Gadis Penakluk Mafia Karatan

Gadis Penakluk Mafia Karatan
Calon istriku.


__ADS_3

Setelah menjemput sang kekasih, Fero langsung membawa Intan ke kantor. Fero menatap orang yang begitu dicintai nya berada di sebelah nya, baginya Intan terlihat jauh lebih cantik sekarang ini.


"Aku gugup" ujar Intan sambil melihat pada Fero.


"Kenapa gugup, kan nggak aku nyuruh kamu buat menghandle perusahaan, kamu hanya duduk manis menemani calon suami mu ini bekerja" jawab Fero yang dengan sesekali melirik pada sang kekasih.


"Aku malu! aku takut nanti orang-orang kantor membicarakan ku" jujur Intan yang memang sudah membuat nya kepikiran sejak Fero mengajak dirinya ikut ke kantor.


"Tenang lah, percaya sama aku... aku tidak akan membiarkan mereka mengeluarkan satu kata pun" Fero mengerti dengan kekhawatiran Intan, dia pun meraih tangan sang kekasih lalu menggenggam nya.


"Sekarang tenang ya!" lanjut Fero lagi.


Intan hanya mengangguk, mencoba untuk percaya pada calon imamnya itu. hanya membutuhkan waktu sekitar 35 menit, mereka sudah sampai di depan gedung pencakar langit.


Fero turun, langsung mengitari mobil nya, lalu diapun membukakan pintu untuk sang kekasih. Intan pun turun, dengan menenteng satu rantang di tangan nya.


Fero langsung menggandeng Intan untuk memasuki kantor, benar saja. Baru kedua manusia itu memasuki lobby, semua mata tertuju pada ke dua nya, tidak tinggal diam. para karyawan langsung berbisik-bisik melihat Fero menggandeng tangan seorang perempuan, karna selama mereka bekerja di perusahaan Wilmar, belum pernah melihat Fero dekat dengan seorang wanita, bahkan ada banyak karyawan perempuan yang mengejar dirinya, namun sama sekali tidak di lirik oleh lemari es berjalan tersebut.


"Siapa wanita yang di bawa asisten Fero sih?" bisik salah satu karyawan wanita saat Fero dan Intan melewati mereka.


"Iya ya, belum pernah loh aku melihat asisten Fero dekat dengan seorang wanita" sambung si B


"Apaan sih, cantikan juga aku! tapi asisten Fero malah tidak melirik ku sama sekali" cibir si C yang merasa kesal, karna Fero pernah menolak nya.


Intan jelas mendengar semua gunjingan mereka, karna mereka seperti sengaja berbisik dengan begitu keras, namun dia hanya diam sambil terus mengikuti langkah Fero.


"Jangan-jangan dia wanita yang di sewakan asisten Fero untuk menghibur nya, secara kan Tuan Davvien berbulan madu, mungkin dia bosan jika bekerja sendirian" lanjut lagi karyawan di sana.


Mendengar itu jelas membuat telinga Fero memerah, sedari tadi dia mendengar kan semuanya, namun dia mencoba untuk tidak menghiraukan, tapi kali ini dia tidak bisa menerima jika orang yang dia sayangi di hina seperti itu.


Intan yang memang berperasaan lembut langsung menetes kan air mata mendengar kata yang di lontarkan untuk dirinya.


Fero menggenggam kuat tangan Intan, lalu diapun menghentikan langkah dan membalikkan badannya, menatap tajam pada karyawan yang mengatakan hal tersebut kepada sang kekasih.


"Kalian, apa kalian di sini di gaji untuk mengatai orang hah!!" Teriak Fero begitu memekik telinga mereka.


Tidak ada yang bersuara, semuanya diam, termasuk Intan... mereka begitu ketakutan saat melihat kemarahan dari tangan kanan pimpinan mereka.


"Kenapa kalian semua diam, kenapa tadi mulut kalian begitu lancar saat melontarkan kata kata begitu kotor untuk calon istri saya" Bentak Fero lagi, dia benar-benar sangat marah.

__ADS_1


Karyawan di sana langsung terkejut mendengar perkataan Fero, saat mengetahui jika wanita yang ada di gandengan Fero ternyata calon istri nya, mereka semakin merasa ketakutan, bahkan wanita yang mengatakan Intan wanita y wanita sewaan sudah gemetaran.


Jika mereka sering melihat kemarahan Davvien, namun tidak dengan Fero, karna menurut mereka Fero adalah orang yang sangat penyabar.


"Kau!!" Tunjuk Fero pada wanita yang mengatai Intan.


"Sekarang kamu keluar dari kantor ini dan jangan pernah melangkah kan kakimu lagi ke sini" Lanjut nya lagi.


Wanita tersebut langsung bersimpuh di hadapan Fero, memohon agar dirinya tidak di pecat.


"Tuan, maafkan saya! saya tidak akan mengulangi nya lagi, Nona... saya minta maaf" ucap wanita itu, mengharapkan maaf dari Fero.


Intan melihat ke arah Fero, namun dia tidak bisa berkata apapun, dia pun merasa ketakutan melihat kemarahan Fero, Intan yang semula nya menangis. Air matanya bahkan langsung mengering saat mendengar teriakkan Fero.


" Ternyata dia sangat menyeramkan jika marah seperti ini" batin Intan.


"Tidak ada kata maaf untuk orang yang tidak profesional, dan dengar kalian semua, inilah akibat jika kalian sibuk mengurus kehidupan orang lain, karna perusahaan ini tidak menggaji kalian untuk bergosip" setelah mengatakan hal demikian dengan begitu tegas, Fero langsung menarik tangan Intan untuk masuk ke dalam lift.


Di dalam lift, Intan masih melihat pada Fero yang menatap ke depan dengan begitu datar, Intan tidak berani bersuara karna melihat wajah Fero yang masih terlihat garang.


"Kenapa dia masih memasang wajah garang nya, apa aku juga salah... seharusnya marah kan aku, karna mereka menghina ku, kenapa dia yang begitu terlihat kesal, bahkan dia menggenggam tangan ku begitu kuat" batin Intan menjerit, merasakan genggaman tangan Fero semakin erat.


"Ssstttttt" ringis Intan, dia melihat tangan nya sudah memerah.


"Ya ampun, maafkan aku... aku tidak sengaja menggenggam nya begitu erat!" ucap Fero menyesal.


"Tidak apa-apa" jawab Intan sambil mengipas-ngipas tangannya.


Ting....


Pintu lift terbuka, Fero langsung mengajak Intan keluar.


"Ayo kita keruangan ku, biar aku oleskan salep"


"Kak tunggu!" ujar Intan menghentikan langkah mereka.


"Kenapa?" tanya Fero dengan menatap pada Intan.


"Apa Tuan Davvien tidak akan marah jika kamu memecat karyawan nya?" Intan merasa tidak enak, gara-gara dirinya Fero harus memecat seorang karyawan.

__ADS_1


"Jangan pikirkan itu, Davvien akan melakukan hal yang sama jika pegawai nya tidak profesional" jawab Fero santai, dia pun kembali melangkah masuk ke dalam ruangan nya.


"Tap...." ucapan Intan terpotong.


"Sudah, jangan banyak bicara! atau mulut mu aku buat diam dengan caraku sendiri" ancam Fero langsung membuat Intan bungkam.


Intan pun hanya pasrah saat sang pangeran es nya mengobati pergelangan tangan nya.


"Kau bawa apa?" tanya Fero saat sudah selesai mengoleskan salep di tangan wanita nya, sambil matanya melirik pada rantang yang di bawa Intan.


"Ah ya, aku membawakan Kakak sarapan! Kakak pasti belum sempat sarapan kan?" Intan langsung mengambil kotak makan tersebut lalu membuka nya.


"Calon istri yang baik dan perhatian" gumam Fero yang masih bisa di dengar oleh Intan, hingga membuat kedua pipi Intan bersumbu merah.


"Ini Kak" Intan menyodorkan kotak makan yang sudah dia buka, beserta dengan sendok nya juga.


"Suapi aku" pinta Fero dengan begitu datar.


"Jadi dia ingin di manja, tapi kenapa datar banget sih, plus kaku lagi, nggak ada romantis-romantis nya" batin Intan yang melihat Fero begitu kaku saat ingin bersikap manis.


"Kakak kok manja banget sih, kan udah gede" tolak Intan dengan membuat wajah cemberut.


"Kamu nggak mau nih, ya sudah aku tidak mau makan!"


"Hufff oke oke, ini. Aaa..." Intan mengalah, dia pun menyuapi lelaki tampan yang di anggap nya pangeran itu.


Fero tersenyum senang, karna Intan mau mengalah dan menyuapi dirinya.


.


.


.


.


.


~Bersambung.

__ADS_1


Para Reader, ajarin Fero dong supaya tidak kaku, kan lucu jika ingin manja tapi masih kaku begitu.


Jangan lupa dong, like, komen, dan juga vocher nya jika kalian suka dengan karya receh ku ini.


__ADS_2