien tidak mencintai Vera apa kah dia akan berbuat kasar pada Vera, sungguh Riko menghawatirkan Vera, karna orang yang menikahi Vera adalah orang yang tidak punya hati.
...----------------...
Sedangkan di kantor,,,,,,,,
"Apa kita langsung kemarkas atau pulang ke rumah dulu?"
Tanya Fero pada Davvien, mereka sudah berada di dalam mobil, dan malam ini mereka akan melakukan transaksi gelap senjata ilegal yang mereka beli beberapa hari lalu.
"Markas"
Jawab Davvien singkat, dan Fero hanya mengangguk, dan fokus menyetir, tidak ada pembahasan lagi yang menemani perjalanan mereka.
Tak berapa lama mereka pun sampai, sudah ada Irfan yang menyambut kedatangan nya.
"Fan bagaimana udah kamu arahkan anak buah mu"
"Sudah tuan"
Davvien berlalu tanpa menjawab apapun lagi.
Mereka terus terjerat ke dalam lembah dosa tanpa merasa malu atau pun takut seakan akan perbuatan mereka begitu mulia.
"boleh aku melihat senjatanya Tn.Davvien?"
Tanya Fernando rekan transaksi mereka yang merupakan bos mafia dari kota E.
"Silahkan Tn.Fernando, Irfan"
Melihat ke arah Irfan dan memberi kode untuk memberi senjata lada Tn.Fernando.
"Ini Tuan senjata nya"
Irfan pun menyerahkan senjata tersebut, tanpa ada rasa curiga.
Tn.Fernando melihat dengan teliti barang yang ada di tangan nya saat ini, baru hendak bicara tiba tiba
"Angkat tangan kalian sudah kami kepung"
Ucap seseorang yang dia adalah ketua dari pemberantasan mafia, mereka sangat banyak dan berhasil mengepung dua kelompok Mafia tersebut.
Sesaat mereka semua diam, Davvien melirik ke arah Irfan menyuruh anak buahnya yang bersembunyi segera bergerak,Irfan yang paham pun langsung memencet tombol yang di tangan nya.
Dor,,dor,,do,,,
Dor,,dor,,dor,,
Satu persatu orang dari pemberantasan Mafia tumbang, saat anak buah Davvien menyerang mereka dari arah belakang, mereka langsung berbalik arah melihat orang yang menyerang anggota mereka, pada kesempatan ini Davvien Fero dan Irfan langsung mengeluarkan senjata, begitupun dengan anak buah yang di sana dan anak buah Fernando langsung mengangkat senjatanya pada para pemberantasan mafia tersebut, baku Tembak pun terjadi mereka saling menembak dan menumbangkan musuh masing masing, saat semua sibuk dengan dengan tembak menembak, Tn.Fernando malah mengambil langkah untuk kabur, sudah ada anak buah yang menunggu nya di sebuah kapal, Davvien terus menembak para pemberantas yang juga mengincarnya, dan aneh nya lagi para anak buah Fernando juga membidik ke arah nya, saat menghindari tembakan-tembakan itu tak sengaja dia melihat Fernando sudah mau masuk ke dalam kapal.
"Sial"
Dia pun lari mengejar Tn.Fernando tapi dia di halang oleh anak buah Fernando dia pun harus melayani semut semut yang sedang menghalangi jalan nya.
__ADS_1
Dor,,dor,,dor,,
Asap keluar di ujung senjata, dalam sekejap semua sudah terkapar di tanah, saat hendak berlari pun
Dor,,dor,,
"Essssstttttt sial"
Davvien melihat lengan baju nya yang robek dan terlihat darah sudah keluar dari sana, dia juga melihat orang yang melukai lengan nya sudah terjatuh dan berlumuran darah.
Saat di lihat orang itu mengarah senjata pada Davvien yang mau Fero langsung menembak orang tersebut, dan orang itupun berhasil menembak ke arah Davvien tapi meleset hanya mengenai lengan Davvien.
Davvien kembali melihat kapal yang membawa Tn.fernando sudah berlayar sangat jauh.
"F*ck, beraninya kau bermain-main dengan ku"
Dia pun kembali pada mereka yang masih saling tembak menembak, dengan perasaan marah Davvien membabi buta menembak, memukul orang yang ada di hadapan nya, bahkan dalam sekali pukulan lawan Davvien sudak K O, pemberantas hanya tersisa sedikit sedangkan anak buah Fernando sudah habis di tangan Davvien, anak buah Davvien masih terbilang banyak.
Pertempuran masih terus berlanjut, suara tembakan masih terus menggema di sudut pelabuhan.
Davvien Fero dan Irfan masih terus menumbangkan seluruh pengganggu mereka.
Kemampuan mereka dalam hal membidik dan menghindari peluru sudah tidak di ragukan lagi, dengan darah yang terus mengalir di lengan Davvien dia masih tetap setia menembak semua musuhnya.
Dor,,dor,,dorr
Dan peluru terakhirnya berhasil melenyapkan musuh terakhirnya.
Semua musuh Davvien sudah punah, hanya tinggal mereka, begitu banyak nya mayat yang tergeletak di tanah, darah bahkan sudah membanjiri tempat itu.
"Urus semua ini, tidak boleh ada yang tersisa kumpulan semua anak buah untuk membuang mayat ini Irfan, setelah selesai kalian harus periksa kembali tidak boleh ada jejak, kalian harus teliti"
"Baik tuan"
Davvien pun melangkah di ikuti Fero, sedangkan Irfan dan anak buah nya mengurus semua mayat yang ada di sana, sebagian di bakar dan sebagian di buang oleh mereka.
"Kita harus segera pulang, luka mu harus segera di obati, apa aku harus memanggil dokter?
Tanya Fero yang menghawatirkan Davvien.
"Tidak perlu, ini hanya goresan kecil"
"Tapi darah mu keluar banyak"
"Fero....."
"Baik lah"
Fero pun mengalah saat mendengar nada ancaman dari Davvien, suasana mobil terasa begitu dingin bagaikan terjebak di dalam pergunungan es saat Fero melihat ekspresi Davvien yang sangat menyeramkan, bisa di duga kalau Davvien sedang sangat marah.
Mereka pun sampai, Davvien langsung turun saat dia masuk betapa terkejut nya dia melihat seseorang yang sedang duduk di sofa.
Vera yang mendengar seseorang masuk ke dalam rumah mengalihkan pandangannya, padahal jam sudah menunjukkan pukul 01:30 tapi dia tidak bisa tidur karna sepulang dari kampus Vera ketiduran dan seperti biasa kalau sudah tidur Vera tidak bisa dengan waktu yang sebentar.
Vera melihat Davvien yang juga melihat ke arah nya, meski pun melihat aura kemarahan dari wajah Davvien, Vera mencoba tersenyum manis pada Davvien.
Dug, dug dug dug
Irama jantung Davvien, dari rasa lelah yang di rasakan badan Davvien sekarang pun dia harus merasakan lelah saat jantung nya yang terus berdegup kencang saat melihat Vera apalagi gadis itu tersenyum pada nya.
Davvien tidak menyangka kalau Vera akan ada di rumah, yang dia kira Vera masih belum pulang dari rumah orang tua nya.
"Dari mana?"
~Bersambung
Sebelum nya makasih buat kalian yang sudah mendukung karya gadungan saya yang kurang jelas ini.
Aku harab kalian masih setia membaca dan memberi dukungan untuk karya ku ini, makasih sekali lagi semoga kalian sehat dan bahagia selalu๐๐๐
__ADS_1
Aku nulis panjang loh, dukungan nya dong, like juga komen ya vote jua di tunggu๐๐