Gadis Penakluk Mafia Karatan

Gadis Penakluk Mafia Karatan
Tidak setuju.


__ADS_3

Memang semua yang kita ingin kan tidak akan tercapai sesuai dengan ekspektasi kita, mungkin di sana lah kita akan merasa kecewa, juga sedih.


Tapi kita tetap tidak boleh putus asa, karna kita tidak tau akhir dari perjuangan kita.


Selesai membereskan semuanya, Vera langsung bergegas pulang, karna sang suami pun harus menemui klien.


Saat ini, Vera sedang duduk di ruang keluarga, ada terserat rasa kecewa di hatinya, karna Davvien tidak menyetujui permintaan dirinya.


Dia masih ingat betul bagaimana Davvien menjawab saat dia meminta izin untuk menggapai cita-citanya sedari kecil, yaitu menjadi desainer terkenal.


"Apa aku boleh membuka butik, anak-anak kan sudah sekolah. Jadi aku boleh kan mencapai cita-cita ku?" tanya Vera masih dengan mengelus rambut Davvien.


Sedangkan Davvien langsung mengendurkan pelukan nya di pinggang Vera.


"Kenapa?" tanya Davvien yang kini dengan nada dingin.


Vera sudah hafal dengan sifat sang suami, dia sudah yakin jika Davvien pasti akan bersikap seperti ini jika dia mengatakan keinginan nya.


"Kenapa kamu ingin bekerja, apa aku kurang memberikan mu uang, hem!" lanjut Davvien bertanya, tangan nya terangkat mengelus puncak kepala Vera.


"Aku hanya ingin mewujudkan cita-cita ku. Menjadi seorang desainer adalah keinginan ku dari masa kecil!" jawab Vera, wanita dua anak ini pun langsung merebahkan kepalanya pada dada bidang sang suami, sambil tangan nya memainkan kancing baju Davvien, biasanya ini trik ampuh untuk meluluhkan ayah dari anak nya.


"Bisakah kamu hanya duduk di rumah saja, kamu tidak perlu capek-capek di luar sana, hanya duduk dan menunggu suamimu pulang!" sarkas Davvien, dari nada nya tentu saja Vera paham, jika Davvien tidak menyetujui nya.


"Tapi aku akan pulang sebelum Mas pulang, jadi aku akan selalu ada dan selalu menyambut ketika mas pulang kerja. Lagian aku bosen di rumah terus!" tukas Vera, dia masih mencoba untuk merayu Davvien. Vera mengangkat kepalanya menatap ke dalam dua manik sang suami.


"Vera, apa aku harus mengulangi nya lagi? aku rasa kamu sudah paham dengan sifat mas yang tidak suka di bantah!" sergah Davvien menegaskan, seketika langsung membuat Vera terdiam.


Meski merasa kecewa dan sedih, tapi Vera tetap berusaha biasa saja, dengan kembali merebahkan kepalanya di dada Davvien dia pun menjawab "Iya! maaf, mas!" hanya itu yang keluar dari mulut Vera, dia mencoba untuk tegar, karna dia sudah membuat tekad, apapun yang menjadi keputusan sang suami, maka dia akan menerima nya. Vera tidak ingin bernasib seperti dulu, karna tidak mendengarkan perkataan sang suami, dia hampir kehilangan kedua anak nya.


Dan pun, bukan kah wanita memang wajib mematuhi perintah suami, ya walaupun berat, Vera akan berusaha ikhlas.


"Maaf, sayang! aku hanya tidak ingin waktu mu terbagi, aku juga tidak ingin kamu merasa lelah karna harus bekerja!" ucap Davvien menjelaskan.


Vera tersenyum "Tidak apa, Mas! aku hanya bertanya, bukan berarti mas harus menyetujui nya!" jawab Vera, sifat nya tetap tidak berubah. Karna apapun masalahnya, dia tetap tidak akan menampakkan kesedihan nya di depan orang lain.


"Makasih, sayang! kamu sudah mau mengerti!" timpal Davvien lagi.


Vera hanya mengangguk, kemudian mama dari syakir dan syakira inipun bangun dari pangkuan sang suami.


"Kalau begitu aku pulang dulu ya, Mas!" ucap Vera, diapun langsung membereskan kotak makan yang tadi dia bawa.

__ADS_1


Setelan itupun Vera langsung meminta izin pulang, dan Davvein hanya mengangguk. Karna dia juga harus bertemu dengan klien nya.


Dan di sini lah, saat ini Vera masih duduk termenung memikirkan semua nya.


"Meski sudah berusaha ikhlas kenapa bisa sesakit ini!" batin Vera, dia yang sedari tadi pura-pura tegar, mencoba mengikhlaskan jika cita-cita nya tidak akan terwujud, ternyata membuat nya merasa sangat sedih.


Cita-cita dari kecil Vera harus pupus karna sang suami tidak memberikan izin. Lamunan Vera terbuyarkan saat suara anak perempuan khas tujuh tahun memekik, memanggil dirinya.


"Mama!" panggil Syakira yang sedang turun dari tangga sambil berlari dengan memegang boneka beruang di tangan nya.


"Eh anak, Mama! sudah lama pulang nya?" tanya Vera tangan nya mengelus puncak kepala Syakira lalu mencium dahi anak perempuan nya itu.


"Baru saja, Ma!" jawab anak berumur tujuh tahun itu.


"Kakak Syakir sama Aidan dimana?" tanya Vera lagi.


"Kak Syakir di dalam kamar nya, Aidan sudah pulang, Ma!" jawab anak nya lagi, dia langsung berbaring di atas pangkuan sang Mama.


Tak lama, Syakir juga turun menyusul adik kesayangannya.


"Eh anak lelaki, Mama! udah makan kalian?" tanya Vera, menjulurkan tangannya yang langsung di sambut oleh putra nya itu.


"Iya, Nak! Mama baru saja mengantar makan siang untuk Papa!" jawab Vera, Syakira sudah tidur di atas pangkuan nya.


Kini kedua anaknya berbaring di atas paha Vera di atas sofa, dengan posisi Vera di tengah. Dengan lembut, ibu dua anak ini mengelus kepala kedua anak nya.


Pikiran nya masih teringat tentang apa yang di katakan sang suami, dia kembali murung. Syakir yang belum tidur membuka kembali matanya, dia dapat menangkap wajah sendu sang Mama yang tampak sedih.


"Mama baik-baik saja?" tanya Syakir sambil tangan nya mengambil tangan sang Vera yang sedang mengelus kepala dirinya. Meski anak lelaki nya terkesan cuek, tapi dia cukup peka jika itu menyangkut keluarga nya.


"Loh! Mama kenapa?" tanya balik Vera, tentu saja dia tidak ingin anak-anak nya salah paham.


"Mama baik-baik saja, Papa tidak memarahi Mama kan?" tanya Syakir lagi.


"Iya, Nak! Mama baik-baik saja, sangat baik! kapan kamu lihat Papa marahi Mama?" tanya Vera menatap putra nya dengan begitu intens.


Syakir tampak berfikir, dia memang belum pernah melihat Papa nya itu memarahi sang Mama.


"Dengar! Papa lelaki paling baik yang Mama temui, tidak pernah sekalipun Papa menyakiti Mama!" jelas Vera lagi, dia tidak ingin anak-anak nya berpikir yang tidak-tidak.


"Kalau begitu, Kakak juga mau seperti Papa kalau sudah besar!" celetuk anak tujuh tahun itu, membuat Vera tertawa.

__ADS_1


"Memang harus! Sudah, sekarang tidur lah!" ujar Vera, yang langsung di angguki oleh anak lelakinya.


...----------------...


Malam hari, Vera baru saja menidurkan kedua anaknya, kini dia melangkah masuk ke dalam kamar, sudah ada Davvien yang sedang duduk di atas tempat tidur dengan memangku laptop di hadapannya.


"Sayang, anak-anak sudah tidur?" tanya Davvien, dia membuka kaca mata lalu menutup laptop kerjanya.


"Sudah, Mas!" jawab Vera seadanya.


Davvien dapat melihat kekecewaan dalam diri sang istri, terbukti juga karna istri nya menjadi lebih diam sedari dia pulang kerja.


"Sayang, duduk di sini dulu!" panggil Davvien kepada Vera, agar istrinya duduk di sampingnya.


Vera menurut, perlahan dia melangkah. Namun, bukan di sebelah, melainkan Davvien mendudukkan Vera di atas pangkuan nya.


"Katakan apa kamu marah karna aku tidak mengizinkan mu membuka butik?" tanya Davvien sambil tangan nya mengeratkan pelukan di pinggang yang masih ramping sang istri.


Vera menunduk, melihat dan menatap lekat wajah tampan Davvien.


"Aku bukan marah, tapi bukan kah saat apa yang kita inginkan tidak tercapai kita membutuhkan sedikit waktu untuk mengikhlaskan nya!" jawab Vera, dia berkata jujur, sesuai apa yang di rasakan nya saat ini.


"Apa aku terlalu egois?" tanya Davvien, dia mendongak menatap wajah Vera.


Vera menggeleng, kemudian diapun tersenyum, kemudian ibu dua anak ini meraup wajah Davvien dengan kedua tangan nya.


"Dengar, kamulah lelaki yang paling baik, kamu juga suami yang sangat pengertian. Jadi, kenapa di saat satu keinginan ku yang tidak terpenuhi kamu menjadi suami yang egois!" ucap Vera, dia memang tidak merasa marah, atau merasa jika Davvien itu egois. Karna dia tau, suaminya selalu punya alasan nya tersendiri saat melarang dirinya, terlebih dia tau jika suami posesif nya pasti tidak akan senang jika dirinya bekerja di luar.


"Terimakasih, sayang! Kamu sudah mau mengerti diriku!"


.


.


.


.


.


~Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2