Gadis Penakluk Mafia Karatan

Gadis Penakluk Mafia Karatan
Ingin menjauh.


__ADS_3

Lanjut....


Pagi hari masih di apartemen, Fero masih setia duduk di samping seorang wanita yang terbaring dengan masih memejamkan mata.


Tanpa merasa lelah atau pun mengantuk meski tidak tidur semalaman, Fero terus memandangi wajah wanita tersebut, dia menyingkirkan rambut yang telah menghalangi pemandangan nya, wajah yang terlihat lebih manis saat tidak menggunakan apapun.


"Kenapa aku baru menyadari nya kalau dia begitu manis saat tidak berdandan seperti ini"


Batin Fero masih tidak memalingkan wajah nya dari wajah wanita yang tak lain adalah Intan.


Dia tidak bisa tidur karna merasa begitu khawatir pada Intan.


Tiba tiba Intan menggeliat, Intan merasa dirinya di rumah sendiri, jadi dia bebas bergerak sesuka hati, Intan masih enggan membuka mata.


Fero sedikit tersenyum melihat betapa menggemaskan Intan saat bangun tidur.


"Apa kau sudah membaik?"


Suara Fero begitu masuk ke dalam indra pendengaran Intan.


"Kenapa aku selalu memikirkan nya, bahkan saat bangun tidur aku mendengar suara nya"


Gumam Intan masih dengan mata nya yang terpejam, Fero begitu gemes melihat tingkah aneh Intan.


"Apa kamu begitu nyaman di tempat tidur ku heum?"


Intan langsung membuka matanya dan terduduk di atas tempat tidur.


"Ke-kenapa aku masih di sini?"


Tanya Intan yang merasa begitu gugup saat tau dirinya masih berada di apartemen Fero.


"Apa kau tidak ingat yang terjadi semalam"


Pikiran Intan pun langsung melayang tentang insiden yang di alaminya, dari mulai Bagas yang ingin melecehkan nya hingga Fero datang dan menyelamatkan nya, dan setelah itu dia sudah tidak bisa mengingat apapun.


"Jadi aku"


"Iya kamu pingsan semalam makanya aku kembali membawa mu ke sini"


Mendengar itu, Intan mengecek tubuhnya lagi, dia pun memegang dadanya saat melihat pakaian nya masih seperti semula.


"Aku kan sudah bilang, kalau aku bukan lelaki yang suka mengambil kesempatan dalam kesempitan seperti lelaki itu"


Sindir Fero yang tau kekhawatiran Intan, sedang kan Intan langsung bungkam mendengar ucapan Fero, benar adanya karna kecerobohan nya hampir saja mahkota yang di jaganya selama ini di rampas oleh lelaki tak punya hati seperti Bagas.


"Maaf kan aku yang tidak mendengar kan mu semalam, tapi kenapa anda tidak mengantarkan ku pulang saja ke rumah?"


"Mana mungkin aku mengantar mu pulang dalam keadaan tidak sadarkan diri, nanti mama mu mengira aku melakukan sesuatu sama anak perempuan nya"


Mendengar kata mama, Intan langsung kepikiran, dia tau mama nya pasti sangat mengkhawatirkan nya.


"Aku harus pulang secepatnya, mama pasti sangat mengkhawatirkan aku"


Ucap Intan yang ingin turun dari tempat tidur.

__ADS_1


"Aku sudah mengabari mama mu jika kau menginap di mansion Vera"


Intan membulatkan matanya.


"Kamu membohongi Mama ku lagi?"


"Heummmm"


"Aku tetap ingin pulang"


Ucap Intan, dia segera turun dari tempat tidur dan mendekati pintu.


"Hey, setidaknya kau bisa mencuci muka mu dulu"


Teriak Fero, dia pun menyusul Intan yang sudah berlari di tangga.


"Tanggung, nanti saja sekalian mandi di rumah"


"Jorok"


Mereka pun berjalan ke luar dari apartemen menunju mobil Fero, dan Fero langsung menancap gas untuk mengantar Intan ke rumah nya.


...----------------...


Sedangkan di dalam hotel, Frans sudah menyuruh Fino untuk mencari tau identitas Vera, dia sudah tidak sabar ingin membuktikan jika Vera itu memang adik yang selama ini dia cari.


Frans bukan orang yang mempunyai kekuasaan penuh seperti Davvien, jadi untuk mendapatkan informasi dia masih membutuhkan waktu, namun tekadnya sudah sangat besar, dia tidak akan berhenti sebelum mengetahui nya.


...----------------...


Pagi ini mereka akan pulang ke rumah Ny.Andin, janji Minggu lalu menginap di sana baru sabtu ini mereka tepati, itu pun karna halangan yang tidak bisa mereka elak, saat ini Vera sedang di sambut hangat oleh sang mertua, dia bahkan lebih di manjakan oleh Ny.Andin, apa lagi mertua nya yang memang sangat mengharapkan cucu tidak akan membiarkan sang menantu melakukan apapun.


"Mom, jangan terlalu memanjakan aku"


"Memang nya kenapa, kamu lagi mengandung cucu Mommy yang sangat Mommy harap-harap kan".


Ujar Ny.Andin dengan penuh kegirangan.


"Mom, jangan terlalu di jaga, kata orang-orang jika sangat di jaga maka akan hilang, seperti barang jika terlalu di jaga maka itu yang akan hilang atau rusak"


"Hus, kamu ngomongin apa sih, perkataan adalah doa"


Vera pun hanya tersenyum, dia selalu berharap jika kebahagiaan yang terlihat dari wajah paruh baya di depan nya tidak akan terganti kan.


Begitu pun Ny.Andin, dia selalu berharap supaya menantu dan juga cucunya selalu di beri kesehatan dan keselamatan.


...----------------...


Di dalam mobil Fero hanya fokus menyetir, dia tidak tau harus memulai bicara seperti apa, Intan terlihat masih agak syok, diam adalah pilihan terbaik bagi Fero karna tidak ingin menyakiti Intan dengan perkataan nya nanti.


Intan masih merasa terguncang, pikiran nya masih melayang pada kejadian tadi malam, dia yang belum mengerti dengan dunia nafsu dan percintaan langsung merasa takut saat kejadian itu di alaminya, dia pun sesekali melirik pada Fero, Intan baru sadar jika Fero masih menggunakan pakaian semalam waktu menyelamatkan nya, dia juga melihat mata Fero sedikit memerah, dan dia juga ingat jika Fero berada di sisi nya dari semenjak dirinya bangun tidur.


"Apa anda tidak tidur semalaman tuan?"


Tanya Intan pada Fero.

__ADS_1


"Menurut mu?"


Jawab Fero singkat, Intan jadi merasa bersalah.


"Maaf kan aku, gara gara aku tuan jadi tidak tidur semalaman, seharusnya tuan tidak usah menjaga ku seperti itu"


"Jangan salahkan dirimu selalu, aku tidak akan kenapa-kenapa dengan hanya semalam bergadang"


Jawab Fero lagi dengan masih fokus menyetir.


Intan memilih diam, Intan kembali bingung dengan sikap dingin Fero. Dia masih ingat bagaimana Fero begitu terlihat khawatir saat menyelamatkan nya, Intan juga ingat jika dirinya tidak salah dengar bahwa Fero benar benar meminta maaf padanya, dia juga masih dapat merasakan hangat nya pelukan Fero.


Tapi pikiran itu kembali Intan tepis, dia lagi lagi mengharapkan lebih dari Fero, Intan merasa jika selalu bersama Fero dia tidak akan bisa melupakan Fero.


Mobil mereka pun memasuki halaman rumah Intan, Fero mengehentikan mobil nya.


"Terima kasih tuan"


Baru lah Fero menatap Intan, lalu dia mengangguk, dia menyelipkan rambut Intan di belakang telinga namun masih dengan wajah datar.


"Istirahat saja dulu, jangan pikirkan lagi yang semalam, dan belajar lah untuk berhati-hati kedepan nya, karna kita tidak tau niat seseorang pada kita"


Intan yang baru pertama kali mendengar Fero berbicara panjang pun tercengang, jantung nya kembali meronta-ronta, namun Intan berusaha menepis semua rasa di dalam hatinya, dia ingin melawan rasa itu.


"Sekarang turun lah"


Lanjut Fero, kini dengan suara lembut.


"E tuan"


Panggil Intan, dia harus mengatakan ini pada Fero. Pikir Intan.


Fero menatap Intan, tanpa menjawab dia hanya menunggu Intan berbicara.


"Sebaiknya setelah ini tuan jangan temui aku lagi"


Ujar Intan dengan hati hati, sedangkan Fero rasa sakit langsung menancap di hatinya, di saat dia ingin mendekati Intan, Intan justru melarang nya untuk menemui Intan.


"Saya harap anda tidak tersinggung tuan, saya hanya tidak ingin membuang waktu anda, dan saya juga ingin fokus menyelesaikan skripsi saya, saya harap anda bisa memaklumi nya"


Intan membuat alasan agar Fero mau mendengarkan nya.


Dengan rasa sakit Fero mengangguk, dia hanya diam, kini Fero pun merasa jika Intan juga hanya mempermainkan hatinya, rasa menyesal dalam diri Fero pun kian terasa karna telah mengabaikan Intan dulu.


Andai bisa di ulang, maka dia yang akan mengejar Intan sedari dulu, tapi semua nya telah berlalu dan sekarang tidak mungkin Fero memaksa Intan untuk terus berada di samping nya sedangkan Intan sudah menolak dirinya.


Intan langsung turun dari dalam mobil Fero, sedangkan Fero pun pergi meninggalkan rumah Intan yang mungkin tidak akan dia datangi lagi, baru semalam Fero merasa bahagia karna Intan berada dekat dengan nya, dan pagi ini Intan malah ingin menjauhi dirinya.


Sedangkan Intan menetes kan air mata melihat mobil Fero yang berlalu meninggalkan rumah nya.


"Maaf kan aku tuan, mungkin memang ini yang terbaik, baik untuk ku dan untuk mu, aku tidak ingin tenggelam dalam rasa yang ku bina sendiri, aku takut jika kau selalu menemui ku rasaku ini semakin ngelunjak untuk dirimu, aku takut jika diriku semakin mengharapkan cinta darimu yang tidak akan pernah ada.


~Bersambung.


Maaf ya telat up, dan maaf juga bila alurnya tidak seperti yang kalian harapkan, Terim kasih atas dukungan yang kalian berikan.

__ADS_1


Semakin banyak dukungan kalian semakin semangat author berkarya.


__ADS_2