Gadis Penakluk Mafia Karatan

Gadis Penakluk Mafia Karatan
Aksi Vera dan Davvien 2


__ADS_3

Dor....!


Saat peluru terakhir dia lepaskan, tiba-tiba terdengar suara tepukan tangan berasal dari belakang nya.


Prok...Prok....Prok....


Vera langsung membalikkan badannya, dan betapa terkejutnya dia saat melihat pistol yang sudah berada tepat di kepala ke dua orang tuanya.


"Wah...wah...wah... lihat lah keponakan ku ini, dia sekarang sudah besar dan juga sangat pandai bela diri dan juga menembak!" ucap seorang lelaki paruh baya yang baru masuk bersama dengan anak buahnya.


Anak buah Roy mengambil alih untuk menodor kan senjata pada Tn.Diwan dan Rina sebagai sebuah ancaman, Vera yang melihat itupun tidak mampu berucap lagi, seluruh badannya terasa lemah, pistol di tangan nya jatuh seketika.


"Apa mau mu?" tanya Vera dengan nada begitu dingin.


"Apa mau ku!" ulang Roy kini sudah berjalan mendekati Vera.


"Cepat katakan! apa yang kamu mau hah, kenapa kamu menyekap ke dua orang tua ku!" bentak Vera yang sudah tidak memikirkan jika saat ini dia sedang bicara dengan paman nya.


"Wah.. keponakan ku ini sudah sangat berani ya!" ujar Roy santai, dia terus mengitari Vera.


"Kenapa Om begitu tega pada Daddy, bukan kah dia adik kandung mu sendiri, di mana hati nurani mu paman!" lanjut Vera, sekarang ini nada berbicara nya sudah sangat lirih, percuma juga berteriak pada manusia yang setengah iblis di hadapan nya ini.


"Ha...ha..ha..!" Roy tertawa dengan begitu lantang, lalu tatapan nya langsung menatap Vera tajam.


"Siapa yang kamu sebut adik kandung ku hah?" tanya Roy dengan nada sinis.


Vera mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan paman gilanya itu.


"Apa maksud mu?" tanya Vera.


"Ha...ha... harus aku beritahu, jika aku bukan lah anak dari Anggara, aku hanya anak yang di pungut di jalanan saat usia ayahmu masih dua tahun!" jelas Roy, tentu saja itu membuat Vera, Rina, terutama Tn.Diwan terkejut.

__ADS_1


"Aku anak yang mendapatkan kemalangan, tapi karna kebaikan Anggara, dia membawa ku ke rumah nya, dan istri nya yang baik itu menerima kedatangan ku dengan lapang dada, mereka menyayangi ku sebagai mana menyayangi Reyan. Oh Mama, Papa kalian sangat baik, aku bahkan ingin meneteskan air mata ku!" lanjut Roy dengan drama sedih nya itu.


Vera merasa bingung dengan apa yang di pikirkan paman nya itu.


"Kalau Nenek sam Kakek begitu menyayangi om, kenapa Om jahat pada keluarga ku?" tanya Vera lagi.


Roy kembali menatap Vera, sorot matanya kembali tajam.


"Karna pria tua itu tidak adil membagikan harta nya, dia melebihkan kepada Rey, dan juga menikahkan wanita yang saya cintai dengan anak kandung nya, Rey!" tukas Roy.


"Itu wajar, karna Om anak angkat, bersyukur Kakek memberikan sebuah perusahaan untuk om, dan soal Mama. Daddy dan juga Mama jauh lebih dulu menjalin hubungan sebelum om datang di tengah-tengah mereka!"


Plak.....


Satu tamparan mendarat di pipi Vera, hingga membuat menantu keluarga Wilmar ini terhempas ke lantai. Roy terlihat sangat marah, dada nya terlihat naik turun menanda kan bahwa iblis berwujud manusia ini sedang sangat emosi.


"Beraninya kamu mengatakan hal itu!" Roy langsung menarik tangan Vera dan menyodorkan berkas yang kemaren sempat di berikan kepada adik nya itu.


Vera gemetaran, dia melihat ke arah mama dan Daddy nya yang menggeleng, dia masih ragu, bukan karna sayang sama harta, tapi karna menyangkut dengan amanah kakek.


Dor....!


Satu peluru Roy lepaskan ke atas untuk memperingati Vera.


"Cepat tanda tangan, atau anak peluru ini akan menembus kepala kedua orang tua mu!" ucap Roy lagi-lagi mengancam Vera.


Dengan tangan gemetar Vera memegang pulpen di dan mengarahkan pada berkas di hadapan nya itu.


Vera melihat ke arah pintu, berharap suaminya akan segera sampai.


"Lihat apa kamu, berharap suami sok kamu itu akan datang ke sini hah! jangan mimpi, mungkin sebentar lagi kamu akan melihat kepalanya di sini!" ucap Roy lagi, semakin membuat tubuh Vera bergetar.

__ADS_1


"Tidak! aku yakin mas Davvien akan selamat, dia pasti akan menyelamat kami!" batin Vera sambil mengusap air matanya.


Dengan air mata yang terus mengalir "Maafkan Kia Kek!" ucap Vera terisak saat menandatangani berkas tersebut.


Roy tersenyum puas saat apa yang dia impikan akhirnya menjadi kenyataan.


"Ha...ha..ha.. akhirnya aku akan menjadi orang kaya!" teriak Roy dengan sangat bahagia.


Namun, raut wajahnya berubah, seringai licik jelas terlihat di wajah yang sudah keriput itu. Roy mengangkat pistol yang ada di tangan nya dan mengarahkan kepada Rina dan Tn.Diwan.


"Karna saya sudah mendapatkan apa yang saya inginkan, maka kalian sudah seharus nya mendapatkan kematian sekarang juga, sudah cukup kalian bersenang-senang selama ini!" tukas Roy dengan senyuman licik terhias di bibir nya.


Vera dan kedua orang tuanya tercengang mendengar ucapan Roy, tidak menyangka jika lelaki itu begitu licik.


"Tapi, mana dulu yang harus saya bunuh ya..! oh ya, saya akan lebih dulu membunuh mu, Rina. Agar suami mu tau bagaimana rasanya jika di tinggalkan oleh orang yang sangat dia cintai!" Roy langsung mengarahkan pistolnya kepada Rina.


Vera dengan begitu cepat bangun "Dasar manusia licik!" umpat Vera, saat Roy menarik pelatuk nya, Vera langsung menendang tangan Roy, hingga pistol itu terjatuh kelantai.


"Kurang ajar!!!"


Plak.....


.


.


.


.


~Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2