Gadis Penakluk Mafia Karatan

Gadis Penakluk Mafia Karatan
London


__ADS_3

...*Tidak ada yang lebih membahagiakan selain hidup dengan orang terkasih yang menghargai kit**a*....


...🌷 HAPPY READING 🌷...


Pagi hari di sebuah negara yang begitu indah, sehingga orang sering menjadikan tempat tersebut untuk liburan ataupun honeymoon, sinar matahari perlahan keluar, menyinari bumi dengan kepanasan nya.


Di dalam kamar hotel, sepasang manusia masih berada di bawah selimut dengan keadaan tubuh yang masih polos.


Vera terbangun, dia menggerakkan sedikit badannya agar sang suami tidak ikut terbangun karna posisi nya yang tidur di atas lengan kekar sang suami.


Vera menatap wajah yang matanya masih terpejam, perlahan dia menyentuh wajah terlelap yang begitu tampan.


"Kamu sangat lah sempurna sayang, tampan, memiliki banyak harta kekayaan, di hormati oleh orang banyak, tapi yang terpenting adalah kamu juga sempurna menjadi imam untuk ku, aku merasa sangat bersyukur... dulu aku berfikir bahwa pernikahan kita hanya di atas kertas, tapi sekarang kamu adalah milikku, aku ingin berterima kasih kepada kedua orang tua kita karna telah menjodohkan aku dengan dirimu" gumam Vera sambil tangan nya menulusuri wajah Davvien.


"Maaf, dulu aku sempat menolak! dan maaf juga jika aku pernah mengecewakan mu, tapi percayalah tidak sedikitpun niat ku untuk mengkhianati mu, meski saat itu belum ada rasa cinta yang tumbuh di antara kita"


"Bukan harta yang aku harapkan, bukan barang-barang mahal yang ku inginkan, tapi kamu! hanya kamu yang ku inginkan berada selalu bersama ku, kasih sayang mu, perhatian, juga sikap manja mu yang selalu membuat ku merasa bahagia" lanjut Vera lagi.


"Kamu tau! aku merasa begitu tenang saat berada tepat di sini" ucap Vera menunjuk dada sang suami.


"Aku merasa begitu nyaman, jika jauh darimu aku merasa tidak tenang, aku merasa begitu aman saat dalam dekapan tangan mu yang kekar ini, jika bisa aku ingin selalu berada di dalam pelukan mu" tak tinggal diam, tangan nya kini menyentuh perut Davvien yang begitu berbentuk yang sering orang sebut dengan roti sobek.


"Jangan pernah tinggalkan aku, aku sangat mencintaimu suamiku" Vera langsung mengangkat kepalanya dan memberi ciuman di bibir sang suami.


Cup...


"Rupanya masih belum bangun ya!" lanjut Vera bergumam, karna melihat sang suami masih memejamkan mata.


Akhirnya Vera pun meraih tangan sang suami lalu di letakkan di perutnya yang polos, Vera mengusap-usap perutnya sendiri dengan tangan Davvien. Seketika bayi yang berada dalam perut Vera langsung menunjukkan aksi mereka, kedua bayi tersebut nampaknya begitu aktif ketika tangan sang papa yang mengusap mereka.


"Aw... hihihi" Vera tertawa sendiri, merasakan geli karna tendangan dari calon bocil nya itu.


"Kalian bangunin Papa ya nak, lihat... Papa jadi pemalas, dia bahkan lupa jika hari ini akan mengajak Mama jalan-jalan!" ucap Vera sendiri pada kedua bayi dalam perut nya dengan membuat wajah cemberut.


Tiba-tiba tangan kekar yang di pegang Vera bergerak dengan sendirinya, mengelus begitu lembut seluruh perut Vera.


"Aku sudah bangun sayang! bahkan aku sempat mendengar kau memuji ketampanan ku" ujar Davvien masih memejamkan mata hingga membuat Vera terbelalak dan malu.


"Kamu dengar semuanya?" tanya Vera yang di angguki Davvien.


"Memang nya kenapa, kan kamu mengutarakan isi hati, kenapa aku tidak boleh mendengar nya!"


"Ya bukan begitu... kan aku malu" jawab Vera dengan nada kecil namun bisa di dengar oleh Davvien.

__ADS_1


"Hai, kau masih malu sama suami mu ini?"


"Ya kan aku juga masih punya malu.. ahkk" jerit Vera.


"Kenapa sayang?" Davvien langsung panik.


"Anak-anak mu nih, seperti nya sudah tidak sabar untuk keluar, dia terus menendang perut ku... apa lagi jika kamu sedang mengelusnya" jawab Vera yang membuat Davvien menarik nafas nya.


"Aku kira kamu kenapa, dan kalian nak! tidak boleh menyakiti Mama, Papa apa memarahi kalian jika kalian membuat istri Papa tidak nyaman!" ujar Davvien yang tangan nya masih pada perut Vera.


Bukan nya diam, bayi dalam perut Vera semakin aktif bergerak, hingga membuat mereka tertawa.


"Sudah sudah, aku tidak sanggup menahannya lagi... aku mau mandi saja" Vera ingin bangun, belum sempat menurun kan kaki nya ke lantai dia merasa sudah terbang ke udara.


"Sayang kenapa menggendong ku?" protes Vera, tapi dia langsung mengalungkan tangannya di leher Davvien.


"Kita sudah lama tidak mandi barengan!" jawab Davvien dengan mata sudah penuh gairah, Vera sudah bisa menebak jika sudah seperti ini, ujung-ujungnya pasti Davvien minta jatah.


...----------------...


Kita tinggal kan pasutri sedang mandi-mandian itu.


Di sebuah kursi dengan meja persegi di depan, seorang pria sedang termenung, dia memainkan sebuah pulpen di tangan nya, pikiran nya saat ini sedang melayang Kepada seseorang.


"Apa sebenarnya yang terjadi, kenapa aku merasa jika dia membohongi ku tentang pernikahan nya! aku harus mencari tau!"


"Bukan apa, tapi aku hanya ingin memastikan jika itu memang bukan anak ku, supaya aku tidak menyesal di kemudian hari" lanjut nya lagi, seorang itu yang tidak lain adalah Riko langsung menelpon seseorang.


"Halo, aku sudah bertemu dengan nya... dia berada di kota ini, cari tau dimana dia tinggal dan cari tau juga apa dia sudah menikah atau belum" perintah Riko Kepada seseorang yang memang dia tugaskan untuk mencari wanita yang telah dia renggut kesucian nya.


Sambungan telepon pun terputus, dia mendudukkan dirinya dengan begitu kasar pada kursi kebesaran nya.


Riko pun mengambil berkas di atas meja dan membaca nya, akhirnya Riko memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaan nya.


...----------------...


Kembali di London....


Vera dan Davvien kini sedang berjalan-jalan, setelah selesai mandi dan sarapan pagi, keduanya bersiap-siap untuk mengunjungi tempat-tempat wisata di negara tersebut.


Mobil mereka berhenti di salah satu tempat yang paling banyak di kunjungi oleh orang-orang, baik itu yang datang dari negara lain untuk liburan ke tempat tersebut sama seperti mereka, maupun penduduk London sendiri.


__ADS_1


Tower Bridge, yang di kenal dengan sebutan dua milenium, itulah tujuan utama mereka. Dimana tempat itu terdapat banyak dari penduduk Londo sendiri menunjukkan berbagai hiburan dari kemampuan mereka, mulai dari bernyanyi, pesulap, dan menjadi badut.


Vera begitu bahagia melihat semua persembahan yang di jajakan oleh para pencari nafkah itu. Davvien dapat melihat sang istri yang tertawa begitu lepas.


"Sayang, aku mau di fotoin sama badutnya" pinta Vera pada sang suami.


"Tidak! tidak, aku tdak mengizinkan mu berfoto dengan lelaki lain" Davvien langsung menarik Vera dalam dekapan nya.


"Ya ampun sayang... aku kan cuma ingin berfoto dengan badut di tempat ini" bujuk Vera, namun Davvien masih dengan pendirian nya.


"Ke sini! bisa tolong foto kami berdua?" Davvien menyerah kan kamera yang di bawanya kepada badut di hadapan nya, dan dengan senang hati badut tersebut menerima dan mengambil gambar Davvien dan Vera.


Vera yang mengerti dengan sifat posesif sang suami hanya pasrah, sama sekali tidak mau membantah.


Selesai berfoto di sana, keduanya meninggal tempat tersebut setelah menyerahkan beberapa lembar uang kepada badut yang telah memotret keduanya.


Berbagai tempat wisata telah mereka kunjungi hingga sore menjelang, Davvien membawa Vera ke tempat yang terlihat sangat indah.



Malam hari keduanya berada di tempat yang sering di sebut London Eye, setelah puas di sana, Davvien mengajak sang istri ke tempat yang sangat romantis.



Disinilah keduanya duduk di sebuah meja bundar yang telah di siapkan Davvien. Lengkap dengan makan malam yang sudah di terhidang di atas meja tersebut.


"Sayang...!"


.


.


.


.


.


~Bersambung.


Jangan lupa like, komen dan Vocher nya para reader.


...Sambil nunggu aku up, mampir yuk di karya kakak ku....

__ADS_1



__ADS_2