
Vera bergegas mengambil ponsel Davvien karna dia tidak mempunyai kontak dokter Hendri, saat membuka ponsel milik suaminya Vera sedikit tersenyum karna Davvien memasangkan gambar dirinya di layar persegi empat itu.
"Eh, tahan Vera senang nya nanti dulu sekarang terlebih penting adalah suamimu"
Gumam Vera sambil mencari kontak Dokter Hendri.
"Yap, dapat"
Langsung saja Vera menghubungi Dokter Hendri.
"Halo tuan"
Ucap dokter Hendri di seberang.
"Iya halo dok, anda harus datang ke sini. SEKARANG"
Dari semula nya lembut Vera langsung menekan kata di akhir kalimat.
"Ada apa lagi ini, kemaren suaminya yang selalu mengancam ku dan sekarang istrinya, dilihat dari sikap istrinya sangat lembut, tapi nyatanya mereka tidak jauh berbeda"
Gerutu Dokter Hendri, dia langsung bersiap untuk berangkat.
"Aku jadi heran setelah mereka bersama, mereka selalu menghubungi ku, kadang suaminya lah kadang istri nya lah"
Dokter Hendri mengoceh tanpa henti bagaikan emak emak rempong, sampai di dalam mobil mulut Dokter Hendri belum berhenti mengumpat pasangan suami istri yang menurut nya aneh.
Sedangkan di kamar,,, Vera kembali mendekati Davvien setelah memberitahu pada Fero.
"Sayang bangun, maaf kan aku. hiks,,,,,hiks,,,"
Vera menangis, dia melihat kening Davvien yang sedikit menonjol.
"Apa aku terlalu keras menendang nya ya"
Vera memegang benjolan itu.
"Tapi aku kan tidak sengaja, sayang ayo bangun"
Karna tidak sanggup mengangkat badan Davvien Vera hanya mengambil selimut dan menaruh kepala Davvein di atas pangkuan nya.
Tak lama pun terdengar suara pintu yang terbuka dengan keras.
"Vera kenapa jadi seperti ini, apa yang terjadi?"
Tanya Fero, dia begitu panik saat mendapat kabar kalau Davvien pingsan, saat ini kepanikan nya bertambah setelah melihat ke adaan Davvien yang terbaring lemah di lantai.
"Kak, hiks,,,hiks,,,hiks,,, ini salah ku kak"
"Katakan Vera apa yang terjadi jangan buat aku khawatir"
"Aku aku tidak sengaja menendang perut nya dan kepala nya terbentur ke dinding, dia langsung pingsan dan kakak lihat kening nya menonjol, huaaaaaaaa"
Mendengar itu Fero terbelalak, bagaimana mungkin tendangan seorang wanita mampu membuat bos mafia sampai pingsan, tenaga apa yang di gunakan istri sahabatnya itu.
Ke khawatiran nya sedikit berkurang setelah mendengar pengakuan Vera, Fero pun merasa ingin tertawa melihat kening Davvien yang sudah menonjol merah.
"Vera kenapa tidak kau kompres benjolan nya biar tidak terlalu membesar"
"Ah ya aku baru ingat"
Vera berlari dengan cepat untuk mengambil air hangat dan juga kain untuk mengompres kening suaminya.
Vera sudah kembali dalam kamarnya bertepatan dengan dokter Hendri yang juga sudah sampai.
"Kau terlambat Dokter Hendri"
__ADS_1
Ucap Vera dengan nada dingin.
Glekkkkk
Ternyata istri tuan nya lebih mengerikan.
"Maaf nona tadi ma,,"
"Tidak usah banyak alasan sekarang cepat bantu kami mengangkat suamiku atas tempat tidur"
Dokter Hendri juga kaget melihat keadaan Davvien, Dokter Hendri merasa sangat khawatir, dia juga tidak akan mengampuni dirinya sendiri kalau sampai terjadi apa apa pada Davvien sebab dia sudah datang terlambat.
Meski Davvien berperilaku semena mena, namun Fero dan dokter Hendri sangat menyayangi Davvien, itu karna pribadi Davvien memang baik, cuman kadang emosi nya yang tidak bisa dia kontrol, dan mereka tau Davvien tidak akan menyakiti mereka jika tanpa sebab.
Mereka meletakkan Davvien di atas tempat tidur dengan penuh hati hati.
"Huhhhhfff berat sekali kau tuan, pasti dosa mu sangat banyak"
Ucap Dokter Hendri yang langsung mendapat kan tatapan membunuh dari Vera dan Fero.
"Kau mengatai suami ku hah?
"Ti tidak nona saya han,,,,"
"Sudah cepat periksa suami saya"
"Baik, tapi sebelum nya saya ingin tau, apa sebenarnya yang terjadi kenapa tuan jadi seperti ini"
"Tanpa sengaja aku menendang perut nya dan membuat dirinya terbentur dinding dia pun pingsan"
Ucap Vera menjadi lirih, mengingat kesalahan nya.
"Apa, seorang mafia bisa terkalahkan dengan seorang perempuan, hebat kau nona"
"Ngapain kamu megang megang aku hah?"
Teriak Davvien pada dokter Hendri sambil memegang kepala nya yang terasa sakit.
"Sayang kamu sudah sadar, aku sangat khawatir maaf kan aku ya sayang, mana yang sakit"
Air mata Vera kembali turun, sungguh dia merasa bersalah karna ulah nya lah Davvien seperti ini, dia langsung berhamburan masuk ke dalam pelukan Davvien.
"Hey jangan menangis"
Davvien menghapus air mata Vera, sungguh dia tidak menyangka kalau dia akan di buat pingsan oleh istrinya, Davvien merasa sangat malu karna hanya dengan satu tendangan dia sudah pingsan, biasanya menghadapi musuh berpuluh puluh orang tidak pernah tumbang.
"Maaf kan aku"
"Sudah jangan meminta maaf terus"
Mereka kembali berpelukan tanpa menghiraukan dua orang jomblo yang melihat penuh dahaga keromantisan Vera dan Davvien.
"Sayang untuk apa kedua kutu kupret ini ada di sini!"
"Aku yang menghubungi mereka karna takut terjadi apa apa dengan dirimu"
"Aku sudah tidak apa apa, lebih baik kalian keluar"
Tegas Davvien, Fero dan dokter Hendri langsung keluar.
"Huh, capek capek kemari malah di suruh pulang lagi"
Ucap Dokter Hendri kesal.
"Tidur saja di sini"
__ADS_1
Fero menyahut ucapan Dokter Hendri.
"Tidak perlu"
Dokter Hendri langsung keluar, dia hendak langsung pulang.
Sedangkan Fero memilih untuk menginap di sana malam ini.
Sedangkan di dalam kamar,,,
Vera masih setia mengompres benjol di kening Davvien.
"Apa masih sakit?"
"Heummmmm"
"Maaf ya"
"Sudah lah sayang aku tidak mau mendengarkan kamu minta maaf lagi"
"Vera pun mengangguk, setelah selesai Vera meletakkan tempat di atas meja, dan dia pun kembali ke dalam pelukan hangat suaminya"
Mereka pun tertidur, dengan keadaan Vera yang di himpit oleh tangan kekar Davvien, dan itu membuat Vera merasa aman dan juga aman.
...----------------...
Pagi pun tiba,,,
Vera sudah membuat sarapan dan menata dengan rapi di atas meja di bantu oleh para pelayan di sana.
Setelah selesai Vera memanggil Davvien dan juga Fero.
Mereka pun memulai menyantap makanan saat setelah Vera memanggil mereka.
"Kalian hari ini mau kemana?"
"Tanya Vera pada lelaki dua yang sedang menyantap makanan mereka"
"Karna hari ini hari Sabtu maka kami hanya ber istirahat di rumah"
Ucap Davvien, dia mengelus rambut Vera dan tersenyum manis pada istrinya itu.
"Apa aku boleh menyuruh Intan kesini, aku ingin memasak bersama nya, sudah lama sekali kami tidak masak bareng"
"Tentu sayang"
Davvien mengambil tangan Vera lalu mencium nya.
"Cih, mereka selalu saja bermesraan di hadapan ku"
Batin Fero, saat sibuk dengan pikirannya Fero di kejutkan dengan panggilan Vera.
"kak Fero nanti bisa kan jemput Intan"
Gleeekkk
~Bersambung
Mohon dukungan nya.
Like
komentar dan
Vote juga ya temen temen 😁😁😘😘❤️❤️.
__ADS_1