
Malam hari, Tania sudah siap dengan pakaian dan juga tas di tangan nya, wanita sebaya dengan Vera inipun keluar, lalu menutup pintu apartemen nya. Tujuan nya sekarang ialah menemui sahabatnya, Intan dan Vera.
...----------------...
Begitu pun Vera, Intan, tak hanya mereka berdua. Davvien, Fero dan si kembar pun ikut.
Sebelum masuk ke dalam mobil, Fero terlebih dulu menyuruh penjaga di sana untuk memasukkan dua portable bayi ke dalam mobil. Setelah itu pun, mereka langsung berangkat ke restoran tempat janjian mereka dengan, Tania.
Sampai di parkiran restoran, mereka langsung turun, Fero langsung menurunkan Portable yang tadi mereka bawa, kemudian Vera meletakkan ke dua bayi gembul nya itu ke dalam kereta dorong mereka tersebut.
Mereka pun berjalan masuk, Vera mendorong Portable Syakir, sedangkan Intan mendorong Syakira. Mereka tampak begitu akur, Vera berjalan beriringan dengan Davvien, sedang Intan juga bersama dengan suami nya tercinta.
Saat kaki mereka melangkah masuk, hampir dari semua sorot mata menuju kepada mereka, terutama para kaum hawa, mereka bahkan tak berkedip memandang dua lelaki yang baru masuk meski ada perempuan di samping mereka yang sedang mendorong kereta bayi.
Vera yang melihat itu, tentu tidak terima. Tiba-tiba saja ibu dua anak ini menghentikan langkahnya dengan wajah dongkol. Davvien menoleh, melihat aneh akan sikap sang istri.
"Sayang! kenapa berhenti?" tanya Davvien. Intan paham, karna dia juga sedang mengalami hal yang sama dengan sahabatnya itu.
"Tidak apa-apa, sekarang kamu yang mendorong Syakir!" celetuk Vera dengan wajah yang sudah di paksakan untuk tersenyum.
"Kamu capek, hem!" tanya Davvien lembut.
Tak tinggal diam, Vera langsung menempelkan dirinya pada lengan sang suami, seakan dia ingin mengatakan, jika lelaki tampan itu adalah milik nya.
"Iya! kamu mau kan, sayang!" ujar Vera dengan begitu manja.
"Tentu, sayang!" tanpa rasa malu, Davvien langsung memegang gagang kereta dorong bayi Syakir. Membuat orang yang melihat nya menjadi semakin mendamba dan juga iri hati.
"Duh ... sempurna banget sih jadi suami, sudah ganteng, baik lagi sama istri!" batin sejumlah banyak wanita di sana.
Tak kalah juga Intan, diapun langsung menyuruh Fero untuk mendorong kereta bayi yang di tiduri Syakira.
Dan tanpa bantahan juga, dia langsung mengambil alih. Saat keduanya berjalan, tiba-tiba Davvien dan Fero saling bertatapan.
"Apa kau merasa apa yang aku rasakan?" tanya Davvien sedikit berbisik di telinga Fero.
Intan dan Vera berjalan di belakang kedua suami nya itu, dua wanita ini diam-diam menertawakan Fero dan juga Davvien.
"Memang apa yang anda rasakan?" tanya Fero, juga dengan nada berbisik.
"Kita seperti baby sister saja, apa mereka senagaja mengerjai kita?" imbun Davvien lagi.
"Ku rasa bukan!" sergah Fero.
"Lalu?"
"Lihat itu!" jawab Fero, sambil pandangan nya mengarah pada beberapa wanita yang sedang mengagumi keduanya.
"Oh ... jadi mereka cemburu!" celetuk Davvien yang di angguki oleh Fero.
__ADS_1
"Ternyata aku ini suami yang peka ya!" tukas Feri dengan nada sombong.
Davvien mencibir "Terus, kamu pikir aku tidak peka, hah?" sergah Davvien tidak terima dia di anggap suami yang tidak peka.
Fero berdecak "Aku kan tidak bilang seperti itu!" jawab Fero menyangkal ucapan sahabat bertengkar nya itu.
Intan dan Vera mulai menggeleng kepala melihat kelakuan suaminya bucin keduanya.
Sambil melangkah keduanya berdehem "Ekhem! mau duduk apa terus berdebat hal yang tidak penting?" tanya Vera, lalu duduk di sebuah meja dengan di apit dua kursi panjang.
Davvien dan Fero langsung diam, keduanya meletakkan kertas dorong Syakir dan Syakira di dekat meja, kemudian dua lelaki tampan ini pun ikut duduk masing-masing di sebelah istri mereka.
Baru saja mereke meletakkan bokong mereka di kursi tersebut, ponsel Vera sudah berbunyi nyaring.
"Ya, halo Nia!" ucap Vera setelah menekan tombol hijau, untuk menjawab panggilan dari Tania.
"Iya, kami sudah sampai. Kamu masuk saja, dekat dengan meja yang biasanya kita nongkrong!" jelas Vera, Davvien langsung menelisik ke arah sang istri.
Mata elangnya menatap tajam, saat mendengar jika Vera sering nongkrong di sana.
"Kenapa menatapku seperti itu?" protes Vera setelah memutuskan panggilan bersama sahabat nya, Tania.
"Kamu bilang sering nongkrong di sini, sama siap? kenapa aku sampai tidak tau?" tanya Davvien mengintimidasi sang istri.
Vera dan Intan saling menatap, sejurus kemudian, Vera menepuk jidatnya, lalu keduanya pun langsung tertawa.
"Sama siapa?" Davvien masih belum puas, nada nya masih begitu serius.
"Ya tentu saja sama sahabat-sahabat aku lah" imbuh Vera lagi.
"Dasar posesif!" cibir Fero yang langsung mendapati tatapan horor dari singa jantan di hadapannya.
Belum sempat Davvien menjawab, tiba-tiba Tania sudah memanggil Vera dan juga Intan.
"Hai, Vera ... Intan!" ujar Tania seraya memeluk dua sahabat nya itu.
"Hai ...,!" Intan dan Vera pun membalas pelukan Tani.
"Kalian sudah lama ya?" tanya Tania langsung duduk di sebelah Vera.
"Baru kok!" jawab Intan.
Tania langsung melihat dua bayi gembul yang diam tak bergeming, namun mata keduanya terbuka begitu lebar.
"Halo ponakan Aunty...!" ujar Tania pada kedua anak sahabatnya itu.
"Ih ... gemesh banget sih!" pekik Tania sambil mencubit kecil pipi gembul si kembar.
"Duh ... makasih Aunty cantik!" ujar Vera membuat suara seperti anak kecil.
__ADS_1
"Ya sudah, kita makan dulu ya!" lanjut Vera lagi.
Merekapun memesan makanan. Tak berapa lama pesanan mereka sudah di bawa dan tertera di atas meja berukuran besar tersebut.
Kelima orang itu memakan makanan nya dengan begitu lahap, Tania melupakan sejenak rasa sakit nya karna masalah nya dan juga, Aldi.
Si kembar pun juga tidak rewel sama sekali, mereka hanya fokus pada lampu-lampu di dalam restoran itu, maklum saja, keduanya baru melihat dunia luar.
...----------------...
Selesai menyantap makan malam mereka, Tania berfikir jika mereka akan berbincang dan juga bercerita, setidaknya itu bisa menghibur dirinya.
Tapi, Vera pamit ke toilet yang di minta di temenin oleh Davvien, dan mereka juga membawa Syakira.
Tak berapa lama, Intan juga pamit sebentar, dengan alasan ingin memakan ice krem, karna dia sedang ngidam. Tapi anehnya mereka juga membawa Syakir.
Sudah beberapa menit Tania menunggu kedua sahabatnya, tapi belum ada tanda-tanda mereka kembali.
Wanita berkulit putih bersih itu celingak-celinguk mencari keberadaan Vera dan Intan.
Karna bosan menunggu, diapun mengambil ponselnya ingin menghubungi Vera atau Intan.
Tapi baru ingin membuka ponsel nya, tiba-tiba suara yang sangat di kenalinya tepat berada di belakang punggungnya. Membuat jantung nya berhenti berdetak.
"Nia...!"
.
.
.
.
.
~Bersambung.
Hem... kalian sudah bosan ya mendukung karya recehan ini, kalau dukungan kalian menyurut. Author juga hilang semangat up nya.
Tapi tak puas-puas, aku akan terus berterima kasih kepada kalian yang masih betah. Dan meminta dukungan dengan cara.
Like
Komen dan
Vote.
__ADS_1